Volume 5

Perhatian: Hanya untuk 18 tahun ke atas, untuk adegan kekerasan dan referensi seksualitas.

17. Bahan-bahan pokok.

Cahaya bergerak dengan kecepatan 299,792,458 meter per detik di ruang hampa udara, menegasikan kebutuhan akan medium…

Tentu saja, para ahli dan pakar yang kurang kerjaan mengajukan ether sebagai medium, tapi itu sama saja dengan mengatakan bahwa manusia membutuhkan minuman kemasan berkarbonasi bervitamin dan beroksigen untuk hidup efektif, dan bahwa air putih yang baik dan bersih sama sekali tidak cukup, dan bahwa ada cairan di jagad raya ini yang lebih baik bagi manusia daripada sekedar air putih: produk mereka!

Setidaknya sampai Einstein membungkam para pendukung ether, entah apa lagi yang dijual oleh ahli dan pakar itu kemudian…

Cahaya tidak butuh hal lain selain dirinya sendiri… kecuali mungkin kegelapan… yang satu mengejawantahkan yang lain, tanpa kegelapan, tidak ada cahaya.

Suara dilain pihak punya teralu banyak aturan, seperti orang-orang eksentrik, tidak sadar diri dan memaksakan kegilaannya pada orang lain… terus terang saja terkadang aku merasa kasihan dengan para karyawan itu… hah!

Suara sama seperti manusia, mereka kakak beradik, punya karakter yang sama, tidak dapat hidup tanpa medium, manusia yang paling buruk dari keduanya.

Manusia membutuhkan segala hal yang bisa dihabisinya untuk hidup, dan mereka akan menciptakan alasan pembenar untuk itu. Suara hanya membutuhkan medium dan temperatur. Kecepatan suara di udara tergantung dari temperatur, makin panas, makin cepatlah dia bergerak, hal ini bisa dikaitkan dengan waktu yang dibutuhkan suara untuk bergerak melalui gas yang mempunyai kepadatan yang berbeda dengan udara, suara akan bergerak lebih cepat melalui helium dan hidrogen.

Suara secara umum bergerak lebih cepat dalam cairan dan materi padat. Disini kepadatan juga memegang peranan yang sama dengan peran yang mereka mainkan dalam gas. Juga ada elastisitas, kecepatan suatu materi – setelah bentuknya dirubah – untuk kembali ke bentuknya semula. Suara bergerak lebih cepat melalui besi daripada air atau udara.

Dan pisau ini terbuat dari besi, relatif murni, tidak ada tambahan logam dari benda yang jatuh dari angkasa luar, tidak ada batu-batu mistik dari gua berhantu, tidak ada doa-doa 80 hari 80 malam, tidak ada ritual, tidak ada sesaji, tidak ada yang istimewa dari besi ini… hanya suara saat dia menyelinap diantara sesuatu… apapun itu.

Saat suara itu terbentuk, aku tahu nyawaku baru saja terselamatkan dari satu lagi unsur di atas muka bumi ini yang ingin memusnahkanku. Satu, dua, empat, tujuh, tiga puluh delapan, delapan puluh enam, seratus tujuh puluh tiga, lima ratus empat… lucu… kebanyakan dari unsur-unsur itu adalah manusia, makhluk yang sama denganku.

Dan hari ini jumlah itu bertambah secara signifikan, aku tidak tahu berapa, cahaya tidak menemaniku saat ini… heh si sombong, aku akan membuatnya datang. Terserah dia mau atau tidak.

Sekarang, apa yang akan membuatmu datang kawan? Trinitrotoluene, dan sedikit cyclonite, ada disekitar sini, barang prasejarah bagi sebagian orang, tapi masih efektif, ada disebuah kontainer dibawah bangku… ini dia.

Seberapa keras pun aku menggeser benda ini tidak satupun mereka yang ada diluar akan mendengar, itulah masalahnya dengan manusia, mereka menjadi buta dan tuli saat ramai, ketakutan seperti anjing dipaksa mandi ketika sendirian… tidak punya harapan…

Didalam chinook yang akan segera almarhum ini, ammonium nitrate dan bahan bakar akan bergabung dengan sendirinya, saat itu… aku mengetuk pintu kamarmu dan sebaiknya kau keluar…

Arrrgggh kepalaku, setan mana yang mengambil tranquilizerku? Pecandu sialan!

Tranquilizer atau salah satu dari kontainer disini pasti berisi obat, persediaan, seseorang, staf yang rajin karena takut kehilangan pekerjaan, pasti… harus…. melakukan tugasnya dengan baik, dan memasukkan sampah-sampah yang bikin ketawa itu…

atau aku bisa gila.

Minuman…. makanan… instan, bervitamin lengkap, indahnya kehidupan modern… satu kontainer lagi…

Ini dia…

Jayalah industri farmasi! Mereka membunuh kami pelan-pelan dengan senyawa kimia buatan mereka dan membuat penawarnya agar kami tetap hidup untuk menjadi konsumen yang baik, dari generasi ke generasi… selamanya! Sekalian melatih staf penjualannya menjadi pelacur dan gigolo…

Yap! Mereka bahkan punya yang spesifik, seperti ini disini, migren di kepala sebelah kanan, dan ada yang khusus untuk migren di kepala sebelah kiri. Sebentar lagi logika dikesampingkan, sponsori penelitian beberapa ahli dan pakar, dan mereka menciptakan migren disebelah belakang kepala atau di dagu sekalian.

Migrenku ini disebelah kiri atau kanan?

Telan saja!

Bagus, disini tertulis tidak menimbulkan rasa kantuk, aku bisa lanjut… ini obat tahun berapa? Masih ada manusia yang mengkonsumsi ini?

… aku…

Komunikator ini tidak berguna lagi, selain untuk pemicu. 10 detik… keluar, pohon itu kelihatanya baik, suara-suara itu, manusia sedang tertawa-tawa, berteriak, lompat-lompat, bersetubuh, mabuk, menarik-narik pelatuk semua senjata yang baru saja mereka menangkan… menang… menang… siapa yang menang disini? Mereka? Salah seorang di Jean Marque? Jean Marque?

Tidak ada, biasanya aku akan menonton mereka terkapar habis masa.

Api unggun dan obor dibelakang sana, mereka bahkan bukan anak-anak dari cahaya, lihat sombongnya mereka menyinari dengan cahaya palsu itu, menciptakan bayangan, menciptakan kegelapan. Efek samping… kebodohan tidak didominasi manusia.

Ah, suara yang cukup mengejutkan, getarannya terasa, bahan-bahan itu telah tercampur menjadi satu, dan lihat! Sang cahaya, untuk beberapa saat yang teramat pendek bayangan musnah.

Meredup… tapi masih ada satu chinook lagi… ahah… dan dia bersinar lagi, dua kali aku mengetuk pintu kamarnya, wajah yang bisa membuatmu buta, keluar dari jendela, mengangkat kepalanya dengan pongah, sampai malu memaksanya kembali masuk dan menutup jendela itu erat-erat. Mungkin tidak akan keluar lagi.

Tapi lihat korban dari kelakuannya…

Sekarang… waktu kutinggalkan Mark sedang berada di depan sana.. Mark orang yang masuk akal, dia akan mengambil langkah strategis jika terancam… mundur… lari…

Dia tahu aku pergi ke arah barat, apa dia lari kearahku?

Dua, tiga orang berlari panik, luka bakar… melihatku, menyerang…

Ukuran adalah segalanya? Hanya orang-orang bodoh yang percaya itu, emosi dan agitasi, mereka memprovokasi dengan amarah…

Preman-preman kotor ini… onggokan daging sampah yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang persendian… begitu ribut… aku bisa membunuh kalian tanpa melihat…

Sekarang kalian…

… terkapar…

… mungkin saja… pemantiknya ada padaku… dia sepertinya tipe orang yang selalu ingat detil seperti ini…

Nah itu dia… mayatnya setidaknya…

Suara teriakan… ada yang sudah mengetahui keberadaanku.

Ayo Mark… kita balikkan mayatmu…

rambut gaya yang bercahaya itu, garis wajah yang tegas, tubuh yang besar… dan berat… bau parfum maskulin yang bahkan mengalahkan bau darah… sial! Hidup atau mati, tetap laki-laki eh?

kita lihat isi kantongmu…

yap… tidak satu tapi dua bungkus rokok walaupun salah satunya tinggal setengah, bukan merk faforitku, tapi… terima kasih.

Sekarang orang-orang yang berlari kearahku ini… terbakar api, terbakar amarah… aku agak lapar, tidak apa-apa, sebelum makan malam… ya kan Mark?

Lucu, aku merasa lebih akrab dengan mayatmu, kenapa kita tidak sering minum bersama saat kau masih hidup?

Sekarang hanya ada aku dan besi ini… dan mereka…

18. Perkenalan.

Akhirnya sampai juga…

Dentuman itu sudah terasa sampai sini, si Coki bilang itu bukan karena akustik yang jelek, tapi karena pawer spikernya memang gila-gilaan. Manajemen suara sama manajemen akustiknya beda, jadi kacau gitu deh…

Rambut? Oke… Untung udah mandi di kantor tadi… parfum? Kayaknya nambah dikit… Sekarang keluar dengan stail…

Boy dengan mobil barunya… Daimler Dash! Disingkat DiDi! Ada pertanyaan?

“Boy!”

Siapa perempuan-perempuan itu, biar saja mereka berlari kesini.

“Weh, ganti lagi nih! DiDi loh girls!” mereka tertawa, mengelus-elus mobil itu.

“Yang kemarin kemana?”

“Makin makmur ya kamu, makin berisi lagi, rajin olahraga ya say?

Hal-hal seperti ini tidak dapat dihindarkan, tanganku di pinggang mereka, aku terlahir sebagai yang kuat dan yang beruntung, dua prasyarat utama agar manusia bisa mendapatkan cinta!

Lihat, bahkan Alex yang sangar itu saja tersenyum. “Ayo bro, silahkan!” dia mengangkat pembatas itu. Akses, aku bisa masuk kemana saja aku mau.

Lewat pintu kecil, dan suara bas dan musik elektronik itu bikin kepala dan telinga menjadi terasa penuh! Hampir tidak bisa dengar yang lain. Walaupun kalian tak bisa mendengar, kalian bisa melihat. Lihat, lihat kemari, sang pangeran telah datang!

“Boy! Bro!” Beberapa orang melambaikan tangan. Orang-orang dari kantor, juga ada karyawannya klayen.

“Halo may men! What’s ap!” Malam ini bakal seru.

“Eh Boy bawa DiDi loh!”

“Ah masak!”

“Really!”

“Dah tahu!”

“Kredit ya Boy!”

Siapa itu? Nyengiti!

“Pesan! Pesan! Aku traktir!” lihat apa komentarmu sekarang!

“Masak staf di Jean Marque kredit mobil!”

“Nggak apa-apa lah, DiDi kan barang premium, its e gret investment yu nou, bagus tuh Boy!”

