Ahli Nujum Versus Ahli Hukum

fragmen tulisan ini dibuat pada tahun 2007/2008, status: trash

Saya adalah seorang sarjana hukum, pada almamater saya ada sebuah konsentrasi yang terfokus pada, hukum ketatanegaraan dan hubungan internasional, saya adalah salah satu “output” dari konsentrasi tersebut. Ada yang bilang dengan sebuah “kekuatan” muncul “tanggung jawab” yang signifikan. Saya tidak berani berpendapat demikian. Jika ada orang yang bertanya pada saya mengenai dinamika hukum di Indonesia saat ini saya tidak tahu harus berkata apa.

Saya tidak tahu apakah segala hal yang saya pelajari bertahun-tahun itu dapat memberikan saya suatu bentuk “kelayakan” untuk berkarya. Memang benar, ilmu mentah tidak dapat dijadikan patokan keberhasilan seseorang dalam bekerja, banyak faktor lain seperti karakter, pengalaman, penguasaan medan dan lain-lain. Dulu saya adalah seorang murid sekolah menengah atas yang percaya akan romantisme dari sebuah profesi pembela, sejak saya menginjakkan kaki di bangku perguruan tinggi (secara literal), semakin hari saya semakin merasa ditipu.

Tanggal 26 Juni Jaksa Agung mengadakan jumpa pers dan menyatakan bahwa dia tidak dapat melakukan tindakan tertentu terhadap para jaksa agung muda yang terkait dengan kasus Artalita sebelum adanya perkembangan proses pengadilan. Beberapa waktu sebelumnya media masa mempublikasikan rekaman-rekaman percakapan antara para jaksa agung muda dengan Artalita. Tidak seperti para komentator dan para pengamat yang saat ini banyak datang dan pergi ke studio TV swasta, saya tidak terkejut dengan adanya kesan pada percakaan-percakapan tersebut yang menunjukkan bahwa mafia peradilan itu merupakan hal yang biasa, dan skenario penyelamatan muka merupakan hal yang sudah menjadi tugas utama para praktis hukum di Indonesia, dan bahwa mencari uang melalui hukum sudah menjadi kerja sampingan yang bisa dilakukan sambil makan siang.

Keterkejutan dan keberangan para pengamat itu sendiri mengejutkan.

Diluar permasalahan emosional, tindakan Jaksa Agung saat itu tidak bisa saya salahkan, selain permasalahan menghormati proses pengadilan, banyak birokrasi yang tidak memungkinkan Jaksa Agung untuk mengambil tindakan drastis. Kredibilitas kejaksaan dan arti keadilan bagi masyarakat memang menjadi taruhan, namun seluruh kehidupannya, tidak hanya makan siangnya, bergantung sepenuhnya pada aliran darah administrasi negara. Setinggi-tingginya mimpi para pengamat akan “revolusi” dunia peradilan, mereka bukanlah Jaksa Agung, dan tidak ada satupun dari tindakan tersebut yang mengotori tangan mereka.

Itu serta beberapa permasalahan hukum (dan politik) lain yang seakan tenggelam seperti kasus Munir. Walaupun dengan segala pemberitaan, debat para ahli dan praktisi, buku dan segala macam jenis investigasi yang dilakukan oleh stasiun televisi swasta atas nama rating (bohong kalau ada alasan lain), saya tetap merasa tidak tahu apa-apa. Apa yang ditangkap oleh indera semuanya terasa menipu. Rasanya negara ini lebih memerlukan ahli nujum daripada ahli hukum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s