Pseudo Review of Books: Mingei – Japan’s Enduring Folk Arts – Amaury Saint-Gilles

MINGEI – Japan’s Enduring Folk Arts
Amaury Saint-Gilles 1983, 1989
Tuttle Publishing I 1989, II 1998

Jika mendengar istilah handicraft atau melihat benda-benda yang saya anggap aneh itu didepan mata saya, biasanya hal-hal berikut ini akan lewat dikepala saya:

1. Apa fungsinya?

2. Pasti ini kerjaan dari orang-orang yang memanfaatkan kelemahan orang lain terhadap ke”cute“an.

3. Sebuah benda yang tidak begitu substantif.

4. Mengalihkan persepsi orang – lagi! – terhadap arti kata seni yang sedang in.

5. Satu lagi usaha pembuka untuk mengkelompokkan manusia menjadi, pertama; pihak yang cerdas, informatif, maju, sosial, trendsetter bagi yang mengaku mengerti, dan kedua; terbelakang bagi manusia yang secara jujur mengaku tidak mengerti… seperti saya.

6. Tujuan akhirnya hanyalah mencari perhatian dan menjual segala sesuatu yang tidak dperlukan.

7. Berapa banyak orang miskin yang dibodohi untuk membuat barang-barang seperti ini, sama dengan berapa banyak orang kelas menengah dan kelas atas yang dibodohi untuk membeli barang-barang seperti ini? Dan siapa OKB yang panik didalam Audi mogok itu?

Apa benar demikian?

Seharusnya tidak.

Mingei adalah salah satu buku yang mengingatkan saya bahwa seharusnya 7 persepsi saya diatas adalah tidak valid.

Mingei mengingatkan saya bahwa di dunia dimana semua lagu terdengar serupa, semua film terlihat sama, semua idol bertampang, berambut dan berpakaian sama, masih ada orang yang duduk, memusatkan konsentrasi, mencurahkan kasih dan menciptakan substansi.

Atau lebih tepatnya Amaury Saint-Gilles yang telah melakukan kerja mengumpulkan data menjadi sebuah buku yang berusaha mengingatkan bahwa substansi murni, bukan caplok sana-caplok sini, masih layak untuk dihargai dan dilakukan… masalahnya buku ini pertama diterbitkan pada tahun 1989 (versi Tuttle) dan kita sekarang berada di tahun 2010… dan kita setiap hari menonton televisi…

Buku ini sebenarnya adalah pendamping bagi sebuah eksebisi seni rakyat pada tahun 1983. Dengan demikian sepintas menyinggung tentang keberadaan museum, yang pada akhirnya mengingatkan saya tentang situasi dan kondisi museum di Indonesia… tidak usah dibahas.

SENI RAKYAT

Disebutkan bahwa kata mingei berasal dari kata min yang berarti rakyat, dan gei yang berarti seni. Istilah ini pertama kali dipergunakan oleh Dr. Yanagi Soetsu, seorang sarjana yang terpandang di Jepang pada masanya (sekitar 70 tahun yang lalu dihitung dari 2010).

Dr. Yanagi, seperti yang digambarkan dalam buku ini, telah memperhatikan bahwa banyak hal yang telah dihasilkan oleh pengrajin yang tidak dikenal, pada era sebelum berjayanya industri, memiliki keindahan yang jarang sekali bisa ditandingi oleh seniman pada masyarakat modern.

Penelitiannya mengungkapkan sebuah pengertian terkait sifat dari keindahan, hal-hal yang terkait secara integral kepada kelahiran dan kehidupan sebuah cara berpikir yang tidak terpaku pada ide yang mapan tentang perihal cantik atau jelek..

Hal yang sulit untuk dilakukan, dan saya masih gagal disana, terima kasih kepada lingkungan dan media.

Tapi apakah seni rakyat yang dimaksudkan dibahas dalam buku ini ada kaitannya dengan istilah yang sering kita pakai: Kerajinan atau bahasa kerennya: Handicraft?

Ya, hampir setiap aspeknya menunjukkan kesamaan, dari mulai pengerjaan secara manual dengan tangan, kisah dibalik setiap desain yang terkadang agung terkadang konyol, perannya terhadap masyarakat yang melahirkannya dan peran masyarakat itu sendiri dalam menjaga dan dalam beberapa hal, menghancurkannya, sampai dengan penjualan untuk menyambung hidup si artisan.

Buku ini tentunya membahas “seni rakyat” yang lahir dan hidup, atau yang telah mati di Jepang, membaca beberapa tulisan tambahan di buku ini, dan tulisan-tulisan di buku lain, sepertinya ada perbedaan perilaku terhadap seni rakyat ini. Apa yang terjadi disana tidak sama dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Saya tidak tahu pasti bagaimana keadaan di Indonesia. Apakah semua yang ada dipasar-pasar terkenal di Yogya dan Solo itu hanyalah barang substitusi dari barang sesungguhnya yang mempunyai substansi yang akhirnya diekspor keluar negeri karena mereka lebih mengerti tentang membayar harga yang pas dengan sebuah substansi?

Atau apakah pengrajin kita cenderung terikat pada tren (dan mau tidak mau pemasukan), dan selalu berusaha membuat barang yang sama dengan barang yang sedang laku?

Yang saya tahu pasti, kita mempunyai perilaku yang lucu jika membicarakan museum.

Dan oleh karena itu, kita mungkin tidak akan pernah tahu apa-apa tentang diri kita sendiri.

