Homo Sophisticantus Erectus

Aku adalah dosa yang menjijikkan, ketika aku, kau, kita melihat keluar dari balik kaca aquarium yang diterangi berbagai jenis lampu. Apa kau tahu siapa yang berada di luar dan siapa yang berada di dalam? Tidakkah kau pikir semua lampu saat ini sudah terlampau terang sehingga manusia tidak bisa lagi melihat wajah sesamanya? Kalau memang pernah ada yang namanya sesama. – blackenedgreen –

“orang-orang seperti Kucrit ini adalah kesalahan, hasil… bukan… limbah dari kebodohan. Tikus-tikus pengerat itu bisa dimaafkan, karena mereka tidak bisa berpikir, makanya mereka buat anak semaunya. Aku berpikir bahwa saat ini jumlah manusia lebih banyak daripada jumlah tikus, dan jumlah itu terus berlipat ganda.”

Pak Adi SH. LLM mengerti dan paham betul mengenai konsep sesama, baginya arti sesama adalah kolega, “civitas akademika,” dan semua orang yang sepikiran dengannya, diluar itu semua adalah objek pemikiran, dan jiwa-jiwa aneh tanpa tujuan. Dia selalu kasihan dengan orang-orang seperti Kucrit. Kucrit adalah orang yang “termarjinalkan,” yang terlindas oleh jaman, kepentingan dan kekuasaan orang-orang besar. Kucrit adalah sampel.

Dengan gaya nyentrik dia ngomong panjang lebar mengenai populasi, kebodohan, dan kemiskinan dengan para koleganya. Dua baru pulang dari Jerman dan satu dari Australia, sesama cerdik cendikiawan yang disokong oleh yayasan yang mendirikan lembaga pendidikan untuk memeras uang dari para mahasiswa yang notabene anak-anak bangsa.

Dia menceritakan tentang Kucrit-nya, Paimin-nya, Totok-nya, Ucok-nya, Ujang-nya, Tumirah-nya, Nana-nya. Koleganya mendengar dan menimpali, sesekali tersenyum dan tertawa. Gaya senyum dan tawa cerdik cendikiawan berbeda, lebih elegan, lebih berwibawa, lebih bijaksana. Sangat ekspresif, namun kosong makna. Itu semua, Pak Adi SH. LLM dan pembicaraannya, adalah intermezo bagi para teman yang matanya tidak pernah lepas dari besar kecil LCD. Semua “gadget” terbaru dengan fungsi tumpang tindih, sebagaimana hidup manusia masa kini, membuat lubang di jiwa sendiri agar bisa menjual plastik berbentuk hati.

Orang-orang disekeliling mereka memandang dengan tatapan mata kagum, sebagian takjub. Pak Adi SH LLM melanjutkan omongannya dengan suara yang lebih gahar. “Saya kasihan melihat Kucrit, yah bagaimanalah, kalau ‘conscience’ sudah bicara. Saya kasih dia lima ‘jeti’ buat modal usaha. Dia berterima kasih sampai sembah-sembah. Untung saya kenal sama hakimnya, jadi sekalian saya ‘handle’ saja. Masak sih cuma gara-gara mencuri pompa tangan, tabung minyak tanah, dan gerobak uzur milik teman sekampungnya, dia harus sekolah di penjara?” Teman-temannya tertawa, mata tak pernah lepas dari besar kecil LCD di tangan mereka.

5 thoughts on “Homo Sophisticantus Erectus

  1. Dasar orang melarat! Kalo gak punya modal, jual diri. Dikasi modal, eee… cuman jual pulsa! Mbok ya bikin usaha yang lain gitu kek! *cerdik cendawan iri dengki karena Pak Adi bukannya modalin dia malah modalin si Kucrit*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s