Mengenai Hal-hal di Balik Iklan dan Penjualan

DIMUKA

Salah satu komoditas ekspor utama Brazil adalah “feeding-stuf for animals” artinya Brazil menyediakan bahan makanan bagi ternak-ternak sehat di bagian lain dunia terutama Eropa. Ternak-ternak itu kemudian menyediakan bahan pangan berupa daging bagi masyarakat Eropa sendiri, maupun di ekspor lagi ke bagian lain dunia dan dijual dengan status eksklusif, artinya hanya sebagian dari masyarakat negara “hectic” seperti Indonesia yang mempunyai akses untuk mengkonsumsi daging tersebut.

Ada masalah? Kenapa harus ada masalah?

Beberapa waktu lalu saya melihat iklan sebuah produk makanan di TV, berbahan utama daging, para bintang iklan muncul di TV memegang produk tersebut, bertingkah laku dan menyorotkan ekspresi seakan-akan produk yang ada di tangan mereka tersebut adalah ambrosia, atau mother of pearl, atau apalah yang bisa membuat mata Paman Gober bersinar-sinar. Salah satu bintang iklan wanita bahkan bertingkah seakan-akan dalam beberapa detik lagi dia akan melakukan oral seks terhadap produk tersebut (bicara tentang produk-produk multi fungsi yang dipasarkan oleh “new wave marketing companies” dimana tidak ada satupun dari ke-multi-an itu yang “berfungsi” inti dari pesannya sederhana dan langsung: “telepon bla, bla, bla dan dapatkan diskon dengan membayar sembilan ratus sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan sembilan…)

Kembali ke produk daging tadi. Dalam iklan tentu saja ada tag-lines, dan dalam pertelevisian Indonesia tag-line nya tidak jauh-jauh dari “belilah!” tentu saja, karena itu merupakan point utama, kenapa anda sebagai pengusaha, memanfaatkan sarana iklan. Tapi lakukanlah sedikit riset sebelum anda tenggelam dalam “kemurahan” saya tahu nilai Bahasa Indonesia rakyat kita di sekolah-sekolah tidak terlalu bagus (bahkan buruk) tapi rakyat tidak sedemikian bodoh, mereka dibodoh-bodohi, dan para pengusaha (dan para kreator iklan) membodohi diri mereka sendiri dengan alasan menyesuaikan dengan pangsa pasar yang disasar.

“praktis! Langsung leb!”
“kita harus meningkatkan konsumsi daging…” (bagian dari edukasinya)
kemudian mereka menari-nari dengan latar belakang lagu tradisi yang dimodifikasi (banyak lagu tradisi yang dimodifikasi untuk iklan… apa kaitannya dengan kreatifitas?) dan iklan ini muncul segera setelah berita tentang warga di Jawa Barat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya sehari-hari.

Memang para pengusaha sudah menggunakan istilah “mengedukasi” masyarakat. Tapi “edukasi” terbatas terkait produknya “produk ini bisa dibeli, harus dibeli karena bla, bla, bla… maka belilah!” Tidak ada perubahan cara berpikir kearah yang lebih baik, saya curiga ini dikarenakan tidak ada pengusaha maupun kreator iklan yang sebagian para sarjana itu mempunyai kemampuan untuk hal ini.

Dan ini bukan masalah pendidikan formal, saya pernah bertemu pengusaha yang tidak lulus pendidikan dasar namun mampu menyertakan “filosofi” yang “elegan” terhadap produknya.

Kemampuan mengumpulkan uang adalah satu hal, kemampuan berbagi pencerahan adalah hal lain, dan hati-hati tentang makna “pencerahan” di sini, saya tidak bermaksud seminar.

DIBALIK PUNGGUNG

Di Brazil sendiri yang terjadi adalah hutan yang dipangkas habis untuk menyediakan lahan bagi produk ekspor yang memberikan pendapatan yang cukup besar bagi pemerintah, masyarakat terlunta-lunta kesana kemari, kehidupan sosial budaya yang musnah sekejap mata, mereka harus berkorban untuk menggemukkan ternak-ternak di Eropa.

Tidak lama lagi Amazon hanya bisa ditemukan di buku cerita anak.

Hal yang sama terjadi di Kalimantan… uprooted people.

Jepang memuji diri karena berhasil mempertahankan persentase hutan hujan. Hutan industrinya bahkan belum diolah secara maksimal… itu semua karena mereka memperoleh kayu dari Indonesia yang sudah gundul.

Jika ada yang menentang maka mereka menjadi musuh dari pembangunan, dianggap sebagai manusia-manusia naif yang menghambat kemajuan perekonomian, dan dengan dalih ini mereka malah dijadikan musuh rakyat. Konsekuensinya… darah secara literal.