Dunia handicrat kita di mata Internasional bisa jadi hanya diwakili oleh desain-desain asing, yang dikerjakan secara masal oleh banyak buruh kontrak, yang bisa dipecat sewaktu-waktu, dengan sistem remunerasi yang tidak jelas, sementara membuat beberapa orang dari Amerika atau Jepang menjadi begitu kaya… satu hal… ini adalah prospektif yang menggiurkan jika anda adalah seorang marketing staf produk asuransi.

ISI BUKU

Di bagian awal anda akan disuguhi peta Jepang, yang sama sekali tidak komprehensif jika dibandingkan dengan peta pada umumnya. Peta ini tentu saja melayani fungsi yang berbeda, ada banyak penanda yang menunjukkan lokasi wilayah dan nomor-nomor dari item kerajinan yang bisa anda temukan di wilayah itu… tidak hanya berguna untuk anda yang senang untuk jalan-jalan ke Jepang, ini adalah tambahan yang menarik.

Kemudian tentu saja berbagai “seni rakyat” yang ada di Jepang menempati masing-masing dua halaman, satu halaman untuk gambar yang mendeskripsikan benda tersebut, dan halaman lainnya untuk sejarah, latar belakang dan segala cerita tentang “seni rakyat” tersebut.

Ditengah-tengah terdapat 24 halaman berwarna yang berisi foto-foto yang dihasilkan oleh para kontributor dan oleh Saint-Gilles sendiri. Warna-warna yang sangat hidup memberikan gambaran sesungguhnya dari sebagian karya, dan dibeberapa halaman pembaca bisa melihat artisan yang sedang beraksi, mengingatkan akan kenikmatan dari kesunyian konsentrasi dan devosi.

Tidak ada yang tidak menyenangkan tapi diantaranya yang ingin saya sebutkan adalah itto-bori, keahlian pahat yang berasal dari suku Ainu atas sebuah balok kayu dan menirukan bentuk berbagi unggas (bentuk yang mengejutkan!) yang diberikan sebagai hadiah kepada orang yang dianggap memiliki karakter yang sama dengan unggas tersebut; koi-nobori, ikan berwarna cerah yang yang bertingkah seperti pendeteksi angin yang biasa kita temui di bandara untuk memeriahkan festifal bagi anak laki-laki; dan hoko-san, boneka anak perempuan degan latar belakang yang mengharu biru, mungkin mengalahkan semua sinetron atau drama Korea sekalian.

Membaca, memiliki… dan membaca lagi buku ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Mungkin kalimat yang terdapat dalam prakata oleh Dr. Martha Longenecker bisa menggambarkannya dengan lebih baik:

“Seringkali suatu keindahan yang tak tertandingi dalam kesederhanaannya, mereka berguna dan memuaskan bagi jiwa manusia.”

Saya masih mencari…

Aman Untuk Usia: Semua umur… jika seorang bayi yang baru lahir bisa membaca… kenapa tidak?
Target Pembaca: Semua umur… kita tahulah artinya.
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 9/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 9/10
Nilai Buku Relatif: 10/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 9/10

Pseudo Review of Books: Shanghai Baby (Zhou Weihui)


Shanghai Baby
Zhou Weihui 1999
terjemahan bahasa Inggris oleh Bruce Humes (Simon & Schuster, Inc 2001)
Pocket Books (2001)
Washington Square Press (2002)

Dilarang dan dibakar di negara asalnya, mungkin menjadi salah satu alasan kenapa buku ini bisa menjadi sebuah “international bestseller.” Membuat saya berpikir, mungkin jika saya sudah menjadi begitu gila dan memutuskan menjadi penulis buku (buku yang benar-benar buku), lebih baik saya menyewa sekelompok orang, atau orang-orang tertentu di sebuah organisasi massa (murah! itulah harga manusia sekarang ini) untuk beragitasi di depan umum, merampas beberapa ratus eksemplar buku saya dari toko-toko buku modern yang “hip” dan membakarnya ditengah kota.

The New York Times mungkin benar ketika mengatakan bahwa Zhou Weihui adalah “Kerouac wanita yang menjalani jalurnya sendiri.” (yap, pengulas dari The New York Times menggunakan istilah Kerouac wanita, bayangkan…) Pernyataan itu bisa mengangkat buku ini menuju popularitas, dan juga bisa bisa menjatuhkannya di arena literatur (fokus pada pengertian artistik). Jika anda tahu sesuatu mengenai Jack Kerouac, anda akan tahu kenapa saya berpendapat demikian.

Satu lagi yang saya rasa membuat buku ini populer: sejumlah penggambaran adegan sex yang bahkan intensitas kuantitasnya melebihi beberapa buku-buku terbitan Eropa, dibintangi oleh aktor dan aktris yang kalau boleh saya katakan, eksotis, terutama bagi para pria kaukasia yang mengalami “yellow fever.”

Sebaliknya, mengingat saya adalah tipikal pria Asia, rasa dongkol menari-nari di sudut hati saya ketika si tokoh Nikki, yang berkuasa atas sudut pandang utama di buku ini, yang kemudian dipanggil oleh teman-temannya sebagai Coco – dari Coco Chanel, pahlawannya – bercinta di kamar hotel (?), di toilet sebuah night club, di apartemen, berulang-ulang kali bersama seorang Jerman maskulin yang superior, ekstrovert yang sudah beranak dan beristri.

Coco, tentu saja berulang-ulang kali memaki dirinya sendiri atas ketidaksetiaannya kepada pacarnya, Tian Tian seorang pria China yang introvert, sensitif, naif, dan impotent. Tapi setiap kenikmatan yang direngkuhnya dengan sukses dijadikan alasan pembenar untuk meredakan risau dihatinya.

