Volume 1

1. Bergerak

Bagiku, tidak ada kehidupan lain selain kehidupan ini, tapi Inana berkata bahwa aku dan semua orang seumuranku hidup dalam masa-masa yang teramat sulit, masa dimana kerakusan telah menang dan kami semua, bahkan para manusia yang menjadi alat dari kerakusan hidup terinjak, kepala rata dengan tanah. Dan saat kerakusan telah menang, tidak ada lagi yang namanya manusia. Dan semua hal yang telah dibangun oleh manusia tidak dapat melindunginya lagi.

Inana bilang, ada masa dimana ancaman paling besar bagi kami adalah dari sesama kami manusia. Namun sekarang semua elemen yang ada menjadi musuh kami. Segala kebaikan dari bumi telah menjadi racun dan dendam, dendam atas ketamakan, dendam yang tak terbalaskan, karena pada akhirnya ketamakan selalu duduk di singgasana, tertawa. Inana tertawa waktu bercerita itu.

Inana adalah perempuan yang melahirkan aku, menurut Inana dahulu perempuan seperti ini disebut Ibu, tapi sekarang tidak ada lagi orang yang menggunakan kata-kata itu. Inana telah melahirkan beberapa orang dari beberapa laki-laki, aku tak tahu pasti berapa, sebagian perempuan, sebagian laki-laki. Sebagian tinggal bersamanya, sebagian telah pergi entah kemana, sebagian sudah mati.

Inana duduk di depan kemah kami, memandangi orang yang lalu lalang. Semua orang yang lewat di depan kami adalah kelompok kami. Ada lebih dari 300 orang, aku tahu karena Inana mengajari aku berhitung, dia juga mengajari aku membaca, walaupun tidak ada orang lain yang tahu.

Kemudian dia berdiri dan berjalan ke arahku, memasuki kemah. Aku mengerti, segera aku kenakan jubahku, topengku yang aneh, sampai tidak ada lagi bagian tubuhku yang kelihatan. Inana akan sangat marah dan memukulku jika dia tahu aku keluar dari kemah tanpa semua ini, dia bilang padaku dan semua orang bahwa aku sakit, penyakit yang sangat menular dan mengerikan, aids namanya.

Orang bilang kalau dulu obat aids ada banyak, namun saat ini, bahkan seseorang yang batuk pun tidak bisa mendapatkan obat. Obat hanya ada di tempat perlindungan, kota-kota dimana orang kaya tinggal dan dilindungi oleh bom, ranjau, roket dan para penjaga bersenjata lengkap yang jumlahnya sangat banyak.

Kami tidak boleh masuk kesana, hidup atau mati, kami tidak bisa membeli hak untuk masuk dan kami terlalu kotor untuk masuk. Jadi kami berada di luar sini, saling membunuh, saling merampok antar kelompok. Dan kami diburu. Orang dari koloni akan datang dengan senjata, dengan kendaraan lapis baja, dengan pesawat terbang, membunuh kami dengan cara apapun yang dapat dipikirkan oleh mereka saat itu. Inana bilang itu semua karena orang kota takut. Jika jumlah kami terlalu banyak maka kami bisa menjadi ancaman bagi koloni.

Aku membantu Inana melipat tenda, debu berterbangan. Di kejauhan kulihat beberapa buah truk besar berjalan berputar-putar. Orang-orang itu sedang senang, kelompok kami baru saja berperang dengan kelompok lain, tidak tahu kelompok mana, tidak kenal. Sebagian kami bunuh, sebagian lari, sebagian dikawini oleh para laki-laki. Ada banyak barang yang mereka tinggalkan, namun yang paling menarik perhatian adalah ketiga truk itu. Sekarang kelompok kami punya enam truk, makin banyak orang dan barang yang bisa diangkut. Yang tidak mampu berjalan akan memberikan apapun yang mereka punyai agar bisa mendapatkan tempat di atas truk. Jika mereka tidak mampu dan tidak punya apa-apa, mereka akan ditinggalkan, aku tidak akan pernah lagi melihat mereka.

Kami harus tetap bersama-sama dengan kelompok, bagitu kata Inana. Inana sangat membenci sebagaian orang yang ada di dalam kelompok kami. Inana membenci semua orang, namun ada sebagian dari mereka yang sangat dia benci. Sebagian dari orang-orang itu sekarang sedang bermain-main dengan truk, sebagian mungkin sedang kawin.

