Volume 3

sebelum membaca lebih lanjut: terdapat konten yang hanya bisa dikonsumsi orang dewasa (istilah “dewasa” ini jangan diperdebatkan^^) jadi kalau anda belum berumur 18 tahun, atau anda termasuk orang yang sensitif terhadap kata-kata yang menggambarkan seksualitas dan kekerasan, berhenti disini.)

8. Keberlanjutan.

Suara ini begitu kuat, semua pohon bergoyang, aku merasa kepalaku seperti mau pecah. Aku pernah mendengar suara ini dari jauh, semua orang ketakutan mendengarnya.

Bahkan tanahpun seperti tergoncang.

Benda terbang yang besar, aku tidak tahu apa, aku tidak tahu ada berapa, lewat diatas kami, begitu rendah. Dan tidak jauh didepan suara itu menetap. Aku tidak bisa mendengar apapun selain suara mengerikan itu!

Inana meremas pergelangan tanganku, menarikku, kami berlari kearah berlawanan, tapi tidak kembali kejalan, tetap diantara pepohonan, Inana sepertinya selalu berlari ketempat yang pepohonannya lebih padat, lebih sulit berlari, namun Inana berlari terus.

Tidak lama suara itu mulai reda, aku mencoba menoleh kebelakang, tapi Inana menghentak lenganku, terus berlari, lebih kencang, aku bisa mendengar nafasnya sekarang.

“Inana?” Aku hampir tidak mendengar suaraku sendiri, aku bagitu takut.

“Putri, kau ingat lagu yang kita nyanyikan? Lagu ombak?”

Lagu ombak, Inana selalu menyanyikannya, aku suka lagu itu, tapi aku tidak mengerti bahasanya, bukan bahasa kami. Kalau aku tanya artinya, Inana selalu menjawab: nanti. Aku curiga dia tidak tahu artinya.

Inana mulai menyanyi, diantara nafasnya yang semakin berat.

Aku ikut bernyanyi.

Suara kami putus, pelan, kuat, terus berlari.

Suara Inana mulai tidak kedengaran.

Inana mulai terisak.*

Tiba-tiba langit dibelakang kami begitu terang, aku menoleh, begitu pula Inana.

Aku menoleh pada Inana, dia merapatkan keduabelah tangannya kepipiku, memandangku begitu dekat, nafasnya, air matanya, tepat didepanku, begitu hangat, matanya begitu menyayangiku.

“Putri, sayangku, anakku, aku ibumu… panggil aku ibu!”

“Ibu…” Aku begitu takut ibu, kenapa kau menangis? Kenapa aku menangis?

“Kau harus ingat itu! Ingat semua yang Ibu katakan padamu sayang?”

Aku mengangguk.

Inana mencium dahiku, kedua pipiku, hidungku, daguku, bibirku.

“Ingat, dulu kita pernah lomba lari?” dia tersenyum, masih terisak, air matanya membasahi wajahku, nafasnya membuatku hangat. Aku mengangguk.

“Ingat waktu ibu bilang kau bisa lari seperti angin? Ingat waktu kau mengejar anjing itu?”

Anjing itu mati ditabrak dengan truk oleh beberapa laki-laki, sebagai hiburan, tapi aku mengangguk.

“Sekarang Ibu mau kamu lari seperti itu, lari sekuat kamu, secepat kamu, jangan tengok kebelakang, jangan berhenti, lari saja terus”

Aku mengangguk.

“Janji sayang?!” Tangannya semakin erat dipipiku.

“Janji…” Isakku.

“Kau harus ingat, Ibu sayang padamu, sayang sekali padamu… anakku… ” Dia memelukku erat, mencium lagi wajahku, mencium tanganku, memelukku lagi.

Kemudian dia bangkit “sekarang lari… lari!”

Tapi aku tidak mau meninggalkannya, aku tidak punya apa-apa lagi, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Siapa yang akan bercerita padaku? Siapa yang akan menemaniku? Hatiku sakit, sangat sakit, sakit sekali! Aku marah, kenapa dia mengusirku? Aku juga sayang padanya, sangat sayang padanya. Sulit sekali bernafas, dadaku seperti mau pecah. Pipiku basah, leherku basah, tangisku sendiri.