Sampai dia membuat kesimpulan yang brilian: Tian Tian adalah kekasih hati, Mark adalah kekasih tubuh, atau lebih tepatnya, dildo yang besar dan jenius.

Sayang semuanya tidak sesederhana itu.

Dan disinilah, menurut saya, persamaan dengan Kerouac itu masuk. Hal yang “hebat” bagi Kerouac (1922-1969), karena dia menemukan sebuah jalur baru “Beat Generation” yang menolak konvensionalitas masyarakat dijamannya (dan yang mereka maksud dengan tidak konvensional adalah obat-obatan, alkohol, sex, dan jazz… membosankan). Tulisan yang lahir di era ini sendiri tidaklah istimewa sebagai literatur, hanya dari penggunaan bahasa dan gaya menulis yang “diusahakan” berada di luar pakem.

Zhou Weihui? Di tahun 1999 dan selanjutnya, masih banyak kasus pemberangusan penulis di China. Sementara di bagian lain bumi, sex, alkohol dan obat-obatan sudah merajai dunia, China masih berusaha menutup akses pemahaman terhadap kondisi masyarakatnya sendiri. Hal ini membuat karya-karya yang diselundupkan keluar China menjadi unik dan populer, walaupun sebagian tidaklah begitu “hebat.”

Karakter-karakternya sungguh tipikal (dan ada pengamat yang bilang penulis skenario film di Indonesia tidak punya daya imajinasi?). Kota Shanghai adalah sosok putri ingusan yang tumbuh menjadi seorang gadis yang seksi, Coco adalah seorang novelis muda, cantik dan penuh energi. Tian Tian adalah seorang pelukis, tipikal seniman sensitif yang impoten, digambarkan hampir dalam segala hal, Mark adalah seorang ekspatriat Jerman, pria superior yang merengkuh segala nektar yang bisa diberikan oleh “bunga” Shanghai.

Masih banyak karakter pendukung lain yang berpengaruh, baik langsung atau tidak langsung terhadap penggambaran psikologis ketiga karakter di atas dan semuanya adalah tipikal, demikian pula Ibu dari Tian Tian yang meninggalkan Ayahnya dan “lari” dengan seorang pria kaukasia… go figure.

Saat menulis pseudo review ini saya merasa sedang menulis ulasan gosip tentang skandal dengan plot yang sudah basi. Tapi, itu tidak berarti saya tidak mendapatkan apapun.

Tidak seperti Kerouac yang merupakan pencetus “Beat Generation,” saya lebih memilih menyebut Zhou Weihui sebagai seorang cartographer, seorang penulis yang menggambarkan peta masyarakatnya, segala kesia-siaan yang diseret-seret oleh manusia modern, segala “passion”, semangat yang membuat mereka bertahan walaupun teramat samar, dan dinamika komposisi masyarakat, pembicaraan budaya, para sosialita, apa yang sedang dipikirkan orang-orang di komunitas proponent avant garde Shanghai menjelang abad 21 (karakter-karakter dengan kondisi psikologis yang meragukan, disini Zhou Weihui melakukan eksekusi dengan cukup baik).

Ada banyak buku yang bercerita tentang China, Hong Kong, Shanghai, sungai Yangtzee, seperti melihat sebuah peta besar dari jarak satu meter. Buku ini menyediakan sebuah pandangan mikroskopis, sebuah catatan penanda, tentang satu aspek kehidupan di Shanghai. Disini, setidaknya diluar segala sex yang “steamy,” buku ini berguna.

Aman Untuk Usia: Dewasa (bahasa dan istilah-istilah vulgar terutama terkait dengan penggambaran aktifitas seksual, jika anda sensitif dengan hal ini… jangan baca)
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 7/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 6/10
Nilai Buku Relatif: 7/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 7/10

Pseudo Review of Movies: Blindness (Fernando Meirelles)

Blindness
MV5BMTM2MzU4MjA5N15BMl5BanBnXkFtZTcwMDE2NTU2MQ@@._V1._SX94_SY140_
Directed by: Fernando Meirelles
Produced by: Niv Fichman
Andrea Barata
Ribeiro
Sonoko Sakai
Written by: Don McKellar
Narrated by: Danny Glover
Music by: Uakti
Editing by: Daniel Resende
Distributed by:Miramax Films (USA)
Alliance Films (Canada)
20th Century Fox (BRA)
Release Date: October 3, 2008

It was a regular business day, people hurrying about their own business, cars commuting here and there like an endless stream of river. Right in front of an intersection a car suddenly stopped, commotion ensued, horns banged, people shouting, oblivious to the fact that a man inside the car, a Japanese expatriate had suddenly gone blind.

Blindness (2008) is a dramatic thriller based on an award winning novel of the same name by Jose Saramago. The film it self is written by Don McKellar and directed by Fernando Meirelles.

It is necessary to say that I have never read the novel before, so the resemblance between the text and the film is none of my concern for the time being, the film caught my attention because it delivered a theme that amuse me most: people and suffering. How people cope with their own suffering and how they perceive the pain of others. Also, at the very edge of it, how long can people survive until they snap and cease to act as human being.

The earlier portion of the film is devided in to several scenes, telling stories of several people, how they got “infected” by blindness, and how they all finally stuffed in to a ward. The people on the scenes came from different backgrounds, I found it as a typicallity for most of the stories these days.