“Ha ha, thenks bro!” tunggu sampai kalian lihat investasiku berikutnya…

“Boy!”

Silvia? “Mana dia!”

“Bukannya tadi sore udah kamu telepon!”

“Iya sih! Paling besoleknya lama yah!”

“Of cors, mau ketemu Boy! Tunggu aja deh ya! Aku mau keliling dulu! Nggak enak sama manajer!”

Tunggu? Aku disuruh tunggu? Orang-orang ini berlaku seenaknya mereka pikir mereka siapa? Telepon saja! Sial kog dia nggak mau nerima vidio koll?

“Halo Mona!”

“Lisa.”

“Mona Lisa dong! Heheh…!” kog dia nggak ketawa? “Aku dah nyampe nih, kamu mana!”

“Lagi mau masuk, dah ya?”

“Oh udah mau masuk! Udah di depan…!”

kog diam?

“Er… ya.”

Kog jawabnya begitu?

“Aku di…! Kamu masuk aja…! Kelihatan kog dari pintu! Nanti aku kasih tanda ya!”

“Oke.”

Perempuan yang dingin.

“Nungguin siapa Boy! Pacar baru!”

“Tauk nih bocah! Nggak bagi-bagi! Mau buat harem yah!”

“Santai, santai bro!”

“Mau deh jadi haremnya Boy, asal dapet DiDi satu!”

“Serius nih! Gampang itu!”

Pundakku ditepuk, Silvia, menunjuk ke arah pintu.

Wahhhaiii, disitu dia berdiri, wajah manis imut, rambut hitam, gaun yang berwarna… warna apa itu? Ungu? Abu-abu? Hitam? kontras dengan kulitnya, anggun tapi liar, dengan belahan sampai ke pahanya, paha yang bagus, pinggul yang arrggghh! Dadanya nggak sebesar punya Silvia, tapi skor yang lain udah lebih dari cukup kog untuk nutupin.

“Itu tuh yang kamu tunggu!”

“Mati Boy! Mainanmu premium semua!”

“Hey! Hey! Disini ada cewek juga loh! Emang kami nggak premium!”

“Haha, nggak selevel yang itu!”

“Kenalin Boy!”

Dia berjalan mendekat, klab ini ramai, tapi sepertinya semuanya memperhatikan dia.

“Panther Boy!”

“Gays, kenalin, ini Mona!”

“Lisa!” Dia tersenyum, segar!

“Mona Lisa!”

“Yang benar mana nih!” perempuan-perempuan itu cekikikan. Candaku berhasil.

“Kog kayak nama lukisan yah!”

Inilah waktu dimana mereka butuh sedikit penjelasan “Ya jelas! Lukisan perempuan tercantik di dunia! Pelukisnya Dante! Juga jagoan puisi romantis!”

“Wah! Boy jadi pakar seni sekarang!”

“Serius bro! Bagi-bagi ilmu dong! Siapa tahu bisa dapet yang kayak Mona juga…! Eh sori! Lisa!”

Mereka ketawa.

Sesaat aku melihat Lisa memandangku lekat-lekat… dia jatuh cinta… aku rasa aku juga… dia memang bagai lukisan…

19. Pertanyaan?

Serius, orang bodoh mana yang memberiku nama Mona Lisa? Pasti dia pikir dia pengarang yang hebat.

Lisa oke, simpel, efektif… Mona? Seperti nama gadis dungu.

Dan tiba-tiba aku menyesal berada disini, bukannya aku tidak menduga demikian.

Dan si Boy ini? Kharisma kosong singa jantan yang terkapar ditengah kawanannya, dia tidak pernah berburu, dia makan makanan binatang lain dan dia berusaha keras untuk itu, berapa galon minyak rambut diatas sana?

Mona Lisa oleh Dante? Florence mungkin sudah hapus dari peta, tapi aku setengah berharap Leonardo akan bangkit dari kuburnya dan membawaku pergi dari sini.

Darimana dia kenal Dante?

Atau Eris? Rencana cadangan, aku tidak mau dia menemukan kucing basah didepan pintu, tidak ada yang cukup berharga disini untuk membawaku ke posisi itu.

Volume 4

15. Mona Lisa.

Siapa si cantik didepan cermin? Ah tunggu sebentar, itu aku! Pinggul itu, setan, hantu, penghisap darah, zombi mimpi untuk gentayangan disana, paha, kaki yang bisa membuat lumpuh semua kuda, badak, harimau, naga, bahkan monyet, yang berotak maupun tidak, sepasang payudara… hmm coba lihat… tidak terlalu besar, tapi mereka ada disana, sehat dan bugar, menuntut perhatian mutlak… semakin besar, maka semakin kelihatan bodoh.

Tulang punggung ini menanggung beban dengan berat yang tepat, dan sebagai penyeimbang, lihat bokong itu… uuuhh, bahkan aku ingin bercinta dengan diriku sendiri.

“Pergi lagi?” Eris? sejak kapan dia berdiri disitu?

“Ya, ada janji…”

“Kau sedang bertanya pada cermin, siapa yang tercantik didunia? Sudah berapa banyak omong kosong itu masuk ke otakmu?” dia tersenyum, rokok ditangan. Eris… kalau kau bisa mengurangi berat badanmu…

“Kau tahu kan, dibalik semua omong kosong itu hampir selalu terdapat seorang laki-laki dengan pikiran kotornya?”

… juga sarkasme itu, tidak menghukum dirimu sendiri dengan pikiran yang… menghukum dirimu sendiri, dan menyingkirkan rokok itu jauh… jauh!

Tapi mungkin semua itu kutukan orang gemuk, dan yang tidak-tidak itu mungkin benar. Atau mereka mengutuk diri sendiri… mereka saling mengutuk, semua orang-orang ini. Kurebut rokok itu dari bibirnya dan melemparnya keluar jendela.

Dia terpana, namun segera menguasai diri “aku masih punya setengah bungkus, kau mau merebut itu dan membuangnya keluar jendela?”

“Mana?”

“Mati saja!”

Tertawa, sang dewi, makhluk paling menyenangkan di seluruh dunia mengejawantah dihadapanku.

“Sekarang, kau bisa bantu aku.” Aku mempersembahkan beberapa lembar undies dihadapannya.

“Menarik…” dia memperhatikan semuanya dengan konsentrasi yang agak mengerikan “siapa laki-laki… atau… perempuan ini?”

“Laki-laki ini, mungkin bukan siapa-siapa, tapi dia bisa membawaku ke Jean Marque.”

“Wow… wow… g-string kalau begitu.”

“Sepakat.” dan kedua kakiku melesak kedalam benda hitam itu… tidak banyak… ini bukan untuk menutupi, ini adalah pernyataan, mungkin tantangan.

Eris melempar bra pilihannya kedadaku… sebatang rokok sudah kembali terselip di bibirnya… kapan?

“Apa?” matanya menantang.

“Tidak apa-apa…”

“Ini pembunuhan berencana ya?” sedikit sinisme diujung senyumnya.

Benar juga, apa sebenarnya yang akan kulakukan setelah bertemu dengannya? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Silvia yang mengatur semua ini, orang dari Marque itu melihatku katanya, dia tertarik padaku katanya, orang itu baik dan punya gaya katanya, dia ingin bertemu denganku katanya, katanya dia adalah orang kepercayaan Jean Marque… itu semua baru kemarin, aku bahkan tidak sempat melakukan riset kecil seperti yang biasa kulakukan… dan ini salah.

Dan Silvia? Kalau ada laki-laki yang datang padanya dan mengatakan bahwa dia punya peternakan di Jupiter, perempuan bodoh itu akan percaya dan bercinta dengannya. Bercinta… sex, tidur dan mengira mereka jatuh cinta.

“Seperti apa orangnya?” Eris mengetuk dahiku dengan jari telunjuknya.

Tentu saja, seperti apa orangnya? Itu masalahnya. Aku merasa begitu bodoh.

Eris menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan berton-ton asap ke udara, “sayangku, kau kacau.” dia tertawa.

“Hanya karena mendengar dari sumber yang tidak bisa diandalkan bahwa dia adalah orang penting di Marque kau langsung lompat ke kolam es?” Eris, dengan tatapan aku-kasihan-dengan-orang-bodoh-ini, tatapan yang khas, aku bisa lihat bentuk alis dan ketidaksinkronan yang disengaja diantara kedua mata.

“Aku bisa membayangkan kucing manis yang basah dan gemetaran keluar dari air… sayang, pakai kostum yang biasa-biasa saja, perasaanku tidak enak, rasanya kepingin ketawa saja.” Eris beranjak pergi.

“Kucing basah?” aku protes!

Dia berpaling dan tersenyum, “ya, dan aku singa betina yang harus mengajarimu bagaimana cara menggunakan cakar dan taring.”

“Merokoklah sampai mati.”

“Ini sedang diupayakan sayang, ini sedang diupayakan…” dia tertawa, bersandar di ambang pintu, memandangiku, pandangan itu lagi.

“Ya, ya aku tahu, akhirnya harus seperti ini, segala macam omong kosong tentang potensi inteligensia manusia yang diharapkan lahir dari pendidikan dan pemberadaban sesungguhnya tidak berlaku di kehidupan nyata, khususnya tidak berlaku untuk perempuan, pada akhirnya satu-satunya yang bisa kita pergunakan adalah senjata yang sama dengan yang dipergunakan oleh nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu… sex…”

Dia hanya tersenyum mendengar itu, berbalik, keluar kamar “yang terburuk adalah kalau kita harus menjadi laki-laki hanya agar dapat bertahan hidup, kita semua adalah korban-korban dari senjata kita sendiri, ingat saja alasan kenapa kau melakukan semua ini…”

Alasan Eris? Itu karena kita semua adalah manusia, harus hidup layaknya manusia, tanpa harus melacurkan jiwa kita pada setan, atau hantu, atau segala macam binatang yang ada diluar sana.

16. Mengurai.

Itu dia, berdiri tertunduk, rokok ditangan. Dua truk beberapa meter dibelakangnya, lampu menyala, bau darah…

Siapapun tahu, seharusnya aku menjauhi orang ini, tapi saat ini aku justru mendekatinya, apa yang kucari? Keamanan, aku masih ingin hidup.

Dibelakangku aku tidak tahu berapa orang yang hidup berapa orang yang mati, nanti saja.

Sudah cukup dekat, lampu skipper menerangi tubuhnya, darah, dia mandi darah. Didepannya seorang perempuan muda memeluk… sepotong tubuh, mengayunkan tubuhnya kedepan dan kebelakang… dia beryanyi?

Beberapa langkah dari mereka mayat dengan seragam peserta lengkap, segala kaca mata pendeteksi panas, crossbow, senapan, terbaring ditanah, mati, sebuah pisau yang cukup besar menancap dikepalanya.