Tidak apa kalau kau memukulku Inana, tidak apa kalau kau membentakku, menyeretku, jangan suruh aku pergi Ibu, jangan suruh aku pergi! Bagaimana aku tanpamu?

“Lari!!!” Dia menghampiriku, mengguncangkan pundakku. “Lari sayang! Kalau kau sayang Ibu, demi cintaku, lari!!!”

“Aku sayang Ibu!!” Berteriak sekuat tenagaku. “Aku sayang Ibu!!”

“Lari!” Tiba-tiba suaranya berubah, dingin seperti Inana yang biasanya.

Kemana jarinya menunjuk? Kesitu aku berlari.

Seperti angin? Ibu, aku berlari seperti cahaya.

9. Sehari-hari

Latitude 0o 29′ 59′ Lintang Utara, Longitude 112o 30′ 7′ Bujur Timur, kami turun. Beberapa staf mulai sibuk, sebagian meloncat keluar, menyiapkan jip yang tergantung dibawah. Para peserta bersiap-siap. Semua pakaian dan perlengkapan yang menutupi tubuh mereka, bahkan beberapa kelompok tentara bayaran di regional ini akan iri.

Kabin ini dimonopoli oleh wajah-wajah ceria, sedikit tegang, mereka masih mengantisipasi berbagai kemungkinan, pengalaman pertama. Sekali-kali terdengar canda-canda kotor khas gerombolan laki-laki, hal-hal yang sama mereka perdengarkan dalam gerombolan kolektor motor antik, penggemar dan kolektor skipper, penggemar dan kolektor kuda, penggemar dan kolektor perempuan, mobil dan lain-lainnya, sayang aku tidak mengerti selera humor mereka.

Tapi aku mengerti tentang keragu-raguan. Ada satu dua orang dengan ekspresi kontemplatif… ada apa? Masih berkutat dengan moral dan etika? Mencoba mencari alasan pembenar kenapa kalian memburu dan membantai makhluk bipedal yang mempunyai ciri-ciri fisiologis yang sama dengan kalian?

Menyerah saja, sudah berapa kali peradaban dan akal sehat dikalahkan oleh motif ekonomi dan tren? Dan coba tebak siapa yang menciptakan tren? Manusia-manusia seperti kalian. Kondisi kita sama dan tidak pernah berubah dari mulai saat kita menemukan tulisan sampai saat ini, saat dimana kita terobsesi untuk mengancurkan tulisan. Mungkin cara kita sekarang lebih jujur?

Komunikatorku berbunyi, ada surat elektronik masuk. Para peserta mulai keluar satu persatu, satu orang menginjak kakiku, dia melirik sebentar kemudian berlalu. Aku ingat matanya.

Ah, berkas video, pengirim? Hitoshi… dan mata sipit wajah pucat itu terfokus pada retina kiriku.

dimana? sedang istirahat? kalau belum, cari perempuan – atau laki-laki – untuk melayanimu, duduk santai dan dengar ini. argumenmu kemarin membuktikan kau tahu banyak namun hanya sepotong-sepotong, istriku bilang jack of all trade, apa artinya itu, dia tidak mau bilang, kau tahu? aku selalu curiga dia menyukaimu, aku ingat dia selalu ketawa kalau didekatmu… padahal kau bukan orang yang bisa melucu.

sudahlah,

oh ya, paolo bilang kau pernah cerita latar belakang teori gaia dan pernah mengintegrasikan dengan beberapa hal lain, kalian bongkar ontologi sampai jam 3 subuh dan istrinya mengusirmu? hahaha. aku jadi ingat nagase. pada akhirnya kalian selalu berkesimpulan semuanya kembali ke cahaya, kalian pikir kalian siapa, penyair? itu terlalu menyederhanakan persoalan.

istilah yang kucari adalah kaon, dulu dikenal sebagai weird particle.

