Pseudo Review of Books: A Room of One’s Own (Virginia Woolf)

A Room of One’s Own
Virginia Woolf (1928)
Penguin Books (1945) (2004)
aroomofonesown
Buku ini sesungguhnya adalah dua buah makalah yang dibacakan di hadapan Masyarakat Seni di Newnham dan Masyarakat Odtaa (One damn thing after another, entah apapun itu) di Girton pada Oktober 1928. Tentunya makalah tersebut terlalu panjang untuk dibacakan sehingga akhirnya dimodifikasi dan dikembangkan.

Perkenankan saya menterjemahkan kata-kata awal dari A Room of One’s Own, secara bebas tentunya tanpa sama sekali bermaksud melantur dari konsep yang dibawanya: “Kau mungkin berkata: tapi, kami memintamu untuk berbicara tentang perempuan dan fiksi, apa hubungannya semua itu dengan sebuah ruang pribadi?”

Kemudian dikisahkan bahwa “konon” sebelum berada di tempat itu dan berbicara tentang perempuan dan fiksi, Woolf duduk di pinggir sungai dan memikirkan: apa “sih” sebenarnya arti “perempuan dan fiksi” itu?

Saat ini saya sedang memikirkan tentang juru masak dan bumbu masak, jika ada orang yang agak kurang waras dan meminta saya untuk menjadi pembicara, membawakan topik tentang juru masak dan bumbu masak pada sebuah konvensi makanan, apa yang harus saya katakan? Saya tidak tahu apa-apa tentang makanan kecuali bagaimana cara memakannya, yang mana cukup sederhana, masukkan kedalam mulut, kunyah dan telan (serta berdoa agar diare dan saya dijauhkan sejauh bumi dan langit).

Tapi mungkin saya akan bicara tentang Rudi… saya lupa nama belakangnya, dan acaranya dahulu yang bernama Selera Nusantara, walaupun dalam acara tersebut mereka selalu mempergunakan bahan-bahan dengan nama-nama asing (entah Amerika entah Eropa) yang hanya bisa didapatkan di supermarket… istilah Selera Nusantara jadi sama membingungkannya dengan istilah Sekolah Gratis.

Atau ulasan mengenai makanan-makanan enak yang dibawakan oleh seorang Bapak di televisi yang seruan “maknyuss”nya sering ditirukan orang. Atau makanan khas Kalimantan Barat yang dipuji oleh Ibu Ani Yudhoyono (saya harus katakan ini, menurut saya makanan terenak di Indonesia terdapat di Medan dan Pontianak, dan sebagian dari mereka tidak halal, dan tentunya bukan makanan-makanan ini yang dipuji oleh Ibu Ani Yudhoyono).

Atau saya harus naik ke podium seperti layaknya seorang pejabat dan membicarakan isu standar pemerintah tentang betapa kayanya khasanah makanan khas di Nusantara, dan para “chef” seharusnya lebih terfokus untuk menggali potensi ini daripada “mengkiblatkan” dirinya ke Perancis dan Itali.

Atau saya memilih untuk membicarakan kasak-kusuk perang salib, jatuhnya Konstantinopel, orang Spanyol yang mabuk, pemboikotan jalur perdagangan, orang Eropa yang mencoba meniru tekhnologi pengobatan orang Arab… dan gagal, dibangunnya Venesia, dan mitos surga di bumi yang kemudian kita sebut sebagai Nusantara, yang menjadi rebutan bangsa-bangsa maju di dunia pada saat itu, dimana, secara literal terdapat kolam susu dan kayu yang bisa tumbuh: memperkenalkan keajaiban rempah kepada dunia. Tidak berlebihan kalau ada penulis yang bilang bahwa dunia ini ribut gara-gara makanan.

Lalu apa hubungannya semua itu dengan “A Room of One’s Own” dan Virginia Woolf? Kalau diatas saya meng-elaborasi kemungkinan-kemungkinan dari hal-hal yang akan saya bicarakan terkait juru masak dan bumbu masak (tidak akan pernah terjadi), Woolf melakukan elaborasi dari ide-idenya pada buku ini. Bukan kemungkinan, tapi suatu penguasaan intelegensia yang menyenangkan, mempunyai kemampuan untuk menjadi sangat-sangat lucu, walaupun terkadang di jejali satir. Saat anda mengira dia hanya membicarakan buku-buku yang berada di rak, dia sudah terbang keluar jendela dan menunjukkan bahwa dia paham betul apa yang ada di bawah sana.

Mungkin semua itu juga merupakan bagian dari kenakalan-kenakalan yang dia perbincangkan dengan orang-orang di kelompok Bloomsbury, yang antara lain mencakup suaminya Leonard Woolf seorang kritikus ekonomi dan politik serta John Maynard Keynes, sobat yang kita temui saat pelajaran ekonomi di sekolah, kebanyakan guru ekonomi di sekolah kita menemui kesulitan untuk menyebutkan namanya.

Untuk para Feminis? Buku ini akan membuat para feminis senang, bisa juga tidak, Woolf memang gemar mengetengahkan dunia pemikiran wanita, yang dianggapnya lebih intuitif, lebih dekat pada inti dari segala sesuatu, dan karena itu mampu membebaskan pemikiran maskulin dari segala macam konsep-konsep yang abstrak. Namun terkadang Woolf terlalu bagus untuk menjadi sekedar feminis, tulisannya menjelajahi konsep waktu, memori, kesadaran manusia. Sangat manusiawi dan memiliki kedalaman persepsi yang… dalam.

Saya sendiri percaya bahwa puncak kesibukan para feminis sudah lewat, kalau ada pihak yang mesti sibuk sekarang, maka pihak itu adalah para humanis: bagaimana mereka membuat manusia beroperasi sebagaimana layaknya manusia.

Peringatan: jangan membatasi pemikiran anda saat membaca buku ini, hal itu akan merugikan anda sendiri dan menghindarkan diri anda dari kesenangan yang dibawa oleh A Room of One’s Own, juga menghindarkan anda dari kemampuan untuk melihat dunia pemikiran Virginia Woolf secara kritis.

Aman Untuk Usia: Remaja dan Dewasa
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 9/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 10/10
Nilai Buku Relatif: 9/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 9/10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s