Mengenai Pidato Presiden Yudhoyono di Depan Parlemen Australia

Mantan atasan saya (with all do respect sir) sering mengulang satu wejangan: “don’t do stupid things, don’t do it, don’t waste your time.”

Hal-hal bodoh yang dimaksudkannya terkadang terasa penting dari perspektif saya, dia dari Irlandia dan saya dari Indonesia, bisa menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan perspektif. Dan itu juga berarti membuang-buang waktu… percuma.

Jika seorang pembesar dari negara-negara dengan basis kaukasia mengeluarkan pernyataan, baik berupa siaran pers maupun pidato dihadapan parlemen, maka pendengarnya diharapkan melakukan hal-hal berikut.

1. Menyiapkan diri dengan segudang informasi pribadi, artinya mereka sudah memperkirakan apa yang akan dibicarakan, mereka hanya mempersiapkan reaksi terhadap penyataan tersebut.

2. Si pembicara tidak akan membicarakan semua hal, penting untuk menangkap intisari dari apa yang dibicarakan dan mengerti implikasi dari apa yang dibicarakan terhadap hal-hal yang tidak dibicarakan. Dan ini berarti kembali pada persiapan yang dilakukan pada nomor satu di atas.

Pidato mereka biasanya secara relatif tidak terlalu panjang, namun mempunyai dampak yang cukup efektif. Karena pendengarnya mengerti “aturan mainnya.”

Kevin Rudd dan Tony Abbot membicarakan hal-hal yang kurang lebih sama, dari awal sudah kelihatan ketika Abbot menyatakan dia mendukung apa-apa yang sudah dinyatakan Kevin Rudd sebelum dirinya.

Bedanya adalah Rudd lebih “halus”, mencoba menyeimbangkan segala pertukaran “mengambil dan memberi” antara Australia dan Indonesia, walaupun itu agak susah untuk dilakukan, dan hal itu cukup kelihatan.

Kalau tidak salah Rudd juga mengungkit isu persahabatan antar komunitas berbasis Protestan dan komunitas berbasis Islam terbesar yang dapat menjadi contoh bagi dunia. Kedengaran kekanak-kanakan, sebagian orang di dunia tidak lagi membaca buku dongeng, tapi cukup mengejutkan bagaimana orang-orang ini mengangkat simbol-simbol. Kalau itu bisa melayani kepentingan tertentu maka biarlah demikian, tidak ada yang penting disana.

Kalau anda cukup punya kesempatan menonton pidato tersebut, maka anda tahu apa yang dibicarakan, kebanyakan adalah hal-hal standar yang sudah dapat ditebak, pujian, harapan untuk perbaikan dan semacamnya. Jadi tidak perlu dielaborasi disini.

Abbot menyampaikan pidato yang cukup “ramah,” mengulang hal-hal seperti bagaimana Indonesia adalah salah satu kekuatan demokrasi terbesar, juga komunitas Islam terbesar, (kuantitas dan kuantitas dan kuantitas), sedikit penekanan pada “penyelundupan manusia” – dia mempergunakan istilah “human smuggling” yang menurut saya sedikit lebih “pasaran” kalau tidak mau dibilang lebih “kasar” daripada istilah “human trafficking”, entah apapun maksudnya – tapi yang layak diperhatikan adalah kelimat penutupnya yang berbunyi kira-kira: Australia telah berdiri mendampingi Indonesia di masa-masa sulit, kami percaya bahwa (Presiden) Indonesia juga akan melakukan hal yang sama.

Asumsi saya atas maksudnya: ayolah kawan, sebetulnya belum ada apa-apa yang terjadi antara kita, yang ada adalah kami selalu memapahmu saat kau jatuh…

Tapi itu wajar, mengingat dia mewakili partai oposisi dan kita bicara perspektif…

Dan kemudian Presiden Indonesia berdiri di mimbar dan bicara…

Dilihat dari waktu yang dihabiskan untuk basa-basi: pidato standar yang mungkin lebih cocok jika dibacakan di depan parlemen Indonesia, tingkat pemahamannya akan lebih setara.

