Volume 2

sambungan…

18 tahun keatas, jika anda sensitif berhenti disini.

4. Intermezo

Pulang… peduli amat dengan orang-orang aneh tanpa perasaan itu. Seperti si penterjemah itu, dia pikir karena dia menguasai 10 bahasa asing dia jadi begitu hebat? Si tolol. Si perancis gila itu juga tolol, bukannya program penterjemah udah tertanam di semua gadget? Kalau cuma begitu aja semua orang juga bisa, aku juga bisa, biniku juga bisa.

Aku sudah ngomong dengan semua orang segala kulit yang ada disini, ngomong bahasaku, lewat… apa namanya itu… pookonya yang mereka dengar ya bahasa mereka, tekhnologi sudah canggih seperti ini masih ada aja orang kolot, entah kenapa orang bilang si penterjemah itu pintar, itu cuma lagaknya saja, sok dingin, sok pendiam…

Biniku masak apa ya? Sial, dia ndak pandai masak.

Masak langsung pulang sih? Enakan main sama Silvia, sama anak-anak yang lain juga.

Aaahhh, Silvia, semok, putih, nakal. Mona juga asik tuh. Silvia sudah dijajal, ntar malam kalau bisa ngewek sama Mona… waw!

Eh, siapa nih? Ah, si bini!

“Halo!”

“Lagi dimana Boy yayank?”

“Lagi di jalan nih yank, disuruh ngunjungin klayen sama si bos”

“Kamu pulang jam berapa yank?”

“Waduh, nggak tahu deh nih yank, tergantung nanti deh…”

“Tergantung gimana?! Tergantung apa?!”

“Mau ada orderan baru nih, kan biar proyeknya tembus harus entertein klayennya, kalo dah gitu bisa sampe subuh deh.”

Merengeklah dia… dasar perempuan.

“Yaa… Boy yayank jahat gitu!”

“Sori deh yank, besok kita jalan yah!, Eh kamu mau kubawain apa?”

Ditutup… marah dia… Gampanglah, sekarang nelepon siapa ya… Mona!

5. Perspektif

Si Perancis gila, botak, tua, kemeja hitam dan jas… ini wilayah tropis. Tapi eksentrisitas manusia tidak ada batasnya. Memang harus seperti itu.

Dia berjalan ke mejaku, membuka laci dan mengambil persediaan Remy Martin… barang langka sekarang, kudapat karena menyelamatkan seorang klien dari seorang buruan yang mencoba membunuhnya, buruan itu tentu saja sudah mati, agar klien kami hidup, agar dia bisa datang lagi, dan membeli paket tur kami.

Dan dengan orang ini, aku akan menangisi botol kosong sebelum makan malam. Dan satu sloki, aku tidak ingat begitu akrab dengan orang ini sampai harus berbagi sloki dengannya.

“teman-temanmu sudah pulang, tempat ini sudah kosong, kecuali beberapa staf dan orang-orang non Melayu…”

Dia mengosongkan slokinya, mengisi kembali dan memberikannya kepadaku.

“Ah, aku ingat, kau tidak punya teman” dia tertawa. Cairan berwarna emas, di sloki kecil, tanpa es… kering, ini menyusahkan, seperti mesin tanpa oli.

Aku memberikan sloki kosong padanya, gilirannya.

“Katakan padaku, kenapa kalian rumpun Melayu begitu pemalas?” Dia mengosongkan slokinya, mengisinya lagi dan mengalihkan padaku.

“Dan kau termasuk disitu, kau juga pemalas” dia menunjuk-nunjuk mukaku.

Entahlah, mungkin kalau si gila ini bukan siapa-siapa dan dia mengatakannya didepan sekelompok buruh yang sedang marah, mungkin dia sudah mati. Mereka mungkin akan menanyakan apa haknya berkata demikian, apa dia punya bukti ilmiah kalau rumpun Melayu itu pemalas, kenapa orang kulit putih rakus-rakus? Sok penguasa? Sok pintar?

Tapi aku tahu lebih baik dari itu, tidak ada jawaban yang cukup sederhana bagi orang-orang ini, Melayu, Eropa, putih, hitam, belang. Setiap mereka menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, mereka hanya memberikan konfirmasi tentang satu hal: kebodohan itu buta.

