Seberapa Besar Anda Dapat Berkorban Demi Bumi?

Ada topik menarik yang diketengahkan pada acara Connect The World di CNN, menarik karena disini dibicarakan topik yang menurut sebagian (kebanyakan) orang adalah hal yang gila (ekstrim) tidak perduli di belahan dunia manapun orang itu berada, apapun etnisnya, bagaimanapun argumentasinya akan kebenaran hal-hal yang dipercayainya: Seberapa besarkah manusia mau berkorban demi bumi? Akankah seseorang mempertimbangkan untuk tidak mempunyai anak demi bumi?

Jauh sebelum topik ini dibicarakan pada acara Connect The World, saya pernah mengkhayalkan ide yang aneh ini, bahkan dengan nekad mengutarakannya pada orang-orang yang ada di sekitar saya. Respon mereka? Kombinasi dari hal-hal berikut: tatapan mata nanar tidak percaya, gelengan kepala yang mengimplikasikan bahwa orang yang berada di hadapan mereka saat itu adalah orang yang tidak mempunyai harapan dan dengan demikian kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Baiklah, memang tidak ada bukti yang dapat secara langsung menunjukkan korelasi antara populasi manusia dengan pemanasan global, sebagian orang menganggap ide ini sebagai hal yang murni konyol. Namun jika mengingat suatu usulan mengenai pengurangan emisi karbon (salah satu artikel sudah saya terjemahkan di blog ini), yang menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap emisi karbon tidak lagi menjadi tanggung jawab negara atau korporasi besar (suatu bentuk tanggung jawab yang sangat abstrak menurut saya) namun akan ditimpakan pada masing-masing individu yang ada di bumi, menggunakan kuota individu sesuai dengan kondisi negara dimana dia beraktifitas. Dan angka itu dapat di hitung, untuk itulah kita memiliki orang-orang yang bersekolah pada tingkatan yang amat tinggi: master, profesor dan sebagainya.

Hari pertama saya melihat topik tersebut di situs milik CNN, sudah ada 7 komentar yang cukup memberikan gambaran mengenai beragamnya tanggapan orang terhadap topik ini, dan dengan demikian juga memberikan gambaran beragamnya latar belakang pemikiran, sosial budaya dari orang-orang yang memberikan komentar. Pada hari kedua saya kembali ke situs tersebut sudah ada lebih dari 40 komentar, dan angka tersebut terus bertambah.

Saya ingin mengusulkan pemikiran ini: pada jangka waktu antara tahun 1960 sampai 1970, ide menjual air dalam kemasan dianggap tidak masuk akal. Air melimpah, sumber-sumber air yang tersedia di berbagai tempat cukup sehat untuk diminum secara langsung. Saat ini air kemasan sudah menjadi kewajiban, hal yang sangat lumrah dan sangat normal, anda akan dianggap tidak normal dan tidak sehat jika tidak menggunakan air kemasan dalam aspek-aspek kehidupan anda.

Saat ini jika anda mendengarkan percakapan para ibu-ibu, salah satu alasan paling tepat untuk menggunakan air kemasan adalah situasi dimana air yang ada di sekitar kita sudah tidak lagi layak untuk dikonsumsi. Bahkan beberapa orang kota, pada saat-saat tertentu sudah menggunakan air mineral yang dikemas dalam galon-galon untuk mandi. Cara berpikir seperti ini sama seperti penggunaan air conditioner atau pengatur udara, dengan alasan bahwa cuaca diluar sudah sangat panas dan tidak sehat untuk manusia, dan seseorang mengatakan itu pada saat dia berada dalam mobilnya yang dingin pada saat yang bersamaan, di luar mobil, emisi dari kendaraannya yang berbahan bakar solar (atau mesin bensin yang tak terawat) membumbung ke udara.

Kita seringkali gagal melihat korelasi ini.

Sedangkan jumlah manusia setiap hari bertambah, tanpa proses pendidikan dan pembelajaran yang memadai hanya akan melahirkan manusia-manusia yang mengira bahwa dirinya adalah pusat dari alam semesta, bukan bagian dari alam semesta sehingga menghindarkannya dari kemampuan untuk melihat kewajiban dari masing-masing komponen kosmos termasuk dirinya sendiri.

Mungkin di masa mendatang, yang sepertinya sudah tidak begitu lama lagi, konsep pembatasan populasi manusia demi bumi ini menjadi hal yang mau tidak mau dilaksanakan. Wajar atau tidak, manusia biasanya baru belajar dari keterpaksaan, karena dengan perkembangan segala usaha manusia, pemerintah dan para penguasa, untuk mengatasi pemanasan global yang ada sekarang tidak akan cukup untuk mencapai tujuan dalam jangka waktu yang di telah tetapkan, bahkan masih jauh.

Kita masih terjebak dalam pemikiran bahwa pertumbuhan ekonomi membutuhkan bahan bakar dalam jumlah yang sangat besar, dan itu kita jadikan hukum sejak kita mengenal efisiensi yang dibawa oleh mesin. Terlalu banyak manusia di bumi yang demi memuaskan asumsinya akan kenyamanan, menghabiskan begitu banyak energi bumi, dan mereka ini adalah pangsa pasar yang tidak ada habisnya, satu henerasi akan digantikan oleh generasi lain dengan jumlah yang berlipat ganda.

Namun ada sebagian manusia di bumi dengan tren yang agak berbeda: Eropa. Eropa, tentu saja, sepanjang sejarah telah menghabiskan begitu banyak sumber daya, dari seluruh permukaan bumi yang dapat dikuasainya, saat ini bangsa Eropa masih mempunyai tanggung jawab penggunaan energi yang besar, namun jumlah generasi muda mereka berkurang karena perubahan budaya dan sosial. Tren ini diikuti oleh Jepang dan Singapura, sementara negara-negara lain di Asia populasinya bertambah, berlipat ganda setiap musim. Walaupun tanggung jawab energi bagi masing-masing rakyat Indonesia terbilang kecil jika menggunakan kuota emisi individual, namun jumlah rakyat yang sangat besar bisa menjadi masalah secara keseluruhan.

Saya sendiri berharap pengorbanan seperti ini tak perlu terjadi, setiap orang mempunyai hak untuk berkembang biak, tentunya dengan akumulasi tanggung jawab moral yang sangat kita butuhkan saat ini (apa yang terjadi dengan program Keluarga Berencana?). Dalam hati saya sendiri saya menganggap diri saya sebagai orang yang mampu melakukan hal ini, karena konsep saya mengenai “keluarga” dan “generasi penerus” bisa dianggap berbeda dengan apa yang secara tradisional dipercaya masyarakat kita, dengan resiko sosial yang harus saya tanggung seperti kekecewaan dan penolakan keluarga, dicurigai oleh warga sekitar sebagai “penjahat kelamin”, orang yang mempunya kelainan dan sebaginya, belum lagi jika saya harus mempertimbangkan masalah “kesepian”.

Saya ingin tahu pendapat anda.

Blackenedgreen.

2 thoughts on “Seberapa Besar Anda Dapat Berkorban Demi Bumi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s