A Japanese man (Yusuke Iseya), from the moment he got blind inside his car, delivered to his apartment by a dubious man (Don McKellar), lost his car, and meet a doctor (Mark Ruffalo). Then started from the wating room of his practice, the contagion seems to spread. An eccentric working girl (Alice Braga), wearing sunglasses all the time except for bathing and swimming, and an old man with an eye-patch (Danny Glover), and a boy (Mitchell Nye). From there, the number multiplied.

One by one, group by group, they were taken to a quarantine facility, separated in to wards. One by one they started to snapped. The commoners became thugs, and the villains became devils. Events occured that peaked when the inhabitant of Ward 3 decided to put the fate of the rest of the facility in to their own hand, lead by the self proclaimed King of Ward 3 (Gael Garcia Bernal). People started to pay for their limited ransom, first with their belonging, then by supplying the women as sex toys for the resident of Ward 3 who were curiously happen to be an all-male group. A woman died there just because she didn’t “move”.

Unbeknown to virtually all of the people in the quarantine facility the doctor’s wife (Julianne Moore) was immune to the pleague, and she has been the eye for her husband and people of her ward since the beginning. Deciding to put an end to the carnage caused by the King of Ward 3, she killed him amid an orgy and released some women that came from another ward.

This film was an opening act in Cannes Film Festival and was not widely accepted. One of the reason was the violent sex scenes in the middle of the film (which then edited to make it short). The film also sparked protests by several organizations representing the blind community, mainly National Federation of the Blind represented by its President, Dr. Marc Maurer, who said that “The National Federation of the Blind condemns and deplores this film, which will do substantial harm to the blind of America and the world.” A press release from the American Council of the Blind said ”… it is quite obvious why blind people would be outraged over this movie. Blind people do not behave like uncivilized animalized creatures.” To all of these acts and some other Jose Saramago responded: “Stupidity doesn’t choose between the blind and the non-blind.”

Indeed. I say a movie is a movie, it tells stories, and like all of human’s conceptions, filled with flaws. Different people with different background would respond differently to certain kind of work. Some people wouldn’t even bother to watch this film, for its lack of “action”, some people watch movies bringing their own purposes, easy entertainment is the word to sell these days.

However, this film is anything but such. For me it presented a tale where normality became awry, and people tried to cope up with it, level by level, learning new tragic reality each day, and try to make it normal in their own way. The problem is, when people are too absorbed in their own quest of survival it is bothering, but not surprising, what they can do to other human being. The concept of good and evil that has been formed in to each person becomes the currency and the exchange rate fluctuated like the ocean waves.

There are many interesting scenes that depicted more meaning than meets the eye. The doctor’s position as the all knowing backbone of the family early in the movie turned in to a man who are completely dependent to his wife toward the rest of it. The Japanese man, the first blind man in the movie, separated from his wife (Yoshino Kimura), meet her again at the ward only by the hint of her voice, both reached out together through the gap of “white blind”. The thief who gave the evidence that he has been a man that act through desperations. The woman with sunglasses, a prostitute who managed to find comfort and love throughout the ordeals, and her motherly love to the boy who lost his mother. And the man with eyepatch, just somewhat prooving his theories of human being.

There are many other interesting characters here and there, and played quite neatly by everyone. The ordinary personage that would embody any of us in such weird circumstances that we have never seems to be prepared for. But for me the center stage goes to Julianne Moore, ever brilliant, Moore is a solid performer. I can feel the weight of her character’s desperation, anger, her isolation as the only person with normal sight, and the satisfaction of vengeance, through the film. As she took an exit after killing the King of Ward 3, and shouted threats to the natural blind man, I bent in satisfaction.

I suppose the film has been showing enough effort to bring out the theme and essence of the story, it’s not about blind people, it’s about people, the whole population became blind and how they, supposedly we, would behave in such realization that all of us are blind within the same case. Some people would try to take advantage, some would try to balance their comprehension. It’s us in our natural ways, in a shocking circumstance. I would say that the accusation by the organization that represent the blind community was not completely correct. It’s about human being blind and try to comprehend anything that they can make out through their senses.

As the writer Jose Saramago said: “Stupidity doesn’t choose between the blind and the non-blind.”

Blindness is my movie for 2008, amid it’s awkwardness and lacks, it’s quite natural and it shows that anyone of us is blind in certain ways.

Rating: Adult
Intended Viewers: Adult
Relative Viewing Factor: 8/10
Relative Satisfaction Factor: 9/10
Relative Value: 8/10
Relative Blackenedgreen Score: 9/10

Pseudo Review of Books: A Room of One’s Own (Virginia Woolf)

A Room of One’s Own
Virginia Woolf (1928)
Penguin Books (1945) (2004)
aroomofonesown
Buku ini sesungguhnya adalah dua buah makalah yang dibacakan di hadapan Masyarakat Seni di Newnham dan Masyarakat Odtaa (One damn thing after another, entah apapun itu) di Girton pada Oktober 1928. Tentunya makalah tersebut terlalu panjang untuk dibacakan sehingga akhirnya dimodifikasi dan dikembangkan.

Perkenankan saya menterjemahkan kata-kata awal dari A Room of One’s Own, secara bebas tentunya tanpa sama sekali bermaksud melantur dari konsep yang dibawanya: “Kau mungkin berkata: tapi, kami memintamu untuk berbicara tentang perempuan dan fiksi, apa hubungannya semua itu dengan sebuah ruang pribadi?”

Kemudian dikisahkan bahwa “konon” sebelum berada di tempat itu dan berbicara tentang perempuan dan fiksi, Woolf duduk di pinggir sungai dan memikirkan: apa “sih” sebenarnya arti “perempuan dan fiksi” itu?