“lihat, dimana jahanam itu nanti dapat minyak” kata Inana dengan geram.

Kami harus tetap bersama-sama dengan kelompok, atau kami akan mati, entah dibunuh, entah diperkosa. Sangat sulit untuk masuk kedalam kelompok. Inana harus kawin dengan beberapa laki-laki yang punya kuasa di kelompok, aku tahu karena aku melihat, mereka kawin beramai-ramai. Inana juga harus menyerahkan semua barang-barangnya yang diinginkan oleh orang-orang yang punya kuasa di kelompok ini, aku tahu, karena saat Inana menangis dia memeluk aku dan menggenggam kalung itu. Jika ada yang tahu dia masih punya kalung itu maka kami akan mati.

Beberapa truk mulai berjalan, orang-orang itu bertumpuk diatasnya. Sebagian truk masih belum jalan, orang-orang saling tarik dan saling pukul dibelakangnya.

“Kita jalan” kata Inana.

Aku melihat sekeliling dan melihat Pian berlari mendekati kami, Inana juga melahirkan dia. Pian lebih tua dariku.

“Kau ndak naik truk?” kata Pian pada Inana.

“Kau mau naik, naiklah” kata Inana ketus.

Pian lari meninggalkan kami ke arah truk. Dari semua orang yang kutahu dilahirkan oleh Inana, Pian adalah yang paling baik, terkadang dia masih mau datang dang membantu Inana. Aku selalu membantu Inana, aku selalu berada di dekat Inana. Tidak ada orang yang mau dekat denganku karena aku sakit aids.

Terlalu banyak manusia, terlalu banyak ketamakan, dan semuanya rata dengan tanah, bahkan tanah yang berada di bawah kaki kami pun bukanlah lagi tanah. Tapi campuran semua racun yang tumpah dan ditumpahkan kemudian menyatu dengan mayat-mayat busuk yang memang  tidak pernah punya jiwa saat mereka hidup.

Inana selalu mengatakan hal-hal itu, aku tidak begitu mengerti maksudnya, sepertinya dia menyesalkan situasi kami saat ini, dan dia menyalahkan semua orang yang ada di sekelilingnya.

“jangan jadi bodoh kamu Putri, kita begini karena manusia-manusia bodoh pegang kuasa” aku selalu menanyakan kenapa dia selalu berkata-kata demikian. Tapi Inana tidak pernah menjawab, sesekali dia akan menunjuk-nunjuk ke kepala dan dadaku dan berkata: “pada akhirnya pikiran dan hatimulah yang membedakanmu dengan semua sampah ini, dan biarpun mereka harus membelah kepalamu dan mengoyak dadamu, mereka tidak akan bisa mengambilnya.”

Inana mengambil tenda dari pundakku, dia meninggalkan beberapa alat-alat masak di belakang, alat-alat masak yang menjadi haknya karena dia dikawini oleh para penguasa kelompok. Aku membawa air dalam kantung plastik yang berlapis, cukup untuk kami berdua sampai besok, Inana membawa buntalan keramatnya, kain yang kuat tempat dimana dia menyimpan barang-barang yang dianggapnya berguna, didalam buntalan itu juga ada obatku. Sebilah parang yang panjang tergantung di pundaknya.

Aku tahu Inana selalu menginginkan senjata api. Dia selalu memandangi laki-laki penguasa yang sedang main-main dengan senjata api, pistol, senapan. Parang tidak ada apa-apanya dibanding pistol dan senapan. Inana pernah berpikir untuk mencuri satu pistol, atau satu senapan, atau dua-duanya, tapi laki-laki itu tidur dengan senapan dan pistol mereka. Inana bilang laki-laki bisa kawin dengan truk dan senapan, Inana bilang dulu laki-laki bisa kawin dengan burung perkutut, dengan kambing, dengan ayam.

“sekarang laki-laki bisa kawin dengan apa saja, hamil pula benda itu dibuatnya” katanya.

Hari ini Inana menyuruhku membebat kakiku dengan kain, aku sudah biasa jalan jauh, tapak kakiku sudah keras, biasanya aku tidak perlu alas kaki, tapi Inana marah “ikut saja!” bentaknya.

