Pop, Media, Sosialita, Selebritis dan Luna Maya

Pt. 1

Dulu saya punya asumsi bahwa media-media utama nasional mulai bertingkah aneh-aneh (melupakan fakta bahwa sikap eksentrik media itu sudah ada sejak mereka lahir). Tapi siapa yang percaya dengan seorang siswa muda ? Orang bilang kesombongan, rasa paling benar sendiri dan idealisme adalah kemewahan yang hanya dimiliki oleh kaum muda… kalau begitu semua manusia adalah pemuda…

Waktu SMA sampai kuliah saya sering mengekspos diri saya terhadap media-media luar, baik televisi maupun media cetak. Salah satu motifnya, saya akui, adalah kenaifan manusia yang baru belajar mengenai peradaban, bahwa kontak dengan media-media utama dari luar tersebut akan memberikan image bahwa saya adalah seorang pemuda yang “sophisticated” canggih, layak berada di garis depan kemajuan dan modernitas, layak menyebut diri sebagai warga dunia.

Sampai akhirnya saya dapatkan bahwa istilah “warga dunia” mempunyai arti yang lebih dari sekedar kemampuan untuk berkomunikasi dengan manusia-manusia di belahan bumi lain, lebih dari sekedar “canggih” atau “keren” tapi ini juga masalah tanggung jawab, adanya ruang di hati untuk diberikan pada manusia lain, adanya ruang di pikiran untuk diberikan kepada manusia lain.

Kenaifan itu pun memasuki tahap baru ketika saya cukup mampu untuk memahami informasi bahwa bahkan media-media utama dunia pun dirundung kelemahan, bahkan kesalahan-kesalahan yang “menjijikkan.” Banyak sekali contohnya, dari mulai tentang profesi-profesi masa depan, dimana mereka dengan bodohnya menempatkan “ayah” sebagai “profesi” yang kemungkinan akan kekurangan peminat dimasa depan, sampai karya-karya jurnalisme yang sarat dengan pendapat pribadi.

Masing-masing dari mereka telah mendapat bagian yang sama dari caci maki pemirsanya, dan dengan gaya elegan korporasi, terkadang mereka meminta maaf karena terkesan telah membodohi pembaca atau pemirsanya.

Media berusaha memetakan pemirsanya dari mulai “kalangan intelektual” sampai dengan bagian dari masyarakat yang memenuhi syarat tertentu untuk disebut sebagai “sosialita.” Semuanya temporal, karena tiap-tiap manusia yang terdidik dan mempunyai nurani akan berproses untuk menemukan esensi. Yang terbaik yang bisa dilakukan media-media massa yang terfokus pada segmentasi adalah memanfaatkan “kesementaraan.”

Tidak ada individu yang secara spesifik sama. Pembaca National Geographic bukan hanya orang-orang lusuh dengan kulit terbakar matahari dengan jenggot kotor dan kacamata John Lennon. Majalah itu adalah salah satu sumber keuangan bagi keluarga besar National Geographic, terkadang mereka harus membuatnya kelihatan seperti tabloid (kasus sampul dengan wanita menggunakan bikini kerang yang dikritik habis-habisan oleh pembaca).

Tiap pembaca adalah manusia yang berbeda. Media massa kita sayangnya bertindak sebaliknya. Pada awalnya saya kira itu adalah cerminan ketidakmampuan, tapi semakin kesini semakin terlihat bahwa itu semua adalah kesengajaan. Mereka mengelompokkan manusia kedalam konformitas semu, dan mereka melakukannya dengan sengaja.

Pt. 2

Kompas Sabtu 26 Desember 2009 pada sebuah kolom di halaman depannya memberikan sedikit “icip-icip” dari apa yang akan pembaca temui pada Kompas Minggu. Ada foto luna maya disana dengan sedikit ulasan tentang budaya urban, selebritas dan sosialita. Saya bukanlah pengagum berat Kompas (ataupun Luna Maya) walaupun bagi sebagian besar masyarakat kita selalu ada anggapan bahwa Kompas itulah berita, jika anda belum baca Kompas maka betapa terbelakangnya anda, dan kasihanlah situasi anda dalam pergaulan kerja, ekonomi, politik, sosial budaya dan sebagainya.

Saya pernah mempunyai pandangan yang sama terhadap Kompas… waktu SMP dan SMA, semua orang “dewasa” disekeliling saya memberikan gambaran bahwa membaca kompas adalah suatu pertanda bahwa kita adalah bagian dari masyarakat intelektual dan beradab. Tapi kemudian saya tidak seantusias itu, bahkan ada waktu-waktu dimana saya sama sekali tidak perduli.

Namun jika Kompas dibandingkan dengan beberapa media cetak nasional lainnya? Pertanyaan ini membuat saya membeli Kompas Minggu untuk mengetahui bagaimana sudut pandang Kompas terhadap ribut-ribut selebritas ini?

Artikel dihalaman muka itu disebut sebagai laporan akhir tahun, dengan embel-embel “Desk Nonberita” apapun artinya itu. Judulnya: “Tumbal Kebudayaan Bernama Sosialita.” Oh ya, ada foto Luna yang cukup besar disana untuk koleksi.

