Pseudo Review of Books: Mingei – Japan’s Enduring Folk Arts – Amaury Saint-Gilles

MINGEI – Japan’s Enduring Folk Arts
Amaury Saint-Gilles 1983, 1989
Tuttle Publishing I 1989, II 1998

Jika mendengar istilah handicraft atau melihat benda-benda yang saya anggap aneh itu didepan mata saya, biasanya hal-hal berikut ini akan lewat dikepala saya:

1. Apa fungsinya?

2. Pasti ini kerjaan dari orang-orang yang memanfaatkan kelemahan orang lain terhadap ke”cute“an.

3. Sebuah benda yang tidak begitu substantif.

4. Mengalihkan persepsi orang – lagi! – terhadap arti kata seni yang sedang in.

5. Satu lagi usaha pembuka untuk mengkelompokkan manusia menjadi, pertama; pihak yang cerdas, informatif, maju, sosial, trendsetter bagi yang mengaku mengerti, dan kedua; terbelakang bagi manusia yang secara jujur mengaku tidak mengerti… seperti saya.

6. Tujuan akhirnya hanyalah mencari perhatian dan menjual segala sesuatu yang tidak dperlukan.

7. Berapa banyak orang miskin yang dibodohi untuk membuat barang-barang seperti ini, sama dengan berapa banyak orang kelas menengah dan kelas atas yang dibodohi untuk membeli barang-barang seperti ini? Dan siapa OKB yang panik didalam Audi mogok itu?

Apa benar demikian?

Seharusnya tidak.

Mingei adalah salah satu buku yang mengingatkan saya bahwa seharusnya 7 persepsi saya diatas adalah tidak valid.

Mingei mengingatkan saya bahwa di dunia dimana semua lagu terdengar serupa, semua film terlihat sama, semua idol bertampang, berambut dan berpakaian sama, masih ada orang yang duduk, memusatkan konsentrasi, mencurahkan kasih dan menciptakan substansi.

Atau lebih tepatnya Amaury Saint-Gilles yang telah melakukan kerja mengumpulkan data menjadi sebuah buku yang berusaha mengingatkan bahwa substansi murni, bukan caplok sana-caplok sini, masih layak untuk dihargai dan dilakukan… masalahnya buku ini pertama diterbitkan pada tahun 1989 (versi Tuttle) dan kita sekarang berada di tahun 2010… dan kita setiap hari menonton televisi…

Buku ini sebenarnya adalah pendamping bagi sebuah eksebisi seni rakyat pada tahun 1983. Dengan demikian sepintas menyinggung tentang keberadaan museum, yang pada akhirnya mengingatkan saya tentang situasi dan kondisi museum di Indonesia… tidak usah dibahas.

SENI RAKYAT

Disebutkan bahwa kata mingei berasal dari kata min yang berarti rakyat, dan gei yang berarti seni. Istilah ini pertama kali dipergunakan oleh Dr. Yanagi Soetsu, seorang sarjana yang terpandang di Jepang pada masanya (sekitar 70 tahun yang lalu dihitung dari 2010).

Dr. Yanagi, seperti yang digambarkan dalam buku ini, telah memperhatikan bahwa banyak hal yang telah dihasilkan oleh pengrajin yang tidak dikenal, pada era sebelum berjayanya industri, memiliki keindahan yang jarang sekali bisa ditandingi oleh seniman pada masyarakat modern.

Penelitiannya mengungkapkan sebuah pengertian terkait sifat dari keindahan, hal-hal yang terkait secara integral kepada kelahiran dan kehidupan sebuah cara berpikir yang tidak terpaku pada ide yang mapan tentang perihal cantik atau jelek..

Hal yang sulit untuk dilakukan, dan saya masih gagal disana, terima kasih kepada lingkungan dan media.

Tapi apakah seni rakyat yang dimaksudkan dibahas dalam buku ini ada kaitannya dengan istilah yang sering kita pakai: Kerajinan atau bahasa kerennya: Handicraft?

Ya, hampir setiap aspeknya menunjukkan kesamaan, dari mulai pengerjaan secara manual dengan tangan, kisah dibalik setiap desain yang terkadang agung terkadang konyol, perannya terhadap masyarakat yang melahirkannya dan peran masyarakat itu sendiri dalam menjaga dan dalam beberapa hal, menghancurkannya, sampai dengan penjualan untuk menyambung hidup si artisan.