Aku pikir sesuatu akan terjadi.

2. Seratussembilanpuluhenam.

Seratus sembilan puluh enam, termasuk perempuan dan anak-anak, kalau dipikir-pikir apa yang dilakukan kelompok ini dengan perempuan dan anak-anak?

“Ada berapa perempuan dan anak-anak?” sedetik kemudian aku menyesal telah bertanya.

Boy menoleh kearahku “entah!” kemudian dia tertawa “untuk apa tahu?”

Sial, aku jadi tidak sempat menghitung. Si Perancis maniak itu menahanku terlalu lama dengan ceritanya, dengan idealismenya. Tidak ada yang mau mendengar ceritaku, kenapa aku harus mendengar ceritanya?

Karena itu merupakan jaminan keamanan, asuransi hidupku, berada di dekatnya membuat hidupku sangat nyaman, setidaknya dibandingkan sampah-sampah tidak berguna ini…

Manusia-manusia yang mempunyai warna kulit yang sama denganku namun tidak pernah mengerti dengan apa yang kukatakan, mereka yang tertawa gembira saat pamer kebodohan, sibuk dengan segala cakap sampah mereka saat mereka seharusnya bekerja dan berpikir, mudah marah seperti anjing yang kehilangan tulang, tenang seperti manusia autis saat kepala mereka dimainkan, panik dan uring-uringan saat penis mereka dipelintir.

Si Boy ini adalah contoh, sampel paling mutakhir. Dari dulu sampai sekarang aku tak tahu namanya. Aku juga tak tahu bagaimana badannya bisa begitu padat, begitu besar begitu makmur. Tapi wajahnya, aku tahu tampang itu, semakin banyak akhir-akhir ini di koloni. Tentu saja mereka semakin banyak, orang-orang seperti inilah yang paling sering bereproduksi, dan sepertinya para pengurus senang dengan perkembangan ini, semakin bodoh generasi ini, semakin baik bagi mereka.

Segala pendidikan yang mereka berikan bagi kami? Diberikan dengan dosis terkontrol.

“Kira-kira saja…” aku melebarkan pandanganku dari tumpukan mayat itu ke mayat-mayat lain yang masih berserakan, bau amis darah, entah kaki entah tangan berserakan kemana-mana.

“tak sampai setengah kayaknya” kata si Boy mendekatiku, salah seorang rekannya membentak, protes kepada si Boy, aku memandangnya lekat-lekat, orang-orang ini, sama malasnya, mereka protes karena mereka tidak bisa bermalas-malasan, si Perancis gila ada disini, dan si Boy? Dia sedang bicara denganku, dia menjadi penting karena itu.

“sampai lima puluh?”

“perempuannya cuma sedikit, ndak sampai lima puluh… pasti, kalau anak-anak… aku tak tahu yang mana anak-anak” katanya cengengesan.

“kira-kira badannya setinggi pinggangmu kebawah, bayi atau apalah yang kau lihat”

“ada bayi, satu dua, kayaknya ada disebelah sana satu lagi, tapi kalau perempuan, entah anak-anak entah emak-emak, dua puluhan lah, kayaknya, yang kutahu, tapi ndak pasti juga.” dia mengangkat bahunya, masih cengengesan.

Piramida mayat itu sudah seperti bukit kecil, kebanyakan laki-laki, susah membedakan mereka. Di sekitarnya ada pekerja yang menutupi mulutnya, ada yang muntah, ada yang pingsan, orang-orang baru.

Mereka membuatku muak, di tengah koloni mereka adalah jagoan, ahli dengan ancaman kosong, terlalu bodoh untuk tindakan lanjutan, fisik dan fisik dan fisik, selalu berkelahi setiap ada kesempatan, setiap ada alasan, alasan apapun, testosterone membanjiri kepala. Sex sepuluh kali dengan sepuluh pelacur berbeda setiap malam, hanya untuk membuktikan kejawaraannya, mudah sekali diagitasi, selalu yang paling antusias untuk turun kelapangan.

