Impor Tempe

Berikut ini adalah artikel yang ditulis oleh George Wehrfritz, kontributor pada Newsweek edisi 9 Juni 2008 pada halaman 4. Saya terjemahkan secara bebas.

Pilihan Spam

Untuk mengoptimalkan dana untuk makanan, orang Amerika beralih ke makanan yang kurang populer: Spam. Penjualan daging kalengan ini mengalami peningkatan sebesar 10 persen dalam 3 bulan terakhir dimana konsumen yang ditekan oleh inflasi menggunakannya untuk memotong pengeluaran terhadap makanan lain yang lebih mahal. Saat harga makanan berada pada tingkatan yang belum pernah terjadi selama satu generasi, “pilihan Spam” menjadi hal yang umum.

Banyak sekolah di Jepang telah mengeluarkan daging sapi dari menu dan beralih pada daging ayam dan babi yang lebih murah. Di India, keluarga kelas menengah kebawah rata-rata memakan daging sekali seminggu, sebelumnya dua sampai tiga kali, sementara keluarga miskin hanya bertahan dengan beras, sambal, dan garam. Di Afrika selatan, penduduk di daerah kumuh memanfaatkan kepala, kaki dan usus ayam dicampur dengan tumbuh-tumbuhan liar. Di Filipina, para warga desa memanfaatkan umbi-umbian untuk menggantikan beras yang tidak terbeli. Pejabat di Banglades mempromosikan kentang sebagai pengganti beras yang persediannya terbatas. Slogan mereka: “pikirkan kentang, tanam kentang, makan kentang.”

Bibi saya adalah seorang dosen peternakan, dia selalu berpikir tentang sapi dan kambing (setelah Tuhan dan keluarga tentunya). Beberapa waktu terakhir dia disibukkan dengan persiapan PH.D. dan membantu dosen-dosen senior dalam pembuatan proposal untuk memperebutkan dana riset dari pemerintah dan berbagai lembaga lain.

Hal yang sempat menggelitik pikiran saya yang sederhana ini adalah, proposal itu memakan dana ratusan juta pertahun selama tiga tahun, ada puluhan proposal yang disetujui setiap tahun dengan jangka waktu pelaksanaan tiga tahun, berarti ada miliaran dana yang dikucurkan oleh pemerintah setiap tahun untuk penelitian.

Lalu, kenapa kita impor “tempe”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s