Jakarta dan Pengaruhnya Pada Indonesia

Beberapa kali mengunjungi Jakarta, di salah satu kunjungan kami harus menggunakan kereta secara intens, yang berarti berada di stasiun dan berada di tengah-tengah begitu banyak orang, manusia dari berbagai macam jenis.

Di stasiun-stasiun kereta di Solo atau Yogyakarta saya akan merasa relatif santai walaupun tiket saya adalah tiket kelas ekonomi. Di Jakarta? “Ever vigilant” itu adalah kesan yang diberikan oleh salah seorang anggota keluarga yang sudah begitu banyak membantu saya menghadapi “crash course” Jakarta.

Ever vigilant? Okelah, tapi jika seorang ibu dengan barang bawaan yang begitu banyak dengan ekspresi capai yang begitu kentara meminta sedikit tolong dan saya tidak boleh meladeni… saya pikir, paling tidak ada satu masalah disini.

Mungkin salah satu masalah tersebut adalah fakta bahwa saya adalah seorang pemalas yang dengan naifnya terlalu sering melamun dan berkhayal bahwa di atas permukaan bumi ini masih terdapat orang-orang baik. Dan ternyata, menurut “crash course” tersebut asumsi saya adalah sebuah kesalahan besar.

Jika ini adalah dunia penyihir maka saya harus menghasilkan mantra “perpetual orb” untuk menciptakan bola energi kasat mata yang mengelilingi saya 24 jam, dan menahan segala macam niat jahat pada jarak aman. Saya juga harus ahli dalam “counter spell” kalau-kalau ada orang diluar sana yang mampu menghipnotis hanya dengan kontak mata saja.

Sayang ini bukan dunia penyihir, mental sayalah yang harus dimodifikasi disini. Saya harus logis seperti seorang profesor tekhnik nuklir, dingin seperti seorang pembunuh bayaran, mempunyai daya bentak dan daya ancam yang menggigit, bahkan lebih menggigit daripada para preman dan polisi korup terhebat di Jakarta dan Medan disatukan.

Saya harus mempunyai kemampuan untuk memetakan wilayah disekitar saya dalam radius 100 meter, 360 derajat. Saya harus bisa mengetahui dimana barang bawaan saya, dimana dompet saya, dimana-mana saja posisi orang-orang yang berdiri dan duduk di sekeliling saya, dan saya harus bisa melakukan itu semua tanpa melihat.

Seorang manusia dengan keadaan paling menyedihkan sekalipun bisa menjadi ancaman bagi keberadaanmu hari itu, bisa membuat hari yang biasa-biasa saja menjadi begitu buruk.

Saya lebih memilih untuk menganggap bahwa seluruh asumsi ini bukanlah agregat, namun saya selalu dipaksa untuk mempercayainya.

Jakarta diisi oleh begitu banyak manusia, masing-masing hidup untuk dirinya sendiri, bahkan segala keramahan yang disampaikan oleh para orang berjas dan berdasi mahal – di gedung-gedung eksklusif dalam ruangan-ruangan kantor dengan furnishing pada masing-masing ruang yang bahkan lebih mahal daripada keseluruhan rumah saya – adalah keramahan untuk dirinya sendiri.

Seluruh pembicaraan adalah assessment yang begitu dingin, sebuah pengukuran nilai keuntungan yang dibawa oleh si pendatang ini. Mencari-cari tiap kesempatan untuk tertawa atau lebih tepatnya mentertawakan. Tapi saya rasa sama saja, semua hal yang kita rasakan pada saat kita bertemu dengan seseorang yang kita anggap orang kampung.

Berada diluar, bukan hanya mental yang harus dimodifikasi, tapi juga paru-paru, jika kain yang dijemur saja warnanya bisa kusam bagaimana dengan organ-organ internal, sekali lagi, salut untuk warga Jakarta, saya rasa internal organ kita sudah bermetamorfosis untuk menyesuaikan diri dengan modus kehidupan chaotic metropolis disana.

Sebagai orang kampung, melihat Jakarta, ada beberapa hal yang terasa tidak cocok. Ini adalah sebuah ibukota, diisi oleh orang-orang pintar (istilah rakyat), semuanya berkumpul disini, pintar dalam hal-hal apapun, baik dan buruk. Sebuah metropolis biasanya menjunjung hitung-hitungan logika ketimbang rasa emosional. Tapi saya gagal menemukan hal-hal yang logis di jalanan Jakarta, di gedung-gedung yang dibangun di Jakarta, di perumahan-perumahan yang dibangun di wilayah yang, bahkan dari sudut pandang anak-anak, tidak memungkinkan.