Semua orang punya asumsinya masing-masing mengenai arti kata kejam, mengenai arti kata seru, mengenai arti kata bersenang-senang. Beberapa orang pemuda tanpa otak mungkin akan tertawa-tawa melihat adegan ini di film, kemudian mereka berusaha mengimitasi semua hal ini di arena permainan dengan peralatan yang mahal, saat mereka keluar mereka sudah merasa seperti kawanan serigala yang berhasil mengokupasi wilayah. Mereka bertindak seakan-akan semua yang ada disekeliling mereka adalah anjing.

Padahal mereka sendiri tidak lebih dari anjing-anjing gemuk yang merasa memiliki dunia karena setiap hari disumpal dengan daging oleh tuannya.

Disini ada seekor serigala seutuhnya, kurus dan lapar, tubuh terlumur darah, cakarnya masih tertancap dikepala korban terakhirnya, dan dibelakangnya mayat berserakan. Dia lapar, tapi dia tidak membunuh untuk makan, semua korban-korban murahan ini membuatnya mual.

Skipper dimatikan, cahaya lampu dari truk masih cukup terang. Apakah aku bisa bicara dengannya sekarang? Kita harus segera pergi dari tempat ini, orang-orang itu bisa sampai ditempat ini sebentar lagi.

“Kau Miftah? Kau merokok?” dia bertanya.

“Ya, aku Miftah, tidak, aku tidak merokok.”

Dia membuang puntung rokoknya, berjalan kearah mayat peserta itu, mencabut pisau, melapkan pisau itu di mayat si peserta, menyelipkan pisau ke sarung dibagian belakang pinggangnya, berjalan melewati perempuan yang sedang menangis itu, mengangkat sebuah buntalan dari tanah, kembali ke perempuan itu, meletakkan buntalan itu disana dan berlutut didepannya.

Dia jongkok disana beberapa saat.

Kali ini dia menoleh padaku. “kau tahu dimana mayat Mark?”

“Eh, sebenarn…”

“Aku pinjam skipper itu.” dia bangkit dan berjalan kearahku.

Aku turun dan menyerahkan skipper itu padanya, dia melompat naik.

“Bujuk dia…” kemudian melesat, kembali kearah timur, kearah orang-orang itu.

Bujuk siapa? Perempuan itu? Kenapa?

Pertama kali aku menggantungkan hidup disini, pemandangan seperti ini bisa membuatku depresi, ingin bunuh diri. Aku tidak pernah merasa berkerja, karena ini bukan perkerjaan, cuma alasan untuk memutar kapital dan kami mendapatkan remah-remah dari apa yang dipertukarkan oleh orang-orang yang berkuasa.

Kami menyebut itu ‘hidup’.

Tapi kini bahkan melihat isi perut yang terjuntai hampir tidak menggangguku. Aku mendekati perempuan itu, berlutut didepannya, dengan ragu mengarahkan senterku padanya.

Ha! Ternyata dia tidak sebeku yang dikira orang… wajar saja dia tidak membunuh perempuan ini, monster sekalipun akan merasa sayang jika harus memakan korban seperti ini.

“Hei…” apa dia mendengar?

“Hei, kau tidak apa-apa? Kau mengerti apa yang kubilang?” Tidak ada respon, tubuh itu melengkung, kepala itu tertuntuk, mata itu tetap kosong. Apakah dia bernyanyi?

Aku menyentuh pundaknya, “kau dengar aku?”

Aku terduduk, ini akan percuma, siapa wanita yang mati ini? Ibunya? Tidak mirip.

Apa yang akan dia lakukan padaku jika dia kembali dan perempuan ini masih seperti ini?

Kog bisa dia mengendarai skipper begitu kencang kearah timur, dia mau bunuh diri? Orang-orang itu masih disana, mungkin sekarang sedang menjarah segala isi chinook itu, mengumpulkan senjata, membunuh staf yang tersisa.

Apa isi buntalan ini? Coba lihat, beberapa lapis pakaian, apa ini? Kertas? Banyak sekali lipatan-lipatan kertas, kecil besar, beberapa sudah sedemikian lusuh. Semuanya berisi tulisan, aku tidak mengerti, tulisan-tulisan tangan ini begitu rapi.

Dan beberapa botol kecil, berisi pil-pil, apa kata tulisan ini? Estrogen? Progestin? Apa itu? Sial, kalau aku masih terhubung ke jaringan aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk diriku sendiri. Terputus dari jaringan, rasanya seperti menjadi buta dan tuli.

Apa itu ditengah tumpukan, kotak kecil, apa isinya? Sebuah kalung, emas putih, bagus…

… tiba-tiba kalung itu berpindah tangan, kedalam genggaman erat perempuan itu, matanya melihatku tajam, entah darimana tinjunya sudah membentur mataku.

Dia bangkit, berteriak marah, mengangkat kakinya, melesakkan kaki dan kepalan tangannya kearahku, sakit, pedas.

Aku berteriak protes, dia tidak mendengar, percuma.

Aku berdiri, berusaha menangkap tangannya, dapat!

Sekilas aku melihat lutut itu melesat ke lambungku.

Terbang semua! Terbang semua udara didalam sini! Aku meringkuk, dia masih menendang dan memukul.

Sebuah suara ledakan begitu keras tiba-tiba mengguncang bumi dan pepohonan, sesaat semuanya kelihatan begitu terang.

Perempuan itu terdiam, kemudian memandang sekelilingnya, memandangku, kemudian berlari… bergitu cepat.

Tunggu sebentar, apa yang harus kulakukan, mengejarnya?

Kenapa aku harus mengejarnya?

Karena ada kemungkinan kepalaku akan ditembus oleh pisau besar itu!

“Tunggu!”

Volume 3

sebelum membaca lebih lanjut: terdapat konten yang hanya bisa dikonsumsi orang dewasa (istilah “dewasa” ini jangan diperdebatkan^^) jadi kalau anda belum berumur 18 tahun, atau anda termasuk orang yang sensitif terhadap kata-kata yang menggambarkan seksualitas dan kekerasan, berhenti disini.)

8. Keberlanjutan.

Suara ini begitu kuat, semua pohon bergoyang, aku merasa kepalaku seperti mau pecah. Aku pernah mendengar suara ini dari jauh, semua orang ketakutan mendengarnya.

Bahkan tanahpun seperti tergoncang.

Benda terbang yang besar, aku tidak tahu apa, aku tidak tahu ada berapa, lewat diatas kami, begitu rendah. Dan tidak jauh didepan suara itu menetap. Aku tidak bisa mendengar apapun selain suara mengerikan itu!

Inana meremas pergelangan tanganku, menarikku, kami berlari kearah berlawanan, tapi tidak kembali kejalan, tetap diantara pepohonan, Inana sepertinya selalu berlari ketempat yang pepohonannya lebih padat, lebih sulit berlari, namun Inana berlari terus.

Tidak lama suara itu mulai reda, aku mencoba menoleh kebelakang, tapi Inana menghentak lenganku, terus berlari, lebih kencang, aku bisa mendengar nafasnya sekarang.

“Inana?” Aku hampir tidak mendengar suaraku sendiri, aku bagitu takut.

“Putri, kau ingat lagu yang kita nyanyikan? Lagu ombak?”

Lagu ombak, Inana selalu menyanyikannya, aku suka lagu itu, tapi aku tidak mengerti bahasanya, bukan bahasa kami. Kalau aku tanya artinya, Inana selalu menjawab: nanti. Aku curiga dia tidak tahu artinya.

Inana mulai menyanyi, diantara nafasnya yang semakin berat.

Aku ikut bernyanyi.

Suara kami putus, pelan, kuat, terus berlari.

Suara Inana mulai tidak kedengaran.

Inana mulai terisak.*

Tiba-tiba langit dibelakang kami begitu terang, aku menoleh, begitu pula Inana.

Aku menoleh pada Inana, dia merapatkan keduabelah tangannya kepipiku, memandangku begitu dekat, nafasnya, air matanya, tepat didepanku, begitu hangat, matanya begitu menyayangiku.

“Putri, sayangku, anakku, aku ibumu… panggil aku ibu!”

“Ibu…” Aku begitu takut ibu, kenapa kau menangis? Kenapa aku menangis?

“Kau harus ingat itu! Ingat semua yang Ibu katakan padamu sayang?”

Aku mengangguk.

Inana mencium dahiku, kedua pipiku, hidungku, daguku, bibirku.

“Ingat, dulu kita pernah lomba lari?” dia tersenyum, masih terisak, air matanya membasahi wajahku, nafasnya membuatku hangat. Aku mengangguk.

“Ingat waktu ibu bilang kau bisa lari seperti angin? Ingat waktu kau mengejar anjing itu?”

Anjing itu mati ditabrak dengan truk oleh beberapa laki-laki, sebagai hiburan, tapi aku mengangguk.

“Sekarang Ibu mau kamu lari seperti itu, lari sekuat kamu, secepat kamu, jangan tengok kebelakang, jangan berhenti, lari saja terus”

Aku mengangguk.

“Janji sayang?!” Tangannya semakin erat dipipiku.

“Janji…” Isakku.

“Kau harus ingat, Ibu sayang padamu, sayang sekali padamu… anakku… ” Dia memelukku erat, mencium lagi wajahku, mencium tanganku, memelukku lagi.

Kemudian dia bangkit “sekarang lari… lari!”

Tapi aku tidak mau meninggalkannya, aku tidak punya apa-apa lagi, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Siapa yang akan bercerita padaku? Siapa yang akan menemaniku? Hatiku sakit, sangat sakit, sakit sekali! Aku marah, kenapa dia mengusirku? Aku juga sayang padanya, sangat sayang padanya. Sulit sekali bernafas, dadaku seperti mau pecah. Pipiku basah, leherku basah, tangisku sendiri.

Tidak apa kalau kau memukulku Inana, tidak apa kalau kau membentakku, menyeretku, jangan suruh aku pergi Ibu, jangan suruh aku pergi! Bagaimana aku tanpamu?

“Lari!!!” Dia menghampiriku, mengguncangkan pundakku. “Lari sayang! Kalau kau sayang Ibu, demi cintaku, lari!!!”

“Aku sayang Ibu!!” Berteriak sekuat tenagaku. “Aku sayang Ibu!!”

“Lari!” Tiba-tiba suaranya berubah, dingin seperti Inana yang biasanya.

Kemana jarinya menunjuk? Kesitu aku berlari.

Seperti angin? Ibu, aku berlari seperti cahaya.

9. Sehari-hari

Latitude 0o 29′ 59′ Lintang Utara, Longitude 112o 30′ 7′ Bujur Timur, kami turun. Beberapa staf mulai sibuk, sebagian meloncat keluar, menyiapkan jip yang tergantung dibawah. Para peserta bersiap-siap. Semua pakaian dan perlengkapan yang menutupi tubuh mereka, bahkan beberapa kelompok tentara bayaran di regional ini akan iri.

Kabin ini dimonopoli oleh wajah-wajah ceria, sedikit tegang, mereka masih mengantisipasi berbagai kemungkinan, pengalaman pertama. Sekali-kali terdengar canda-canda kotor khas gerombolan laki-laki, hal-hal yang sama mereka perdengarkan dalam gerombolan kolektor motor antik, penggemar dan kolektor skipper, penggemar dan kolektor kuda, penggemar dan kolektor perempuan, mobil dan lain-lainnya, sayang aku tidak mengerti selera humor mereka.