Perancis hah? Negara yang sudah musnah itu? Menyisakan orang-orang dengan pola pikir seperti ini? Descartes, Rousseau, Sartre menangis sesungukan di kuburnya, dimanapun kuburan mereka berada… mungkin sudah jadi tempat sampah sekarang.

Dia mengisi sloki itu sedikit berlebihan, tumpah beberapa cc, sayang sekali. “Kupikir aku sudah begitu ramah padamu, walaupun aku bosmu aku membiarkan karaktermu merajai ruangan ini. Dan aku selalu memberikanmu perlakuan khusus, setidaknya kau bisa bertindak ramah padaku dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku.”

Sloki itu berhenti didepan wajahnya. Sinar sore menerjang kaca kotor di jendela dan terbias dengan agungnya melalui bumbu, waktu, dan alkohol. Bening dan jujur, dengan bakteri dari bibir kami meluber di sana.

“Ini hanya basa-basi, kau tahu? Laki-laki berhadapan dengan sesama laki-laki, minuman ditangan, apa istilahnya… santai?” Dia membalik sloki itu diatas mulutnya.

Laki-laki dengan laki-laki?

“Itu genetis bos” aku mengambil sloki itu dari tangannya dan mengisi sendiri bagianku.

“Ai, ai, ai, kau tidak percaya itu kan? Aku mengharapkan jawaban yang lebih kompleks darimu” dia tersenyum mengejek.

“Kenyataan bahwa aku menjawab seperti itu sendiri adalah hal yang kompleks” kuserahkan slokiku padanya.

Bangkit dan berdiri, berjalan kearah pintu, membuka pintu, keluar ruangan, menutup pintu dibelakangku, aku masih dengar dia ketawa didalam sana. “Karena itulah aku memperkerjakan kamu!” teriaknya.

Dia tidak akan bisa menyodomiku, tidak malam ini, tidak kapanpun.

Lagipula ada sorti malam, perburuan malam semakin populer, kerja keras pada siang hari, bermain sepuasnya pada malam hari, itu isi iklan kami, salah satu staf pemasaran punya ide iklan seperti itu. Menurutku seperti iklan kontrasepsi.

Dengan sebagian pekerja sudah pulang melarikan diri, entah apa yang mereka lakukan diluar sana, malam ini akan jadi malam yang melelahkan. Paling si Perancis gila akan mengumpulkan mereka dan marah-marah besok, tidak ada gunanya, orang-orang itu tahu sampai batas-batas mana mereka akan dipecat, sampai batas-batas mana gaji mereka akan dipotong. Diluar batas-batas itu, mereka bisa menjadi makhluk yang menyusahkan.

6. Saat semuanya dimulai.

Kami sudah ketinggalan sangat jauh dibelakang rombongan, truk-truk itu sudah tidak nampak lagi, jika ada orang yang berteriak kepada kami Inana akan bilang pada mereka kalau aku tidak bisa jalan cepat, jika dipaksa maka aku akan mati.

Aku baik-baik saja, kalau dia suruh aku lari sekarang aku mungkin bisa mengejar truk-truk itu! Atau orang yang sakit aids sebenarnya bisa mati kecapaian walaupun dia merasa baik-baik saja?

Tapi dia menamparku dibelakang kepala “jangan protes!” katanya marah.

Debu sudah turun, sore sudah datang, matahari sudah sembunyi diantara peopohonan, sinarnya menembus sana-sini, cantik sekali. Aku ingin berhenti disini, duduk disini menunggui matahari, sampai malam tiba. Kemudian mungkin Inana akan menangkap sesuatu, aku dan dia akan masak sesuatu yang enak dan aku akan mendengarkan Inana bercerita sampai kami tertidur.

Aku melihat Inana, dia cantik sekali, sinar matahari yang menyinari sebelah wajahnya membuatnya kelihatan tua dan lelah, lelah namun kuat. Inana adalah perempuan yang kuat, tentu semua orang menangis tiap malam, selalu berusaha agar orang lain tidak tahu, tapi aku mendengar tangis mereka. Inana bisa menangis tanpa suara sedikitpun.