Saat ini saya sedang memikirkan tentang juru masak dan bumbu masak, jika ada orang yang agak kurang waras dan meminta saya untuk menjadi pembicara, membawakan topik tentang juru masak dan bumbu masak pada sebuah konvensi makanan, apa yang harus saya katakan? Saya tidak tahu apa-apa tentang makanan kecuali bagaimana cara memakannya, yang mana cukup sederhana, masukkan kedalam mulut, kunyah dan telan (serta berdoa agar diare dan saya dijauhkan sejauh bumi dan langit).

Tapi mungkin saya akan bicara tentang Rudi… saya lupa nama belakangnya, dan acaranya dahulu yang bernama Selera Nusantara, walaupun dalam acara tersebut mereka selalu mempergunakan bahan-bahan dengan nama-nama asing (entah Amerika entah Eropa) yang hanya bisa didapatkan di supermarket… istilah Selera Nusantara jadi sama membingungkannya dengan istilah Sekolah Gratis.

Atau ulasan mengenai makanan-makanan enak yang dibawakan oleh seorang Bapak di televisi yang seruan “maknyuss”nya sering ditirukan orang. Atau makanan khas Kalimantan Barat yang dipuji oleh Ibu Ani Yudhoyono (saya harus katakan ini, menurut saya makanan terenak di Indonesia terdapat di Medan dan Pontianak, dan sebagian dari mereka tidak halal, dan tentunya bukan makanan-makanan ini yang dipuji oleh Ibu Ani Yudhoyono).

Atau saya harus naik ke podium seperti layaknya seorang pejabat dan membicarakan isu standar pemerintah tentang betapa kayanya khasanah makanan khas di Nusantara, dan para “chef” seharusnya lebih terfokus untuk menggali potensi ini daripada “mengkiblatkan” dirinya ke Perancis dan Itali.

Atau saya memilih untuk membicarakan kasak-kusuk perang salib, jatuhnya Konstantinopel, orang Spanyol yang mabuk, pemboikotan jalur perdagangan, orang Eropa yang mencoba meniru tekhnologi pengobatan orang Arab… dan gagal, dibangunnya Venesia, dan mitos surga di bumi yang kemudian kita sebut sebagai Nusantara, yang menjadi rebutan bangsa-bangsa maju di dunia pada saat itu, dimana, secara literal terdapat kolam susu dan kayu yang bisa tumbuh: memperkenalkan keajaiban rempah kepada dunia. Tidak berlebihan kalau ada penulis yang bilang bahwa dunia ini ribut gara-gara makanan.

Lalu apa hubungannya semua itu dengan “A Room of One’s Own” dan Virginia Woolf? Kalau diatas saya meng-elaborasi kemungkinan-kemungkinan dari hal-hal yang akan saya bicarakan terkait juru masak dan bumbu masak (tidak akan pernah terjadi), Woolf melakukan elaborasi dari ide-idenya pada buku ini. Bukan kemungkinan, tapi suatu penguasaan intelegensia yang menyenangkan, mempunyai kemampuan untuk menjadi sangat-sangat lucu, walaupun terkadang di jejali satir. Saat anda mengira dia hanya membicarakan buku-buku yang berada di rak, dia sudah terbang keluar jendela dan menunjukkan bahwa dia paham betul apa yang ada di bawah sana.

Mungkin semua itu juga merupakan bagian dari kenakalan-kenakalan yang dia perbincangkan dengan orang-orang di kelompok Bloomsbury, yang antara lain mencakup suaminya Leonard Woolf seorang kritikus ekonomi dan politik serta John Maynard Keynes, sobat yang kita temui saat pelajaran ekonomi di sekolah, kebanyakan guru ekonomi di sekolah kita menemui kesulitan untuk menyebutkan namanya.

Untuk para Feminis? Buku ini akan membuat para feminis senang, bisa juga tidak, Woolf memang gemar mengetengahkan dunia pemikiran wanita, yang dianggapnya lebih intuitif, lebih dekat pada inti dari segala sesuatu, dan karena itu mampu membebaskan pemikiran maskulin dari segala macam konsep-konsep yang abstrak. Namun terkadang Woolf terlalu bagus untuk menjadi sekedar feminis, tulisannya menjelajahi konsep waktu, memori, kesadaran manusia. Sangat manusiawi dan memiliki kedalaman persepsi yang… dalam.

Saya sendiri percaya bahwa puncak kesibukan para feminis sudah lewat, kalau ada pihak yang mesti sibuk sekarang, maka pihak itu adalah para humanis: bagaimana mereka membuat manusia beroperasi sebagaimana layaknya manusia.

Peringatan: jangan membatasi pemikiran anda saat membaca buku ini, hal itu akan merugikan anda sendiri dan menghindarkan diri anda dari kesenangan yang dibawa oleh A Room of One’s Own, juga menghindarkan anda dari kemampuan untuk melihat dunia pemikiran Virginia Woolf secara kritis.

Aman Untuk Usia: Remaja dan Dewasa
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 9/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 10/10
Nilai Buku Relatif: 9/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 9/10

Pseudo Review of Books: The Legend of Sleepy Hollow and Other Writings (Washington Irving)

The Legend of Sleepy Hollow and Other Stories
Washington Irving
Pengantar dan Catatan oleh Peter Norberg
Barnes & Noble Classics 2006
sleepy hollow
Ayahnya, William Irving berasal dari Skotlandia, Washington Irving sendiri lahir di New York, Amerika Serikat, dan dari sana menjadi penulis Amerika yang besar.

