Dirty Harry: Saat Tomy Kembali ke Kancah Politik

Pada suatu subuh, lepas jam 12 malam saya memberanikan diri untuk menghidupkan televisi. Kemudian mucul berita tentang kepolisian yang sedang perang dengan KPK, seperti anak balita dan anak TK yang sedang ribut mengenai siapa yang paling disayang oleh ibunya. Berita selanjutnya cukup mengejutkan walaupun saya tidak terheran-heran cukup lama.

Jika Prabowo bisa menjadi kandidat wakil presiden, dan Bakrie bisa mencalonkan diri menjadi ketua umum Golkar, kenapa Tomy tidak bisa bangkit lagi, dan berusaha mengembalikan kejayaan Cendana? Lima tahun dari sekarang saya tidak akan kaget jika Tomy atau Bakrie menjadi Presiden Republik Indonesia.

Dan sepertinya semua berjalan lancar di tubuh Golkar, hari-hari biasa, business as usual. Terlalu lancar malah, seperti skenario yang berjalan sempurna, bahkan membuat Tuhan iri dengan kesempurnaannya.

Jika saya adalah salah satu dari fungsionaris Golkar, saya akan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala cara, bahwa saya tidak pernah menghina keluarga Cendana sebelumnya (atau menjadi faktor yang menjadikan mereka lengser). Kemudian saya akan berusaha mencari plot dimana saya dapat menyesuaikan diri dan membuat manuver tertentu yang membuat saya dapat diterima di kedua kubu.

Tapi jika dipikir-pikir saya akan pilih lari ke kubu Tomy, Bakrie hanyalah minion jika dibandingkan dengan Tomy, Bakrie pernah menjadi pion dibawah kekuasaan Cendana. Jika asumsi ini tidak salah maka ada banyak dosa yang harus membuat Bakrie bersimpuh, kecuali kalau selama ini mereka saling sokong. Dosa lumpur Lapindo? Sepertinya tidak ada pemimpin di Indonesia yang sepakat bahwa itu adalah dosa, dan karena para pemimpin kita berpikir demikian, maka hendaknya rakyat turut serta, karena apalah artinya rakyat tanpa pemimpin.

Ada yang bilang Tomy tidak akan bisa maju karena terganjal kasus pembunuhan hakim agung, dan pernah menjalani hukuman penjara yang seharusnya secara otomatis membuat dirinya tidak mungkin untuk duduk di dalam kepengurusan partai. Tapi jika orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan dan hilangnya ratusan jiwa tak pernah duduk di kursi pesakitan, jika pembunuh Munir masih bebas berkeliaraan, jika para pencuri-pencuri dari orde baru masih duduk pada posisi-posisi penting di negeri ini, kenapa Tomy tidak dapat menjadi Presiden Republik Indonesia?

Tapi, serius.

Walaupun sudah terlambat untuk mengatakan ini, tapi saya akan tetap mengatakannya. Segala bentuk pendidikan yang ada pada negeri ini telah gagal. Jika anda berkata: salah satu murid terbaik kita menang olimpiade fisika, apa yang salah? Biar saya bertanya pada anda: Apakah Roma dan Amerika serikat dibesarkan hanya oleh ahli fisika? Kebusukan dalam filsafat dimulai ketika semua cabang keingintahuan memisahkan diri untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang paling benar, menghina habis-habisan kisah cinta antara si philos dan si sophia.

Para jenius dan para komentator politik yang bisa berbicara, berargumen, dan bertengkar di layar televisi… mereka tidak akan pernah bisa membangun negara. Sebuah negara adalah keseluruhan komponen yang menyatukan dirinya dibawah suatu keteraturan bekerja sama mencapai tujuan bersama.

Jika yang memimpin negara adalah preman dan pedagang minyak, akan lebih banyak ingatan yang hilang, sejarah yang dimanipulasi, manusia yang menangis sampai kering tulang-tulangnya, gunung dan hutan yang rata berganti padang semen dan aspal. Dan satu-satunya yang bisa kita ajarkan pada anak cucu kita adalah bagaimana cara melupakan.

Iseng-iseng saya mengakumulasi berita-berita nasional yang sampai pada kesadaran saya beberapa bulan terakhir ini, tidak butuh Mama Loren, atau mengetikkan “reg, spasi, nama” untuk mengetahui apa warna aura Indonesia hari ini dan masa-masa yang akan datang. Orang-orang yang masih berusaha menjaga matanya tetap terbuka akan melihat warna ungu, sedikit abu-abu, selebihnya… gelap.

Oh ya, harga gula dan kebutuhan pokok, menurut pemerintah daerah Kalimantan Barat “masih wajar”. Seorang “abang bengkel” sibuk mencari-cari palunya (yang cukup besar dan karatan), lalu naik ke atas motornya yang terdiri dari kumpulan besi tua dengan tenaga “kemenyan”, saat ditanya tujuannya, dia menjawab “kantor pemda!”, semua tertawa, semua tahu itu adalah canda, canda yang menyakitkan.

Menyakitkan karena orang-orang berseragam itu hanya datang ke kantor untuk menunggu waktu istirahat siang, dan kembali dari istirahat siang hanya untuk pulang. Menyakitkan karena saat menghidupkan televisi kami melihat rumah harga milliaran yang dipasarkan seperti memasarkan alat kontrasepsi dan dijual seperti kacang goreng saat kami tidak bisa membeli gula dan susu, menyakitkan karena anak-anak kami ternyata tidak sekolah dan tidak bisa beli susu, menyakitkan karena sertifikat atas tanah kami bukan atas nama kami, menyakitkan karena ternyata, walaupun ada yang bisa kami lakukan, kami tidak boleh melakukannya.

Lima atau sepuluh tahun mendatang, jangankan warna, bahkan aura kami pun sudah tidak ada.

2 thoughts on “Dirty Harry: Saat Tomy Kembali ke Kancah Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s