Volume 4

15. Mona Lisa.

Siapa si cantik didepan cermin? Ah tunggu sebentar, itu aku! Pinggul itu, setan, hantu, penghisap darah, zombi mimpi untuk gentayangan disana, paha, kaki yang bisa membuat lumpuh semua kuda, badak, harimau, naga, bahkan monyet, yang berotak maupun tidak, sepasang payudara… hmm coba lihat… tidak terlalu besar, tapi mereka ada disana, sehat dan bugar, menuntut perhatian mutlak… semakin besar, maka semakin kelihatan bodoh.

Tulang punggung ini menanggung beban dengan berat yang tepat, dan sebagai penyeimbang, lihat bokong itu… uuuhh, bahkan aku ingin bercinta dengan diriku sendiri.

“Pergi lagi?” Eris? sejak kapan dia berdiri disitu?

“Ya, ada janji…”

“Kau sedang bertanya pada cermin, siapa yang tercantik didunia? Sudah berapa banyak omong kosong itu masuk ke otakmu?” dia tersenyum, rokok ditangan. Eris… kalau kau bisa mengurangi berat badanmu…

“Kau tahu kan, dibalik semua omong kosong itu hampir selalu terdapat seorang laki-laki dengan pikiran kotornya?”

… juga sarkasme itu, tidak menghukum dirimu sendiri dengan pikiran yang… menghukum dirimu sendiri, dan menyingkirkan rokok itu jauh… jauh!

Tapi mungkin semua itu kutukan orang gemuk, dan yang tidak-tidak itu mungkin benar. Atau mereka mengutuk diri sendiri… mereka saling mengutuk, semua orang-orang ini. Kurebut rokok itu dari bibirnya dan melemparnya keluar jendela.

Dia terpana, namun segera menguasai diri “aku masih punya setengah bungkus, kau mau merebut itu dan membuangnya keluar jendela?”

“Mana?”

“Mati saja!”

Tertawa, sang dewi, makhluk paling menyenangkan di seluruh dunia mengejawantah dihadapanku.

“Sekarang, kau bisa bantu aku.” Aku mempersembahkan beberapa lembar undies dihadapannya.

“Menarik…” dia memperhatikan semuanya dengan konsentrasi yang agak mengerikan “siapa laki-laki… atau… perempuan ini?”

“Laki-laki ini, mungkin bukan siapa-siapa, tapi dia bisa membawaku ke Jean Marque.”

“Wow… wow… g-string kalau begitu.”

“Sepakat.” dan kedua kakiku melesak kedalam benda hitam itu… tidak banyak… ini bukan untuk menutupi, ini adalah pernyataan, mungkin tantangan.

Eris melempar bra pilihannya kedadaku… sebatang rokok sudah kembali terselip di bibirnya… kapan?

“Apa?” matanya menantang.

“Tidak apa-apa…”

“Ini pembunuhan berencana ya?” sedikit sinisme diujung senyumnya.

Benar juga, apa sebenarnya yang akan kulakukan setelah bertemu dengannya? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya. Silvia yang mengatur semua ini, orang dari Marque itu melihatku katanya, dia tertarik padaku katanya, orang itu baik dan punya gaya katanya, dia ingin bertemu denganku katanya, katanya dia adalah orang kepercayaan Jean Marque… itu semua baru kemarin, aku bahkan tidak sempat melakukan riset kecil seperti yang biasa kulakukan… dan ini salah.

Dan Silvia? Kalau ada laki-laki yang datang padanya dan mengatakan bahwa dia punya peternakan di Jupiter, perempuan bodoh itu akan percaya dan bercinta dengannya. Bercinta… sex, tidur dan mengira mereka jatuh cinta.

“Seperti apa orangnya?” Eris mengetuk dahiku dengan jari telunjuknya.

Tentu saja, seperti apa orangnya? Itu masalahnya. Aku merasa begitu bodoh.

Eris menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan berton-ton asap ke udara, “sayangku, kau kacau.” dia tertawa.

“Hanya karena mendengar dari sumber yang tidak bisa diandalkan bahwa dia adalah orang penting di Marque kau langsung lompat ke kolam es?” Eris, dengan tatapan aku-kasihan-dengan-orang-bodoh-ini, tatapan yang khas, aku bisa lihat bentuk alis dan ketidaksinkronan yang disengaja diantara kedua mata.

“Aku bisa membayangkan kucing manis yang basah dan gemetaran keluar dari air… sayang, pakai kostum yang biasa-biasa saja, perasaanku tidak enak, rasanya kepingin ketawa saja.” Eris beranjak pergi.

“Kucing basah?” aku protes!

Dia berpaling dan tersenyum, “ya, dan aku singa betina yang harus mengajarimu bagaimana cara menggunakan cakar dan taring.”