Terdengar kasar, pasaran dan provokatif? Karena demikianlah bahasa di lapangan, anda yang berada di dalam kampus atau sekertariat kamar dagang, atau yang sehari-hari berkostum Arrow mungkin sudah terbiasa dengan bahasa yang beradab, disini anda bisa mendengar rakyat dan staf perkebunan bicara pahit. Sebagian hanya ekspresi kemarahan, sampai anda melihat bapak-bapak berdiam diri, senyum-senyum sendiri sambil merokok, dan anda mulai berpikir “ini serius?”

JEANS BELEL

Pada industri tekstil, bagi anda penggemar jeans belel (jeans “belel” yang “baru”! Halah!) Di pabrik, jeans-jeans tersebut dibuat sebagaimana jeans biasa, kemudian di-belel-kan dengan bergalon-galon bahan kimia untuk menghasilkan jeans yang digemari anak-anak muda dan avantgarde fashionista. Masalahnya sebagian pabrik, terutama yang berada di Asia masih menganggap manajemen limbah sebagai suatu topik pembicaraan yang memusingkan kalau tidak bisa menggunakan istilah “tidak penting.”

Semuanya harus kedengaran trendy dan modis, sampai seseorang menunjukkan foto-foto sungai dan muara ke laut dengan air yang berwarna-warni.

Pemecahan dari masalah ini sangat sederhana: anda mau jeans belel? Bawa jeans lama anda ke jasa permak, atau beli jeans bekas di pasar loak. Saat ini, dimana “going green” menjadi isu yang seksi, tidak ada orang “sophisticated” yang akan mencemooh anda hanya gara melihat mobil anda belok ke pasar loak, mereka malu disebut tidak “in.”

Pemecahan masalah daging di atas? Pastikan anda mengkonsumsi produk segar dari produsen lokal (selokal mungkin), kalaupun ada kerugian ekosistem, toh masih di bagian dunia yang sama… Tapi serius, anda bisa melakukan riset kecil mengenai hal ini, demi Tuhan (atau apapun yang anda sembah)! Kita punya internet! Dan jalan-jalan ke tempat-tempat becek dan bau sapi bisa menjadi pengalaman yang jauh lebih meng-kaya-kan daripada terkapar di Bali atau Lombok.

Anda merasa sebagai bagian dari masyarakat modern? Maka berpikirlah demikian, ini bukan mengenai internet, blackberry, i-pad, atau retractable headlamp pada Mercedes Benz terbaru (kita tahu sendiri darimana asal inovasi-inovasi pada mobil-mobil yang relatif mahal itu), ini mengenai pemahaman, dan kesadaran menyeluruh tantang apa yang sedang terjadi di bumi.

Setidaknya keinginan untuk menyadari… yang penting niat, bukan begitu?

Mari sekarang kita kembali fokus ke usaha menjadi kaya dan melupakan semua omong kosong saya diatas.

3 thoughts on “Mengenai Hal-hal di Balik Iklan dan Penjualan

  1. waktu aku baca ini, aku lagi makan. sambil makan, sambil ngebaca, sambil sekali2 nurunin scrool. dalam hati terus aja ngumpat, buset dah… buset dah…. jadi makan siang paling ga enak sedunia gara2 tulisan ini.
    sambil makan, aku liat ayam goreng, ini ayam gimana ya prosesnya, gimana peternaknya, sehat ga ya? setiap suap ada aja pertanyaan. baca, makan, nanya, baca, makan, nanya…
    tiba2… tulisan abis, nasiku pun abis. hmmmm…. segera kulipat daun pembungkus nasiku, eh… sih sempet nanya, nih bungkus sehat ga sih?

    halah… seperti konklusinya… mari kita kembali fokus menjadi kaya… (ya!!! mari kita fokus yang penting tuntutan kampung tengah bisa terpenuhi)

    • yah itulah susahnya melakukan sesuatu sambil nanya, mungkin sekarang memang sudah nggak bisa dikompromikan lagi antara kebutuhan kampung tengah sama kebutuhan untuk nanya…^^

      resikonya jawaban yang kita dapat biasanya mengejutkan… heheh, tapi atas nama pikiran positif, kita anggap saja situasinya tidak seburuk itu…

  2. jadi illfeel nih om… kl pake jeans belel… tp memang betul industri tdk mementingkan pengolahan limbah karena pengolahan limbah itu sendiri sangat mahal… sehingga saat di bangun pun mereka mempunya jalan pintas sewaktu dibutuhkan ( mungkin sering dipakai malah, selama masyarak sekitar blm teriak gatel di kulitnya dan para pengawas dr pemerintah terbuai angpau di lobby ktr tanpa melihat ke lapangan…hiks..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s