Hormonal, mereka hanya antusias untuk tamasya, disini isi perut mereka tadi pagi keluar semua. Wajah-wajah pucat seperti bayi dicekik, beberapa terduduk, manusia-manusia ini berpikir dengan mempergunakan… entah apa. Entah kenapa mereka terdiam disini, muntah disini, pucat disini, sedangkan di koloni mereka selalu mengancam untuk membunuh orang.

Si Boy? Sama saja, tapi cukup cepat dia beradaptasi, setelah sering dipangkung si Perancis gila tentunya.

Aku? Waktu aku kecil aku membersihkan ceceran otak ibuku yang didorong keluar dari ubun-ubun dan setiap lubang dikepalanya, ibuku kelihatan seperti ikan waktu itu. Saat remaja lain belajar untuk kawin, aku mencari ayahku dan menginjak kepalanya dengan stilleto ibuku sampai bocor. Keluarganya, adik-adiknya, kakaknya, mencariku, ingin membunuhku, bukannya menemuiku, mereka malah mencari keluarga ibuku, mungkin mereka sudah musnah saling bunuh sekarang.

Kalau ada yang menanyakan pendapatku tentang perkawinan… kubunuh.

Aku bertemu si Perancis kemudian, sedang menanyakan alamat, aku menguasai bahasanya, dan bahasa lain, bukan tahu, bukan kelas pasaran, bukan keahlian untuk bertahan hidup, tapi bahasa kompleks dengan lafal yang hampir sempurna, aku tahu budayanya, aku tahu omong kosongnya. Dia menemukan kegunaanku dan membawaku.

Membuatku ikut pada setiap operasi, membuat dokumentasi, laporan, menterjemahkan untuknya, mengabadikan mayat, berdiri diatas serpihan daging dan darah membuat jantungku berdegup, bergairah, energiku terasa penuh, aku merasa hidup, aku merasa superior, aku bisa melihat mereka, apa mayat-mayat itu bisa melihatku, mata mereka entah berceceran kemana, kepala mereka entah terlempar kemana, mereka tidak bisa melihatku. Setelah segala omong kosong yang mereka buat saat mereka hidup… kemudian sunyi senyap… dan mereka bilang mereka akan bertarung untuk hidup mereka?

Saat terancam aku bertarung untuk membunuh… tidak, aku bahkan tidak bertarung, aku membunuh, dengan cara apapun. Saat kau berhadapan dengan manusia dan makhluk lain yang ingin membinasakanmu, kau tidak bertarung, kau tidak harus membuktikan apapun, kau tidak harus membuktikan bahwa kau lebih kuat, bahwa kau benar, bahwa ancamanmu lebih menggigit, bahwa kau adalah laki-laki yang superior, lebih atletis, lebih fit, lebih ahli…

Hanya orang-orang bodoh yang melakukan itu… aku membunuh, aku tidak bertarung. Jika aku bertarung maka aku akan kalah, tidak semua manusia bisa bertarung, terutama laki-laki dengan fisik rata-rata seperti aku, tapi semua manusia telah mempunyai kemampuan untuk membunuh bahkan sejak mereka lahir, membunuh apapun, membunuh manusia lain, membunuh binatang lain, membunuh bumi, aku hanya memanfaatkan fasilitas itu.

Ini adalah sebuah filosofi, sebuah kredo yang tidak dimengerti oleh ternak-ternak ini, mereka bertarung seperti sapi.

Filosofi ini hanya kubagi dengan si Perancis gila, dan sejak saat itu aku menjadi kesayangannya, temannya bercerita, wakilnya mengurusi segala sesuatu. Tapi kami tidak saling percaya, tidak pernah, hanya masalah waktu sampai dia menyodomiku. Aku tidak punya waktu untuk mengedipkan mataku, tidak sedetikpun.

“Sudah! Lama sekali… bakar saja!” teriak si Perancis gila. Aku menterjemahkan teriakan itu pada para pesuruh.

“Yang lainnya biar dimakan anjing!” Itu juga kuterjemahkan. “Atau kalian makan saja kalau mau!” Yang ini kalimatku sendiri.

Dan daging-daging kaku itu lumer seperti lilin, api menaungi mereka, asap dan bau daging merebak ke udara… jika neraka itu benar ada, seperti inikah rupanya?

Si Perancis gila menatap api unggun yang terbuat dari mayat manusia itu dengan pandangan sayu “c’est beau…” dan dia tersenyum.

