Pluralisme dan Kenapa Sebagian Dari Kita Berpendapat Bahwa Wafatnya Abdurrahhman Wahid Merupakan Sebuah Kehilangan.

Preambule.

Dalam sebuah rapat akhir minggu diwaktu yang sudah agak lama, hingga detilnya sudah terlupakan oleh saya (siapa yang suka mengingat detil rapat? Saya bisa mengerti jika para mantan pejabat BI merasa kelabakan dalam tanya jawab dengan pansus), manajer cabang seperti biasa didaulat memberikan pandangan dan wejangannya.

Namanya juga manusia, ada bagian kecil dari pernyataannya yang dianggap kurang sensitif bagi para penganut Hindu yang merupakan mayoritas di kantor tersebut karena kami sedang berada di Bali. Memang sulit mengharapkan sensitifitas dari manusia, karena sensitifitas itu memerlukan energi yang banyak, dan kebanyakan dari kita sudah tidak bisa lagi menyediakan energi itu.

Dan memang sulit mengharapkan sensitifitas dari seseorang yang berkecimpung di dalam jalur bisnis dimana sensitifitas itu bisa dianggap sebagai awal matinya kreatifitas dan berujung pada berkurangnya pendapatan.

Untung di dalam ruangan tersebut, kondisi itu bisa dimengerti, dan orang-orang yang berada di situ mengenali karakter dari si manajer, yang, walaupun ucapannya sering kurang mengena di hati, namun secara keseluruhan adalah orang yang baik. Dan yang paling penting, dibawah kepemimpinannya pendapatan perusahaan secara kumulatif meningkat.

Tidak terelakkan, salah seorang staf saat diberi kesempatan berbicara, menyisipkan “serangan balasan” yang kira-kira berbunyi seperti ini: “… tapi Hindu sudah ada di dunia beribu tahun sebelum Kristen maupun Islam Pak…”

Kami tersenyum, karena pembicaraan dilakukan dengan santun, dengan nada yang sangat hormat (namanya juga kepada atasan), dan saya rasa kami sepakat bahwa itu semua hanyalah intermezo. Karena pada saat makan siang, kami akan duduk bersama. Para pria membicarakan hal-hal mulai dari mobil sampai bola, dan para wanita membicarakan makanan sampai tas.

Tapi saya jadi berpikir, semua orang punya versinya sendiri-sendiri tentang kebenaran. Beruntung bagi umat-umat beragama karena mempunyai kelompok-kelompok yang didalamnya mereka bisa berbagi kebenaran yang mereka percayai. Begitu juga dengan partai politik, kelompok pengusaha, paguyuban adat, atau kelompok gay sekalian.

Saya berandai-andai jika di dalam ruangan rapat itu terdapat 10 orang Kristen fundamental dan 10 orang Islam fundamental, ceritanya akan panjang. Mereka akan meributkan hal-hal dari mulai definisi kebenaran, kaitan konsep waktu dengan konsep kebenaran, dan siapa yang paling benar.

Apakah di ruangan tersebut tidak ada orang Islam? Ada. Protestan? Ada. Katolik? Ada. Budha? Ada. Sayang tidak ada Konghucu, bisa makin ramai.

Apakah orang-orang yang berada di ruangan itu adalah manusia-manusia urban yang telah direcoki ideologi kapitalisme sehingga menganggap agama hanya sebagai gaya hidup dan oleh karena itu tidak terlalu penting apakah diamalkan atau tidak? Kecuali saya, saya rasa yang lainnya tidak demikian. Setidaknya mereka tidak merasa demikian.

Perasaan ini yang berbahaya. Kalau cuma pakai perasaan, semua orang merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar.

Coba kita berandai-andai bahwa sistem sosial budaya manusia tidak sedemikian sebagaimana yang kita kenal sekarang. Bahwa semua dari kira-kira 6 milyar manusia yang ada di bumi ini, tidak saling tergantung satu dengan yang lain secara ideologi, pemikiran ataupun agama (pembedaan ideologi, pemikiran dan agama ini tujuannya agar orang-orang yang agamis tidak mengkritik saya, melelahkan).

Jadi sederhanya bagi 6 milyar manusia itu, ada 6 milyar agama, masing-masing mereka mendapatkan satu wahyu. Dan masing-masing dari 6 milyar manusia itu memiliki kemampuan argumentasi, logika dan pemahaman yang kuat – setidaknya bagi masing-asing dari mereka – untuk mempertahankan kebenaran agamanya.

