Kesadaran Populasi VS Produksi Bayi

Di sebuah persimpangan kendaraan kami dihadang oleh lampu merah, berhenti bersebelahan dengan motor yang dijejali oleh sebuah keluarga kecil.

Teman saya nyeletuk “kecil-kecil sudah punya anak, mana banyak lagi”

Saya yakin mereka yang berada di sebelah tidak mendengar, kalaupun mendengar tidak akan terjadi apa-apa. Kenapa demikian?

Perbandingannya seperti ini, warga Pontianak (ya, saya dengan sadar dan sengaja menggeneralisir) lebih malu jika motornya menggunakan spion standar yang lengkap, di kiri dan di kanan, daripada jika kredit motor tersebut tidak bisa dilunasi dan harus ditarik oleh penyalur (pada saat itu bentuk dan karakteristik motor sudah berubah total).

Kembali ke “kecil-kecil sudah punya anak”. Apa masalahnya? Bukankah bahkan di jaman dahulu Indonesia sudah mengenal film “Pengantin Remaja?” Kalau sudah cinta, kenapa tidak menikah dan punya anak saja? Bukankah ada tertulis di kitab suci, yang kira-kira bunyinya seperti ini: berkembang biaklah dan penuhilah bumi? Bukannya si pengkritik sendiri yang sebenarnya sedang meratapi diri sendiri karena tidak bisa memenuhi kebutuhan dan manfaat dari fasilitas reproduksi yang telah disediakan? Bujang lapuk, bangkotan?

Ada sebuah kota di pulau Jawa yang saya anggap sebagai “breeding ground” walaupun kebanyakan orang Indonesia menamainya kota pendidikan, istilah yang sudah tidak relevan. Kenapa “breeding ground”? Breeding ground adalah lahan yang disediakan untuk penangkaran, hewan-hewan dari mana-mana dikumpulkan di tempat tersebut dengan maksud agar mereka saling menggauli, mereproduksi, dan bertambah banyak. Tujuan akhir dari si pengumpul antara lain: bulunya, kulitnya, susunya, dagingnya, pendeknya, ternak.

Di kota tersebut mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul, hitam, putih, mata lebar, sipit, yang suka diam yang suka teriak, begitu banyak. Salah satu indikasi yang bisa dipergunakan dalam sebuah peradaban jika melihat begitu banyak mahasiswa adalah: kemajuan seperti apa yang sudah terjadi pada Indonesia? Mengingat fakta di lapangan bahwa hal positif apapun yang terjadi pada Indonesia sangat minim, maka kesimpulannya adalah faktor sumbangsih inteligensia ini menjadi tidak penting.

Mambuat kita beralih ke faktor selanjutnya, jadi apa yang mereka lakukan di kota pendidikan kalau tidak mencari substansi? Yang paling kelihatan di lapangan adalah pencarian kenikmatan dan perilaku seakan-akan mereka sedang berada di sebuah breeding ground raksasa, seluruh sumber daya yang mereka miliki dipergunakan sebesar-sebesarnya untuk tujuan tersebut. Sekelompok mahasiswa pernah berbincang-bincang di hadapan saya, mereka sepakat untuk menyelesaikan kuliah secepat mungkin agar cepat kerja dan tujuan utamanya, cepat kawin, saya harus sebutkan bahwa mereka serius, tidak ada satupun yang tersenyum.

Setidaknya dorongannya positif.

Di kota tersebut, sex bukanlah hal yang tabu untuk dilakukan, di sebagian tempat, tidak terlalu masalah jika anda adalah pasangan yang belum menikah namun menempati kamar kos yang sama. Jika anda menganggap hal ini aneh dan tidak wajar, maka justru anda yang akan dipandangi seperti orang aneh.

Seperti menjustifikasi kebenaran bahwa tontonan dan budaya luar itu berdampak buruk, hal ini tidak hanya ditemukan pada komunitas mahasiswa yang datang dari kota-kota metropolitan seperti Jakarta (Jakarta, metropolitan?) tapi juga dari kampung-kampung disekitarnya.

Jika anda mendengar logat Jawa medhok dari seseorang pria atau wanita muda, ada kemungkinan kemungkinan si pemuda atau si pemudi itu adalah orang-orang yang masih hijau, tapi tidak pada departemen sex, mereka mungkin naif, tapi mereka punya perbendaharaan jurus lebih banyak daripada anda. Apa salahnya sex, wong asik kog.

Baiklah, tidak salah, tapi manajemennya diperhatikan, jangan ribut ketika menstruasi tidak datang.

Kesalahan dari orang tua dan pendidik adalah pada awalnya mereka lebih memilih untuk menganggap ini sebagai mimpi jahat yang seharusnya tidak mungkin terjadi, tidak mau melihat bahwa hal ini sudah menjadi kebiasaan seperti biasanya kita melihat telepon genggam yang dahulu kita anggap sebagai bisa-bisanya orang yang kebanyakan duit.

Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara orang terdidik dan tidak terdidik, entah seperti apapun ciri-ciri dari orang terdidik tersebut. Bisa terjadi pada orang-orang yang secara malas kita beri label “orang kampung” yang sudah kawin pada umur 15 sampai 17 tahun (setidaknya mereka kawin), orang-orang kota, orang-orang religius, orang-orang sopan, dan sebagainya.

Yang coba saya tanyakan kepada orang muda adalah ini: apakah istilah “tanggung jawab generasi” ada artinya bagi kita? Artinya adalah generasi yang akan datang punya kewajiban untuk menjadi lebih baik secara manusiawi daripada generasi sebelumnya.

Ini tidak ada kaitannya dengan kaya miskin, dan sekolah seperti apa yang bisa diikuti oleh anak-anak kita kelak, karena kenyataannya tidak ada jaminan bahwa seorang anak dari keluarga kaya dan disekolahkan ke sekolah yang mahal akan menjadi individu dengan sisi kemanusiaan yang baik pula.

Ini tentang arti kemanusiaan bagi kita semua. Jika kita menghargai kemanusiaan, berarti kita menghargai rumah produksi dimana manusia tersebut diproses menjadi tubuh dan dilahirkan: rahim ibu! Jika kita tidak bisa mengatur nafsu berarti pemahaman kita akan hal ini kerdil sekali, otomatis akan muncul pertanyaan: orang-orang seperti apa sih orang tua kita?

Untuk masa depan, pikirkan pula, akan menjadi manusia-manusia seperti apa anak-anak kita kelak? Susah kalau sudah kecelakaan, tahu-tahu si anak sudah “mbrojol” di hadapan kita. Akankah anak-anak kita akan menjadi salah satu manusia-manusia yang buta rambu itu? Yang menghalalkan segala cara untuk mensejahterakan dirinya sendiri? Yang sedikitpun tidak punya pengetahuan dasar tentang ekosistem? Yang bahkan untuk menuliskan satu paragraf surat formal saja sulitnya bukan main?

Jika demikian, percumalah segala kebijaksanaan, segala hukum, segala peraturan, segala niat baik, segala bentuk sekolah, segala kurikulum pendidikan, segala ceramah agama, bahkan segala kitab suci.

Dan satu-satunya petunjuk yang akan kita perhatikan adalah: berkembang biak dan penuhilah bumi?

Saya harap riset tekhnologi terraforming dan modifikasi unsur alam cepat selesai.

2 thoughts on “Kesadaran Populasi VS Produksi Bayi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s