Mengenai Keinginan.

1. SAYA PUNYA BANYAK KEINGINAN!

Lebih tepatnya, saya menginginkan semuanya! Lamborgini Murcielago, Suzuki Hayabusa, Gelandewagen yang pernah dipakai ratu Inggris, pacar yang punya penampilan fisik seperti… siapa ya, Rachel Weisz (betul tulisannya begitu?) Dan dia menyembah-nyembah agar saya mau mengawini dia secepatnya (apa satu cukup? Mungkin satu lagi dengan rasa oriental, dan satu lagi dengan rasa melayu, dan satu lagi…), apartemen termewah di Singapura dengan view keseluruh kota, properti di Venesia, 25 persen saham Microsoft, 10 persen saham Manchester United, fakta bahwa saya sama sekali tidak mengerti tren bola dunia, atau fakta bahwa MU sedang dililit hutang tidak penting!

Lagi!

Salah satu pulau buatan di Saudi, Jet Pribadi dengan nama saya tercetak di tubuhnya, multi kewarganegaraan: Kanada, karena mereka tidak terlalu ambil pusing, Jepang karena ada orang disana yang butuh talenta rasa melayu untuk industri pornografi, Jerman, karena Neo Nazi butuh sand-sack.

Ius Soli, Ius Sanguinis? Hukum tidak berlaku bagi saya, bagaimana mungkin hukum berlaku bagi saya ketika saya bisa membagi-bagikan Aston Martin, Ferrari dan Porsce untuk selingkuhan-selingkuhan saya? Kemudian kami sarapan di Bangkok, buang air di Vancouver, sedangkan dia langsung tembak ke Paris buat beli 3 potong celana dalam… trus pulang ke Pacitan dan memikirkan bagaimana cara menghidupkan sebuah komputer.

Lagi!

Saya ingin menjadi seorang virtuoso gitar yang membuat Petrucci kedengaran seperti Andra, ingin menjadi performer yang membuat Bubble kelihatan seperti BBB karbitannya Melly Guslaw (bicara tentang self aggrandizing), mempunyai kemampuan vokal yang membuat Enrico Caruso kedengaran seperti Josh Groban (no offense, fans-wise), kemampuan melukis yang membuat seluruh karya Van Gogh dikonversi ke art deco… spesialisasi kamar mandi.

Jawara tarung drajat!

Bisa terbang dan kuat seperti Superman dan seterusnya…

Mungkin setelah itu semua TERWUJUD, baru saya bisa menjadi laki-laki yang layak untuk memikirkan tentang perkawinan.

2. MASALAHNYA.

Masalahnya, di atas dunia ini sudah ada sekitar 6.000.000.000 manusia, dan selama saya berjalan-jalan di sekitar daerah ini, kelihatannya tren itu akan terus bertambah, banyak sekali janur kuning yang terpancang di pinggir jalan minggu-minggu ini. Jadi kita lupakan saja masalah pernikahan dan teman-temannya: prokreasi, reproduksi.

Yang lebih penting terkait angka estimasi 6.000.000.000 itu adalah keinginan mereka.

Keinginan kita.

Bayangkan ada berapa banyak keinginan yang menjejali setiap sudut di jiwa kita.

Segala macam keinginan dari segala macam genre, dari segala macam tingkat kepentingan yang dikotak-kotakkan seakan-akan tidak perduli bahwa keinginan itu mempunyai urgensi yang berbeda-beda bagi tiap individu.

Berapa orang dari 6.000.000.000 itu yang keinginannya dianggap penting?

Seberapa pentingkah keinginan orang-orang seperti, bilanglah, anda dan saya?

Itu tentunya sangat tergantung kepada siapa anda dan saya. Dan tidak, kuantitas tidak memegang peranan apapun, kekuatan untuk menyetir kuantitas massa itulah yang terpenting.

Baiklah, jika ada 5.000.000.000 orang yang turun ke jalan-jalan di dunia pada hari yang sama, berdemonstrasi, long-march, atau apapun namanya, menunjukkan aspirasi bagi tercapainya perdamaian dunia, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia (tenang saja, itu tidak akan penah terjadi), akan ada segelintir orang yang tersenyum dan berkata: “kita berikan apa yang mereka mau?”

Betapa menyenangkannya jika massa ini berpikir dan bertindak sebagai satu kesatuan, mereka merasa mempunyai kekuatan seperti seekor leviathan yang agung, besar, maha kuat dan tak terkalahkan, melupakan bahwa seekor leviathan hanyalah seekor binatang buas, tidak lebih, yang kau butuhkan hanyalah seutas tali, dan kau bisa mengarahkan moncongnya kemanapun kau suka.

Lagipula segelintir orang itu akan berpikir: “kau tidak bisa mempercayakan kehendak bebas kepada leviatahan, lihat bagaimana berantakannya dunia karena keliarannya.”

