Ulasan Pidato Ketua MPR Pada Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Salah satu sesi dari keseluruhan acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih adalah pidato dari ketua MPR Republik Indonesia. Saya tidak tahu dengan anda, tapi saya rasa kita punya masalah.

Isi pidato itu secara umum cukup baik, tidak hebat. Si penyusun atau kelompok penyusunnya tentunya adalah orang-orang yang cukup cakap, ditambah lagi dengan demam Obama yang sedikit banyak mempengaruhi cara kata-kata di dalam pidato tersebut disampaikan.

Saya menyinggung “penyusun” atau “kelompok penyusun” karena menurut asumsi saya, berdasarkan hasil pengamatan terhadap karakter sang Ketua MPR selama ini dan dibandingkan dengan isi dari pidato tersebut, sulit untuk percaya bahwa sang Ketua MPR mampu menulis pidato seperti yang dibacakannya kemarin. Setidaknya tidak secara keseluruhan.

Terakhir kali saya melihat sang Ketua MPR berbicara di depan kamera secara langsung adalah saat dia mengunjungi kota Padang, dia membicarakan sesuatu tentang anggota MPR yang telah mengumpulkan uang sekian juta (terlalu sedikit untuk sumbangan anggota MPR). Tapi selebihnya saya tidak bisa menangkap kata-katanya, dan saya tidak tahu apakah kata-kata tersebut punya arti. Tapi mungkin itu karena dia tersentuh dengan kejadian di lokasi bencana sehingga dia tidak bisa berkata-kata dengan layak.

Tapi mau tidak mau kemungkinan itu adalah kemungkinan yang salah. Jika mengingat cara sang Ketua MPR berbicara selama ini (rapat partai, sidang majelis, media massa) sepertinya hanya sampai disitulah batasan kemampuannya untuk mengartikulasikan perbendaharaan Bahasa Indonesianya menjadi susunan kata-kata yang, tidak perlu efektif, tapi setidaknya tersusun dan berarti.

Ada beberapa komentar oleh dosen-dosen, pengamat dan praktisi politik di media elektronik, yang menyatakan bahwa kesalahan-kesalahan tersebut adalah lumrah mengingat sang Ketua MPR sudah tua dan menderita penyakit jantung (dan beberapa penyakit lain), dan dengan kondisi demikian penampilannya kemarin malah bisa dikategorikan hebat. Yang lebih berbahaya ada sebagian komentator yang menyatakan bahwa kesalahan-kesalahan dalam pembacaan pidato tersebut adalah kesalahan-kesalahan yang wajar.

Komentar-komentar di atas menjadi sebuah konfirmasi dari kecurigaan saya selama ini: jika demikian standarnya, maka preman di pasar tengah yang tidak lulus SD sekalipun bisa menjadi ketua MPR, jika dia mampu mengumpulkan cukup banyak energi politik dan cukup licin untuk bisa memanfaatkan setiap kesempatan.

Sakit memang bisa menghalangi seseorang untuk membaca dengan baik, tapi sakit tidak akan pernah mengahalangi seseorang (yang memang bisa membaca) untuk bisa membaca secara benar.

Dalam jarak sedemikian, microphone yang ada di hadapan sang Ketua MPR cukup sensitif untuk menangkap nafasnya, dan saya tidak mendengar bahwa dia terengah-engah, dari senyum sumringah dan ekspresi wajahnya semua orang bisa melihat bahwa sakitnya tidak menyerangnya saat itu. Sang Ketua MPR mempunyai dana yang sangat cukup untuk mempertahankan kondisi kesehatannya jika dibandingkan dengan seorang kakek tua penyakitan (selalu batuk-batuk) di kampung di belakang rumah saya, tapi bahasa kakek itu jauh lebih prima dari sang Ketua MPR, baik baca, bicara, pantun, soneta dan sebagainya.

Ada pengamat yang mengeluhkan bahwa pidato tersebut terlalu panjang… pada sebuah acara pelantikan Presiden dari sebuah negara, entah bagaimana seorang pengamat bisa mengatakan bahwa pidato tersebut terlalu panjang.

Sang ketua MPR bukan saja gagal untuk membaca pidato secara baik, dia juga gagal membaca dengan benar. Banyak kata-kata yang gagal terbentuk di mulutnya, seakan-akan dia belum pernah mendengar kata-kata tersebut sebelumnya, dan itu bukan karena usia atau penyakit, tapi karena dia memang tidak terbiasa dengan kata-kata itu dan tidak mampu untuk membacanya di depan forum. Ini memberikan gambaran tentang karakter dan fokus hidupnya. Saya masih percaya bahwa masih ada orang yang setidaknya masih berpura-pura untuk mencoba menjadi negarawan di parlemen, karena memang seharusnya negarawanlah yang mengisi kursi-kursi di parlemen apalagi menjadi pemimpin di sana. Tapi sang ketua MPR bahkan tidak berusaha untuk berpura-pura mencoba. Secara kasar orang dengan mudah bisa melihat bahwa sang ketua MPR tidak pernah membaca.

Dan ini mengantarkan pada kesalahan menyedihkan selanjutnya. Orang bilang apalah arti sebuah nama. Tapi nama adalah identitas dasar dari seseorang, dan dalam budaya tertentu nama adalah posisi yang mendeskripsikan tugasnya dalam kehidupan. Tidak ada ampun bagi orang-orang yang main-main dengan nama. Saya tidak bisa mengatakan bahwa sang Ketua MPR main-main kemarin, toh dia secara literal sedang membaca teks pidato. Tapi itulah yang terjadi saat dia menyebutkan nama-nama dari kepala pemerintahan, kepala negara dan perwakilan dari “negara-negara sahabat”… buruk sekali, cukup sakit untuk mengingatnya, dan sang ketua MPR bahkan tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda penyesalan.

Dari esensi ke masalah tekhnis, saya yakin para penterjemah yang ada di bilik mereka merasa panik, berusaha menemukan cara untuk menterjemahkan bahasa – yang seharusnya adalah bahasa Indonesia – ke dalam bahasa mereka dan menyampaikannya dalam bahasa target kepada perwakilan mereka. Ini menimbulkan pertanyaan tentang “kelayakan” dan kemampuan di benak perwakilan negara-negara sahabat.

Dan harus diingat bahwa perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei ada di ruangan itu mereka mengenal dengan baik bahkan bisa mempergunakan Bahasa Indonesia. Seingat saya, setua apapun umurnya, seperti apapun penyakitnya, para politisi dari ketiga negara tersebut selalu berusaha untuk memberikan integritas dalam setiap pidato, ucapan dan tulisannya. Jika kesalahan yang diperbuat sang Ketua MPR saat berpidato adalah hal yang “wajar”, berarti Indonesia jauh lebih primitif daripada tetangga-tetangganya.

Dan dengan berbagai alasan diantaranya hasil pengamatan terhadap pasang surut kehidupan manusia Indonesia, saya yakin, hal-hal seperti ini tidak akan pernah berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s