Pertanyaannya adalah, jika masing-masing dari 6 milyar wahyu tersebut mengharuskan pemeluknya untuk “menyelamatkan jiwa lain,” apa yang akan terjadi?

Menilik dari eksentrisitas manusia, bahkan binatang pun bisa dibuat beragama.

Namanya juga berandai-andai, perbedaan gizi, pendidikan dan prioritas membuat hal ini tidak mungkin terjadi di dunia nyata.

Yang saya inginkan hanyalah ketika saya keluar nongkrong di warung kopi, saya tidak perlu merasa was-was, mengantisipasi kelompok massa yang tiba-tiba keluar, merazia KTP dan kemudian menyuruh saya pulang ngopi ke kampung saya karena saya bukan warga situ.

Saya senang menyusup diantara ramainya konvoi partai berbasis agama, mengambil foto mereka dengan nyaman, berbicara dan tertawa seperti orang gila walaupun mereka tahu saya bukan satu “aliran” dengan mereka.

Saya sangat bahagia berada di antara orang-orang “asing” yang menganggap saya manusia, tidak lebih, tidak kurang. Karena hanya dengan demikianlah, kami “para orang asing” bisa menghormati keberadaan masing-masing.

Saya bukan penyelamat jiwa (bahkan sampai pada tingkat tidak perduli), dan saya berusaha untuk tidak bicara tanpa diminta, dan tidak mendengar tanpa diijinkan. Orang-orang dilingkungan sosial, adat, dan agama saya memutuskan bahwa saya adalah manusia tanpa harapan.

Harapan seperti apa? Mengubah dunia ini persis terkonformasi sesuai dengan apa yang mereka inginkan? Mereka sebut itu harapan? Seorang impulsif yang dianggap gila seperti Hitler saja bisa gagal, tapi tentunya manusia tidak pernah berhenti mencoba.

Salah satu alasan kenapa kapitalisme seakan-akan merajai dunia adalah bahwa kapitalisme bisa memberikan ilusi penguasaan atas kendali kepada siapapun yang ingin menggenggamnya. Dan menurut hemat saya, tidak satupun dari kita yang steril dari pengaruh itu.

Body.

Saya adalah manusia Indonesia berumur 20 tahunan yang lebih memilih mendengarkan Queen, Dream Theater dan Miles Davis, lebih memilih membaca Endo, Soseki, Woolf, Wells, Raslan dan Winchester. Saya adalah sub-produk dari perkawinan antara kapitalisme dan kemuakan terhadap kehidupan superfisial kemanusiaan kita.

Tapi setidaknya ada empat hal individual di Indonesia yang melukai hati saya.

1 Wafatnya Nurcholis Madjid
2 Wafatnya Rendra
3 Wafatnya Abdurrachman Wahid
4 Franz Magnis Suseno sudah tua, sangat tua.

Saya fokus pada nomor 3.

Fokus

“Joke” terakhir Abdurrahman Wahid mungkin adalah “joke” yang paling lucu sekaligus yang paling menyakitkan: dia menolak untuk melewatkan malam tahun baru bersama kita, walaupun mungkin dia memang tidak pernah perduli dengan yang namanya tahun baru, tidak mau repot (dan segala macam mitos dan “tradisi modern,” konsepsi yang dibenarkan dan disalahkan tentang tahun baru. Kegemaran akan festival itu bisa jadi merupakan pembawaan genetis).

Tapi biarlah demikian, sang istri dan anak-anak juga begitu tegar, mereka telah hidup bersama Abdurrahman Wahid, mereka tahu artinya tegar, sebagian dari kami yang ada di jalanan mungkin tidak berhenti berjalan dan terkesan tidak perduli saat berita itu tersiar.

Di jaman interkoneksi nir-kabel ini begitu banyak berita yang beredar di media tentang wafatnya sang mantan presiden yang diperbaharui hanya dalam hitungan menit – powered by BlackBerry, seakan-akan mengirim berita dengan mempergunakan BlackBerry itu adalah sebuah enigma peradaban.