Tapi ada hal-hal yang mengganggu saya:

1. Penggunaan istilah “sosialita” yang diartikan sebagai “anggota masyarakat modern.” Apakah berarti masyarakat modern itu adalah “sosialita” dan dari batasan pengertian yang sederhana itu, semua yang ada diluar sosialita bukanlah masyarakat modern? Ada banyak arti kata modern dalam berbagai kamus, tidak ada satupun yang mengena dengan pengejawantahan sosialita yang diberikan Kompas. Bukannya sosialita itu secara spesifik adalah orang yang penting secara sosial, atau orang yang terkenal di lingkungan masyarakat yang kaya, terkenal, atau glamour? Dan bahwa ada unsur majemuk dalam pengertian “masyarakat modern”?

2. Quote: ” – sebagaimana industri gaya hidup itu sendiri dan dunia konsumsi berikut semua efek-efeknya – mereka dipandang dengan skeptis meski diam-diam dimaui.”
Dan siapakah yang berperan paling besar dalam menciptakan efek ini? Jujur saja, apakah akhir-akhir ini tersedia cukup pilihan dan informasi atas akal sehat yang bisa dipergunakan masyarakat untuk memilih apa yang mereka maui?

Bukan hanya diam-diam dimaui, tapi juga di “covet” sudah terang-terangan menjadi hasrat dan ini merupakan bagian dari hasil pengkondisian oleh pihak-pihak yang merasa tahu mengenai masyarakat, dan dengan demikian mendikte apa yang mereka mau (pendikte tidak pernah merasa mendikte, salah satu hal yang saya dapatkan dari para sosialita).

3. Quote: ” Dalam kriteria kebudayaan, apa yang berbau massa, apalagi kemudian diindustrialisasikan akan dianggap sebagai sesuatu yang remeh temeh, trivial.”
Apa benar demikian? Kriteria Kebudayaan yang mana yang dimaksudkan disini? Apa maksud “berbau massa?” Setiap orang yang merasa dirinya penting di bumi selalu mempunyai perspektif terhadap segala hal yang “berbau massa” meskipun hal “berbau massa” disini adalah yang bersifat trivial sekalipun.

4. Quote: “Apa yang tidak remeh temeh, yang agung, yang adiluhur?”
Ini pertanyaan retorika? Bagaimana dengan “conviction” (milik anda dan milik saya), bagaimana dengan kemanusiaan, budaya? Sedikit pengetahuan tentang antropologi? Memotong kuku nenek?

5. Apa masalahnya dengan meremehkan dunia konsumsi? Jika dalam dunia konsumsi memang tidak ada potensi untuk menurunkan nilai manusia dan kemanusiaan, maka bisa disalahkan jika seseorang meremehkan dunia konsumsi. Tapi kenyataannya demikian, terlalu banyak contoh dimana kemanusiaan tidak lebih dari sekedar komoditi dalam dunia konsumsi, apakah ini bukan alasan yang cukup untuk meremehkan dunia konsumsi?

Lagipula, bukannya satu-satunya hal yang kita miliki di dunia ini hanyalah tumpukan paradoks? Saya sesungguhnya tidak berani mengkritik dunia konsumsi karena itu adalah kebenaran manusia, tapi adakah seorang manusia di dunia ini yang selalu benar?

6. Selain aspek “consumable” ada juga aspek “accessible” dibalik penyatuan istilah “high art” dan “low art” yang ada dalam artikel tersebut. Dan saya gagal menemukan alasan untuk berterimakasih kepada “sosialita” atas penyatuan tersebut dan segala efeknya. Dan kenapa saya lebih suka menggunakan istilah “fine art” dan “pop art”?

7. Ayu Azhari menyatakan turun ke panggung politik, kita lihat seberapa besar kehadiran selebriti ini akan menentukan “proses” dan “dinamika” politik Indonesia. Atau kita bisa mengatakan bahwa orang-orang yang menilai bahwa situasi ini terjadi karena kegagalan kaderisasi partai adalah orang-orang pandir.

8. Sebenarnya, secara substantif, apa peran sosialita, selain sebagai pendukung? Apakah peran itu nyata atau semu? Seorang mantan kontestan putri Indonesia yang akan menjadi dokter penuh, bicara tentang keinginannya untuk mengabdi di Kalimantan, sambil makan puding mangga di salah satu gerai di mall? Baiklah dia masuk kategori sosialita, tapi apa perannya lebih besar bagi “sejarah” dan “kebudayaan” bangsa dibanding seorang dokter wanita, hitam dan kecil, yang selalu mengomeli tenaga penjual obat karena coba-coba “main harga” yang selalu mendapat “hantaran” ayam, pisang, mandau, perisai dan telur sebagai ganti biaya berobat, yang “dibuang” ke pelosok Kalimantan Barat, menyaksikan potongan-potongan kepala manusia dipamerkan diatas pasak-pasak didepan pasar rakyat, dan mempertaruhkan nyawanya untuk mengeluarkan staf puskesmas, dan menyelamatkan nyawa pembantu rumah tangganya yang menjadi sasaran pembunuhan dalam kerusuhan etnis.