Tapi aku mengerti tentang keragu-raguan. Ada satu dua orang dengan ekspresi kontemplatif… ada apa? Masih berkutat dengan moral dan etika? Mencoba mencari alasan pembenar kenapa kalian memburu dan membantai makhluk bipedal yang mempunyai ciri-ciri fisiologis yang sama dengan kalian?

Menyerah saja, sudah berapa kali peradaban dan akal sehat dikalahkan oleh motif ekonomi dan tren? Dan coba tebak siapa yang menciptakan tren? Manusia-manusia seperti kalian. Kondisi kita sama dan tidak pernah berubah dari mulai saat kita menemukan tulisan sampai saat ini, saat dimana kita terobsesi untuk mengancurkan tulisan. Mungkin cara kita sekarang lebih jujur?

Komunikatorku berbunyi, ada surat elektronik masuk. Para peserta mulai keluar satu persatu, satu orang menginjak kakiku, dia melirik sebentar kemudian berlalu. Aku ingat matanya.

Ah, berkas video, pengirim? Hitoshi… dan mata sipit wajah pucat itu terfokus pada retina kiriku.

dimana? sedang istirahat? kalau belum, cari perempuan – atau laki-laki – untuk melayanimu, duduk santai dan dengar ini. argumenmu kemarin membuktikan kau tahu banyak namun hanya sepotong-sepotong, istriku bilang jack of all trade, apa artinya itu, dia tidak mau bilang, kau tahu? aku selalu curiga dia menyukaimu, aku ingat dia selalu ketawa kalau didekatmu… padahal kau bukan orang yang bisa melucu.

sudahlah,

oh ya, paolo bilang kau pernah cerita latar belakang teori gaia dan pernah mengintegrasikan dengan beberapa hal lain, kalian bongkar ontologi sampai jam 3 subuh dan istrinya mengusirmu? hahaha. aku jadi ingat nagase. pada akhirnya kalian selalu berkesimpulan semuanya kembali ke cahaya, kalian pikir kalian siapa, penyair? itu terlalu menyederhanakan persoalan.

istilah yang kucari adalah kaon, dulu dikenal sebagai weird particle.

kau mungkin bisa memikirkan sesuatu dengan ini, mungkin menggali kuburan? ukurannya femi tentunya bisa dimasukkan kedalam nukleus, pasangannya? hyperon yang kau katakan kemarin, lihat, segala sesuatunya berpasangan…

terus apa? bagaimana dengan star compressor? yang seperti ini selalu ada aplikasi komersialnya, kalau uangnya cukup seseorang yang bodoh bisa menggusur galaksi kita yang ada sekarang (karena dia bosan!) dan membuat ekologi baru, bintangnya sendiri, planetnya sendiri, asteroidnya sendiri, satelitnya sendiri, hanya masalah proyeksi waktu dan tenaga kerjanya saja, membuat kau berpikir, berapa harga kontrak tempat tinggal di wilayah itu.

oh ya, nagase bilang salah satu peneliti kaon yang paling berperan adalah… coba tebak, orang rumpunmu, spesifiknya jawa kalau tidak salah, mulai dari tahun 1980? tapi namanya seperti nama orang barat… smart atau apa, nanti kulihat lagi, aku sedang sibuk!

Dia sedang mabuk,

Tidak ada satupun kata-katanya yang masuk akal. Lihat hal-hal yang dibicarakan orang saat mereka mabuk… dia mengirimkan pesan ini saat mabuk… si Perancis gila salah, aku punya teman, walaupun hanya saat mabuk.

Faktanya, penelitian kaon sudah sangat maju, bahkan sudah mulai dijual, sempat terhenti lama saat bencana besar terjadi, mungkin nanti aku bisa lihat lebih jauh.

Hitoshi bertengkar dengan istrinya? Lagi?

Siapa Nagase?

Kenapa skipper-skipper ini belum dikeluarkan?

Beberapa staf menaiki skipper dan meluncur keluar. “Skipper?”

Aku mengangguk, staf itu mendorong satu kearahku. Saat meluncur keluar, seseorang melompat kebelakangku, Aku berbalik, tatapanku dibalas dingin oleh kaca mata pendeteksi panas. Seorang peserta.

“Aku ikut kau ok?!”

“Ok…” apa aku punya pilihan lain? Uang kalianlah yang sedang berkerja disini.

Sekilas aku melihat Mark, bertepuk tangan berusaha menyemangati semua orang, menambah sedikit dosis adrenalin ke bejana yang sudah penuh “sebelum makan malam! Sebelum makan malam!” teriaknya.

Jam berapa biasanya dia makan malam?

Dua Chinook lainnya kembali mengudara, kenapa? Siapa manajer perburuan malam ini? Jessica, dia tadi begitu intim dengan si Amerika, mereka ada didalam sorti yang pergi itu.

Chinook 3 dan 4 stasioner, berarti ada 40 orang peserta di kelompok ini, 2 mobil dan cukup skipper untuk semua orang.

Bagus, tidak masalah, lebih bagus begini.

Suara mark tiba-tiba lantang di telingaku “Siapa manajer perburuan malam ini?!”

“Jessica.”

“Kenapa dia pergi ke kordinat sekunder dengan klien utama, kenapa dia bawa 20 orang dari kelompok ini?!”

“Kordinat Sekunder?” Kordinat sekunder apa? Kenapa aku tidak tahu apa-apa tentang kordinat sekunder?”

“Dia tidak memberitahumu?” Ada keheranan yang jujur pada suara Mark.

Jessica melakukan itu? Kenapa? Perempuan gatal itu sering melakukan hal yang aneh-aneh, apa lagi kali ini?

“Tanya dia.” Aku mulai pusing, migrain? Sekarang?

“Tidak bisa, protokolnya, aku kena firewall, kau saja yang hubungi!” Mark mulai uring-uringan.

“Jessica!”

“Halo sayang!” Suara kekanak-kanakan itu selalu membuatku darahku beku.

“Jessica…”

“Oh, yang 20 kubawa untuk keamanan, kau tahu, klien utama ada disini.” Seperti biasa, dia begitu tenang, bahkan stoic.

“Ada berapa di kordinat sekunder?”

“Banyak!”

“Berapa?”

“… se…tus…li…uh…” Aku mendengar dia mengucapkan sesuatu, begitu pelan, aku tidak bisa mendengar dengan jelas.

“Jessica!”

“Seratus lima puluh!” teriaknya.

Seratus lima puluh? Apa yang mau mereka lakukan disana?

“Buka protokolmu pada Mark! Pada semua staf levelmu!” teriakku.

“Untuk apa?! Mendengar semua omong kosong cintanya itu? Laki-laki tidak berguna!” dia membalas dengan teriakan yang lebih kuat.

“Buka!”

“Jangan kau membentakku kau…!”

“Levelku berada diatasmu.” Aku tidak punya waktu untuk ini.

“Aku tak perduli!” Jawabnya marah. Hening sedetik.

“Ok, baiklah!” Lanjutnya, masih marah.

“Mark, sudah? Yang lain?” tanyaku.

“Sudah!” terdengar jawaban beberapa staf.

“Mark?” Aku belum dengar suaranya.

“Persetan, kita batalkan saja!” Bentaknya.

“Ya, batalkan saja!” Terdengar suara seorang staf lain, Miftah? Ahli komputer itu? Dia di lapangan?

“Terserah!” Jawab Jessica ketus.

“Jangan dibatalkan, lanjutkan.” Suara bernada perintah ini datang dari belakangku. Dan sesuatu yang dingin menekan tengkukku. Peserta yang duduk dibelakangku menodongkan crossbownya.

Aku ingin bertanya, tapi rasanya akan percuma. Bahkan seorang idiot pun tahu apa yang akan dilakukannya jika aku membatalkan perburuan ini.

Bisnis yang kotor memerlukan etika yang kotor. Ini seperti anomali air, mengalir kebawah, mengisi ruang kosong, menguap ketika dipanaskan dan seterusnya. Seperti saat kau tidur dan lelah karena secara otomatis tubuhmu memerlukan mekanisme itu. Tidak perlu ada pertanyaan, karena semuanya sudah terjawab, kau hanya perlu berpikir mengenai apa yang harus kau lakukan sekarang.

“Teruskan, seperti biasa…” jawabku.

“Kau gila!” Teriak Mark, beberapa staf lain di kelompok ini mulai protes.

Jessica, dilain pihak, cekikikan. “Ada waktu-waktu aku begitu menyukaimu pria kecil, mungkin setelah malam ini selesai? Ah tidak, aku punya janji lain…”

Aku membayangkan wajah Mark mendengar hal ini. Aku tidak pernah habis pikir kenapa laki-laki tergila-gila dengan perempuan seperti ini?

“Bi**h!” Teriak Mark.

“Up yours!” Balas Jessica.

Sungguh, aku ingin tertawa. Masalahnya adalah, pertama: crossbow kuno abad pertengahan mempunyai daya lontar yang cukup kuat yang membuatnya begitu efektif pada jarak dekat, lebih efektif daripada busur dan panah, dan spesimen yang menyentuh leherku ini, menggunakan varian kompresor yang biasa mereka pergunakan untuk memaksa air menembus lempengan baja.

Jika membicarakan alat untuk membunuh sesamanya, manusia bisa menjadi begitu kreatif.

Kedua: migrain ini bisa membunuhku. Aku memutar arah skipper, kenapa tranquilizerku bisa ketinggalan, ini semua karena pesan video itu, untuk sesaat aku menjadi tidak awas.

Orang dibelakangku menekan crossbownya keleherku “kemana? Jangan macam-macam, jalan terus!”

“Baiklah, kemana?”

Sedetik, dua detik, tujuh detik, cukup lama dia terdiam, kemudian dia menunjukkan proyeksi GPSnya kepadaku. “Tadi kita melewatkan dua titik dibelakang.”

“Ke barat kalau begitu…” Mark mungkin benar, semua ini harus selesai sebelum makan malam, kapanpun itu, atau migrain ini akan membunuhku terlebih dahulu.

10. Berburu.

Sebelum berburu wanita ada baiknya makan malam dulu, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Dan aku akan makan dengan… Sandra.

“Malam beybi!”

“Hah, siapa ini?”

“Tsk, kamu kog gitu sih? Ini Boy!”

“Oh, Boy, kog marah?”

“Ketahuan kamu ya, kamu gak simpan ID ku ya?”

“Nggak, simpen kog, lagi sama temen ini.”

“Cowok, cewek?”

“Emang kenap…”

“Lagi ngapain kalian?!”

“Hah?”

“Sini! Kita makan di tempat biasa!”

“Kamu maksa deh…”

“Aku pacarmu bukan?!”

“Nggak juga nggak apa-apa…”

“Sayang, aku lagi butuh kamu nih.”

“Skipperku rusak ini, lagi dibenerin sama temen.”