Begitu pula situs-situs jejaring sosial, blog-blog yang telah menghasilkan beribu-ribu byte informasi terkait wafatnya Abdurrahman Wahid, baik yang terkait erat, maupun yang dikait-kaitkan, sebagian selebritis ditanyai, diminta mengutarakan pendapatnya, mengingat jasa-jasanya.

Masyarakat dari kelompok-kelompok agama, kesukuan, terutama Tionghoa menyatakan rasa kehilangan orang yang telah berjasa begitu besar terhadap pluralisme di Indonesia. Sempat ada acara diskusi di televisi membahas tentang Abdurrahman Wahid dibawakan oleh seorang aktor dan sutradara kawakan, dihadiri oleh seorang pemuka agama Katolik, seorang perwakilan dari Nadhatul Ulama, seorang budayawan, dan seorang mantan ajudan dari sang mantan Presiden.

Banyak yang dibicarakan disana, mulai dari Abdurrahman Wahid sebagai sosok yang kontroversial, anti protokoler, apa yang telah dilakukannya bagi Indonesia, apakah ada sosok yang dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkannya, dan masalah masa depan pluralisme.

Pluralisme, istilah yang membuatnya diterima, istilah yang sama yang membuatnya terasing.

Hal ini hanya memberikan bukti tambahan bagi saya untuk berpendapat bahwa beberapa jembatan memang tidak akan pernah bisa dibangun, untuk alasan apapun.

Deviate:

Satu wacana

Satu hari saya berkunjung ke blog salah satu warga negara tetangga yang juga sering mengunjungi Indonesia. Jujur saya tertarik berkunjung pada saat itu karena salah satu tulisannya menyinggung Rin Sakuragi, aktris panas Jepang yang main di salah satu film Indonesia yang katanya “syur.”

Ya, setelah dia menyinggung tulisannya terkait sex di Internet, kami sepakat bahwa saya, menurut statistik, termasuk golongan laki-laki yang isi kepalanya gampang ditebak: paha, dada, dan seputarnya.

Tapi cukup tentang Rin Sakuragi, dan paha, dan dada…

Salah satu tulisannya mengulas tentang kartun yang dimuat di salah satu koran lokal di Australia. Kartun itu menggambarkan seorang polisi yang menggunakan topeng Ku Klux Clan (tidak tahu? di “google” saja) dengan teks box yang berisi kalimat yang kalau diterjemahkan kira-kira begini: “kami akan menyelesaikan masalah ini sesuai dengan ketentuan.”

Kartun itu merupakan suatu bentuk kritik yang disampaikan oleh “negative media” (istilah yang dipergunakan oleh pemilik blog) untuk menyerang kepolisian Australia terkait dengan (tidak memadainya) penanganan atas penganiayaan terhadap warga negara India yang berada di Australia pada saat itu (beritanya cukup hangat beberapa waktu yang lalu).

Si pemilik blog adalah seseorang yang liberal dan juga seorang pengajar yang biasa pulang pergi sana-sini, bisa diketahui dengan mudah lewat tulisan-tulisannya, dia juga jijik dengan rasisme. Pada awalnya saya gagal memperhatikan idenya – perhatian, jangan pernah berkerja sambil membaca blog, anda hanya akan menghasilkan komentar yang membuat si pemilik blog berpikir anda kurang waras – ternyata yang mengganggunya adalah kenyataan bahwa serangan terhadap kemanusiaan datang dari dua arah.

Baik dari orang yang rasis maupun mereka yang mengaku pro-kebebasan dan pro-persamaan. Dia berpikir bahwa kartun itu sempit dalam penggeneralisiran, seorang polisi, ketika dia membuka seragamnya, sesungguhnya adalah warga negara biasa, sama dengan warga negara lainnya. Dengan demikian kartun itu mengusulkan ide bahwa, seluruh rakyat Australia adalah rasist.

Setelah saya teliti kartun itu, memang akhirnya orang yang melihat bisa mengartikan demikian.

Dia menolak kebijakan “sensitif” dari pemerintah, dan mengusulkan bahwa ini adalah kriminal dan harus ditindak sebagaimana seharusnya seorang kriminal di hadapan hukum.

Perhatikan kata “sensitif” itu.

Jaywalk

Kemudian saya berkunjung ke blog seorang warga Malaysia. Si pemilik sering menuliskan (bukan copy-paste) hal-hal yang terkait dengan kehidupan sosial politik di negaranya. Sama dengan satu dua halaman terakhirnya yang terkait dengan kontroversi kata “Allah”, dan pembakaran beberapa gereja yang ada di Malaysia.