“Merokoklah sampai mati.”

“Ini sedang diupayakan sayang, ini sedang diupayakan…” dia tertawa, bersandar di ambang pintu, memandangiku, pandangan itu lagi.

“Ya, ya aku tahu, akhirnya harus seperti ini, segala macam omong kosong tentang potensi inteligensia manusia yang diharapkan lahir dari pendidikan dan pemberadaban sesungguhnya tidak berlaku di kehidupan nyata, khususnya tidak berlaku untuk perempuan, pada akhirnya satu-satunya yang bisa kita pergunakan adalah senjata yang sama dengan yang dipergunakan oleh nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu… sex…”

Dia hanya tersenyum mendengar itu, berbalik, keluar kamar “yang terburuk adalah kalau kita harus menjadi laki-laki hanya agar dapat bertahan hidup, kita semua adalah korban-korban dari senjata kita sendiri, ingat saja alasan kenapa kau melakukan semua ini…”

Alasan Eris? Itu karena kita semua adalah manusia, harus hidup layaknya manusia, tanpa harus melacurkan jiwa kita pada setan, atau hantu, atau segala macam binatang yang ada diluar sana.

16. Mengurai.

Itu dia, berdiri tertunduk, rokok ditangan. Dua truk beberapa meter dibelakangnya, lampu menyala, bau darah…

Siapapun tahu, seharusnya aku menjauhi orang ini, tapi saat ini aku justru mendekatinya, apa yang kucari? Keamanan, aku masih ingin hidup.

Dibelakangku aku tidak tahu berapa orang yang hidup berapa orang yang mati, nanti saja.

Sudah cukup dekat, lampu skipper menerangi tubuhnya, darah, dia mandi darah. Didepannya seorang perempuan muda memeluk… sepotong tubuh, mengayunkan tubuhnya kedepan dan kebelakang… dia beryanyi?

Beberapa langkah dari mereka mayat dengan seragam peserta lengkap, segala kaca mata pendeteksi panas, crossbow, senapan, terbaring ditanah, mati, sebuah pisau yang cukup besar menancap dikepalanya.

Semua orang punya asumsinya masing-masing mengenai arti kata kejam, mengenai arti kata seru, mengenai arti kata bersenang-senang. Beberapa orang pemuda tanpa otak mungkin akan tertawa-tawa melihat adegan ini di film, kemudian mereka berusaha mengimitasi semua hal ini di arena permainan dengan peralatan yang mahal, saat mereka keluar mereka sudah merasa seperti kawanan serigala yang berhasil mengokupasi wilayah. Mereka bertindak seakan-akan semua yang ada disekeliling mereka adalah anjing.

Padahal mereka sendiri tidak lebih dari anjing-anjing gemuk yang merasa memiliki dunia karena setiap hari disumpal dengan daging oleh tuannya.

Disini ada seekor serigala seutuhnya, kurus dan lapar, tubuh terlumur darah, cakarnya masih tertancap dikepala korban terakhirnya, dan dibelakangnya mayat berserakan. Dia lapar, tapi dia tidak membunuh untuk makan, semua korban-korban murahan ini membuatnya mual.

Skipper dimatikan, cahaya lampu dari truk masih cukup terang. Apakah aku bisa bicara dengannya sekarang? Kita harus segera pergi dari tempat ini, orang-orang itu bisa sampai ditempat ini sebentar lagi.

“Kau Miftah? Kau merokok?” dia bertanya.

“Ya, aku Miftah, tidak, aku tidak merokok.”

Dia membuang puntung rokoknya, berjalan kearah mayat peserta itu, mencabut pisau, melapkan pisau itu di mayat si peserta, menyelipkan pisau ke sarung dibagian belakang pinggangnya, berjalan melewati perempuan yang sedang menangis itu, mengangkat sebuah buntalan dari tanah, kembali ke perempuan itu, meletakkan buntalan itu disana dan berlutut didepannya.

Dia jongkok disana beberapa saat.

Kali ini dia menoleh padaku. “kau tahu dimana mayat Mark?”

“Eh, sebenarn…”

“Aku pinjam skipper itu.” dia bangkit dan berjalan kearahku.

Aku turun dan menyerahkan skipper itu padanya, dia melompat naik.

“Bujuk dia…” kemudian melesat, kembali kearah timur, kearah orang-orang itu.

Bujuk siapa? Perempuan itu? Kenapa?

Pertama kali aku menggantungkan hidup disini, pemandangan seperti ini bisa membuatku depresi, ingin bunuh diri. Aku tidak pernah merasa berkerja, karena ini bukan perkerjaan, cuma alasan untuk memutar kapital dan kami mendapatkan remah-remah dari apa yang dipertukarkan oleh orang-orang yang berkuasa.