“Pake aja skippernya dia! Biar dia bawa skippermu kalau udah bener.”

“Dia lagi nolongin aku benerin ini skip…”

“Pokoknya kamu kesini ada yang aku mau omongin, tentang kita!”

“Apa sih, ya udah, aku kesana!”

“Kutunggu!”

Perempuan ini harus diberi pelajaran.

11. Contact.

“Lihat gambar satelit!” terdengar suara Mark.

HGUI menunjukkan titik merah yang sangat ramai menuju kearah kami dari timur.

“Mereka mendatangi kita, mereka tidak lari!” suara Miftah. “Aku tahu kapan-kapan yang seperti ini pasti kejadian” Dia tertawa.

Dari kejauhan aku bisa melihat begitu banyak obor, semakin mendekat, semakin terang. Ada tiga kendaraan berat bersama mereka, jumlah itu… lebih dari 300 orang, bahkan mungkin lebih dari 400.

Terkadang kau bertanya, dijaman yottabyte seperti ini, komputer masih melakukan kesalahan perhitungan yang begitu konyol?

Tidak, lebih dari itu, ada yang berbau amis disini.

Para peserta panik, staf-staf yang berusaha menenangkan mereka juga panik.

“Mark?”

“Urus dirimu sendiri” jawabnya dingin, aku hampir bisa melihat sunggingan dibibirnya.

Tidak ada omong kosong, alasan kami semua ada disini adalah untuk saling membinasakan… saat-saat seperti ini, kami merasa begitu hidup.

“Gear up, gear up! Kau tak mau ludah dan darah mereka mengenaimu!” Terdengar Mark sudah mulau memberi aba-aba, dia satu-satunya kapten di kelompok ini, Jessica membawa 3.

“Harusnya, kau suruh Jessica mengembalikan kru kita!” Mark mulai gusar.

“Aku tidak bisa melakukan itu.”

“Kau terlalu yakin.”

Dia tidak bisa melihat kondisiku disini, crossbow dibelakang tengkuk.

“Kau tidak tahu apa-apa, aku tidak punya nafsu untuk menjelaskan.”

Jessica tidak bisa dihubungi, dan bukan masalah protokol, dia tidak ada disana.

“Bagaimana dengan pusat?” tanya Mark.

Menunggu Miftah, “Kita diputus, aneh, biar ku urus, kalian urus saja diluar.”

Dan mereka berlari kearah kami, 400 orang, 3 truk, melawan 20 orang peserta dan 9 staf. Kami punya amunisi dan senjata, apa yang mereka punya?

Suara kering senapan melantakkan udara, tidak ada yang kena, mereka penembak yang buruk.

Sama dengan para peserta ini.

“Pergi, naik ke heli, kita pergi dari sini!” teriak seorang peserta.

“Tidak ada yang pergi dari sini…” crossbow itu kembali menekan leherku.

Apakah aku takut mati? Apakah ancaman ini mempengaruhiku? Apakah aku memilih menyelamatkan nyawaku diatas nyawa peserta dan staf?

Sejujurnya aku tidak perduli, aku hanya ingin lihat apa yang akan terjadi setelah ini.

Dan Mark tidak bodoh, dia dan para staf sudah mengeluarkan pelontar granat, merobek kerumunan itu, merusak 2 kendaraan. Para peserta bersorak, mereka mulai menembakkan apa saja yang ada pada mereka.

Para buruan itu mulai berpencar, melihat tubuh teman-temannya yang berlari tanpa kepala, tanpa dada, tanpa tangan, mereka tahu, menyerang secara frontal akan membuat mereka dibantai.

“Kurasa temanmu bisa mengatur tempat ini, aku lebih suka berburu daripada berperang.” orang dibelakangku mengingatkan, ada benarnya.

Ke barat, 2 titik tadi sudah berpisah, apa salah satunya menunggu kami? Dia memasang perangkap?

“Kejar yang paling jauh, jangan sampai dia kemana-mana.” katanya sambil tertawa… dan kami melewati titik pertama. Jika dia senang berburu, kenapa matanya tidak pernah lepas dari proyeksi satelit itu?

Semakin dekat. Titik yang satu ini berlari begitu cepat.

Apa ini, sesuatu bersiul ditengah angin, bergerak begitu cepat!

Sial, mereka juga punya pelontar granat.

12. Kontak.

Ledakan apa itu? Inana?

Sesuatu begitu kencang melewatiku, apa itu?

Siapa yang tergeletak ditengah jalan?

Dari kiri, dari celah-celah pohon, 3 truk keluar, ada banyak orang diatas truk, semua bawa parang, dan senjata lain. Lampu dari truk menerangi orang itu.

Mereka akan menggilas orang itu, apa orang itu jahat? Inana bilang semua orang jahat. Tapi mereka akan menggilasnya seperti anak anjing itu.

Dia mulai berdiri, memegangi kepalanya, mengerang, sepertinya dia kesakitan dikepalanya.

Beberapa orang turun dari truk, berjalan kearahnya mengayun-ayunkan parang. Tertawa.

Laki-laki itu mengeluarkan sebuah… pisau? Terlalu panjang untuk pisau, terlalu pendek untuk parang, dari balik pinggangnya.

Dan dia berlari kearah truk dan orang-orang dengan parang… berputar, menusuk, menebas, tidak lama, semua orang yang ada di depan truk-truk itu jatuh sudah. Tidak lagi tertawa.

Salah satu truk lari, dengan beberapa orang diatasnya, truk yang lain tidak bisa bergerak terhalang truk didepannya. Mereka semua berteriak marah menyerang orang itu.

Sebuah teriakan dari arah kananku… dari kilatan lampu truk yang menerangi pohon-pohon itu Inana berlari ke arahku, aku tidak tahu apa yang dia katakan, dia mengayunkan-ayunkan tangannya.

Inana? Pinggangnya bergeser, dan jatuh, tangannya masih berayun, air matanya melayang di udara, kakinya seperti mempunyai pikirannya sendiri masih berlari kearahku. Terjerembab tepat didepanku. Darahnya membasahiku.

13. Sebenarnya.

Sandra… sebenarnya melihatnya membuatku nafsu, lihat kaki jenjang yang putih itu ketika dia turun dari skipper. Perempuan ini blasteran dari mana-mana, Eropa, Amerika, Cina, dan entah darimana lagi, sayang agak dingin kalau kami berhubungan sex, katanya dia tidak puas? Persetan, banyak maunya.

Sayang aku udah janjian sama Mona.

Eh, ada telepon… Karin!

“Hey babe!”

“Karin? Ada apa?”

“Ada apa? Kamu janji mau ketemu aku!”

Sandra sudah ada didepan meja. Kututup mic.

“Eh yank, bosku lagi mau ngomong nih, aku kebelakang sebentar yah.”

Sandra memandangiku, ah, lama banget ngangguk aja. “Kenapa nggak diterima disini saja?” tanyanya.

“Nggak enak, dia ngomongnya suka ngawur.”

“Terserah…”

Sekarang ke belakang.

“Eh Rin, kamu ganggu aja, aku lagi makan malam dengan bosku!”

“Yee, mana aku tahu! Trus kamu mau ngomongin apa tadi?”

“Aku lagi kesulitan nih”

“Duit ya?”

“Iya, bosku nggak bisa nggaji bulan ini divisi kami lagi kacau, padahal kredit mobilku udah nunggak sebulan”

“Loh, bukannya kamu lagi makan malam sama bosmu?”

“Alasanya aja, biar aku nggak nagih-nagih, si bangsat itu…”

“Huss! Hati-hati, nanti dia dengar loh.”

“Padahal kantor kreditnya udah pake ngancam-ngancam lagi…”

“Kacian yayankku, udah deh nanti ku transfer, kamu tenang aja.”

“Makasih sayang, besok kita jalan-jalan yuk.”

“Iya deh, dagh.”

“Dagh… mmuuach.”

Eh Sandra udah mesan makanan belum yah? Lekas ke meja.

“Kamu lama!”

“Bos nyuruh aku datang ke kantor lagi, gila apa?”

“Yah, dia bos kamu, mungkin ada yang penting.”

“Nggak, dia cuma mau ditemenin minum itu, biasa bujang lapuk.”

Sandra membolak-balik menu “trus, kamu mau ngomong apa?”

“Aku lagi kesulitan nih yank…”

14. Makan Malam.

Suara teriakan itu menyadarkanku, kepalaku begitu sakit, aku hampir tidak bisa melihat apapun.

Tanganku masih bergetar, ledakan tadi, darah disekujur tubuhku. Kontaminasi?

Siapa yang berteriak tadi?

Dua truk dan tubuh-tubuh berserakan didepanku.

Kemana lampu itu mengarah?

Siapa itu disana?

Seseorang, hampir seluruh tubuhnya terbungkus kain, memeluk mayat…

Aku berjalan mendekat, itu adalah mayat seorang perempuan, bagian perut keatas. Orang yang terbungkus kain itu memeluknya, menciumnya, menangis, inana… inana… inana… ibu… ibu… ibu…

Ibu…? Ibu katanya?

Peserta yang tadi duduk dibelakangku, crossbow ditangannya, pelurunya kosong, dia menarik kepala orang yang terbungkus kain itu, merobek, mencabik.

Tubuh itu terguling dihadapannya, dibukanya kaca mata pendeteksi panas itu, menyenter tubuh itu, menjambak rambut perempuan itu, menilai.

“Wow, jackpot!” dia tertawa-tawa “ada yang seperti ini disini?!” dia mulai membuka celananya.

“Mau ikut main?” dia bertanya kepadaku? Pisauku sudah menancap di pelipisnya, dia bertanya padaku?

Peserta itu rubuh, matanya itu, dia yang menginjak kakiku sebelum perburuan dimulai tadi.

Perempuan muda itu merangkak kembali kearah mayat, kembali memeluknya, menciumnya, menyanyikan dukanya.

“Mark mati!” suara Miftah “sem… a… mati… rus… ti… sa… han… dimana pos…?”

“Barat posisimu, ada dua truk disini lampu menyala.”

“Dim…na?!”

“Barat posisimu, ada dua truk lampu menyala.”

“Ak… kes…na!”

Kutaruh rokok dibibirku, kunyalakan…

Selamat menikmati makan malammu Mark… ngomong-ngomong pemantik yang bagus, terima kasih.

* dari green waves oleh Secret Garden

Volume 2

sambungan…

18 tahun keatas, jika anda sensitif berhenti disini.

4. Intermezo

Pulang… peduli amat dengan orang-orang aneh tanpa perasaan itu. Seperti si penterjemah itu, dia pikir karena dia menguasai 10 bahasa asing dia jadi begitu hebat? Si tolol. Si perancis gila itu juga tolol, bukannya program penterjemah udah tertanam di semua gadget? Kalau cuma begitu aja semua orang juga bisa, aku juga bisa, biniku juga bisa.

