Dirgahayu? Terserahlah…

Agensi meminta beberapa foto terkait hari kemerdekaan. Mereka butuh foto-foto yang menggambarkan bagaimana, secara tradisional, rakyat merayakan hari kemerdekaan. Kalau foto-foto tersebut dipakai, kami dibayar, kalau tidak, bertambahlah sampah digital di jagad server.
Namun bukan itu isu utamanya. Isu utamanya adalah, saat e-mail itu saya terima beberapa minggu sebelum tanggal yang bersangkutan, satu pertanyaan muncul di benak saya: Siapa yang perduli?

 

Tidak, saya tidak membicarakan semua salam kemerdekaan yang dimunculkan di TV yang disesumbarkan oleh para pembesar, lokal maupun nasional dengan warnanya masing-masing di latar belakang. Saya tidak meragukan kemampuan kita untuk memasang umbul-umbul, hiasan, bendera dan segala macam benda langit. Saya sama sekali tidak meragukan kemampuan para produser untuk mengadakan konser-konser besar dengan pertunjukkan laser yang spektakuler dengan artis-artis yang lagu-lagunya tidak saya mengerti, dengan lelucon-lelucon yang sulit ditelan akal sehat, saya tidak punya hak untuk meragukan “talk-show” yang tiba-tiba memunculkan anak-anak berprestasi dan para veteran yang berdiri tegak selama acara berlangsung dengan “host” yang canggung, mengajukan pertanyaan canggung, dan mengajukan komentar canggung… “apa yang bapak harapkan dari pemerintah?”

 

Menatap e-mail tersebut di layar monitor, pertanyaan tersebut semakin kuat: “siapa yang benar-benar perduli?” Saya tahu saya tidak.

 

Mungkin pertanyaan tersebut memang sudah tidak relevan lagi, orang-orang yang sibuk dengan pertanyaan seperti itu sepertinya hanya akan menjadi orang-orang yang terseret di atas aspal dan babak belur. Mungkin ide nasionalisme sendiri adalah ide yang basi, atau memang tidak pernah layak dari awalnya. Pada saat kau bisa menjual plastik dan segalanya ke dunia, kenapa harus membatasi diri menjual besi berkarat di kampung yang sepertinya selalu terjangkiti oleh penyakit keterbatasan ini?

 

Saat tiap-tiap hati dan jiwa telah dikhianati, saat mata orang-orang yang berpengharapan telah diremukkan, kita berlalu lalang dalam dunia-dunia kita sendiri, arti dan kepercayaan kita sendiri, berpura-pura dalam seremoni kita sendiri.

 

Komputer dimatikan, kamera-kamera dikeluarkan dari tas dan disimpan, pergi tidur, besok ada kerjaan yang lebih “serius” yang harus dilakukan… dengan bayaran yang lebih pasti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s