Besar? Banyak yang mungkin tidak mengenali Washington Irving, namun kebanyakan orang mungkin ingat film Sleepy Hollow yang dibintangi oleh Johny Depp, dengan penyesuaian disana-sini untuk keperluan dramatisasi, dan bintang-bintang yang menjual, penonton kita tidak akan pernah perduli darimana cerita itu berasal. Namun setelah membaca karya-karyanya secara langsung mungkin pembaca tersebut tidak akan pernah perduli lagi dengan film tersebut.

Lebih dari 450 halaman berisi kisah-kisah dan petualangan, mulai dari satir, komedi sampai horor (ya horor, jika anda merindukan horor pada esensinya, bukan berupa penghinaan inteligensia yang – katanya – bisa anda temui pada film-film horor Indonesia dewasa ini.

Buku ini terbagi dalam 6 bagian besar: Letters of Jonathan Oldstyle, Gent dan Salmagundi yang cukup kontekstual, The Sketch-Book (anda dapat menemukan The Legend Of Sleepy Hollow disini), Bracebridge Hall dan Tales of A Traveller yang cukup mengasyikkan, serta A History of New York, bacaan yang cukup ekstensif, walaupun tidak mencakup keseluruhannya.

Buku ini bisa menjadi etalase kenapa Washington Irving menjadi nama yang besar dalam dunia literatur Amerika, dan menjadi teman anda dalam waktu yang cukup lama. Anda bisa membaca bagian tertentu secara acak sebagai bagian yang terpisah dari yang lainnya, atau membaca masing-masing bab secara berurutan dan menemukan petualangan yang cukup panjang. Tidak lupa potret kehidupan Amerika saat itu, dengan legenda-legendanya, dan hantu-hantunya, yang memberikan sedikit bukti bahwa kita tidak terlalu berbeda.

Aman Untuk Usia: Remaja dan Dewasa
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 8/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 9/10
Nilai Buku Relatif: 8/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 8/10

Pseudo Review of Books: The Metamorphosis and Other Stories (Franz Kafka)

The Metamorphosis and Other Stories
Franz Kafka
Pengantar dan Catatan oleh Jason Baker
Terjemahan Bahasa Inggris oleh Donna Freed
Barnes & Noble Classics 2003
metamorph
Saya teringat sewaktu membaca koran Kompas beberapa waktu yang lalu, membahas rumah seorang sutradara wanita yang cukup terkenal di Indonesia. Sewaktu disebutkan nama anak-anaknya, saya merasa dia berusaha menjejalkan nama orang-orang yang menurutnya “besar” ke dalam rangkaian nama-nama tersebut. Motifnya bisa beraneka ragam, selain karena nama tersebut memang terdengar “keren” dan “sangar” mungkin terbersit keinginan agar anak-anak tersebut mempunyai kebesaran yang sama dengan orang-orang yang menjadi sumber inspirasi dari nama-nama tersebut.

Untuk alasan yang terakhir, saya tidak akan pernah menggunakan nama Kafka untuk nama anak saya, itupun jika saya cukup beruntung menemukan wanita yang mau menikah dengan saya dan mempunyai anak… kelak. Cukup banyak penulis lain yang tidak membuat langit terasa kelabu dengan isi kepalanya.

Masih banyak lagi hal yang tidak saya setujui seperti memaksakan pengenalan puisi melalui budaya pop (lasting appealnya berakhir saat si selebritis mempunyai hobi lain, atau film remaja tertentu sudah tidak tayang lagi), saya juga tidak setuju jika tulisan-tulisan pujangga dunia di bongkar pasang dan di “make over” dengan sampul-sampul “teen-lit”, saya tidak setuju jika keseriusan dideklarasikan sebagai hal yang telah mati, sama dengan ketidaksetujuan saya dengan jargon-jargon rock is dead dan sejenisnya. Jika seorang pembaca muda ingin mengenal dunia literatur, biarkan dia datang dan mencari sendiri, biarkan dia menemukan sendiri, berhadapan sendirian dengan si penulis, dan menemukan kenyataan bahwa, ini seringkali bukan masalah tren, bukan masalah popularitas, bukan masalah manisnya sampul, bukan masalah pemasaran, bukan masalah kebesaran, ini masalah pemikiran. Dan dalam sebuah pemikiran selalu ada ruang yang lebih terang daripada siang yang paling cerah dan lebih gelap daripada palung yang paling dalam.

Buku ini juga merupakan usaha peremajaan, kalau tidak mau dibilang penggalian kembali tambang emas yang sudah agak kering, kecuali untuk alasan keberlanjutan dari keberadaan suatu karya, tidak ada hal lain yang membuat saya senang pada buku ini kecuali pada ketulusan Jason Baker dan Donna Freed dalam membuat kompilasi ini. Penguasaan mereka tentang Kafka mungkin bukanlah yang paling sempurna, setidaknya mereka berkonsultasi dengan berbagai pihak dan memeriksa berbagai sumber, dan itu adalah modal yang baik agar pembaca dapat mempercayai integritas dari suatu buku, meskipun berupa kompilasi yang biasanya bermotif murni keuntungan. Buku ini menawarkan lebih, dia menawarkan lubang kecil untuk mengintip kehidupan Kafka.