kau mungkin bisa memikirkan sesuatu dengan ini, mungkin menggali kuburan? ukurannya femi tentunya bisa dimasukkan kedalam nukleus, pasangannya? hyperon yang kau katakan kemarin, lihat, segala sesuatunya berpasangan…

terus apa? bagaimana dengan star compressor? yang seperti ini selalu ada aplikasi komersialnya, kalau uangnya cukup seseorang yang bodoh bisa menggusur galaksi kita yang ada sekarang (karena dia bosan!) dan membuat ekologi baru, bintangnya sendiri, planetnya sendiri, asteroidnya sendiri, satelitnya sendiri, hanya masalah proyeksi waktu dan tenaga kerjanya saja, membuat kau berpikir, berapa harga kontrak tempat tinggal di wilayah itu.

oh ya, nagase bilang salah satu peneliti kaon yang paling berperan adalah… coba tebak, orang rumpunmu, spesifiknya jawa kalau tidak salah, mulai dari tahun 1980? tapi namanya seperti nama orang barat… smart atau apa, nanti kulihat lagi, aku sedang sibuk!

Dia sedang mabuk,

Tidak ada satupun kata-katanya yang masuk akal. Lihat hal-hal yang dibicarakan orang saat mereka mabuk… dia mengirimkan pesan ini saat mabuk… si Perancis gila salah, aku punya teman, walaupun hanya saat mabuk.

Faktanya, penelitian kaon sudah sangat maju, bahkan sudah mulai dijual, sempat terhenti lama saat bencana besar terjadi, mungkin nanti aku bisa lihat lebih jauh.

Hitoshi bertengkar dengan istrinya? Lagi?

Siapa Nagase?

Kenapa skipper-skipper ini belum dikeluarkan?

Beberapa staf menaiki skipper dan meluncur keluar. “Skipper?”

Aku mengangguk, staf itu mendorong satu kearahku. Saat meluncur keluar, seseorang melompat kebelakangku, Aku berbalik, tatapanku dibalas dingin oleh kaca mata pendeteksi panas. Seorang peserta.

“Aku ikut kau ok?!”

“Ok…” apa aku punya pilihan lain? Uang kalianlah yang sedang berkerja disini.

Sekilas aku melihat Mark, bertepuk tangan berusaha menyemangati semua orang, menambah sedikit dosis adrenalin ke bejana yang sudah penuh “sebelum makan malam! Sebelum makan malam!” teriaknya.

Jam berapa biasanya dia makan malam?

Dua Chinook lainnya kembali mengudara, kenapa? Siapa manajer perburuan malam ini? Jessica, dia tadi begitu intim dengan si Amerika, mereka ada didalam sorti yang pergi itu.

Chinook 3 dan 4 stasioner, berarti ada 40 orang peserta di kelompok ini, 2 mobil dan cukup skipper untuk semua orang.

Bagus, tidak masalah, lebih bagus begini.

Suara mark tiba-tiba lantang di telingaku “Siapa manajer perburuan malam ini?!”

“Jessica.”

“Kenapa dia pergi ke kordinat sekunder dengan klien utama, kenapa dia bawa 20 orang dari kelompok ini?!”

“Kordinat Sekunder?” Kordinat sekunder apa? Kenapa aku tidak tahu apa-apa tentang kordinat sekunder?”

“Dia tidak memberitahumu?” Ada keheranan yang jujur pada suara Mark.

Jessica melakukan itu? Kenapa? Perempuan gatal itu sering melakukan hal yang aneh-aneh, apa lagi kali ini?

“Tanya dia.” Aku mulai pusing, migrain? Sekarang?

“Tidak bisa, protokolnya, aku kena firewall, kau saja yang hubungi!” Mark mulai uring-uringan.

“Jessica!”

“Halo sayang!” Suara kekanak-kanakan itu selalu membuatku darahku beku.

“Jessica…”

“Oh, yang 20 kubawa untuk keamanan, kau tahu, klien utama ada disini.” Seperti biasa, dia begitu tenang, bahkan stoic.

“Ada berapa di kordinat sekunder?”

“Banyak!”

“Berapa?”