Sebagai tipikal warga Indonesia ada beberapa skenario asumsi yang bisa saja muncul di kepala saya.

Pertama, ini adalah blog warga Malaysia, oleh karena itu ini adalah blog maling walaupun seluruh isinya adalah tulisan-tulisan asli yang punya integritas (bahkan pejabat Malaysia pernah berkunjung) dan si pemilik blog tidak pernah mencuri apapun.

Kedua, karena blog ini mempergunakan bahasa Inggris untuk keseluruhan isinya, maka ini adalah blog orang sombong yang bodoh dan tidak berbudaya.

Ketiga, karena dia beberapa kali mengeluarkan surat terbuka, dan yang terakhir berupa ajakan bagi Muslim Malaysia untuk berpikiran logis dan kembali ke Al-Qur’an serta permintaan maaf atas gereja-gereja yang dirusak (bahkan penggalangan dana), maka saya dapat beranggapan bahwa dia adalah seorang provokator yang pengecut.

Tiga asumsi saya yang ada di atas adalah benar dengan persyaratan sebagai berikut:

Pertama, saya tidak pernah berada dalam gelap, dengan demikian tidak bisa menghargai terang.

Kedua, saya tidak pernah tahu betapa mengerikannya rasa kesepian, sehingga saya tidak bisa menghargai kehadiran seorang teman.

Ketiga, saya tidak pernah merasakan derita manusia sehingga tidak tahu nilai kebahagian dari seorang manusia yang “bebas.”

Keempat, sejarah tidak ada artinya bagi saya.

Kelima, Saya tidak pernah berusaha untuk keluar dari diri saya dan meraih perspektif, atas segala masa kehadiran manusia di jagad ini, saya tidak pernah memperoleh pengalaman dan pelajaran mengenai apapun.

Sayangnya, saya tidak memenuhi keseluruhan persyaratan tersebut, dan saya menolak masuk dalam tipikalitas, jadi asumsi saya terhadap pemilik blog tersebut tidak demikian.

Menurut si pemilik blog penggalangan dana yang dia lakukan bersama-sama dengan para pembacanya adalah untuk disumbangkan bagi perbaikan gereja. Ini bukan sebagai tanda bahwa mereka mau beramai-ramai mengkonversi diri menjadi Kristen, tidak sama sekali, tapi karena mereka tahu implikasi kemanusiaan dari kejadian ini.

Kemudian mereka juga mengusulkan kepada pemerintah Malaysia dan Kepolisian Diraja Malaysia agar kejadian tersebut dianggap sebagai tindakan kriminal murni dan memproses pelakunya sesuai dengan hukum yang berlaku serta menghentikan omong kosong politik “sensitif” yang dipakai oleh pemerintah Malaysia untuk menjustifikasi kelambanan dan ketidakjelasan mereka dalam menangani kasus tersebut.

Kata yang sama dengan kasus Australia: “sensitif.”

Ada berapa banyak kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Indonesia dan hilang ditelan pseudo-kebijakan “sensitif”? Para warga negara tetangga kita menolak penggunaan istilah tersebut.

Back On Track (sort of…)

Ada beberapa catatan hasil dari kunjungan terhadap dua blog “milik” warga negara tetangga tersebut.

Pertama, kesamaan persepsi dari warga dari ketiga negara, Indonesia, Malaysia, Australia, bahwa sebagian jika tidak mau dibilang keseluruhan personil pemerintahan di negara masing-masing adalah badut.

Kedua, kesamaan persepsi dari warga dari ketiga negara, Indonesia, Malaysia, Australia, bahwa sebagian personil kepolisian di negara masing-masing adalah badut.

Ketiga, “sensitif” itu bisa berakibat buruk dalam kehidupan berkebangsaan dalam suatu negara yang berisi manusia dengan latar belakang yang beraneka ragam. Perbedaan itu harus diterima sebagai kenyataan dan segala tindakan harus didasarkan atas kenyataan tersebut.

Keempat, ternyata, diluar kepercayaan sebagian umat beragama bahwa kebenaran itu berada di tangan Tuhan, tindakan mereka mengimplikasikan bahwa kebenaran itu ada ditangan manusia.