Ada sepuluh cerita yang dikumpulkan dalam buku ini, sangat cukup bagi anda yang ingin mengenal tulisan-tulisan Kafka dan membawa pembicaraan anda pada tingkat yang lebih tinggi pada pertemuan-pertemuan sosial. Bintangnya tentunya adalah The Metamorphosis, populer saya rasa karena banyak yang meneliti tentang cerita ini dan mengkaitkannya kehidupan Kafka terutama terkait hubungan Kafka dengan Ayahnya. Cerita ini selalu menarik, siapapun yang menterjemahkannya (versi Inggris), karakter tersebut tidak pernah hilang. Tapi jangan lupakan permata-permata lain: A Message From the Emperor, pendek namun luas, dan In The Penal Colony yang menggelitik serta Josephine The Singer. Tidak berarti yang lainnya tidak menarik, sebaliknya sangat menarik, sebagian dari cerita itu memberikan sedikit bocoran bahwa Kafka adalah Kafka, tidak ada perubahan sampul, iklan, atau adaptasi nama yang bisa mengubah itu.

Aman Untuk Usia: Remaja dan Dewasa
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 7/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 9/10
Nilai Buku Relatif: 8/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 8/10

Pseudo Review of Books: A Disorderly Excursion: Notes of a Conservationist in the Asia-Pacific Region. (Robertson Collins)

A Disorderly Excursion: Notes of a conservationist in the Asia-Pacific region.
Robertson Collins 1991
Pepper Publications 2003
adisorderlyexcursion
Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1991, di saat banyak orang memprediksikan tentang macan-macan Asia yang akan menjadi pusat perhatian dunia. Kita tahu apa yang terjadi kemudian.

Namun masa-masa itu sempat dikenang sebagai masa dimana pembangunan seakan-akan tidak terhenti, melawan, maka akan tertindas dan hilang. Hal ini memberi persepsi palsu tentang stabilitas. Pada masa-masa itu pula para pemimpin Asia menikmati masa-masa kejayaannya, dari Indonesia sampai Filipina, tidak perlu mengingat banyak nama.

Dan para pemimpin ini mempunyai ide-ide yang seringkali tidak masuk akal mengenai pembangunan dan perkembangan, ide-ide yang akan membuat makmur diri mereka sendiri dalam 10 sampai 20 tahun, dan meninggalkan bumi menjadi kering pada masa-masa setelahnya. Jangan salah, saat ini perkembangan serupa masih terjadi, namun lebih banyak masyarakat yang berani berteriak bahwa hal-hal tersebut adalah kesalahan tanpa harus masuk bui tanpa alasan yang jelas, tanpa perlawanan.

Apakah arti pembangunan? Apakah yang hendaknya dicapai oleh suatu bangsa? Apakah pihak yang berkuasa mempunyai hak untuk menentukan definisi-definisi tersebut bagi pihak yang “dikuasainya”? Dimanakah batas-batas dari segala hal yang disebut kemajuan dan darimana pula sebuah proses kehancuran bermula.

Dalam salah satu bab dari buku ini Collins bercerita tentan hilangnya suatu generasi pembuat kapal karena sebuah bentukan asumsi mengenai pendidikan yang cukup menyedihkan, Collins tidak menunjuk siapa yang salah disini, dia hanya mengajak merenung, walaupun terkadang dia bisa menjadi agak keras dan berani.

Buku ini berisi tentang catatan perjalanan Robertson Collins, seorang konservasionis. Salah jika ada yang mengira buku ini hanya bercerita tentang budaya, museum, wisata dan ulasan makanan. Collins bercerita mengenai manusia, mengenai kebaikan dan keburukannya, dan usulannya mengenai perbaikan, dan dia tidak pernah memaksa anda untuk setuju, dia hanya mengajak berpikir, dan terkadang tertawa.

Aman Untuk Usia: Semua Umur
Target Pembaca: Remaja dan Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 8/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 10/10
Nilai Buku Relatif: 9/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 9/10

Pseudo Review of Books: Outposts (Simon Winchester)

Outposts
Simon Winchester
Hodder & Stoughton 1985
Penguin Books 2003
outpost
Bagi saya ini adalah buku terhebat dari Simon Winchester, buku yang lain terasa dingin, beberapa yang lain saya masih belum mampu untuk membaca sekaligus menikmatinya (The Map That Changed The World?).

Ikuti petualangan sejak dari kata-kata awal, mengunjungi tempat-tempat di dunia yang menjadi simbol kekuatan Inggris sewaktu masih di cap sebagai penguasa lautan. Buku ini adalah sebuah kesempatan untuk mengintip kehidupan sehari-hari orang-orang yang berada di tempat-tempat yang tak terjangkau oleh televisi, “kampung-kampung” seperti di Indonesia dimana tidak seorang pun mau mengunjungi kecuali karena terpaksa.

Dan setiap tempat, setiap bab disajikan dengan menarik, dengan tambahan gosip-gosip lokal, serta individu-individu dengan karakter menarik yang yang menjadikan segalanya cerah dan memberikan pengalaman membaca yang memuaskan. Berbeda dengan Around The World in 80 Days yang merupakan fiksi rekaan Jules Verne, atau film dokumenter buatan BBC yang terasa kering dan kekurangan empati, Outpost adalah nyata dan memberikan nuansa petualangan yang cukup kuat.

Tidak banyak yang bisa saya sampaikan tentang buku ini kecuali: naik ke kapal dan lambaikan tangan anda, tidak hanya petualangan yang sangat menyenangkan, namun juga bersejarah menanti anda.

