Pseudo Review of Books: Shanghai Baby (Zhou Weihui)


Shanghai Baby
Zhou Weihui 1999
terjemahan bahasa Inggris oleh Bruce Humes (Simon & Schuster, Inc 2001)
Pocket Books (2001)
Washington Square Press (2002)

Dilarang dan dibakar di negara asalnya, mungkin menjadi salah satu alasan kenapa buku ini bisa menjadi sebuah “international bestseller.” Membuat saya berpikir, mungkin jika saya sudah menjadi begitu gila dan memutuskan menjadi penulis buku (buku yang benar-benar buku), lebih baik saya menyewa sekelompok orang, atau orang-orang tertentu di sebuah organisasi massa (murah! itulah harga manusia sekarang ini) untuk beragitasi di depan umum, merampas beberapa ratus eksemplar buku saya dari toko-toko buku modern yang “hip” dan membakarnya ditengah kota.

The New York Times mungkin benar ketika mengatakan bahwa Zhou Weihui adalah “Kerouac wanita yang menjalani jalurnya sendiri.” (yap, pengulas dari The New York Times menggunakan istilah Kerouac wanita, bayangkan…) Pernyataan itu bisa mengangkat buku ini menuju popularitas, dan juga bisa bisa menjatuhkannya di arena literatur (fokus pada pengertian artistik). Jika anda tahu sesuatu mengenai Jack Kerouac, anda akan tahu kenapa saya berpendapat demikian.

Satu lagi yang saya rasa membuat buku ini populer: sejumlah penggambaran adegan sex yang bahkan intensitas kuantitasnya melebihi beberapa buku-buku terbitan Eropa, dibintangi oleh aktor dan aktris yang kalau boleh saya katakan, eksotis, terutama bagi para pria kaukasia yang mengalami “yellow fever.”

Sebaliknya, mengingat saya adalah tipikal pria Asia, rasa dongkol menari-nari di sudut hati saya ketika si tokoh Nikki, yang berkuasa atas sudut pandang utama di buku ini, yang kemudian dipanggil oleh teman-temannya sebagai Coco – dari Coco Chanel, pahlawannya – bercinta di kamar hotel (?), di toilet sebuah night club, di apartemen, berulang-ulang kali bersama seorang Jerman maskulin yang superior, ekstrovert yang sudah beranak dan beristri.

Coco, tentu saja berulang-ulang kali memaki dirinya sendiri atas ketidaksetiaannya kepada pacarnya, Tian Tian seorang pria China yang introvert, sensitif, naif, dan impotent. Tapi setiap kenikmatan yang direngkuhnya dengan sukses dijadikan alasan pembenar untuk meredakan risau dihatinya.

Sampai dia membuat kesimpulan yang brilian: Tian Tian adalah kekasih hati, Mark adalah kekasih tubuh, atau lebih tepatnya, dildo yang besar dan jenius.

Sayang semuanya tidak sesederhana itu.

Dan disinilah, menurut saya, persamaan dengan Kerouac itu masuk. Hal yang “hebat” bagi Kerouac (1922-1969), karena dia menemukan sebuah jalur baru “Beat Generation” yang menolak konvensionalitas masyarakat dijamannya (dan yang mereka maksud dengan tidak konvensional adalah obat-obatan, alkohol, sex, dan jazz… membosankan). Tulisan yang lahir di era ini sendiri tidaklah istimewa sebagai literatur, hanya dari penggunaan bahasa dan gaya menulis yang “diusahakan” berada di luar pakem.

Zhou Weihui? Di tahun 1999 dan selanjutnya, masih banyak kasus pemberangusan penulis di China. Sementara di bagian lain bumi, sex, alkohol dan obat-obatan sudah merajai dunia, China masih berusaha menutup akses pemahaman terhadap kondisi masyarakatnya sendiri. Hal ini membuat karya-karya yang diselundupkan keluar China menjadi unik dan populer, walaupun sebagian tidaklah begitu “hebat.”

Karakter-karakternya sungguh tipikal (dan ada pengamat yang bilang penulis skenario film di Indonesia tidak punya daya imajinasi?). Kota Shanghai adalah sosok putri ingusan yang tumbuh menjadi seorang gadis yang seksi, Coco adalah seorang novelis muda, cantik dan penuh energi. Tian Tian adalah seorang pelukis, tipikal seniman sensitif yang impoten, digambarkan hampir dalam segala hal, Mark adalah seorang ekspatriat Jerman, pria superior yang merengkuh segala nektar yang bisa diberikan oleh “bunga” Shanghai.

Masih banyak karakter pendukung lain yang berpengaruh, baik langsung atau tidak langsung terhadap penggambaran psikologis ketiga karakter di atas dan semuanya adalah tipikal, demikian pula Ibu dari Tian Tian yang meninggalkan Ayahnya dan “lari” dengan seorang pria kaukasia… go figure.

Saat menulis pseudo review ini saya merasa sedang menulis ulasan gosip tentang skandal dengan plot yang sudah basi. Tapi, itu tidak berarti saya tidak mendapatkan apapun.

Tidak seperti Kerouac yang merupakan pencetus “Beat Generation,” saya lebih memilih menyebut Zhou Weihui sebagai seorang cartographer, seorang penulis yang menggambarkan peta masyarakatnya, segala kesia-siaan yang diseret-seret oleh manusia modern, segala “passion”, semangat yang membuat mereka bertahan walaupun teramat samar, dan dinamika komposisi masyarakat, pembicaraan budaya, para sosialita, apa yang sedang dipikirkan orang-orang di komunitas proponent avant garde Shanghai menjelang abad 21 (karakter-karakter dengan kondisi psikologis yang meragukan, disini Zhou Weihui melakukan eksekusi dengan cukup baik).

Ada banyak buku yang bercerita tentang China, Hong Kong, Shanghai, sungai Yangtzee, seperti melihat sebuah peta besar dari jarak satu meter. Buku ini menyediakan sebuah pandangan mikroskopis, sebuah catatan penanda, tentang satu aspek kehidupan di Shanghai. Disini, setidaknya diluar segala sex yang “steamy,” buku ini berguna.

Aman Untuk Usia: Dewasa (bahasa dan istilah-istilah vulgar terutama terkait dengan penggambaran aktifitas seksual, jika anda sensitif dengan hal ini… jangan baca)
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 7/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 6/10
Nilai Buku Relatif: 7/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 7/10

6 thoughts on “Pseudo Review of Books: Shanghai Baby (Zhou Weihui)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s