Berkendara Sambil SMS = Bourne Supremacy?

1. Seorang Ibu dan motornya nyungsep ke bawah sebuah sedan, sedan tersebut tersangkut dan tidak dapat berjalan sampai warga membantu mengeluarkan si motor dari bawah sedan tersebut. Si Ibu baik-baik saja, sibuk mengirimkan sms dan bertelepon, mungkin ke orang-orang di rumah tentang kondisinya.

2. Dua orang remaja putri diatas sebuah motor matik tiba-tiba menabrak pintu sebuah sedan yang sedang berjalan pelan, bersiap-siap akan keluar dari gang ke jalan raya, pintu di posisi sopir bentuknya sudah tidak jelas, motor matik lecet, tidak ada yang luka. Si remaja putri pengendara motor sibuk ber sms, mungkin ke orang-orang di rumah, tentang kondisi mereka. Si pengendara sedan sibuk bertanya “bagaimana ini? pokoknya ganti!”

3. Minggu siang panas terik, jalan kecil yang seharusnya lengang kenapa macet? Motor digenjot, menyelinap kanan kiri, di depan sana ada sebuah Fortuner dengan tubuhnya yang lebar menghalangi 200 meter arus lalu lintas dibelakangnya dari kesempatan menikmati kosong melompongnya aspal di depan Fortuner tersebut. Setelah motor sejajar dengan mobil tersebut terlihatlah seorang bapak, sendirian di dalam Fortuner berbadan lebar, dengan telepon genggam di tangan kiri dan – coba tebak – telepon genggam di tangan kanan (jendela terbuka, mungkin asumsinya biar resepsi sinyal lebih baik). Sepertinya dia sedang mencoba berbicara dengan seseorang dengan telepon genggam di tangan kirinya dan sedang berusaha mengirim pesan melalui telepon genggam di tangan kanannya. Ekspresi wajahnya tenang, sepertinya bukan portofolio sahamnya yang remuk redam, tidak mungkin nasabah Century, itu bukan raut wajah dari orang yang istri atau anaknya sakit… sudahlah.

4. Seorang pria sebaya mengendarai matiknya tepat di tengah jalan. Tangan kirinya tidak kelihatan dari belakang. Pelan… pelan… pelan… pelan… Saya mau menekan klakson, tapi secara pribadi saya tidak suka jika mobil di belakang saya menghamburkan klakson kalau saya sedang mengendarai motor… Tapi orang ini mengendarai motor tepat di tengah jalan! Lagipula mobil-mobil di balakang sudah mulai tidak sabaran. Injak kopling, kocok pedal gas, mesin meraung, dan dengan santai si pria itu menepi, masih asik dengan sms-nya.

5. Keluar dari gang depan rumah, normalnya gang ini cukup dilalui dua mobil, tapi hari ini tidak cukup bahkan untuk dua motor berpapasan. Dari jauh sudah kelihatan gelagat, saat saya ke kanan dia ke kanan, saat saya ke kiri di ke kiri. Akhirnya kami berhenti berhadapan, saya masam, dia mesem-mesem. Setelah diperhatikan ada handphone terselip diantara pipi dan helmnya.

6. Di simpang empat, dua remaja yang berboncengan jatuh setelah bertabrakan dengan seorang bapak yang baru pulang kantor. Saat temannya sedang bernegosiasi dengan si bapak, temannya yang tadinya mengendarai motor sibuk mencari baterai telepon genggamnya.

7. Sebuah Xenia menabrak sebuah Vixion yang sedang berada di baris paling belakang antrian lampu merah. Si pengendara Vixion memandangi si pengendara Xenia, ekspresi seorang tukang jagal di wajahnya. Si pengendara Xenia memandangi si pengendara Vixion, ekspresinya panik, di genggaman tangan kanannya terlihat sebuah BlackBerry (atau mungkin clone buatan China).

Saya merasa seperti Nicolas Cage di film “Knowing,” semua insiden dengan probabilitas yang absurd (dan konyol) terjadi di hadapan saya. Dan ketika saya telusuri dengan menggabungkan seluruh metode analisa ilmiah yang saya ketahui (yang mana jumlahnya sangat sedikit) saya menemukan sebuah benang merah (wow!): telepon genggam.

Baiklah mari kita sedikit serius.