Pada akhirnya ada pihak di atas bumi ini yang merasa berhak untuk mengambil peran sebagai penunggang leviathan.

3. STRATIFIKASI

Suatu hari leviathan – yang kemudian kita panggil si levi – ditunggangi melalui onak dan duri (kapan terakhir kali kita menggunakan istilah onak?), kaki dan tangannya luka-luka, dan si penunggang bilang: “santai aja lev, itu cuma kaki dan tanganmu kog, lehermu lebih penting.”

Sejak saat itu si levi masa bodoh dengan kaki dan tangannya, mau kapalan kek, mau kurapan kek, dan dengan tangan itu dia mengelus-elus lehernya, leher yang bisa ditebas kapanpun oleh siapapun.

Sejak saat itu levi menetapkan stratifikasi atas tubuhnya sendiri: oh, leher lebih penting daripada tangan, mata lebih penting daripada lidah, dan sebagainya.

Sejak saat itu si levi menjadi bodoh sempurna dan si penunggang bisa memanipulasi si levi dengan cara apapun yang dia suka.

Tanyakan pada anak-anak SD sampai SMA, dengan jujur, bukan dengan gaya pameran pendidikan, apa ada diantara mereka yang mengerti pentingnya substansi dari profesi petani? Manusia-manusia tidak jelas yang tinggal di kampung-kampung, menari-nari di atas lahan yang banjir ketika basah dan kering kerontang ketika cerah, yang selalu menangis manja dan protes, yang tinggal di gubuk, yang tidak penting…

Dengan keinginan yang tidak penting.

4. SIAPA MANUSIA?

Leviathan di sini tidak ada kaitannya dengan Commonwealth Ecclesiastical-nya Thomas Hobbes, kami menggambarkan dua hewan yang berbeda walaupun spesiesnya sama. Hewan besar dan ganteng milik Thomas Hobbes tentunya lebih populer, jauh lebih populer, daripada leviathan cupu dengan tampang tidak jelas yang saya gambarkan, walaupun kedua-duanya benar-benar berukuran besar.

Kembali ke si levi, akhirnya datang suatu waktu dimana dia tidak mengenali lagi dirinya, tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengeksplorasi dirinya baik fisik maupun psikis, tidak lagi mengenal fungsi organ-organ tubuhnya, tidak lagi bisa menghargai dirinya sendiri, menghabiskan waktu di dalam kurungan ringkih yang dipesan si penunggang di bengkel las paling murah.

Sesekali dia dikeluarkan oleh si penunggang untuk pertunjukkan atau menakut-nakuti tetangga.

Si penunggang memutuskan bahwa akan lebih menguntungkan kalau monster ini diternakkan, tentunya setelah dia yakin bahwa modifikasi sifat itu sudah berhasil dan bisa diwariskan. Tren baru hewan peliharaan.

Si levi tidak pernah tahu ataupun perduli, bahwa dengan sekali dobrak, dia bisa meruntuhkan kurungan itu.

Siapa manusia? Jawabannya: manusia apa? Apa kita sudah bertingkah seperti manusia? Apakah kita mengenali sesama kita? Organ dari sebuah tubuh besar bernama kemanusiaan? Seperti apakah kita dididik? Seperti apakah kita mendidik diri kita sendiri? Apa yang kita pikirkan bila salah satu dari kita mati dan jatuh dipinggir jalan?

5. DI WARUNG KOPI DAN ANTAH BERANTAH.

Ada alasan kenapa saya lebih senang berpergian sendirian:

a. Jika membawa teman, maka akan ada kemungkinan saya tidak akan bisa mendengarkan suara lain selain suaranya.

b. Terlalu banyak kompromi, saya mau cari WC umum dia mau langsung jalan, saya mau langsung jalan dia mau makan…

c. Menghindarkan diri dari kelelahan yang tidak perlu dan kemungkinan penilaian dan analisa murah terhadap apa-apa yang saya suka lakukan. Prinsip: Dalam perjalanan ini hanya ada satu kesadaran, dan itu adalah kesadaran saya.

Jadi seperti biasa, sendirian di warung kopi dan antah berantah.

Di warung kopi ada sepasang rekanan, yang muda bicara tentang bagaimana dia memaksa tutup sebuah kios yang pemiliknya masih berhutang kepadanya. Dengan bangga dan suara yang kuat dia berbicara tentang bagaimana dia mengaplikasikan cat semprot sebagai pengejawantahan seni grafis ke bagian depan kios, sebentuk tulisan yang berbunyi: “kios ini tidak akan dibuka sampai urusan hutang selesai.”

Ada sepasang kekasih yang saling bertukar pandangan tentang orang lain yang mereka kenal (dan benci) bagaimana orang ini demikian, bagaimana dia begitu, dari nadanya mereka sepertinya dihadapkan pada dilema: orang ini musnah atau dunia mereka kiamat.