Dari mulai masalah pendidikan dan pengajaran Bahasa Indonesia di Australia – yang mungkin akan menggembirakan beberapa pencinta Indonesia di Australia, sama girangnya mereka dengan orang-orang yang terjangkit demam Jepang di Amerika Serikat – mengenai anaknya yang bersekolah disana, mengenai aktor-aktor dan opera sabun Australia…

Baiklah, membuat keadaan menjadi sedikit kasual, tapi kenapa saya merasa perut saya sakit?

Masalahnya adalah pengulangan kata pragmatis disana-sini sementara pidato itu sendiri rasanya tidak begitu pragmatis.

Sampai saat Presiden membicarakan Lombok, Bali, Makasar, Kopenhagen…

Saya baru sadar semangatnya.

Sesungguhnya diluar segala hal yang wajar atau tidak, biasa atau tidak, pragmatis atau tidak, membosankan atau tidak, bertele-tele atau tidak, Indonesia mempunyai banyak hal yang harus disampaikan kepada tetangga dan “sahabatnya” ini.

Jika dibandingkan dari berbagai skala dan indikasi, ini sesungguhnya adalah persahabatan yang agak sulit. Yang satu adalah seorang anak yang cenderung lebih sehat, makan empat sehat lima sempurna, terkadang nakal namun mengerti sepenuhnya kenapa dirinya nakal, terdidik dalam sistem pendidikan yang relatif sudah baik, dan terbiasa bergaul dengan anak-anak kaya lainnya, dengan demikian mengamankan jaringan dan hak suaranya terhadap berbagai hal yang terjadi disekelilingnya. Pribadi yang mapan…

Dilain pihak Indonesia adalah anak yang – baiklah – gemuk, tapi tidak ada yang tahu kenapa dia gemuk, nakal dan tidak pernah mengerti alasan kenapa dia nakal, walaupun sudah diajari berulang-ulang, sering menghisap darahnya sendiri untuk memenuhi kebutuhan gizi, terdidik dalam sistem pendidikan yang… tidak jelas sistemnya… dan terbiasa bergaul dalam kelompok yang mengutamakan jumlah. Sumber daya dari halaman belakangnya dihabiskan untuk menyenangkan preman-preman satu kelompoknya, dia tidak pernah tahu bahwa dia bisa menggunakannya untuk sesuatu yang lebih efektif, menyehatkan dirinya sendiri misalnya.

Presiden mungkin juga mencoba menyampaikan kodisi ini (walaupun kandungan intrinsiknya tidak seperti apa yang saya tulis diatas) bahwa kami sudah melakukan hal-hal semaksimal mungkin, namun sulit untuk berkerja saat kita masih dihantui oleh masalah mental (trauma dan sebagainya), dan tentunya tidak semaksimal Australia pada kondisinya saat ini. Kalaupun terjadi pertukaran, semua pihak harus mengerti dan menyamakan persepsi terhadap arti kata “seimbang.”

Dan harapan untuk berkerja sama juga harus disertai pada pemahaman atas kondisi masing-masing, apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa dilakukan.

Harga diri juga berperan dalam pidato Presiden di depan Parlemen Australia, lebih banyak kisah sukses, dari mulai masalah lingkungan, hukuman terhadap pelaku penyelundupan manusia, sampai penanganan senjata nuklir, hampir tidak ada penyebutan terhadap kisah-kisah yang merantai kaki kita di dalam negeri. Hal yang wajar untuk sebuah pidato politik.

Tapi ini penyataan yang cukup baik: kami sudah melakukan PR kami, dan kami masih punya banyak urusan di dalam negeri. Apapun asumsi orang-orang di Indonesia nanti terhadap perbandingan perlidungan terhadap kepentingan nasional dan kebutuhan untuk “gaul”.

Yang penting bagi saya adalah: nyata tidaknya segala niat baik yang keluar dari para pembicara saat itu. Jika sama dengan nyatanya niat baik Martti Ahtisaari pada saat membantu memecahkan masalah Indonesia dan GAM (kalau tidak salah dia pernah marah karena delegasi Indonesia dan perwakilan GAM “mencla-mencle” dan mengatakan lebih baik mereka pulang daripada membuang-buang waktu) maka diharapkan persahabatan ini benar-benar dapat terjadi.