“… se…tus…li…uh…” Aku mendengar dia mengucapkan sesuatu, begitu pelan, aku tidak bisa mendengar dengan jelas.

“Jessica!”

“Seratus lima puluh!” teriaknya.

Seratus lima puluh? Apa yang mau mereka lakukan disana?

“Buka protokolmu pada Mark! Pada semua staf levelmu!” teriakku.

“Untuk apa?! Mendengar semua omong kosong cintanya itu? Laki-laki tidak berguna!” dia membalas dengan teriakan yang lebih kuat.

“Buka!”

“Jangan kau membentakku kau…!”

“Levelku berada diatasmu.” Aku tidak punya waktu untuk ini.

“Aku tak perduli!” Jawabnya marah. Hening sedetik.

“Ok, baiklah!” Lanjutnya, masih marah.

“Mark, sudah? Yang lain?” tanyaku.

“Sudah!” terdengar jawaban beberapa staf.

“Mark?” Aku belum dengar suaranya.

“Persetan, kita batalkan saja!” Bentaknya.

“Ya, batalkan saja!” Terdengar suara seorang staf lain, Miftah? Ahli komputer itu? Dia di lapangan?

“Terserah!” Jawab Jessica ketus.

“Jangan dibatalkan, lanjutkan.” Suara bernada perintah ini datang dari belakangku. Dan sesuatu yang dingin menekan tengkukku. Peserta yang duduk dibelakangku menodongkan crossbownya.

Aku ingin bertanya, tapi rasanya akan percuma. Bahkan seorang idiot pun tahu apa yang akan dilakukannya jika aku membatalkan perburuan ini.

Bisnis yang kotor memerlukan etika yang kotor. Ini seperti anomali air, mengalir kebawah, mengisi ruang kosong, menguap ketika dipanaskan dan seterusnya. Seperti saat kau tidur dan lelah karena secara otomatis tubuhmu memerlukan mekanisme itu. Tidak perlu ada pertanyaan, karena semuanya sudah terjawab, kau hanya perlu berpikir mengenai apa yang harus kau lakukan sekarang.

“Teruskan, seperti biasa…” jawabku.

“Kau gila!” Teriak Mark, beberapa staf lain di kelompok ini mulai protes.

Jessica, dilain pihak, cekikikan. “Ada waktu-waktu aku begitu menyukaimu pria kecil, mungkin setelah malam ini selesai? Ah tidak, aku punya janji lain…”

Aku membayangkan wajah Mark mendengar hal ini. Aku tidak pernah habis pikir kenapa laki-laki tergila-gila dengan perempuan seperti ini?

“Bi**h!” Teriak Mark.

“Up yours!” Balas Jessica.

Sungguh, aku ingin tertawa. Masalahnya adalah, pertama: crossbow kuno abad pertengahan mempunyai daya lontar yang cukup kuat yang membuatnya begitu efektif pada jarak dekat, lebih efektif daripada busur dan panah, dan spesimen yang menyentuh leherku ini, menggunakan varian kompresor yang biasa mereka pergunakan untuk memaksa air menembus lempengan baja.

Jika membicarakan alat untuk membunuh sesamanya, manusia bisa menjadi begitu kreatif.

Kedua: migrain ini bisa membunuhku. Aku memutar arah skipper, kenapa tranquilizerku bisa ketinggalan, ini semua karena pesan video itu, untuk sesaat aku menjadi tidak awas.

Orang dibelakangku menekan crossbownya keleherku “kemana? Jangan macam-macam, jalan terus!”

“Baiklah, kemana?”

Sedetik, dua detik, tujuh detik, cukup lama dia terdiam, kemudian dia menunjukkan proyeksi GPSnya kepadaku. “Tadi kita melewatkan dua titik dibelakang.”

“Ke barat kalau begitu…” Mark mungkin benar, semua ini harus selesai sebelum makan malam, kapanpun itu, atau migrain ini akan membunuhku terlebih dahulu.

10. Berburu.

Sebelum berburu wanita ada baiknya makan malam dulu, kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi nanti.

Dan aku akan makan dengan… Sandra.

