Scum of The Earth

Terbangun, sebuah mimpi merenggut sebagian kewarasannya. Kini melayang disekeliling kamarnya. Kini jam 1 malam. Terbaring, tiba-tiba terenggut akan kemampuannya bergerak, nafas yang bertabrakan langsung dengan tembok, satu persatu ketakutannya menghalau pandangannya. Ditangannya sebuah kepala manusia menentang matanya. Reflek dan perasaan muak yang mendalam, dilemparkannya kepala tersebut kehadapannya, memantul ke tembok, jatuh ke lantai membelakanginya. Dipandanginya kepala tersebut lekat-lekat, ketakutan telah menutup segala kemungkinan atas segala pergerakan baginya. Hanya menatap bagian belakang kepala tersebut, menanti maut. Dari balik rambut yang bersimbah darah tersebut, sebuah mata menyeruak, menatapnya penuh kemarahan dan kesedihan. Teramat sangat, teramat sangat. Maut berada jauh diujung dunia. Disini ada pembunuh dari luar taman Tuhan.

Sote, kemanakah kau akan pergi jika matamu mencoba membunuhmu. Tidak seorangpun temanmu yang dapat melihat apa yang kau lihat. Disaat dia meringkuk, gelap, hitam, memandangimu, tepat dihadapanmu, mereka hanya mentertawai hatimu. Seorang wanita pernah tersenyum padamu dari balik jendelanya jauh dari belakang pagar pualam yang bertahun-tahun telah kesepian. Wanita yang kurus, lemah, sayu, namun tidak lusuh seakan waktu tak berlaku. Dia tersenyum memandangimu. Saat itu kau tahu dia adalah teman bagi setan yang menempel di pundakmu, bergelantung di lehermu, membalas senyum dari si wanita sayu.

Bunuh! Mereka telah merenggut hari-harimu. Tapi kau tahu bahwa mereka adalah bagian dari dirimu. Kau tak ada tanpa mereka, namun mereka akan selalu ada bagi jiwa lain, di lain hari, di lain waktu. Hantu-hantu yang menanti di sebuah pojok, bersembunyi dibalik bayanganmu terhadap cahaya lilin, saat manusia bercerita tentang khayalannya.

Bau busuk dan anyir darah mengambil alih, saat kau menutup mata, kau tahu. Tangannya akan menarikmu keluar dari segala pengetahuan. Saat Tuhan mencarimu di penghujung masa, mereka akan menjawab: dia tak pernah ada.

Para bangsat! Sudah berapa galon darahmu mereka hisap? Dan mereka memfitnahmu dihadapan Tuhan? Kau bernafas dan memakan dosa tiap detik dalam hidupmu, namun ketiadaan adalah nista terbesar bagi ciptaan. Atas dosamu, akankah Tuhan mencarimu saat kau terduduk meringkuk, menangis di dasar palung? Kau tertutup, dan mereka menguburmu, genaplah segala kesia-siaanmu, dan segala pertanyaan yang ingin kau tanyakan hangus menjadi abu yang meracuni kuburmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s