Wajah dan ekspresi Rudd setidaknya memberikan gambaran bahwa dia serius.. tapi kita tidak pernah tahu reaksinya terhadap hal-hal yang mengikatnya didalam negeri, dilain pihak kita tahu apa-apa saja hal-hal yang merantai presiden kita dan bagaimana reaksinya sejauh ini.

Wajar jika sahabat terkadang bertengkar, tapi janji untuk selalu mendampingi satu sama lain adalah janji yang bisa menghangatkan, hal yang sangat sulit untuk dilakukan di dunia yang kini tanpa blok atau kutub, dimana perebutan segala hal untuk pemenuhan kepentingan bisa menjadi semakin brutal dan orang-orang yang mengaku sedarah, seibu, serumpun bisa saling memakan.

Di dunia seperti ini, siapa tahu, ternyata Australia bisa menjadi sahabat terbaik Indonesia. Tidak, saya tidak membicarakan sesuatu yang menyenangkan, tapi sesuatu yang diperlukan.

7 thoughts on “Mengenai Pidato Presiden Yudhoyono di Depan Parlemen Australia

  1. saya masih sepotong-potong mendengar pidato presiden di depan parlemen australia, penjelasan bung diatas sedikit-banyak memberikan informasi apa yang disampaikan presiden RI di australia. saya tertarik dengan “persahabatan” yang bung ulas diatas . saya kira semua Negara Kapitalis sangat tertarik “bersahabat” dengan Indonesia karena negeri tercinta kita ini adalah objek pasar dari negara kapitalis. disatu sisi indonesia sering dilecehkan (negara koruptor, negara bodoh, negara teroris, dan masih banyak lagi) tapi disisi lain Indonesia dianggap “pahlawan” ( selalu diberi penghargaan, entah apa yang diharga-kan) karena selalu tunduk terhadap negara kapitalis. saya kira “persahabatan” tersebut adalah persahabatan semu, politis, dan sekedar mencari keuntungan jangka pendek. akibatnya? Indonesia terus menjadi Negara konsumtif, Negara yang tidak pernah maju, negara yang menjadi budak di rumah sendiri.

    hanya mencoba diskusi,

    • ada benarnya juga, kadang “bersahabat” itu juga harus disertai pemahaman seperti apa sih karakter “sahabat” itu. Kadang ada perlakuan-perlakuan yang sangat nyata terlihat sebagai tindakan “mengendarai” dan kita belum bicara containment policy-nya Amerika yang statusnya seperti hantu^^, ada dan tiada…

      contoh simpel, misalnya Jepang, yang sesungguhnya adalah negara hutan, kira-kira 60 persen wilayahnya masih hutan, dan dari sana sekitar 40 persen hutan industri bahkan belum tergarap (angka-angka itu hanya seingat saya, tolong di cek lagi) dan mereka malah memilih untuk impor kayu dari Indonesia, bagi sebagian orang ini dianggap sebagai pilihan yang cerdas, bagi sebagian lainnya, ini dianggap sebagai pilihan yang tidak beretika.

      Tapi di atas muka bumi, hal seperti ini tidak ada habis-habisnya… dan akan demikian sampai waktu yang tak terhingga. Kalau bukan kita, mereka, kalau bukan mereka, kalian, hanya masalah siapa yang pegang kartu saat ini. Misal, kapan waktu Amerika dan Cina jatuh, dan entah bagaimana caranya Indonesia naik tahta, saya tidak yakin Indonesia bisa mengurus segalanya dengan lebih baik, terlepas dari ideologi atau doktrin apapun yang kita usung saat itu.

      Australia? Sama dengan interaksi antar pribadi manusia, terkadang kita harus tersenyum dan berbasa-basi, bukan masalah suka tidak suka, tapi masalah keperluan… itulah esensi “hubungan internasional” di ground zero, isu yang lainnya seperti kemanusiaan, kesejahteraan dan sebagainya hanyalah pemanis yang dibicarakan di sekolah-sekolah, diantara gaul remaja dan kumpul-kumpul ibu-ibu pkk.

      …menurut saya…^^

  2. Eh, tapi kemarin saya baca, sebelum disajikan kopi luwaknya dicek dulu sama BPOM-nya oz — beracun ngga? bawa penyakit eksotik ngga? bla-bla-bla. Hahaha! SBY gaul, man! Ke rumah tetangga bawa kotoran hewan! Hahaha!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s