Kaitan IMB Dengan Nyawa Rakyat & Malaysia dan Kita Semua

Indonesia Recap terinspirasi dari siaran BBC 7 Oktober 2009

Sedikit Rambling Terkait “Kebijak-sana-an” di Indonesia

Sudah sangat umum kisah bahwa IMB dijadikan sumber pendapatan bagi pemerintah daerah. Sering ditemui pengurusan IMB yang sangat bertele-tele menjadi sangat lancar ketika uang pelicin dikucurkan. Pada saat ini sudah saatnya pemerintah daerah (dan oknum-oknum… selalu oknum-oknum) menyadari bahwa kebijakan IMB terkait nyawa manusia, IMB adalah salah satu cara pemerintah melindungi warganya dari gempa. Mungkin sudah saatnya pemerintah mengeluarkan suatu regulasi mengenai bangunan tahan gempa.

Sepertinya masih sangat sedikit manusia berseragam yang menyadari arti dari kenyataan bahwa Indonesia berada di jalur gempa, secercah informasi geologi ini tidak berarti sedikitpun bagi mereka… hanya uang. Pergilah ke kantor-kantor pemerintahan, dan perhatikan saat wajah-wajah pasif itu melirik ke arah televisi (ya… televisi… di kantor), lihat ekspresi kekhawatiran yang berlebihan keluar dari diri mereka, untuk kemudian hilang tak berbekas saat mereka “ngerumpi” dan acara berganti ke sinetron.

Malaysia dan Kita… Kita Semua.

Malaysia terburuk dalam penerimaannya terhadap tenaga kerja asing, ini kata PBB. Hal ini memberikan pukulan telak bagi citra multi etnis yang dibangun oleh pemerintahnya. Tapi kenapa hal ini harus menjadi berita yang seakan-akan baru? Masalah pertikaian antar etnis di dalam negaranya sudah mengganggu Malaysia sejak lama, dan sesungguhnya hal ini bisa disebut sebagai hal yang wajar dalam negara yang wilayahnya dihuni oleh berbagai macam manusia yang mempunyai latar belakang sejarah maupun budaya yang berbeda-beda.

Berkunjunglah ke blog-blog warga Malaysia (yang serius tentunya) dan anda akan lihat bahwa masalah ini masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan sejak saya dapat mencicipi TV3, RTM, CNBC Asia (sudah lama sekali), gambar-gambar bergerak mengenai kerusuhan di Malaysia sudah memberikan pelajaran bahwa karakter manusia dimana-mana sama saja: rusuh.

Coba kita ke Afrika. Mungkin sulit bagi sebagian dari kita untuk membedakan suku-suku yang berada di Afrika secara fisik, selain dari logat bahasa. Bagi kita mereka semua sama saja, namun kesamaan itu tidak menjadi alasan bagi sebagian orang untuk membantai sesamanya.

Di Cina kita punya Uighur, dan ke negara tetangga yang sama-sama berkulit “kuning”, Korea Utara mempunyai resume sebagai negara yang mampu melakukan apapun untuk memanipulasi kebijakan negara sedarahnya, Korea Selatan dan dunia internasional. Salah satu contohnya adalah reuni rutin yang disepakati Selatan dan Utara. Warga Korea Selatan yang dahulu adalah warga Utara, mengeluh bahwa saat mereka bertemu dengan kerabat mereka pada reuni itu, mereka seperti bertemu dengan robot-robot yang telah diprogram. Mereka kurus dan tak terurus (dari perspektif Korea Selatan, tentu saja), hal ini tentunya membangkitkan keinginan warga yang tidak mengerti untuk mendorong pemerintah Korea Selatan agar meningkatkan bantuan pangan dna keuangan ke Korea Utara.

Dan keadaan di dalam Korea Selatan sendiri tidaklah suci hama. Korea Selatan mempunyai lingkungan “kumuh” berisi orang-orang yang merasa tertindas dan setiap saat bisa meledak. Suatu situasi yang ditenggarai disebabkan oleh kesewenang-wenangan “chaebol”, dinasti orang-orang kaya yang sama berkuasanya dengan para “super rich” yang ada di Indonesia, tidak hanya pada orde baru namun juga sekarang.

Tapi kebencian terhadap orang kaya (yang sewenang-wenang) ini tentunya bisa dianggap sekedar masalah perspektif. Sudut pandang manusia yang tidak mengerti kebaikan dan keburukan apa yang bisa dijadikan bahan ekserimen bagi manusia yang ada di situasi yang berseberangan dengan dirinya.

Sama dengan konflik antar etnis, perilaku buruk terhadap tenaga kerja pendatang, yang ada di setiap negara di dunia ini yang masih berjuang mengatasi ribuan masalah yang melekat pada dirinya, bisa dianggap sebagai sekedar masalah perspektif. Lihat kekerasan terhadap warga Banglades, Cina dan India di Italia pada Juni 2008. Kekerasan tersebut terjadi di Italia (saya tidak pernah berharap banyak terhadap pemimpin yang otaknya berada di selangkangan wanita), namun aura politiknya ada di seluruh Eropa. Razia pendatang adalah hal yang sering terjadi di Perancis dan Jerman.

Mungkin hal ini juga yang menginspirasi pemerintah Malaysia. Semakmur apa pun mereka, sebutuh apapun mereka terhadap tenaga kerja yang mau dibayar murah untuk melakukan hal-hal yang tidak mau lagi dikerjakan oleh warga Malaysia, mereka punya alasan baik politis, ekonomi maupun sosial budaya untuk melakukan hal-hal yang mereka anggap harus mereka lakukan. Deportasi jangan dianggap sebagai penghinaan, pemerintah Indonesia harus instropeksi seberapa baik perlakuan mereka terhadap warganya sendiri dan seberapa baik pemerintah memperlengkapi warganya untuk dapat bekerja di luar negeri.

Pemukulan dan penyiksaan adalah perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang yang memang “sakit” dan dimanapun mereka, mereka harus mendapatkan ganjaran secara hukum. Namun harus dilihat secara jernih, yang mana masuk ke dalam ranah politik, yang mana masuk ke dalam ranah hukum.

Banyak warga Malaysia yang sama muaknya dengan kekerasan yang terjadi, sama dengan kita di sini. Hal ini saya sadari ketika saya menarik diri dari hiruk pikuk media massa utama yang mengejar sensasi dan jadwal tayang. Sama dengan ketika jam menunjukkan jam 3 subuh, mendengarkan percakapan di radio dan menyadari bahwa masih ada manusia-manusia nasionalis di Indonesia. Apakah manusia-manusia ini tidak ada artinya? Jika memang demikan, berarti kita tidak pernah belajar apapun dari sejak awal manusia mampu mencatat sejarahnya.

Lebih baik fokus untuk memperbaiki diri sendiri, dengan demikian, apapun yang dikatakan orang, atau coba diambil oleh pihak lain, maka mereka akan berhadapan dengan tembok kokoh, jangankan merubuhkannya, mengukur tebalnya saja mereka tidak akan mengerti.

One thought on “Kaitan IMB Dengan Nyawa Rakyat & Malaysia dan Kita Semua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s