“Malam beybi!”

“Hah, siapa ini?”

“Tsk, kamu kog gitu sih? Ini Boy!”

“Oh, Boy, kog marah?”

“Ketahuan kamu ya, kamu gak simpan ID ku ya?”

“Nggak, simpen kog, lagi sama temen ini.”

“Cowok, cewek?”

“Emang kenap…”

“Lagi ngapain kalian?!”

“Hah?”

“Sini! Kita makan di tempat biasa!”

“Kamu maksa deh…”

“Aku pacarmu bukan?!”

“Nggak juga nggak apa-apa…”

“Sayang, aku lagi butuh kamu nih.”

“Skipperku rusak ini, lagi dibenerin sama temen.”

“Pake aja skippernya dia! Biar dia bawa skippermu kalau udah bener.”

“Dia lagi nolongin aku benerin ini skip…”

“Pokoknya kamu kesini ada yang aku mau omongin, tentang kita!”

“Apa sih, ya udah, aku kesana!”

“Kutunggu!”

Perempuan ini harus diberi pelajaran.

11. Contact.

“Lihat gambar satelit!” terdengar suara Mark.

HGUI menunjukkan titik merah yang sangat ramai menuju kearah kami dari timur.

“Mereka mendatangi kita, mereka tidak lari!” suara Miftah. “Aku tahu kapan-kapan yang seperti ini pasti kejadian” Dia tertawa.

Dari kejauhan aku bisa melihat begitu banyak obor, semakin mendekat, semakin terang. Ada tiga kendaraan berat bersama mereka, jumlah itu… lebih dari 300 orang, bahkan mungkin lebih dari 400.

Terkadang kau bertanya, dijaman yottabyte seperti ini, komputer masih melakukan kesalahan perhitungan yang begitu konyol?

Tidak, lebih dari itu, ada yang berbau amis disini.

Para peserta panik, staf-staf yang berusaha menenangkan mereka juga panik.

“Mark?”

“Urus dirimu sendiri” jawabnya dingin, aku hampir bisa melihat sunggingan dibibirnya.

Tidak ada omong kosong, alasan kami semua ada disini adalah untuk saling membinasakan… saat-saat seperti ini, kami merasa begitu hidup.

“Gear up, gear up! Kau tak mau ludah dan darah mereka mengenaimu!” Terdengar Mark sudah mulau memberi aba-aba, dia satu-satunya kapten di kelompok ini, Jessica membawa 3.

“Harusnya, kau suruh Jessica mengembalikan kru kita!” Mark mulai gusar.

“Aku tidak bisa melakukan itu.”

“Kau terlalu yakin.”

Dia tidak bisa melihat kondisiku disini, crossbow dibelakang tengkuk.

“Kau tidak tahu apa-apa, aku tidak punya nafsu untuk menjelaskan.”

Jessica tidak bisa dihubungi, dan bukan masalah protokol, dia tidak ada disana.

“Bagaimana dengan pusat?” tanya Mark.

Menunggu Miftah, “Kita diputus, aneh, biar ku urus, kalian urus saja diluar.”

Dan mereka berlari kearah kami, 400 orang, 3 truk, melawan 20 orang peserta dan 9 staf. Kami punya amunisi dan senjata, apa yang mereka punya?

Suara kering senapan melantakkan udara, tidak ada yang kena, mereka penembak yang buruk.

Sama dengan para peserta ini.

“Pergi, naik ke heli, kita pergi dari sini!” teriak seorang peserta.

“Tidak ada yang pergi dari sini…” crossbow itu kembali menekan leherku.

Apakah aku takut mati? Apakah ancaman ini mempengaruhiku? Apakah aku memilih menyelamatkan nyawaku diatas nyawa peserta dan staf?

Sejujurnya aku tidak perduli, aku hanya ingin lihat apa yang akan terjadi setelah ini.

Dan Mark tidak bodoh, dia dan para staf sudah mengeluarkan pelontar granat, merobek kerumunan itu, merusak 2 kendaraan. Para peserta bersorak, mereka mulai menembakkan apa saja yang ada pada mereka.