Aku sudah ngomong dengan semua orang segala kulit yang ada disini, ngomong bahasaku, lewat… apa namanya itu… pookonya yang mereka dengar ya bahasa mereka, tekhnologi sudah canggih seperti ini masih ada aja orang kolot, entah kenapa orang bilang si penterjemah itu pintar, itu cuma lagaknya saja, sok dingin, sok pendiam…

Biniku masak apa ya? Sial, dia ndak pandai masak.

Masak langsung pulang sih? Enakan main sama Silvia, sama anak-anak yang lain juga.

Aaahhh, Silvia, semok, putih, nakal. Mona juga asik tuh. Silvia sudah dijajal, ntar malam kalau bisa ngewek sama Mona… waw!

Eh, siapa nih? Ah, si bini!

“Halo!”

“Lagi dimana Boy yayank?”

“Lagi di jalan nih yank, disuruh ngunjungin klayen sama si bos”

“Kamu pulang jam berapa yank?”

“Waduh, nggak tahu deh nih yank, tergantung nanti deh…”

“Tergantung gimana?! Tergantung apa?!”

“Mau ada orderan baru nih, kan biar proyeknya tembus harus entertein klayennya, kalo dah gitu bisa sampe subuh deh.”

Merengeklah dia… dasar perempuan.

“Yaa… Boy yayank jahat gitu!”

“Sori deh yank, besok kita jalan yah!, Eh kamu mau kubawain apa?”

Ditutup… marah dia… Gampanglah, sekarang nelepon siapa ya… Mona!

5. Perspektif

Si Perancis gila, botak, tua, kemeja hitam dan jas… ini wilayah tropis. Tapi eksentrisitas manusia tidak ada batasnya. Memang harus seperti itu.

Dia berjalan ke mejaku, membuka laci dan mengambil persediaan Remy Martin… barang langka sekarang, kudapat karena menyelamatkan seorang klien dari seorang buruan yang mencoba membunuhnya, buruan itu tentu saja sudah mati, agar klien kami hidup, agar dia bisa datang lagi, dan membeli paket tur kami.

Dan dengan orang ini, aku akan menangisi botol kosong sebelum makan malam. Dan satu sloki, aku tidak ingat begitu akrab dengan orang ini sampai harus berbagi sloki dengannya.

“teman-temanmu sudah pulang, tempat ini sudah kosong, kecuali beberapa staf dan orang-orang non Melayu…”

Dia mengosongkan slokinya, mengisi kembali dan memberikannya kepadaku.

“Ah, aku ingat, kau tidak punya teman” dia tertawa. Cairan berwarna emas, di sloki kecil, tanpa es… kering, ini menyusahkan, seperti mesin tanpa oli.

Aku memberikan sloki kosong padanya, gilirannya.

“Katakan padaku, kenapa kalian rumpun Melayu begitu pemalas?” Dia mengosongkan slokinya, mengisinya lagi dan mengalihkan padaku.

“Dan kau termasuk disitu, kau juga pemalas” dia menunjuk-nunjuk mukaku.

Entahlah, mungkin kalau si gila ini bukan siapa-siapa dan dia mengatakannya didepan sekelompok buruh yang sedang marah, mungkin dia sudah mati. Mereka mungkin akan menanyakan apa haknya berkata demikian, apa dia punya bukti ilmiah kalau rumpun Melayu itu pemalas, kenapa orang kulit putih rakus-rakus? Sok penguasa? Sok pintar?

Tapi aku tahu lebih baik dari itu, tidak ada jawaban yang cukup sederhana bagi orang-orang ini, Melayu, Eropa, putih, hitam, belang. Setiap mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, mereka hanya memberikan konfirmasi tentang satu hal: kebodohan itu buta.

Perancis hah? Negara yang sudah musnah itu? Menyisakan orang-orang dengan pola pikir seperti ini? Descartes, Rousseau, Sartre menangis sesungukan di kuburnya, dimanapun kuburan mereka berada… mungkin sudah jadi tempat sampah sekarang.

Dia mengisi sloki itu sedikit berlebihan, tumpah beberapa cc, sayang sekali. “Kupikir aku sudah begitu ramah padamu, walaupun aku bosmu aku membiarkan karaktermu merajai ruangan ini. Dan aku selalu memberikanmu perlakuan khusus, setidaknya kau bisa bertindak ramah padaku dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku.”

Sloki itu berhenti didepan wajahnya. Sinar sore menerjang kaca kotor di jendela dan terbias dengan agungnya melalui bumbu, waktu, dan alkohol. Bening dan jujur, dengan bakteri dari bibir kami meluber di sana.

“Ini hanya basa-basi, kau tahu? Laki-laki berhadapan dengan sesama laki-laki, minuman ditangan, apa istilahnya… santai?” Dia membalik sloki itu diatas mulutnya.

Laki-laki dengan laki-laki?

“Itu genetis bos” aku mengambil sloki itu dari tangannya dan mengisi sendiri bagianku.

“Ai, ai, ai, kau tidak percaya itu kan? Aku mengharapkan jawaban yang lebih kompleks darimu” dia tersenyum mengejek.

“Kenyataan bahwa aku menjawab seperti itu sendiri adalah hal yang kompleks” kuserahkan slokiku padanya.

Bangkit dan berdiri, berjalan kearah pintu, membuka pintu, keluar ruangan, menutup pintu dibelakangku, aku masih dengar dia ketawa didalam sana. “Karena itulah aku memperkerjakan kamu!” teriaknya.

Dia tidak akan bisa menyodomiku, tidak malam ini, tidak kapanpun.

Lagipula ada sorti malam, perburuan malam semakin populer, kerja keras pada siang hari, bermain sepuasnya pada malam hari, itu isi iklan kami, salah satu staf pemasaran punya ide iklan seperti itu. Menurutku seperti iklan kontrasepsi.

Dengan sebagian pekerja sudah pulang melarikan diri, entah apa yang mereka lakukan diluar sana, malam ini akan jadi malam yang melelahkan. Paling si Perancis gila akan mengumpulkan mereka dan marah-marah besok, tidak ada gunanya, orang-orang itu tahu sampai batas-batas mana mereka akan dipecat, sampai batas-batas mana gaji mereka akan dipotong. Diluar batas-batas itu, mereka bisa menjadi makhluk yang menyusahkan.

6. Saat semuanya dimulai.

Kami sudah ketinggalan sangat jauh dibelakang rombongan, truk-truk itu sudah tidak nampak lagi, jika ada orang yang berteriak kepada kami Inana akan bilang pada mereka kalau aku tidak bisa jalan cepat, jika dipaksa maka aku akan mati.

Aku baik-baik saja, kalau dia suruh aku lari sekarang aku mungkin bisa mengejar truk-truk itu! Atau orang yang sakit aids sebenarnya bisa mati kecapaian walaupun dia merasa baik-baik saja?

Tapi dia menamparku dibelakang kepala “jangan protes!” katanya marah.

Debu sudah turun, sore sudah datang, matahari sudah sembunyi diantara peopohonan, sinarnya menembus sana-sini, cantik sekali. Aku ingin berhenti disini, duduk disini menunggui matahari, sampai malam tiba. Kemudian mungkin Inana akan menangkap sesuatu, aku dan dia akan masak sesuatu yang enak dan aku akan mendengarkan Inana bercerita sampai kami tertidur.

Aku melihat Inana, dia cantik sekali, sinar matahari yang menyinari sebelah wajahnya membuatnya kelihatan tua dan lelah, lelah namun kuat. Inana adalah perempuan yang kuat, tentu semua orang menangis tiap malam, selalu berusaha agar orang lain tidak tahu, tapi aku mendengar tangis mereka. Inana bisa menangis tanpa suara sedikitpun.

Inana dengan tubuhnya yang sigap, dia akan selalu melindungiku, bukan begitu Inana?

Tiba-tiba dia memegang tanganku, kami berjalan meminggir semakin mendekati pepohonan, semakin tersembunyi dibalik bayangan. Berjalan semakin pelan.

Tapi kami akan ketinggalan jauh, yang terakhir dari kelompok kami sudah berjalan jauh didepan, hampir tidak kelihatan di kelokan depan.

Sinar matahari semakin redup, seperti orang akan tidur, sinarnya merekah sebentar kemudian lenyap. Dan kami sekarang berada dalam kegelapan.

Inana tidak berhenti untuk menghidupkan obor, kami berjalan semakin pelan, kini diantara pepohonan. Mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan masih bisa melihat jalan semakin jauh disamping kami, tapi aku tidak bisa melihat dimana kami berada.

Aku takut Inana, biarkan aku menggenggam tanganmu erat. Ada apa Inana? Kenapa kau melakukan ini? Apa yang kau tahu… ibu?

Tapi dia hanya diam dan terus berjalan… apa itu, suara gemuruh dikejauhan?

7. Berburu Binatang Bernama Manusia

Si Perancis gila tidak ikut? Habis sudah Remy Martinku, dia pasti sedang tergeletak di lantai kantor.

Kali ini pelanggan baru kami adalah seorang Amerika dan rekan-rekannya, dan karyawannya, dan jongosnya, dan keponakannya. Mungkin mereka mau merasakan legenda pria-pria berkuda pengembala sapi yang katanya selalu bawa senjata kemana-mana, berburu binatang buas, berburu Indian, berburu sesamanya.

Lihat kostum mereka, rompi kulit, topi khas itu, sepatu boot kulit. Bahkan dengan senjata-senjata kuno itu dipinggang mereka. Ketawa-ketiwi seperti mau piknik.

Dasar orang-orang kaya…

Mereka memuji-muji Chinook hasil modifikasi ini, kata mereka kendaraan ini membuat petualangan mereka lebih terasa asli. Substantially valuable tour, istilah mereka, orang-orang kaya yang mencari nilai lebih dari uang mereka, kenapa mereka tidak bekerja sebagai pembunuh bayaran saja, petualangannya lebih terasa.

Sebuah jeep, beberapa skipper dan masih ada empat Chinook lainnya dibelakang kami, ini akan menjadi terlalu mudah, terlalu cepat.

Matahari baru saja tenggelam, kami sudah dekat.

Kelompok-kelompok itu, paling banyak 300-an orang, mereka tidak bisa memelihara lebih dari jumlah itu, dan jumlah itu hampir selalu terjaga seperti itu. Saringan alam, mereka akan membunuh sesama mereka anggota kelompok.

Tidak pernah benar-benar terorganisir, tentu saja, kami akan menghancurkan setiap bibit keteraturan yang mereka buat.

Tapi perburuan kali ini tidak menarik, kami terlalu banyak. Tentunya orang-orang ini hanya ingin bersenang-senang saja, diluar segala omong kosong mereka, mereka tidak akan pernah merasakan gejolak itu, adrenalin itu, saat pemburu dan buruannya bisa bertukar posisi, persaingan yang adil, sedikit saja instingmu tergelincir, kau akan mati.

Mereka disini hanya ingin menjadi bagian dari sesuatu, mungkin bercerita pada teman-temannya, hei, aku pernah melakukan ini, aku pernah kesana, aku pernah makan itu. Dan mereka akan merasa sangat superior sehingga merasa mempunyai hak untuk menulis beberapa halaman dan kritik tentang kami di Interweb. Disertai beberapa tips wisata tentunya.