Disini… diatas pulau besar yang dulu bernama Kalimantan, kami melukisi tanah dengan darah dan muntah!

3. Pergi Untuk Menjadi Manusia.

Kenapa kami berkelompok, kenapa kami tidak sendirian saja, hanya aku dan Inana, mungkin Pian juga, kalau dia mau ikut.

Aku pernah bertanya seperti itu.

Inana bilang mau tidak mau seperti itu, dari sananya manusia itu selalu cari musuh, semua yang ada diluar dia dianggap musuh. Biar bisa akur mereka harus punya musuh bersama, kami bisa hidup lebih lama di kelompok ini, selain karena dikelompok ini banyak manusia beringas dan licik, juga karena kami punya musuh bersama.

“Siapa musuh bersama kita?” tanyaku.

“Ya, manusia lain.” katanya sambil memandangiku dengan wajah heran. “Sudah kubilang Putri, jangan bodoh!” sambungnya.

Kadang aku pikir dialah yang bodoh.

“Seperti apa orang sakit aids Inana?” tanyaku.

“Ya, seperti kau itu!” jawabnya ketus.

“Aku mati sebentar lagi Inana?” tanyaku.

“Tidak, kalau kau minum obat yang kuberi.” jawabnya lagi, masih ketus.

Aku tidak pernah bertanya pada orang lain, mereka sama bodohnya, mereka bahkan tidak mau dekat denganku, menghinaku. Dan kalau Inana tahu aku mencoba bicara dengan orang lain, dia menamparku, menendangku, menyeretku menjauh dari orang-orang… mereka semua ketawa.

Ketawa seperti monyet dan kambing.

“Darimana kau dapat obat Inana?” tanyaku.

Dia memandangku marah “kau mau mati sekarang hah?!”

Selama hampir sebulan dia selalu memberiku satu pil yang sama setiap hari, kemudian selama seminggu dia memberiku pil yang berbeda, pil yang manis, terkadang tidak sama sekali. Obat itu biasanya membuatku pusing, bukannya obat itu untuk menghilangkan sakit?

Seorang perempuan tua yang pernah duduk di depan tenda kami bilang bahwa orang sakit aids harus makan banyak sekali obat.

Inana bilang perempuan tua itu bodoh, dia bilang perempuan tua itu mati saja.

Apakah aku mau mati sekarang? Tidak, aku masih mau melihat koloni, aku mau keluar dari tempat ini.

“Kau mau keluar kemana?” tanya Inana, senyum mengejek dibibirnya.

Kami sudah berjalan dari pagi, sekarang diatas jalan yang putih ini, Inana bilang ini dulunya semen yang ditimpa dengan aspal.

“Aspal?”

Inana mendengus kesal “aku sudah berkali-kali cerita padamu tentang aspal, sudahlah tidak pantas diingat.”

Sebagian truk-truk tidak kelihatan, sebagian berjalan dengan liar, berputar-putar disekeliling kami, debu berterbangan, susah melihat, nafas sesak, dan panas membuatku pusing.

“Hoi!” Inana berteriak kearah truk yang berjalan kencang karah kami. Truk itu berbelok tiba-tiba, laki-laki yang ada di dalam truk itu tertawa-tawa. Inana memandangi truk yang menjauh itu dengan marah.

Seseorang jatuh dari belakang truk. Tidak ada yang menolong. “Biar mampus!” teriak Inana.

10 thoughts on “Volume 1

  1. Eh? Ini contoh atau penggalan sebuah novel? Atau, dua-duanya (contoh yang diambil dari penggalan novel)? Aku menemukan aura futuristik di sini, berkisah tentang masa depan yang suram.

    • hari minggu yang lalu, nggak tahu mau ngapain, coba-coba buat karakter, teringat fight club, jadi mikir gimana kalau ada beberapa perspektif orang pertama di satu cerita, gimana pikiran mereka tentang karakter lain kalau mereka akhirnya ketemu?

      susahnya, masing-masing karakter beda latar belakang, ada yang nggak pernah ngecap pendidikan, ada yang asal hidup, ada yang mentalnya rada rusak. karena belum ada judul jadi pakai judul postingan ini. nggak tahu mau lanjut atau tidak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s