Kelima, segala ribut-ribut manusia di Bumi ini seakan-akan mengimplikasikan bahwa Bumi tidak cukup untuk kita semua, sebagian dari kita harus pindah ke Venus dan menamakannya planet Protestan, sebagian harus pindah ke Mars dan menamakannya planet Islam, sebagian harus pindah ke Saturnus dan menamakannya planet Katolik, dan sambil mereka pindah mereka akan mengkonversi warga lokal planet-planet tersebut (kalau ada) menjadi Protestan, Islam atau Katolik, sebagian harus pindah ke Neptunus dan menamakannya planet Hispanik, orang-orang yang merasa Eropa harus pindah ke Europa salah satu satelit dari Jupiter. Lihat, bahkan Bima Sakti pun tidak cukup, bagaimana dengan planet Budha, planet Hindu, planet Melayu, planet Oriental, Planet Jawa, India, Aborigin? Dan apakah itu berarti manusia tidak akan berkonflik lagi sesama mereka?

Keenam, ada fakta baru yang mengejutkan! Ternyata Malaysia itu diisi oleh beraneka ragam manusia dengan beraneka ragam pemikiran, begitu pula Australia. Sedikit hasil survey untuk usaha “ganyang Malaysia.”

Ketujuh, berbeda? Berarti salah satu dari kita harus menderita. Ini bukan seperti jargon-jargon perdamaian yang terkadang terlalu imajinatif itu, ini fakta.

Kedelapan, segala insiden kemanusiaan yang terkait dengan keberagaman bukanlah kisah romansa yang secara eksklusif hanya dialami oleh Indonesia. Eropa yang sering mengklaim diri sebagai benteng peradaban punya masalah dengan perlakuan mereka terhadap imigran, begitu pula dengan benua-benua dan negara-negara lain di Bumi, Thailand, Arab Saudi, Philipina, daftar yang tidak ada habisnya. Ini memberikan satu gambaran tipikal, tiap-tiap manusia mencari iblisnya masing-masing. Bahkan saat iblis itu mereka anggap habis, mereka beralih ke sesama manusia sebagai iblis baru, supaya energinya “nggak” nganggur.

Kesembilan, foto-foto syur Rin Sakuragi bisa dicari di Google dengan mengetikkan “rin sakuragi+images” di kotak pencarian, juga cuplikan film panas… maksud saya, film Indonesia yang dibintanginya.

Closing Remark

Sebenarnya pada masa-masa akhir hidupnya Abdurrahman Wahid hampir terlupakan, tidak banyak yang diliput media mengenai dirinya kecuali fakta bahwa dia sakit.

Itupun sama sekali tidak penting jika dibandingkan dengan semua skandal moral yang merebut perhatian kita semua dari nasib rakyat, nasib “diri” sendiri. Kematiannya adalah satu-satunya berita diantara semua berisik sensasi.

Kematian Abdurrahman Wahid akan membuat para humanis dan pluralis yang jumlahnya sedikit itu kesepian, dan bukan tidak mungkin, setelah diserang dari berbagai arah, melemah dan mati (setidaknya pada pluralisme semu versi Indonesia).

Sebenarnya saya tidak terlalu perduli apakah dia akhirnya dijadikan seorang pahlawan nasional atau tidak, untuk ukuran Indonesia sama sekali tidak penting, kita tahu bagaimana perlakuan bangsa ini terhadap para pahlawannya.

Yang menarik untuk diperhatikan adalah atribut-atribut lain yang dilekatkan pada Abdurrahman Wahid antara lain, bapak pluralisme, pelindung rakyat kecil, pelindung orang-orang yang termarjinalkan, pemimpin yang merakyat, pengkhianat, zionis, si buta dari goa hantu, mbeling, dajjal, dan sebagainya.

Ini adalah indikasi bahwa ada banyak perspektif di luar sana, dari mulai kelas bulu sampai kelas berat. Adanya dua perspektif yang berseberangan saja sudah bisa berakhir dengan kekacauan dan kematian, sedangkan yang kita bicarakan disini adalah “banyak”

Abdurrahman Wahid telah melalui banyak hal dalam hidupnya, baik dan buruk, dalam dunia yang tak kenal ampun, mau tidak mau dia harus repot.