Mark, salah satu staff, pria Inggris yang tinggi, besar dan pirang, sedang memberikan kursus kilat bagaimana cara menggunakan senjata. Kami bahkan punya yang klasik, crossbow, cukup populer diantara para pemburu musiman ini, namun dengan bahan komposit yang sangat ringan, lebih mirip mainan anak-anak. Pelontar tentunya sudah dimodifikasi dengan kompresor, dan pelurunya bukan lagi standar abad pertengahan, namun dengan kepala seperti bilah sabit, hasilnya cukup dramatis.

Jika para turis ini menembak target yang sedang berlari mereka akan mendapatkan suguhan tontonan yang menarik. Sebagian orang akan tertawa-tawa senang, sebagian orang akan muntah.

Mark mendekatiku “mudah-mudahan bisa selesai saat jam makan malam, aku sudah lapar.” Dia mengeluarkan sebungkus rokok, menyalakan sebatang dan menawarkan padaku. Mark tipe orang yang senang berbasa-basi, tidak pernah terlalu ramah, semua orang sepertinya tertarik dengan segala omong kosongnya, tidak pernah kehabisan bahan canda. Selalu berusaha berbincang dengan semua orang, bahkan padaku. Dia sepertinya tidak perduli kalau aku tidak pernah mengucapkan sepatah katapun padanya.

Kuambil sebatang, disodorkannya sebuah pemantik logam.

“Tidak kau nyalakan?” tanyanya.

Kumainkan-mainkan pemantik itu “nanti saja habis makan” kusodorkan kembali pemantik itu padanya.

“Pegang saja dulu” katanya sambil beringsut menuju cockpit.

Dari pintu ini aku bisa melihat siluet Pegunungan Muller di selatan, dan kami terbang semakin rendah. Semua ini mulai terasa membosankan. Kuharap ada sesuatu yang baru menungguku dibawah sana.

Volume 1

1. Bergerak

Bagiku, tidak ada kehidupan lain selain kehidupan ini, tapi Inana berkata bahwa aku dan semua orang seumuranku hidup dalam masa-masa yang teramat sulit, masa dimana kerakusan telah menang dan kami semua, bahkan para manusia yang menjadi alat dari kerakusan hidup terinjak, kepala rata dengan tanah. Dan saat kerakusan telah menang, tidak ada lagi yang namanya manusia. Dan semua hal yang telah dibangun oleh manusia tidak dapat melindunginya lagi.

Inana bilang, ada masa dimana ancaman paling besar bagi kami adalah dari sesama kami manusia. Namun sekarang semua elemen yang ada menjadi musuh kami. Segala kebaikan dari bumi telah menjadi racun dan dendam, dendam atas ketamakan, dendam yang tak terbalaskan, karena pada akhirnya ketamakan selalu duduk di singgasana, tertawa. Inana tertawa waktu bercerita itu.

Inana adalah perempuan yang melahirkan aku, menurut Inana dahulu perempuan seperti ini disebut Ibu, tapi sekarang tidak ada lagi orang yang menggunakan kata-kata itu. Inana telah melahirkan beberapa orang dari beberapa laki-laki, aku tak tahu pasti berapa, sebagian perempuan, sebagian laki-laki. Sebagian tinggal bersamanya, sebagian telah pergi entah kemana, sebagian sudah mati.

Inana duduk di depan kemah kami, memandangi orang yang lalu lalang. Semua orang yang lewat di depan kami adalah kelompok kami. Ada lebih dari 300 orang, aku tahu karena Inana mengajari aku berhitung, dia juga mengajari aku membaca, walaupun tidak ada orang lain yang tahu.

Kemudian dia berdiri dan berjalan ke arahku, memasuki kemah. Aku mengerti, segera aku kenakan jubahku, topengku yang aneh, sampai tidak ada lagi bagian tubuhku yang kelihatan. Inana akan sangat marah dan memukulku jika dia tahu aku keluar dari kemah tanpa semua ini, dia bilang padaku dan semua orang bahwa aku sakit, penyakit yang sangat menular dan mengerikan, aids namanya.

Orang bilang kalau dulu obat aids ada banyak, namun saat ini, bahkan seseorang yang batuk pun tidak bisa mendapatkan obat. Obat hanya ada di tempat perlindungan, kota-kota dimana orang kaya tinggal dan dilindungi oleh bom, ranjau, roket dan para penjaga bersenjata lengkap yang jumlahnya sangat banyak.

Kami tidak boleh masuk kesana, hidup atau mati, kami tidak bisa membeli hak untuk masuk dan kami terlalu kotor untuk masuk. Jadi kami berada di luar sini, saling membunuh, saling merampok antar kelompok. Dan kami diburu. Orang dari koloni akan datang dengan senjata, dengan kendaraan lapis baja, dengan pesawat terbang, membunuh kami dengan cara apapun yang dapat dipikirkan oleh mereka saat itu. Inana bilang itu semua karena orang kota takut. Jika jumlah kami terlalu banyak maka kami bisa menjadi ancaman bagi koloni.

Aku membantu Inana melipat tenda, debu berterbangan. Di kejauhan kulihat beberapa buah truk besar berjalan berputar-putar. Orang-orang itu sedang senang, kelompok kami baru saja berperang dengan kelompok lain, tidak tahu kelompok mana, tidak kenal. Sebagian kami bunuh, sebagian lari, sebagian dikawini oleh para laki-laki. Ada banyak barang yang mereka tinggalkan, namun yang paling menarik perhatian adalah ketiga truk itu. Sekarang kelompok kami punya enam truk, makin banyak orang dan barang yang bisa diangkut. Yang tidak mampu berjalan akan memberikan apapun yang mereka punyai agar bisa mendapatkan tempat di atas truk. Jika mereka tidak mampu dan tidak punya apa-apa, mereka akan ditinggalkan, aku tidak akan pernah lagi melihat mereka.

Kami harus tetap bersama-sama dengan kelompok, bagitu kata Inana. Inana sangat membenci sebagaian orang yang ada di dalam kelompok kami. Inana membenci semua orang, namun ada sebagian dari mereka yang sangat dia benci. Sebagian dari orang-orang itu sekarang sedang bermain-main dengan truk, sebagian mungkin sedang kawin.

“lihat, dimana jahanam itu nanti dapat minyak” kata Inana dengan geram.

Kami harus tetap bersama-sama dengan kelompok, atau kami akan mati, entah dibunuh, entah diperkosa. Sangat sulit untuk masuk kedalam kelompok. Inana harus kawin dengan beberapa laki-laki yang punya kuasa di kelompok, aku tahu karena aku melihat, mereka kawin beramai-ramai. Inana juga harus menyerahkan semua barang-barangnya yang diinginkan oleh orang-orang yang punya kuasa di kelompok ini, aku tahu, karena saat Inana menangis dia memeluk aku dan menggenggam kalung itu. Jika ada yang tahu dia masih punya kalung itu maka kami akan mati.

Beberapa truk mulai berjalan, orang-orang itu bertumpuk diatasnya. Sebagian truk masih belum jalan, orang-orang saling tarik dan saling pukul dibelakangnya.

“Kita jalan” kata Inana.

Aku melihat sekeliling dan melihat Pian berlari mendekati kami, Inana juga melahirkan dia. Pian lebih tua dariku.

“Kau ndak naik truk?” kata Pian pada Inana.

“Kau mau naik, naiklah” kata Inana ketus.

Pian lari meninggalkan kami ke arah truk. Dari semua orang yang kutahu dilahirkan oleh Inana, Pian adalah yang paling baik, terkadang dia masih mau datang dang membantu Inana. Aku selalu membantu Inana, aku selalu berada di dekat Inana. Tidak ada orang yang mau dekat denganku karena aku sakit aids.

Terlalu banyak manusia, terlalu banyak ketamakan, dan semuanya rata dengan tanah, bahkan tanah yang berada di bawah kaki kami pun bukanlah lagi tanah. Tapi campuran semua racun yang tumpah dan ditumpahkan kemudian menyatu dengan mayat-mayat busuk yang memang  tidak pernah punya jiwa saat mereka hidup.

Inana selalu mengatakan hal-hal itu, aku tidak begitu mengerti maksudnya, sepertinya dia menyesalkan situasi kami saat ini, dan dia menyalahkan semua orang yang ada di sekelilingnya.

“jangan jadi bodoh kamu Putri, kita begini karena manusia-manusia bodoh pegang kuasa” aku selalu menanyakan kenapa dia selalu berkata-kata demikian. Tapi Inana tidak pernah menjawab, sesekali dia akan menunjuk-nunjuk ke kepala dan dadaku dan berkata: “pada akhirnya pikiran dan hatimulah yang membedakanmu dengan semua sampah ini, dan biarpun mereka harus membelah kepalamu dan mengoyak dadamu, mereka tidak akan bisa mengambilnya.”

Inana mengambil tenda dari pundakku, dia meninggalkan beberapa alat-alat masak di belakang, alat-alat masak yang menjadi haknya karena dia dikawini oleh para penguasa kelompok. Aku membawa air dalam kantung plastik yang berlapis, cukup untuk kami berdua sampai besok, Inana membawa buntalan keramatnya, kain yang kuat tempat dimana dia menyimpan barang-barang yang dianggapnya berguna, didalam buntalan itu juga ada obatku. Sebilah parang yang panjang tergantung di pundaknya.

Aku tahu Inana selalu menginginkan senjata api. Dia selalu memandangi laki-laki penguasa yang sedang main-main dengan senjata api, pistol, senapan. Parang tidak ada apa-apanya dibanding pistol dan senapan. Inana pernah berpikir untuk mencuri satu pistol, atau satu senapan, atau dua-duanya, tapi laki-laki itu tidur dengan senapan dan pistol mereka. Inana bilang laki-laki bisa kawin dengan truk dan senapan, Inana bilang dulu laki-laki bisa kawin dengan burung perkutut, dengan kambing, dengan ayam.

“sekarang laki-laki bisa kawin dengan apa saja, hamil pula benda itu dibuatnya” katanya.

Hari ini Inana menyuruhku membebat kakiku dengan kain, aku sudah biasa jalan jauh, tapak kakiku sudah keras, biasanya aku tidak perlu alas kaki, tapi Inana marah “ikut saja!” bentaknya.

Aku pikir sesuatu akan terjadi.

2. Seratussembilanpuluhenam.

Seratus sembilan puluh enam, termasuk perempuan dan anak-anak, kalau dipikir-pikir apa yang dilakukan kelompok ini dengan perempuan dan anak-anak?

“Ada berapa perempuan dan anak-anak?” sedetik kemudian aku menyesal telah bertanya.

Boy menoleh kearahku “entah!” kemudian dia tertawa “untuk apa tahu?”