Para buruan itu mulai berpencar, melihat tubuh teman-temannya yang berlari tanpa kepala, tanpa dada, tanpa tangan, mereka tahu, menyerang secara frontal akan membuat mereka dibantai.

“Kurasa temanmu bisa mengatur tempat ini, aku lebih suka berburu daripada berperang.” orang dibelakangku mengingatkan, ada benarnya.

Ke barat, 2 titik tadi sudah berpisah, apa salah satunya menunggu kami? Dia memasang perangkap?

“Kejar yang paling jauh, jangan sampai dia kemana-mana.” katanya sambil tertawa… dan kami melewati titik pertama. Jika dia senang berburu, kenapa matanya tidak pernah lepas dari proyeksi satelit itu?

Semakin dekat. Titik yang satu ini berlari begitu cepat.

Apa ini, sesuatu bersiul ditengah angin, bergerak begitu cepat!

Sial, mereka juga punya pelontar granat.

12. Kontak.

Ledakan apa itu? Inana?

Sesuatu begitu kencang melewatiku, apa itu?

Siapa yang tergeletak ditengah jalan?

Dari kiri, dari celah-celah pohon, 3 truk keluar, ada banyak orang diatas truk, semua bawa parang, dan senjata lain. Lampu dari truk menerangi orang itu.

Mereka akan menggilas orang itu, apa orang itu jahat? Inana bilang semua orang jahat. Tapi mereka akan menggilasnya seperti anak anjing itu.

Dia mulai berdiri, memegangi kepalanya, mengerang, sepertinya dia kesakitan dikepalanya.

Beberapa orang turun dari truk, berjalan kearahnya mengayun-ayunkan parang. Tertawa.

Laki-laki itu mengeluarkan sebuah… pisau? Terlalu panjang untuk pisau, terlalu pendek untuk parang, dari balik pinggangnya.

Dan dia berlari kearah truk dan orang-orang dengan parang… berputar, menusuk, menebas, tidak lama, semua orang yang ada di depan truk-truk itu jatuh sudah. Tidak lagi tertawa.

Salah satu truk lari, dengan beberapa orang diatasnya, truk yang lain tidak bisa bergerak terhalang truk didepannya. Mereka semua berteriak marah menyerang orang itu.

Sebuah teriakan dari arah kananku… dari kilatan lampu truk yang menerangi pohon-pohon itu Inana berlari ke arahku, aku tidak tahu apa yang dia katakan, dia mengayunkan-ayunkan tangannya.

Inana? Pinggangnya bergeser, dan jatuh, tangannya masih berayun, air matanya melayang di udara, kakinya seperti mempunyai pikirannya sendiri masih berlari kearahku. Terjerembab tepat didepanku. Darahnya membasahiku.

13. Sebenarnya.

Sandra… sebenarnya melihatnya membuatku nafsu, lihat kaki jenjang yang putih itu ketika dia turun dari skipper. Perempuan ini blasteran dari mana-mana, Eropa, Amerika, Cina, dan entah darimana lagi, sayang agak dingin kalau kami berhubungan sex, katanya dia tidak puas? Persetan, banyak maunya.

Sayang aku udah janjian sama Mona.

Eh, ada telepon… Karin!

“Hey babe!”

“Karin? Ada apa?”

“Ada apa? Kamu janji mau ketemu aku!”

Sandra sudah ada didepan meja. Kututup mic.

“Eh yank, bosku lagi mau ngomong nih, aku kebelakang sebentar yah.”

Sandra memandangiku, ah, lama banget ngangguk aja. “Kenapa nggak diterima disini saja?” tanyanya.

“Nggak enak, dia ngomongnya suka ngawur.”

“Terserah…”

Sekarang ke belakang.

“Eh Rin, kamu ganggu aja, aku lagi makan malam dengan bosku!”

“Yee, mana aku tahu! Trus kamu mau ngomongin apa tadi?”

“Aku lagi kesulitan nih”

“Duit ya?”