Aman Untuk Usia: Semua Umur
Target Pembaca: Remaja dan Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 9/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 10/10
Nilai Buku Relatif: 10/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 10/10

Pseudo Review of Books: Foreign Studies (Shusaku Endo)

Foreign Studies
Shusaku Endo 1965
Mark Williams (penterjemah Jepang – Inggris) 1989
Tuttle Publishing (bahasa Inggris) 1989, 2000
foreignstudies
Apa hubungan antara seorang mahasiswa Jepang dengan Marquis de Sade? Dengan ringan, tanpa pemikiran siapa pun bisa menjawab: tidak ada. Itu hanyalah jepang gila kurang kerjaan, sama dengan jepang-jepang lain yang kelihatan asing di tengah keramaian di sebuah negara bermil-mil jauhnya dari kampung halamannya.

Tapi Endo punya alasannya sendiri mengenai motif si karakter, Tanaka, kenapa dia jauh-jauh datang ke Lyon, Perancis, mengunjungi sebuah reruntuhan yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya: literatur asing.

Buku ini dibagi atas tiga bagian: bagian pertama, “Summer in Rouen”, berkisah seputar Kudo, seorang pelajar miskin yang dikirim untuk belajar ke Perancis tidak lama setelah kekalahan Jepang di perang Pasifik, merasa terasing dengan kehidupan sehari-hari, kebiasaan, norma sosial dan cara berpikir dari orang-orang asing yang ada di sekelilingnya.

Bagian kedua “Araki Thomas”, adalah tentang pelajar Jepang yang dikirim ke Jepang oleh gereja. Sumber masalahnya? Dia merasakan pertentangan antara semangat ke-Kristen-an dengan penetrasi yang agresif oleh gereja-gereja di Eropa ke Asia pada saat itu.

Bagian ketiga “And You Two” bercerita dengan semangat yang sama dengan bagian pertama dan menguasai lebih dari 70 persen isi buku. Di bagian ketiga ini pembaca boleh mulai membuat kopi dan duduk sambil makan roti.

Versi bahasa Inggris ini diterjemahkan oleh Mark Williams, seorang dosen studi tentang Jepang di Universitas Leeds, fakta bahwa dia seorang penterjemah berkomunikasi langsung dengan sang penulis bukanlah hal aneh kecuali di Indonesia.

Dan dalam buku ini Endo sendiri memberikan pengantar yang menyiratkan bahwa karakter-karakter yang ada di dalam buku ini bukanlah perwakilan langsung dari dirinya, bahwa dia sendiri, pada jamannya, adalah seorang yang tekun dan teratur sebagaimana normalnya seorang pelajar Jepang.

Tapi tetap saja, saat membaca novel-novel dari beberapa penulis Jepang, saya merasakan intensitas kehidupan dan pemikiran pribadi, segala fragmen dari tindakan dan kata yang terlintas terasa begitu nyata dan gelap. Saya lebih suka membandingkannya seperti ini, mengutip Simon Hunt dari film The Hunting Party: Ini adalah realitas, yang lainnya hanyalah televisi. Berbeda dengan novel-novel barat yang sepertinya memang ditulis untuk ditayangkan di bioskop, walaupun belum ada bioskop saat cerita itu ditulis.

Dalam “And You Two” Tanaka, terobsesi dengan studinya, mulai mempunyai pemikiran bahwa mahasiswa-mahasiswa Jepang yang lain yang ada di Perancis sebelum, pada saat yang bersamaan, atau yang datang sesudah dirinya, sebagian besar adalah orang-orang yang tidak mengerti tentang substansi, mereka hanya pengunjung yang pada akhirnya dapat mengambil keuntungan dari status “pernah belajar di Perancis”, mereka datang ke Perancis dengan terjadwal, mengunjungi tempat-tempat di Perancis dengan terjadwal, bersosialisasi dengan terjadwal, semua tentang mereka adalah manajemen studi. Mereka akan pulang ke Jepang dengan tubuh yang lebih gemuk, dengan oleh-oleh, kawin dengan putri rektor, dan menjadi dekan atau penulis terkenal di sana. Mereka dapat meniru spesifikasi tekhnisnya, segala yang dapat terukur, namun mereka sama sekali tidak mengerti budayanya dan memang tidak pernah mau mengerti karena itu bukan urusan mereka.

Menurut Endo inilah yang dihadapi para karakternya, mencoba menyelam lebih dalam dari rekan-rekan mereka sesama pelajar Jepang di Perancis, mencoba mengerti lebih dari apa yang ada di permukaan. Dan hal ini tidaklah mudah, Tanaka pada akhirnya dihadapkan dengan keragu-raguan atas pilihan-pilihannya dan dihancurkan oleh kesendiriannya. Dan baginya “ke-omongkosong-an” ini akan terulang pada individu menyedihkan selanjutnya, yang akan mengisi kamar hotelnya yang kotor.

Buku ini bisa dibaca oleh semua orang, tidak dibutuhkan pengetahuan pengetahuan tentang konteks-konteks dalam buku ini untuk menikmatinya sebagai sekedar “buku cerita”. Tapi buku ini membawa pemikiran yang cukup berharga tentang pemikiran para pelajar asing, terutama pelajar Jepang di Perancis, mengenai masuknya agama Kristen ke Jepang, asimilasi budaya Asia dan Eropa, tema-tema tentang bawah sadar dan konsep jiwa yang diusung oleh agama Budha di Asia dan perbedaannya dengan konsep kejiwaan yang diusung oleh agama Kristen yang dipopulerkan oleh Freud.

Dan itu hanyalah sedikit fragmen dari sekian banyak dimensi lain yang bisa ditemui di dalamnya.

Aman Untuk Usia: Remaja dan Dewasa (Beberapa kecenderungan sadisme seksual Marquis de Sade dimuat di buku ini)
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 6/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 8/10
Nilai Buku Relatif: 7/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 7/10