Sial, aku jadi tidak sempat menghitung. Si Perancis maniak itu menahanku terlalu lama dengan ceritanya, dengan idealismenya. Tidak ada yang mau mendengar ceritaku, kenapa aku harus mendengar ceritanya?

Karena itu merupakan jaminan keamanan, asuransi hidupku, berada di dekatnya membuat hidupku sangat nyaman, setidaknya dibandingkan sampah-sampah tidak berguna ini…

Manusia-manusia yang mempunyai warna kulit yang sama denganku namun tidak pernah mengerti dengan apa yang kukatakan, mereka yang tertawa gembira saat pamer kebodohan, sibuk dengan segala cakap sampah mereka saat mereka seharusnya bekerja dan berpikir, mudah marah seperti anjing yang kehilangan tulang, tenang seperti manusia autis saat kepala mereka dimainkan, panik dan uring-uringan saat penis mereka dipelintir.

Si Boy ini adalah contoh, sampel paling mutakhir. Dari dulu sampai sekarang aku tak tahu namanya. Aku juga tak tahu bagaimana badannya bisa begitu padat, begitu besar begitu makmur. Tapi wajahnya, aku tahu tampang itu, semakin banyak akhir-akhir ini di koloni. Tentu saja mereka semakin banyak, orang-orang seperti inilah yang paling sering bereproduksi, dan sepertinya para pengurus senang dengan perkembangan ini, semakin bodoh generasi ini, semakin baik bagi mereka.

Segala pendidikan yang mereka berikan bagi kami? Diberikan dengan dosis terkontrol.

“Kira-kira saja…” aku melebarkan pandanganku dari tumpukan mayat itu ke mayat-mayat lain yang masih berserakan, bau amis darah, entah kaki entah tangan berserakan kemana-mana.

“tak sampai setengah kayaknya” kata si Boy mendekatiku, salah seorang rekannya membentak, protes kepada si Boy, aku memandangnya lekat-lekat, orang-orang ini, sama malasnya, mereka protes karena mereka tidak bisa bermalas-malasan, si Perancis gila ada disini, dan si Boy? Dia sedang bicara denganku, dia menjadi penting karena itu.

“sampai lima puluh?”

“perempuannya cuma sedikit, ndak sampai lima puluh… pasti, kalau anak-anak… aku tak tahu yang mana anak-anak” katanya cengengesan.

“kira-kira badannya setinggi pinggangmu kebawah, bayi atau apalah yang kau lihat”

“ada bayi, satu dua, kayaknya ada disebelah sana satu lagi, tapi kalau perempuan, entah anak-anak entah emak-emak, dua puluhan lah, kayaknya, yang kutahu, tapi ndak pasti juga.” dia mengangkat bahunya, masih cengengesan.

Piramida mayat itu sudah seperti bukit kecil, kebanyakan laki-laki, susah membedakan mereka. Di sekitarnya ada pekerja yang menutupi mulutnya, ada yang muntah, ada yang pingsan, orang-orang baru.

Mereka membuatku muak, di tengah koloni mereka adalah jagoan, ahli dengan ancaman kosong, terlalu bodoh untuk tindakan lanjutan, fisik dan fisik dan fisik, selalu berkelahi setiap ada kesempatan, setiap ada alasan, alasan apapun, testosterone membanjiri kepala. Sex sepuluh kali dengan sepuluh pelacur berbeda setiap malam, hanya untuk membuktikan kejawaraannya, mudah sekali diagitasi, selalu yang paling antusias untuk turun kelapangan.

Hormonal, mereka hanya antusias untuk tamasya, disini isi perut mereka tadi pagi keluar semua. Wajah-wajah pucat seperti bayi dicekik, beberapa terduduk, manusia-manusia ini berpikir dengan mempergunakan… entah apa. Entah kenapa mereka terdiam disini, muntah disini, pucat disini, sedangkan di koloni mereka selalu mengancam untuk membunuh orang.

Si Boy? Sama saja, tapi cukup cepat dia beradaptasi, setelah sering dipangkung si Perancis gila tentunya.

Aku? Waktu aku kecil aku membersihkan ceceran otak ibuku yang didorong keluar dari ubun-ubun dan setiap lubang dikepalanya, ibuku kelihatan seperti ikan waktu itu. Saat remaja lain belajar untuk kawin, aku mencari ayahku dan menginjak kepalanya dengan stilleto ibuku sampai bocor. Keluarganya, adik-adiknya, kakaknya, mencariku, ingin membunuhku, bukannya menemuiku, mereka malah mencari keluarga ibuku, mungkin mereka sudah musnah saling bunuh sekarang.

Kalau ada yang menanyakan pendapatku tentang perkawinan… kubunuh.

Aku bertemu si Perancis kemudian, sedang menanyakan alamat, aku menguasai bahasanya, dan bahasa lain, bukan tahu, bukan kelas pasaran, bukan keahlian untuk bertahan hidup, tapi bahasa kompleks dengan lafal yang hampir sempurna, aku tahu budayanya, aku tahu omong kosongnya. Dia menemukan kegunaanku dan membawaku.

Membuatku ikut pada setiap operasi, membuat dokumentasi, laporan, menterjemahkan untuknya, mengabadikan mayat, berdiri diatas serpihan daging dan darah membuat jantungku berdegup, bergairah, energiku terasa penuh, aku merasa hidup, aku merasa superior, aku bisa melihat mereka, apa mayat-mayat itu bisa melihatku, mata mereka entah berceceran kemana, kepala mereka entah terlempar kemana, mereka tidak bisa melihatku. Setelah segala omong kosong yang mereka buat saat mereka hidup… kemudian sunyi senyap… dan mereka bilang mereka akan bertarung untuk hidup mereka?

Saat terancam aku bertarung untuk membunuh… tidak, aku bahkan tidak bertarung, aku membunuh, dengan cara apapun. Saat kau berhadapan dengan manusia dan makhluk lain yang ingin membinasakanmu, kau tidak bertarung, kau tidak harus membuktikan apapun, kau tidak harus membuktikan bahwa kau lebih kuat, bahwa kau benar, bahwa ancamanmu lebih menggigit, bahwa kau adalah laki-laki yang superior, lebih atletis, lebih fit, lebih ahli…

Hanya orang-orang bodoh yang melakukan itu… aku membunuh, aku tidak bertarung. Jika aku bertarung maka aku akan kalah, tidak semua manusia bisa bertarung, terutama laki-laki dengan fisik rata-rata seperti aku, tapi semua manusia telah mempunyai kemampuan untuk membunuh bahkan sejak mereka lahir, membunuh apapun, membunuh manusia lain, membunuh binatang lain, membunuh bumi, aku hanya memanfaatkan fasilitas itu.

Ini adalah sebuah filosofi, sebuah kredo yang tidak dimengerti oleh ternak-ternak ini, mereka bertarung seperti sapi.

Filosofi ini hanya kubagi dengan si Perancis gila, dan sejak saat itu aku menjadi kesayangannya, temannya bercerita, wakilnya mengurusi segala sesuatu. Tapi kami tidak saling percaya, tidak pernah, hanya masalah waktu sampai dia menyodomiku. Aku tidak punya waktu untuk mengedipkan mataku, tidak sedetikpun.

“Sudah! Lama sekali… bakar saja!” teriak si Perancis gila. Aku menterjemahkan teriakan itu pada para pesuruh.

“Yang lainnya biar dimakan anjing!” Itu juga kuterjemahkan. “Atau kalian makan saja kalau mau!” Yang ini kalimatku sendiri.

Dan daging-daging kaku itu lumer seperti lilin, api menaungi mereka, asap dan bau daging merebak ke udara… jika neraka itu benar ada, seperti inikah rupanya?

Si Perancis gila menatap api unggun yang terbuat dari mayat manusia itu dengan pandangan sayu “c’est beau…” dan dia tersenyum.

Disini… diatas pulau besar yang dulu bernama Kalimantan, kami melukisi tanah dengan darah dan muntah!

3. Pergi Untuk Menjadi Manusia.

Kenapa kami berkelompok, kenapa kami tidak sendirian saja, hanya aku dan Inana, mungkin Pian juga, kalau dia mau ikut.

Aku pernah bertanya seperti itu.

Inana bilang mau tidak mau seperti itu, dari sananya manusia itu selalu cari musuh, semua yang ada diluar dia dianggap musuh. Biar bisa akur mereka harus punya musuh bersama, kami bisa hidup lebih lama di kelompok ini, selain karena dikelompok ini banyak manusia beringas dan licik, juga karena kami punya musuh bersama.

“Siapa musuh bersama kita?” tanyaku.

“Ya, manusia lain.” katanya sambil memandangiku dengan wajah heran. “Sudah kubilang Putri, jangan bodoh!” sambungnya.

Kadang aku pikir dialah yang bodoh.

“Seperti apa orang sakit aids Inana?” tanyaku.

“Ya, seperti kau itu!” jawabnya ketus.

“Aku mati sebentar lagi Inana?” tanyaku.

“Tidak, kalau kau minum obat yang kuberi.” jawabnya lagi, masih ketus.

Aku tidak pernah bertanya pada orang lain, mereka sama bodohnya, mereka bahkan tidak mau dekat denganku, menghinaku. Dan kalau Inana tahu aku mencoba bicara dengan orang lain, dia menamparku, menendangku, menyeretku menjauh dari orang-orang… mereka semua ketawa.

Ketawa seperti monyet dan kambing.

“Darimana kau dapat obat Inana?” tanyaku.

Dia memandangku marah “kau mau mati sekarang hah?!”

Selama hampir sebulan dia selalu memberiku satu pil yang sama setiap hari, kemudian selama seminggu dia memberiku pil yang berbeda, pil yang manis, terkadang tidak sama sekali. Obat itu biasanya membuatku pusing, bukannya obat itu untuk menghilangkan sakit?

Seorang perempuan tua yang pernah duduk di depan tenda kami bilang bahwa orang sakit aids harus makan banyak sekali obat.

Inana bilang perempuan tua itu bodoh, dia bilang perempuan tua itu mati saja.

Apakah aku mau mati sekarang? Tidak, aku masih mau melihat koloni, aku mau keluar dari tempat ini.

“Kau mau keluar kemana?” tanya Inana, senyum mengejek dibibirnya.

Kami sudah berjalan dari pagi, sekarang diatas jalan yang putih ini, Inana bilang ini dulunya semen yang ditimpa dengan aspal.

“Aspal?”

Inana mendengus kesal “aku sudah berkali-kali cerita padamu tentang aspal, sudahlah tidak pantas diingat.”

Sebagian truk-truk tidak kelihatan, sebagian berjalan dengan liar, berputar-putar disekeliling kami, debu berterbangan, susah melihat, nafas sesak, dan panas membuatku pusing.

“Hoi!” Inana berteriak kearah truk yang berjalan kencang karah kami. Truk itu berbelok tiba-tiba, laki-laki yang ada di dalam truk itu tertawa-tawa. Inana memandangi truk yang menjauh itu dengan marah.

Seseorang jatuh dari belakang truk. Tidak ada yang menolong. “Biar mampus!” teriak Inana.