Sekelompok mahasiswa, pria, wanita yang, karena kehabisan meja, meng-invasi meja seorang bapak yang sedang asik sendirian menyeruput kopinya. Si bapak akhirnya tersingkir, minum tanpa meja, saat para mahasiswa tertawa terpingkal-pingkal atas cerita perebutan cinta dan nafsu.

Di parkiran, seorang bapak berusaha mengeluarkan motornya dari kungkungan motor para mahasiswa yang dibariskan melintang kesana kemari.

Di meja-meja lain laki-laki tua muda, membicarakan politik, tender proyek yang tidak jelas (satu-satunya alasan kenapa mereka protes adalah karena tender tersebut tidak jatuh ke tangan mereka) membicarakan wanita, cincin, mobil, motor, perubahan iklim, anak…

Sebagian dari kami terkumpul disini karena satu alasan: hujan. Ingin terhindar dari hujan, terhindar dari basah yang bisa begitu melelahkan dan berpotensi merusak harga diri. Kopi? Bagi sebagian orang di warung ini, kopi adalah alasan sekunder atau tersier, setidaknya mereka bisa duduk tanpa merasa bersalah. Atau lebih tepatnya terhindari dari pencedaraan harga diri karena diusir dari meja.

Di antah berantah, guru-guru pada sekolah-sekolah yang terisolir ingin sistem transportasi yang masuk akal, yang memungkinkan mereka pulang dan pergi ke keluarga mereka tanpa harus menunggu jam-jam tertentu saat perahu motor lewat, agar anak-anak bisa datang ke sekolah kapanpun diperlukan, agar orang-orang bisa pergi ke kota, agar mereka tidak perlu memutar berpuluh-puluh kilometer jauhnya melalui jalan darat yang sama sekali tidak bisa dilalui jika hujan, dan diinvasi oleh perompak saat kering.

Konyolnya tempat ini sama sekali tidak jauh dari ibu kota propinsi.

Tidak penting…

Pada saat kita bernafas, berpacaran, membuahi rahim istri, membayar uang sekolah, membeli mobil, membeli kursi parlemen, menggombali seorang gadis (atau janda), bertengkar dengan polisi, berbagi cerita dengan teman-teman satu kos tentang cowok baru yang cute, mangap di depan drama Korea, mengoper nasabah yang suka ngomel ke meja lain, jantungan memperhatikan turun naik saham, memperkirakan batas aman transaksi pasar uang, mengorganisir sweeping ke hotel-hotel yang dicurigai sebagai tempat berkumpulnya gay dan lesbian, protes tentang UU pornografi, menyerbu mal-mal dengan diskon, mencoba kosmetik dan parfum baru, mempromosikan jam tangan premium, membangun apartemen, memaki media televisi, memuji-muji pengarang teen-lit, menonton sinetron, tersenyum-senyum di hadapan interface facebook, mengorganisir bantuan sosial di Sudan, memandangi pendingin darah milik Palang Merah Indonesia yang rusak karena kegagalan PLN, mencaci maki Israel, memecahkan masalah harga sawit, menonton bola dari suatu tempat di Inggris, menggadaikan motor untuk menebus obat anak yang sakit, memutar otak 24 jam sehari memikirkan hasil panen yang tidak bisa memenuhi kebutuhan, menghadapi proteksi perusahaan multi nasional atas paten pupuk dan bibit, berselingkuh dengan istri muda Pak RT, memikirkan pahanya yang mulus sesaat setelah doa makan, menyusun peraturan daerah tentang TPA dan sampah, memburu handphone terbaru, mengurus reparasi laptop, menulis surat pembaca di koran lokal, pasang iklan…

… seseorang disana memegang tali kekang, terbang diatas lahar, mengendarai kita: sang leviathan.

Keinginan? Keinginan siapa?

9 thoughts on “Mengenai Keinginan.

  1. keinginan saya cuma satu, yaitu saya ingin gratisan;
    online gratis, nonton gratis, makan gratis, minum gratis, pendidikan gratis, kesehatan gratis, ongkos gratis, istri gratis, ke toilet gratis, ngopi gratis, baca buku gratis. pokoknya semuanya gratisan.

    • Indahnya… tapi itu berarti lebih banyak orang kerja fisik, dan ekonomi kembali ke sistem barter… tapi asik juga, kalau dunia mengalami bencana besar, cuma sistem self reliance seperti ini yang bisa kita andalkan…

      … istri gratis? Gimana konsepnya itu?

