fetish

Apa padanan kata “fetish” dalam bahasa Indonesia? Entahlah, tapi dalam tradisi bahasa yang lebih sering membawanya, kata itu bisa mempunyai berbagai arti. Jangan tanya saya, jika saat ini anda sedang membaca tulisan ini, anda pasti sedang terkoneksi ke internet, dan dengan mudahnya anda bisa mengakses wikipedia… kecuali jika anda termasuk orang yang percaya bahwa kata “internet” dan kata “facebook” adalah sebuah sinonim.

Jika anda sudah mengetahui arti kata tersebut, maka: bukan, kita tidak menggunakan arti yang terkait dengan seksualitas. Walaupun sebenarnya makna tersebut tidak terpisahkan.

Suatu saat disebuah acara, dimana duka menjadi sajian utama, seseorang menghampiri saya dan mengatakan “mas, nanti pas dia nangis tolong di ‘close up’ ya…”

Frase tersebut tidak hanya muncul sekali, tapi berulang kali dan dalam acara yang berbeda-beda… setelah itu saya sempat berpikir sejenak: untuk apa? Toh foto-foto ini hanya akan menjadi sampah digital, disalin kesana-kesini antar gadget, paling bagus nyangkut di facebook.

Waktu saya melatih diri dalam hal pendokumentasian… dulu… melihat bapak-bapak ngamuk, ibu-ibu histeris dan para mahasiswa menjerit nggak jelas di jalanan, menangkap emosi memang agak mengasyikkan, adrenalin naik, bahkan sensasinya mungkin sedikit seperti onani, berebutan dengan nyamuk-nyamuk lainnya, berusaha menyikut untuk posisi terbaik, supaya bisa menangkap emosi-emosi tersebut secara frontal: TEPAT DI DEPAN MUKA.

Dan itu terjadi dimana-mana, lihat saja saluran TV nasional ketika ada liputan tragedi. Melirik ke koran, mungkin para pimpinan redaksi dan editor hanyalah versi lain dari J. Jonah Jameson (google saja, gampang kok).

Media, menurut saya hanyalah salah satu alat untuk mencapai kepuasan. Ada berbagai macam kepuasan, dan salah satunya adalah kepuasan kita saat melihat penderitaan orang. Hal yang pasti akan kita sangkal, tapi rasa senang itu ada di dalam, memberi rasa hangat yang manis bagi ego kita, yang kemudian kita lapisi dengan kata “simpati”…

Jika kita langsung melompat pada kata “hipokrit” mungkin tidak tepat, “alamiah” mungkin lebih tepat, lagipula perihal hipokrit itu sendiri adalah perihal yang alamiah.

Jadi, untuk apa? Untuk memuaskan diri kita.

Untuk apa saya melakukannya? Untuk memuaskan mereka yang punya uang yang cukup untuk memaksa saya melakukannya meskipun asam lambung sudah naik sampai ke ubun-ubun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s