Buku ini tentunya membahas “seni rakyat” yang lahir dan hidup, atau yang telah mati di Jepang, membaca beberapa tulisan tambahan di buku ini, dan tulisan-tulisan di buku lain, sepertinya ada perbedaan perilaku terhadap seni rakyat ini. Apa yang terjadi disana tidak sama dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Saya tidak tahu pasti bagaimana keadaan di Indonesia. Apakah semua yang ada dipasar-pasar terkenal di Yogya dan Solo itu hanyalah barang substitusi dari barang sesungguhnya yang mempunyai substansi yang akhirnya diekspor keluar negeri karena mereka lebih mengerti tentang membayar harga yang pas dengan sebuah substansi?

Atau apakah pengrajin kita cenderung terikat pada tren (dan mau tidak mau pemasukan), dan selalu berusaha membuat barang yang sama dengan barang yang sedang laku?

Yang saya tahu pasti, kita mempunyai perilaku yang lucu jika membicarakan museum.

Dan oleh karena itu, kita mungkin tidak akan pernah tahu apa-apa tentang diri kita sendiri.

Dunia handicrat kita di mata Internasional bisa jadi hanya diwakili oleh desain-desain asing, yang dikerjakan secara masal oleh banyak buruh kontrak, yang bisa dipecat sewaktu-waktu, dengan sistem remunerasi yang tidak jelas, sementara membuat beberapa orang dari Amerika atau Jepang menjadi begitu kaya… satu hal… ini adalah prospektif yang menggiurkan jika anda adalah seorang marketing staf produk asuransi.

ISI BUKU

Di bagian awal anda akan disuguhi peta Jepang, yang sama sekali tidak komprehensif jika dibandingkan dengan peta pada umumnya. Peta ini tentu saja melayani fungsi yang berbeda, ada banyak penanda yang menunjukkan lokasi wilayah dan nomor-nomor dari item kerajinan yang bisa anda temukan di wilayah itu… tidak hanya berguna untuk anda yang senang untuk jalan-jalan ke Jepang, ini adalah tambahan yang menarik.

Kemudian tentu saja berbagai “seni rakyat” yang ada di Jepang menempati masing-masing dua halaman, satu halaman untuk gambar yang mendeskripsikan benda tersebut, dan halaman lainnya untuk sejarah, latar belakang dan segala cerita tentang “seni rakyat” tersebut.

Ditengah-tengah terdapat 24 halaman berwarna yang berisi foto-foto yang dihasilkan oleh para kontributor dan oleh Saint-Gilles sendiri. Warna-warna yang sangat hidup memberikan gambaran sesungguhnya dari sebagian karya, dan dibeberapa halaman pembaca bisa melihat artisan yang sedang beraksi, mengingatkan akan kenikmatan dari kesunyian konsentrasi dan devosi.

Tidak ada yang tidak menyenangkan tapi diantaranya yang ingin saya sebutkan adalah itto-bori, keahlian pahat yang berasal dari suku Ainu atas sebuah balok kayu dan menirukan bentuk berbagi unggas (bentuk yang mengejutkan!) yang diberikan sebagai hadiah kepada orang yang dianggap memiliki karakter yang sama dengan unggas tersebut; koi-nobori, ikan berwarna cerah yang yang bertingkah seperti pendeteksi angin yang biasa kita temui di bandara untuk memeriahkan festifal bagi anak laki-laki; dan hoko-san, boneka anak perempuan degan latar belakang yang mengharu biru, mungkin mengalahkan semua sinetron atau drama Korea sekalian.

Membaca, memiliki… dan membaca lagi buku ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Mungkin kalimat yang terdapat dalam prakata oleh Dr. Martha Longenecker bisa menggambarkannya dengan lebih baik:

“Seringkali suatu keindahan yang tak tertandingi dalam kesederhanaannya, mereka berguna dan memuaskan bagi jiwa manusia.”

Saya masih mencari…

Aman Untuk Usia: Semua umur… jika seorang bayi yang baru lahir bisa membaca… kenapa tidak?
Target Pembaca: Semua umur… kita tahulah artinya.
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 9/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 9/10
Nilai Buku Relatif: 10/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 9/10

One thought on “Pseudo Review of Books: Mingei – Japan’s Enduring Folk Arts – Amaury Saint-Gilles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s