Untuk berpaling ke ranah emosional sudah tidak mungkin lagi, hiburan mental spiritual sudah menjadi barang yang begitu mahal. Untuk berolahraga saja orang rela membayar jutaan? Pameran seni dipindahkan ke mal? Anda harus menjadi seorang sosialita untuk mengakses ini semua.

Kenapa saya mengomel tentang Jakarta?

Kota-kota lain di Indonesia punya masalah tersendiri, dengan satu masalah global yang sifatnya seperti hantu, ada dan tiada: korupsi. Di kota-kota yang dicap kota pendidikan misalnya, para mantan pelajar dengan melankolisnya akan bernostalgia tentang romansa kota pendidikan (sinetron sangat membantu disini).

Namun jika mereka melakukan kontak lebih intens dengan kehidupan lokal, terkadang mereka akan menemui fakta pahit bahwa nyawa pun kadang tidak ada harganya, dan seorang mahasiswa bisa mati dengan keadaan bodoh ditangan preman yang mabuk.

Jakarta sendiri, yang oleh media luar pernah dicap sebagai salah satu tempat bermukim terburuk di dunia, akhirnya menghasilkan manusia-manusia yang mau tidak mau akan pergi ke daerah-daerah, dan membawa pengaruh disana. Di Pontianak misalnya, sekarang terdapat “fasilitas” dan gaya hidup yang beberapa tahun lalu hanya bisa saya temukan di Jakarta, sialnya hal tersebut membuat aneh kondisi diwilayah yang sebenarnya belum sempat maju namun telah mengalami efek samping dari “kemajuan” tersebut. Masyarakat melakukan konsumsi seperti pelaut dan monarki Spanyol.

Di Yogyakarta, klub-klub malam menjamur seperti penjual pulsa, diisi oleh gadis-gadis desa yang disulap menjadi makhluk seksi yang mungkin belum menstruasi, yang berbahasa Indonesia saja sulit. Pada saat mendengar mereka bicara, libido saya lompat ke jurang.

Dan mereka mengiklankan usaha mereka tidak jauh beda degan universitas-universitas yang mengiklankan program studi mereka: ada program-program unggulan… mungkin karena biro iklannya sama.

TIME pernah mengeluarkan travel guide dengan salah satu tag line yang jika diterjemahkan mungkin akan berbunyi seperti ini: “Kunjungi Tempat Ini Sebelum Keduluan Oleh Mc. Donald.” Tapi setiap pelosok Indonesia sudah dikuasai oleh uang yang mempunyai ikatan dengan ibu kota. Tidak hanya Mc. Donald, tanah gambut di Kalimantan pun akan diretrukturisasi agar bisa menerima segala ide kreatif dari para pemegang modal di Jakarta.

Jakarta perlu diperbaiki untuk menghasilkan produk kemanusiaan yang masuk akal, karena walaupun benci, harus diakui kenyataan bahwa sengaja maupun tidak sengaja seluruh keberadaan Indonesia masih terpusat di Jakarta, termasuklah seluruh sumber dayanya. Dan dengan kapital yang terkumpul disana Jakarta mempengaruhi kehidupan di seluruh Indonesia.

Jika seorang warga Jakarta yang berprofesi pengacara bisa memiliki berhektar-hektar lahan di Kalimantan, dengan kebijaksanaan pribadi si pengacara, dan kepintaran kolega-kolega di lingkungan sosialnya, mereka bisa merubah total wajah bumi disini. Warga setempat mau pergi kemana? Ke laut? Itu hanya akan mengantar kita pada permasalahan lain yang tidak ada habisnya.

Perbaiki Jakarta, ini akan membantu mengurangi kecendrungan frantic-expansive kota yang systemathically chaotic tersebut.

* kenapa dengan istilah-istilah asing yang sombong dalam tulisan ini, well… you see, mengingat Jakarta adalah kota metropolitan mungkin para pejabat dan karyawan pemda yang sophisticated tersebut agak kesulitan mengerti Bahasa Indonesia, sehingga komunikasi mereka dengan masyarakat Jakarta mengenai pembangunan kota tidak pernah bisa sejalan… kalau-kalau mereka pernah membaca tulisan ini.

** untuk Koalisi Jakarta 2030, segala produk hukum dan kebijakan di Indonesia tidak pernah memberi penjelasan yang memuaskan dengan apa yang dimaksud dengan “kepentingan umum”, silahkan diperiksa kalau saya salah.

4 thoughts on “Jakarta dan Pengaruhnya Pada Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s