      • perasaan dari mula ada manusia, yang namanya istri tu gratis… Kalo ngga gratis, saya pasang harga berapa ya?😀

      • kita gak harus kerja fisik juga mas, kan manusia sekarang sudah bisa bikin robot (ngeles)…
        kalau soal “istri gratis”, mungkin secara umum terkesan wanita menjadi “benda” yang di perjual-belikan. saya sebut istri karena saya seorang pria, jika saya seorang wanita saya akan katakan “suami gratis”
        saya masih Indonesia asli dimana adat suku saya jika ingin meminang wanita tidaklah gratis, harus ada katakanlah “mas kawin” ada juga suku di sumatra barat seorang wanita harus membayar “mas kawin” kepada seorang pria. itu baru adat!! belum nikah secara agama!! belum lagi secara hukum!!! belum lagi……….

      • @yeo: nah itu dia, harga… kena pengaruh kurs nggak? kena pengaruh harga komoditas nggak? :)) tapi perasaan asumsinya sekarang manusia memang bisa dibeli, ntah laki entah perempuan, kalau ngomongin nilai “intrinsik” malah diketawain…

        @flyegg: ngerti mas… memang bisa buat frustrasi yah? belum cerainya coba! ^^

  2. soal ‘istri gratis’… setau saya, perempuan kalo udah cinta (atau kepepet😀 ), dia mau kok nanggung biaya kawin bahkan sama maharnya sekalian. bahkan ada yang diam-diam nabung buat biaya kawinnya kelak, walau entah dengan siapa. yang begitu, apa bukan ‘istri gratis’ namanya?

    soal biaya cerai, biasanya, kalo udah niat banget, pihak perempuan bakal mengusahakan gimana caranya cepet cerai, termasuk menyediakan biaya pengadilan dsb (daripada terus-terusan makan ati, atau alasan-alasan lain) so, it’s not that complicated.

    satu lagi, kalo mengharapkan istri gratis tapi ngga nemu istri yang seperti saya sebutkan tadi, yaa… pacaran aja, ajak hidup seatap. bisa ditidurin, disuruh bikin kopi, mijitin… serius nih! rata-rata fiturnya sama kok sama yang statusnya istri. yang begini ‘istri gratis’ juga kan namanya?

    btw, untuk memperjelas maksut ocehan saya tadi: i’m not a feminist. not even close to being one.

    • ah, nggak enak juga yah kalo kita kejebak di isu ini, kawin, nggak kawin, siapa yang upperhanded, siapa yang tanggung jawab, siapa yang nrimo. Aku percaya setiap individu seharusnya bebas menentukan, dalam hal ini, siapa yang dipilihnya sebagai teman hidup, dan bagaimana “proses” menjadi teman hidup terjadi.

      Enak kalau proses itu merupakan hasil kompromi “kedua orang” itu, kerja tim ceritanya, manusia satu merengkuh manusia satunya lagi, alasannya: kasih (kalau kata “cinta” sudah terdengar memuakkan) Perempuan atau laki-laki, atau makhluk yang nggak jelas jenis kelaminnya sekalian, aku rasa berhak untuk menemukan keputusanya sendiri dan bertindak atas keputusan itu. Kalau mereka memang memilih jalan perkawinan.

      Kalau mau cerai ya cerai, anggap aja kontrak kerja timnya udah nggak bisa dilanjutkan.

      Istri gratis… fiturnya menarik sih, tapi nggak ada kontrak formalnya, nggak ada akta kepemilikian🙂 aslinya manusia itu posesif sekaligus penyeleweng, jadi ribet juga entar… balik-baliknya ke itung-itungan ekonomi lagi, mungkin juga ditambah dengan sedikit gejala penyakit menular.

      Feminist? hahah, yeah, just because some people have the rage they thought they are Betty Friedan or Simone de Beauvoir… funny, it also applies to many other -ist socialist, communist, humanist, you name it, recalling Ernesto “Che” fever, it tickles my gut, and not in a pleasant way!

      Tapi di muka bumi ini kita manusia gemar dengan yang namanya ritual, kompleksitasnya tambah meriah dengan semua tata cara yang kita buat dari mulai kita belum kenal apa itu baju: adat istiadat, menjadi budaya, ada disana-sini di peradaban kita.

      Dan mau tidak mau sebagian dari kita masih berjalan (atau ter-rantai) di tipikalitas: apa yang diharapkan dari seorang laki-laki atau perempuan dsb, dsb… mungkin hal-hal ini juga mempengaruhi standpointnya flyegg (koreksi jika salah)

      Aku ndak berani bilang bahwa aku berpandangan negatif terhadap adat istiadat, selalu ada kebijaksanaan dari sebuah proses, seberapa kecil pun persentasenya, mereka sudah mengantar kita ke abad ini, dan komprominya panjang itu, jaman bapak ibu kita tentunya pendekatan seperti yang jamak kita temukan sekarang bisa dianggap sesat!🙂

      Cuma mau mengusulkan satu hal yang mungkin aku juga belum punya: common sense…

      …ck, satu kutil di dahi leviathan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s