Jadi, siapa yang mau mengisi “kekosongan” yang ditinggalkan oleh Abdurrahman Wahid? Ini bukan lowongan pekerjaan, tidak bergaji, dan ada kemungkinan mati tersiksa. Dalam dunia materi yang kita percayai sebagai kenyataan ini (mulut kita bisa berkata sebaliknya, tapi laku kita berfakta demikian) siapa yang mau bertindak untuk kemanusiaan?

6 thoughts on “Pluralisme dan Kenapa Sebagian Dari Kita Berpendapat Bahwa Wafatnya Abdurrahhman Wahid Merupakan Sebuah Kehilangan.

  1. assalamualaikum

    perkenalkan saya adalah salah satu dari sekian banyak pendukung gus dur, lewat media ini saya berharap mohon jangan sebut gusdur sebagai Bapak Pluralisme karena sebutan itu sama saja melecehkan beliau sebagai Bapak Faham Haram karna kami sadari dan pahami bahwa pluralisme itu haram dan diharamkan sebagaimana yang pernah difatwakan guru guru kami di mui
    terima kasih

    • maaf jika ada bagian dari tulisan saya yang tidak berkenan, tapi penyebutan gusdur sebagai bapak pluralisme bukanlah milik saya, dan saya rasa saya tidak punya hak untuk mempunyai pendapat pribadi seperti itu. Pada hari-hari setelah wafatnya gusdur, istilah tersebut banyak bermunculan di media masa cetak, dan bahkan di televisi.

      Sama dengan istilah-istilah lain dalam tulisan ini yang dipergunakan untuk menggambarkan gusdur, merupakan istilah yang dilahirkan oleh pihak lain, salah satunya adalah Ustad Abu Bakar Ba’asyir.

      Tulisan ini adalah untuk menggambarkan respon dari masyarakat yang mengaku dari latar belakang yang beragam saat wafatnya gusdur.

      Jika pluralisme merupakan sesuatu yang diharamkan, maka segala belasungkawa dan doa bersama berbagai umat beragama yang terjadi kemarin nyata-nyata merupakan suatu kesalahan yang didasari ketidakpahaman akan kebenaran yang seharusnya.

      Setidaknya hal itu sudah menjadi jelas bagi saya.

      Terima kasih atas penjelasannya.

    • bagi saya ini adalah opini pribadi, reaksi, cara saya melihat situasi yang berkembang di depan asumsi saya, bukan sesuatu yang bisa saya sodorkan sebagai kebenaran pada tiap orang.

      kalau masalah “tajam”, saya tahu isu seperti ini cukup sensitif, tapi saya belum tahu secara “pasti” bagaimana orang akan bereaksi terhadap cara berpikir saya, karena seperti anda lihat hampir tidak ada komentar terhadap tulisan ini. Diluar satu komentar dari Jalaludin Ahmad diatas.

      kalaupun ada yang membaca keseluruhan tulisan ini mungkin akan memilih untuk tidak memperdulikan karena menganggap sifat tulisan ini hanyalah iseng atau mbeling.

      mungkin masih ada hubungannya dengan istilah “pluralisme” itu, mungkin yang lain? Saya tunggu masukannya.

  2. sebelum ada ada agama kita adalah sama- sama manusia,
    klo agama tidak mau dianggap gagal dalam tujuannya (menjadikan dunia tidak kacau)
    saya kira agama harus mengakui ke-berada-an yang lain menjadi suatu kebersamaan, bukan menjadikan perbedaan menjadi penghalang kebersamaan.

    • pada awalnya tulisan ini adalah semacam “tribut ikut-ikutan” mengikuti tren konten seputar wafatnya Gus Dur (perhatikan, saya selalu memakai “Abdurrahman Wahid” ketimbang “Gus Dur”, karena memang ada yang berpendapat Abdurrahman Wahid tidak layak dipanggil Gus Dur)

      namun lagi-lagi saya diyakinkan bahwa saya terlalu naif… bahkan secara genetis manusia tidak mengenal kebersamaan. Asumsi saya: yang kita kira sebagai ciri-ciri pembawa sifat kebersamaan itu hanya mekanisme pertahanan dan pelestarian diri.

      sebagian dari kita bisa jadi percaya dengan asumsi diatas, tapi mengubah frasenya agar mendapatkan efek yang menguntungkan.

      sekarang saya lebih memilih untuk duduk dipinggir jalan, ngopi, dan biarkan manusia-manusia lewat dengan gaya-gaya lucunya…

      biarkan saja…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s