“Iya, bosku nggak bisa nggaji bulan ini divisi kami lagi kacau, padahal kredit mobilku udah nunggak sebulan”

“Loh, bukannya kamu lagi makan malam sama bosmu?”

“Alasanya aja, biar aku nggak nagih-nagih, si bangsat itu…”

“Huss! Hati-hati, nanti dia dengar loh.”

“Padahal kantor kreditnya udah pake ngancam-ngancam lagi…”

“Kacian yayankku, udah deh nanti ku transfer, kamu tenang aja.”

“Makasih sayang, besok kita jalan-jalan yuk.”

“Iya deh, dagh.”

“Dagh… mmuuach.”

Eh Sandra udah mesan makanan belum yah? Lekas ke meja.

“Kamu lama!”

“Bos nyuruh aku datang ke kantor lagi, gila apa?”

“Yah, dia bos kamu, mungkin ada yang penting.”

“Nggak, dia cuma mau ditemenin minum itu, biasa bujang lapuk.”

Sandra membolak-balik menu “trus, kamu mau ngomong apa?”

“Aku lagi kesulitan nih yank…”

14. Makan Malam.

Suara teriakan itu menyadarkanku, kepalaku begitu sakit, aku hampir tidak bisa melihat apapun.

Tanganku masih bergetar, ledakan tadi, darah disekujur tubuhku. Kontaminasi?

Siapa yang berteriak tadi?

Dua truk dan tubuh-tubuh berserakan didepanku.

Kemana lampu itu mengarah?

Siapa itu disana?

Seseorang, hampir seluruh tubuhnya terbungkus kain, memeluk mayat…

Aku berjalan mendekat, itu adalah mayat seorang perempuan, bagian perut keatas. Orang yang terbungkus kain itu memeluknya, menciumnya, menangis, inana… inana… inana… ibu… ibu… ibu…

Ibu…? Ibu katanya?

Peserta yang tadi duduk dibelakangku, crossbow ditangannya, pelurunya kosong, dia menarik kepala orang yang terbungkus kain itu, merobek, mencabik.

Tubuh itu terguling dihadapannya, dibukanya kaca mata pendeteksi panas itu, menyenter tubuh itu, menjambak rambut perempuan itu, menilai.

“Wow, jackpot!” dia tertawa-tawa “ada yang seperti ini disini?!” dia mulai membuka celananya.

“Mau ikut main?” dia bertanya kepadaku? Pisauku sudah menancap di pelipisnya, dia bertanya padaku?

Peserta itu rubuh, matanya itu, dia yang menginjak kakiku sebelum perburuan dimulai tadi.

Perempuan muda itu merangkak kembali kearah mayat, kembali memeluknya, menciumnya, menyanyikan dukanya.

“Mark mati!” suara Miftah “sem… a… mati… rus… ti… sa… han… dimana pos…?”

“Barat posisimu, ada dua truk disini lampu menyala.”

“Dim…na?!”

“Barat posisimu, ada dua truk lampu menyala.”

“Ak… kes…na!”

Kutaruh rokok dibibirku, kunyalakan…

Selamat menikmati makan malammu Mark… ngomong-ngomong pemantik yang bagus, terima kasih.

* dari green waves oleh Secret Garden

3 thoughts on “Volume 3

  1. Ceritanya makin seru! Temponya makin cepat! Huhuyy!

    Btw, ‘aku’ yang di perikop 14 itu namanya siapa, mas? Aku ngubek-ubek volume 1 dan 2 tetep gak nemu namanya. Apa memang ga ada namanya? Tokoh misterius… Cerdas… Penasaran… Trus yang nodongin crossbow ke tengkuknya itu siapa?

    Kalungnya Inana gimana ceritanya?

    >> Pemirsa, tunggu jawabannya dalam episode selanjutnya! <<
    😄

    • si penodong crossbow?
      nama ‘aku’ di perikop 14?
      kalungnya Inana?
      saya belum tahu^^

      tapi bayangkan kalau ada karakter yang mati tanpa nama… kelihatannya tokoh sentral, tapi nasibnya sama saja sama figuran lain dicerita, mati tanpa nama…

      eksperimen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s