Inana dengan tubuhnya yang sigap, dia akan selalu melindungiku, bukan begitu Inana?

Tiba-tiba dia memegang tanganku, kami berjalan meminggir semakin mendekati pepohonan, semakin tersembunyi dibalik bayangan. Berjalan semakin pelan.

Tapi kami akan ketinggalan jauh, yang terakhir dari kelompok kami sudah berjalan jauh didepan, hampir tidak kelihatan di kelokan depan.

Sinar matahari semakin redup, seperti orang akan tidur, sinarnya merekah sebentar kemudian lenyap. Dan kami sekarang berada dalam kegelapan.

Inana tidak berhenti untuk menghidupkan obor, kami berjalan semakin pelan, kini diantara pepohonan. Mataku yang sudah terbiasa dengan kegelapan masih bisa melihat jalan semakin jauh disamping kami, tapi aku tidak bisa melihat dimana kami berada.

Aku takut Inana, biarkan aku menggenggam tanganmu erat. Ada apa Inana? Kenapa kau melakukan ini? Apa yang kau tahu… ibu?

Tapi dia hanya diam dan terus berjalan… apa itu, suara gemuruh dikejauhan?

7. Berburu Binatang Bernama Manusia

Si Perancis gila tidak ikut? Habis sudah Remy Martinku, dia pasti sedang tergeletak di lantai kantor.

Kali ini pelanggan baru kami adalah seorang Amerika dan rekan-rekannya, dan karyawannya, dan jongosnya, dan keponakannya. Mungkin mereka mau merasakan legenda pria-pria berkuda pengembala sapi yang katanya selalu bawa senjata kemana-mana, berburu binatang buas, berburu Indian, berburu sesamanya.

Lihat kostum mereka, rompi kulit, topi khas itu, sepatu boot kulit. Bahkan dengan senjata-senjata kuno itu dipinggang mereka. Ketawa-ketiwi seperti mau piknik.

Dasar orang-orang kaya…

Mereka memuji-muji Chinook hasil modifikasi ini, kata mereka kendaraan ini membuat petualangan mereka lebih terasa asli. Substantially valuable tour, istilah mereka, orang-orang kaya yang mencari nilai lebih dari uang mereka, kenapa mereka tidak bekerja sebagai pembunuh bayaran saja, petualangannya lebih terasa.

Sebuah jeep, beberapa skipper dan masih ada empat Chinook lainnya dibelakang kami, ini akan menjadi terlalu mudah, terlalu cepat.

Matahari baru saja tenggelam, kami sudah dekat.

Kelompok-kelompok itu, paling banyak 300-an orang, mereka tidak bisa memelihara lebih dari jumlah itu, dan jumlah itu hampir selalu terjaga seperti itu. Saringan alam, mereka akan membunuh sesama mereka anggota kelompok.

Tidak pernah benar-benar terorganisir, tentu saja, kami akan menghancurkan setiap bibit keteraturan yang mereka buat.

Tapi perburuan kali ini tidak menarik, kami terlalu banyak. Tentunya orang-orang ini hanya ingin bersenang-senang saja, diluar segala omong kosong mereka, mereka tidak akan pernah merasakan gejolak itu, adrenalin itu, saat pemburu dan buruannya bisa bertukar posisi, persaingan yang adil, sedikit saja instingmu tergelincir, kau akan mati.

Mereka disini hanya ingin menjadi bagian dari sesuatu, mungkin bercerita pada teman-temannya, hei, aku pernah melakukan ini, aku pernah kesana, aku pernah makan itu. Dan mereka akan merasa sangat superior sehingga merasa mempunyai hak untuk menulis beberapa halaman dan kritik tentang kami di Interweb. Disertai beberapa tips wisata tentunya.