Bagi anda yang senang bertelepon atau berkirim pesan sambil berkendara, baik anda yang menggunakan motor atau mobil, dengan “handsfree” atau tidak (sebenarnya benda yang tidak terlalu berguna kecuali anda mempunyai fokus dan konsentrasi diatas rata-rata), ada beberapa saran untuk anda:

1. Setiap hari manusia bereproduksi, dan kemungkinan adanya anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan semakin besar sejak tanah-tanah kosong sudah dikapling oleh orang-orang dewasa. Biarpun populasi manusia sudah begitu banyak, tidak ada orang tua yang senang ketika anda menabrak anaknya.

2. Tidak masalah kalau anda adalah seorang sadomasochist, tapi sebagian dari kami ingin sampai di rumah dengan kondisi sehat walafiat.

3. Ingat, banyak kredit kendaraan yang belum lunas di luar sana.

4. Sebagian dari kami punya kepentingan yang harus kami urus di tujuan kami, dan percayalah, kami bisa jadi lebih senang berurusan dengan anda.

5. Untuk para remaja, ada tanggung jawab lain yang datang bersama SIM: mengganti pintu mobil, dan itu tidak murah.

6. Jika didalam mobil anda ada televisi, dvd player, game console, communication hub, gps, computer dan semuanya terletak di dashboard… anda serius mau mengemudi?

7. Pernah dengar istilah “cognitive effect”?

Coba lakukan hal ini dirumah, dan lakukan semuanya bersamaan: update blog di desktop, mengerjakan makalah di laptop, menonton berita di Metro TV, mendengar berita di RRI Pro 3, bertelepon-ria dengan seorang rekan melalui CDMA dan mengupdate dinding Facebook dengan GSM anda.

Jika anda bisa melakukan semuanya itu dalam lima menit tanpa kehilangan jejak informasi dari masing-masing sumber, anda layak melakukan apa saja yang anda suka di jalanan. Setahu saya yang bisa melakukan itu hanyalah Jason Bourne… dan Jason Bourne adalah tokoh fiksi.

12 thoughts on “Berkendara Sambil SMS = Bourne Supremacy?

  1. Komunikasi seluler baik itu percakapan ataupun sms, telah menjadi kebutuhan dasar dalam kehidupan hampir semua lapisan masarakat dan profesi.
    Adapun penyimpangan yang terjadi dlm penggunaannya sepertinya akan selalu terjadi karena itu termasuk dalam tatakrama. Sama ketika banyak orang yang makan sambil berjalan atau berdiri, atau berpakaian seronok dengan atas ditutup tetapi bawah diobral.
    Nice post…

    • saya kutip, “Adapun penyimpangan yang terjadi dlm penggunaannya sepertinya akan selalu terjadi karena itu termasuk dalam tatakrama.”
      ada benarnya mas,

      lebih lanjut menurut saya masalahnya adalah bahwa “kegiatan” ini terkait dengan keselamatan orang lain yang berada di ruang publik, pengguna fasilitas jalan. Kalau boleh saya nilai urgensinya berada di atas, karena jika terjadi kecelakaan, pengaruhnya sangat terasa bagi para pihak yang terkait.

      dan masalah “… bawah diobral.” itu, bisa dijadikan ide tulisan tersendiri. Kalau di Pontianak kami menyebutnya “klub celana pendek.”

      Terima kasih komentarnya.

  2. orang sekarang kayanya g cukup hanya dg satu peringatan, udah banyak korban gara2 sms sambil berkendaraan masih tetap aja nyeleneh…klo udah jadi korban baru kapok kali…

    • dalam beberapa contoh bahkan status “korban” tidak cukup untuk membuat sadar, ini lebih mengenai pola pikir, hal yang sulit untuk dirubah, dan sistem pendidikan kita sama sekali tidak membantu.

  3. Saya termasuk paling membenci orang yang sms di atas kendaraan, mo dia pake mobil atau motor…Bukan hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain. Gemes liatnya…apa minggir dulu bentar, kan bisa. Kok, saya marah ya….Nggak saya ga marah, cuma kesel aja.

  4. setuju untuk tidak berkendara sambil sms atu telepon. karena di samping membahayakan diri sendiri juga bisa membahayakan keselamatan orang lain. marilah kita berkendara dengan aman.

    • setuju mas, memang payah berkendara di jakarta, dan saya belum menulis tentang jakarta, ini masih mengenai pontianak. Tapi sepertinya tidak ada bedanya budaya mengemudi di kedua wilayah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s