Tentu dia bukan sosialita, tapi apa perannya tidak sesiknifikan para sosialita? Apa dia bukan manusia modern? Apa pembantunya bukan manusia modern? Apa masyarakat yang menjadi pembunuh dalam kerusuhan antar etnis itu bukan manusia modern? Berarti mereka sosialita?

9. Apakah batasan pengertian “sok serius?” sementara keseluruhan artikel sepertinya dimaksudkan untuk membunuh “serius” serius yang mana? Yang ada kaitannya dengan usaha untuk mengkesampingkan sosialita dari statusnya sebagai “creme de la creme” dinamika sejarah dan budaya?

10. Galeri seni kontemporer di Jakarta dikelilingi para sosialita? Apa pengaruh galeri-galeri seni tersebut terhadap “dinamika” berkesenian di seluruh Indonesia sedemikan besar, sehingga akan menjadi salah satu pendorong urbanisme? Pelukis termahal Indonesia saat ini, karya-karyanya ditolak di galeri seni, dan dia cenderung bersikap pasif terhadap galeri.

11. Dengan segala hormat, dalam skala tertentu menteri kebudayaan memang tidak berguna, dan saya lebih bebas menyatakan apa yang tersirat di dalam media blog yang lebih mirip warung kopi daripada koran nasional yang lebih mirip mall.

12. Bukankah budaya pop adalah nilai yang datang dari iklan, industri hiburan, media, ikon mode, dan ditujukan kepada orang-orang biasa dalam masyarakat? Kenapa seakan-akan semuanya berasal dari sosialita dan hanya berkutat di seputar sosialita? Banyak orang yang bermain di budaya pop. Budaya pop sendiri meramaikan Amerika mulai tahun 1960-an, para pengamat dari Eropa tidak pernah beranggapan bahwa itu trivial, karena hal itu berpengaruh kapada budaya Amerika secara keseluruhan. Sekarang Amerika menerima budaya pop sebagai “salah satu” unsur yang memperkaya kebudayaan mereka secara keseluruhan. Indonesia hanya mendaur ulang asap knalpot dalam hal ini… go figure.

13. Tidak ada manusia yang tidak munafik, dan itu hanya bisa diringankan dengan kemampuan otokritik. Saya tidak menyatakan secara eksklusif bahwa sosialita adalah hal yang absurd dan kemudian menolak keberadaan sosialita, menolak istilah sosialita, dan menolak pengelompokkan bagian dari masyarakat sebagai sosialita. Dalam kondisi tertentu saya tergoda untuk mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada pada jangkauan indera saya adalah absurd.

Baiklah jika para sosialita beredar diluar sana dan Kompas memberikan ruang untuk memberitahukan kepada Masyarakat yang “gullible” karena mereka bukan sosialita yang “sophisticated” bahwa ada loh kelompok orang seperti ini. Saya tidak akan pernah menyatakan bahwa ini adalah “kekenesan” tapi saya mempertanyakan motif Kompas atas artikel seperti ini.

14. Setiap kebudayaan membutuhkan tumbal? Benar! Tumbal kebudayaan kontemporer adalah sosialita? Bahkan orang-orang pada abad pertengahan menganggap diri mereka manusia kontemporer. Tumbal kebudayaan adalah manusia dan kemanusiannya, bukan sosialita.

15. Apa maksud dari artikel ini? Apakah Kompas terlupa akan kamera dan buku catatan jurnalisnya, mengeluarkan BlackBerry dan mendaftarkan diri menjadi pendukung Luna Maya dalam ranah Facebook? Apakah artikel ini adalah bagian dari euforia tersebut?

Overhyped!

Tulisan ini lebih cocok dikategorikan sebagai opini atau sejenis dengan apa yang ditulis oleh Samuel Mulya tiap Minggu. Akan lebih masuk akal membacanya dalam kapasitas seperti itu.

Sebenarnya ini adalah kerisauan dari seorang pembaca yang menyadari, setelah membaca artikel tersebut ternyata dia bukanlah manusia modern karena dia bukan sosialita, karena dia tidak punya keluarga seorang sutradara film terkenal atau suami pemain musik terkenal dan karena itu tidak ada hal berarti yang bisa disumbangkannya kepada “dinamika” sejarah dan kebudayaan.

Dan bahwa mencari sesuatu yang substantif dan adiluhung serta bersikap serius itu adalah munafik dan tidak produktif.

Satu hal: Sejarah tidak dirawat hanya oleh manusia-manusia optimis, tetapi juga oleh para skeptis, terkadang ribuan manusia mati dalam prosesnya, apakah mereka tidak mempunyai peran karena mereka mati dan tidak dikenal? Untung manusia modern sekarang punya Facebook sehingga mereka tidak harus mati untuk menyampaikan maksud mereka.

It takes two to tango, the socialites can’t dance alone.

Kemana Kompas akan membawa pembaca dengan tulisan-tulisan seperti ini? Atau saya yang kurang pencerahan dan tidak mengerti arti “Amanat Hati Nurani Rakyat”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s