Mark, salah satu staff, pria Inggris yang tinggi, besar dan pirang, sedang memberikan kursus kilat bagaimana cara menggunakan senjata. Kami bahkan punya yang klasik, crossbow, cukup populer diantara para pemburu musiman ini, namun dengan bahan komposit yang sangat ringan, lebih mirip mainan anak-anak. Pelontar tentunya sudah dimodifikasi dengan kompresor, dan pelurunya bukan lagi standar abad pertengahan, namun dengan kepala seperti bilah sabit, hasilnya cukup dramatis.

Jika para turis ini menembak target yang sedang berlari mereka akan mendapatkan suguhan tontonan yang menarik. Sebagian orang akan tertawa-tawa senang, sebagian orang akan muntah.

Mark mendekatiku “mudah-mudahan bisa selesai saat jam makan malam, aku sudah lapar.” Dia mengeluarkan sebungkus rokok, menyalakan sebatang dan menawarkan padaku. Mark tipe orang yang senang berbasa-basi, tidak pernah terlalu ramah, semua orang sepertinya tertarik dengan segala omong kosongnya, tidak pernah kehabisan bahan canda. Selalu berusaha berbincang dengan semua orang, bahkan padaku. Dia sepertinya tidak perduli kalau aku tidak pernah mengucapkan sepatah katapun padanya.

Kuambil sebatang, disodorkannya sebuah pemantik logam.

“Tidak kau nyalakan?” tanyanya.

Kumainkan-mainkan pemantik itu “nanti saja habis makan” kusodorkan kembali pemantik itu padanya.

“Pegang saja dulu” katanya sambil beringsut menuju cockpit.

Dari pintu ini aku bisa melihat siluet Pegunungan Muller di selatan, dan kami terbang semakin rendah. Semua ini mulai terasa membosankan. Kuharap ada sesuatu yang baru menungguku dibawah sana.

8 thoughts on “Volume 2

  1. HOORRREEEEE ADA LANJUTANNYAAAA! Jadikan buku aja mas! Keren sumpah. Kalo dijadikan buku kan ceritanya lebih leluasa menjalar ke mana-mana, flow-nya juga jadi lebih ‘halus’. Terakhir baca cerita yang menggemparkan otak dan mendebarkan jantung tuh Crime and Punishment-nya Dostoevsky. Semoga ini yang ke dua. Hahaiii!! Semoga setebal 569 halaman tidak termasuk pengantar, index, dan sampulnya… Semoga aku dikirimin copy manuskripnya jadi ngga perlu ngantri di Gramedia.😉

  2. waduh mbak, kejauhan kalau Dostoyevsky^^

    nggak kepikiran buku-bukuan heheh, bentuk seperti ini ringan banget nulisnya, sekali duduk jadi. seperti mengembalikan grafik novel ke teks murni. Itung-itung daripada nonton TV bagus nonton cerita sendiri, dan setelah sampel pertama itu, karakter-karakternya pengen mbrojol terus. Saya aja nggak tahu mereka mau pada ngapain habis ini.

    ternyata setelah dibaca mentah banget ya, ini yang terjadi kalau selesai langsung posting, nggak disortir dulu, seperti si putri make bahasa “bukan begitu Inana?” nggak sepadan sama latar belakangnya.

    kog jadi ngulas tulisan sendiri ya? terima kasih komennya! (Dostoyevsky!^^)

  3. Mentah, memang. Tapi karakter-karakternya sudah bagus, tinggal diperkuat dikit lagi. Trus cara kamu menggambarkan situasinya udah kena, tinggal nambah detil sana-sini (buat poin estetika?) dengan pilihan-pilihan kata yang auranya agak lebih ‘sadis’ dari yang sekarang kamu pake buat mempertegas penggambaran kondisi kehidupan yang keras. Just an idea.

    Kalo nggak kepikiran buku-bukuan, ya wes… Berarti besok ada lanjutannya lagi. Hahahahaiii!

    xoxoxoxo your story!

  4. estetika+sadis… marquis de sade punya ide yang sama…

    “lebih ‘sadis’?” saya malah ngira udah kebablasan, jadi mesti dikurangi sedikit, walaupun jadinya malah boong-boongan. Kalau di ingat-ingat di kehidupan nyata, orang-orang bisa berbuat yang lebih mengerikan sih.

    besok? kok jadi kayak tugas bikin laporan ya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s