Kami menyebut itu ‘hidup’.

Tapi kini bahkan melihat isi perut yang terjuntai hampir tidak menggangguku. Aku mendekati perempuan itu, berlutut didepannya, dengan ragu mengarahkan senterku padanya.

Ha! Ternyata dia tidak sebeku yang dikira orang… wajar saja dia tidak membunuh perempuan ini, monster sekalipun akan merasa sayang jika harus memakan korban seperti ini.

“Hei…” apa dia mendengar?

“Hei, kau tidak apa-apa? Kau mengerti apa yang kubilang?” Tidak ada respon, tubuh itu melengkung, kepala itu tertuntuk, mata itu tetap kosong. Apakah dia bernyanyi?

Aku menyentuh pundaknya, “kau dengar aku?”

Aku terduduk, ini akan percuma, siapa wanita yang mati ini? Ibunya? Tidak mirip.

Apa yang akan dia lakukan padaku jika dia kembali dan perempuan ini masih seperti ini?

Kog bisa dia mengendarai skipper begitu kencang kearah timur, dia mau bunuh diri? Orang-orang itu masih disana, mungkin sekarang sedang menjarah segala isi chinook itu, mengumpulkan senjata, membunuh staf yang tersisa.

Apa isi buntalan ini? Coba lihat, beberapa lapis pakaian, apa ini? Kertas? Banyak sekali lipatan-lipatan kertas, kecil besar, beberapa sudah sedemikian lusuh. Semuanya berisi tulisan, aku tidak mengerti, tulisan-tulisan tangan ini begitu rapi.

Dan beberapa botol kecil, berisi pil-pil, apa kata tulisan ini? Estrogen? Progestin? Apa itu? Sial, kalau aku masih terhubung ke jaringan aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini untuk diriku sendiri. Terputus dari jaringan, rasanya seperti menjadi buta dan tuli.

Apa itu ditengah tumpukan, kotak kecil, apa isinya? Sebuah kalung, emas putih, bagus…

… tiba-tiba kalung itu berpindah tangan, kedalam genggaman erat perempuan itu, matanya melihatku tajam, entah darimana tinjunya sudah membentur mataku.

Dia bangkit, berteriak marah, mengangkat kakinya, melesakkan kaki dan kepalan tangannya kearahku, sakit, pedas.

Aku berteriak protes, dia tidak mendengar, percuma.

Aku berdiri, berusaha menangkap tangannya, dapat!

Sekilas aku melihat lutut itu melesat ke lambungku.

Terbang semua! Terbang semua udara didalam sini! Aku meringkuk, dia masih menendang dan memukul.

Sebuah suara ledakan begitu keras tiba-tiba mengguncang bumi dan pepohonan, sesaat semuanya kelihatan begitu terang.

Perempuan itu terdiam, kemudian memandang sekelilingnya, memandangku, kemudian berlari… bergitu cepat.

Tunggu sebentar, apa yang harus kulakukan, mengejarnya?

Kenapa aku harus mengejarnya?

Karena ada kemungkinan kepalaku akan ditembus oleh pisau besar itu!

“Tunggu!”

4 thoughts on “Volume 4

  1. Ha! Finally… Nunggu vol.4 serasa nunggu Scorpion mengeluarkan album baru… Heheheh…

    Yang perikop 16 sip! Love it!!

    Yang 15 agak berat mencernanya. Mungkin jadi lebih mudah kalo (mungkin lho ya) mungkin jadi lebih mudah kalo detil-detil tentang karakter si Eris dan si cantik ditambah sedikit lagi.🙂 you know what I mean.

    btw, 2 karakter baru… HOREEE! Berarti ntar bukunya tebelll! 2 kali lipatnya ensiklopedia britanica! YESSS.

  2. Setelah baca 4 kali, akhirnya ngerti juga. Hahaha, betapa gobloknya aku…😀
    ya wes, udah bagus. Ruang istirahat; dari vol.1 sampe 3 imajinasiku kamu bawa kelayapan ke arena penuh darah, trus tiba-tiba kamu lempar aku ke kamar cewek. Segerrr… Ngga usah diapa-apain lagi. Hueheh…

  3. Na itu dia mungkin… Kamu ngga menikmati nulisnya, yang baca jadi ngga dapet feelingnya. Ngga masalah, kekurangan yang di sini kan masih bisa kamu tutupi dengan cerita selanjutnya yang lebih mendebarkan, lebih menghanyutkan, dan lebih gila dari episode-episode sebelumnya… HAHAHAHA!

    Atau yang 15 dipindah ke cerita 18 (nanti), setelah satu orang lagi terbunuh?

    Btw, I know it’s not about the bra, tapi isinya. kyakakakakak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s