Etika Jurnalisme dan Orang-orang Yang Terkait Dengannya.

Beberapa lalu ada sedikit permasalahan terkait etika jurnalisme yang terangkat karena terjadinya ledakan bom di J.W Marriot dan Ritz Carlton. Yang ditunjuk adalah stasiun-stasiun televisi swasta yang menampilkan gambar kepala orang-orang yang ditengarai sebagai pelaku peledakan bom, gambar kepala itu bukan gambar pas foto, namun gambar kepala manusia yang terlepas dari dudukannya karena dihantam bom.

Perhatikan kalimat yang saya pergunakan di atas: “kepala manusia yang terlepas dari dudukannya karena hantaman bom” dan rasakan bagaimana efeknya. Ketidaklayakan bisa terjadi tidak hanya dengan perantara audio visual, tapi juga dengan tulisan.

Beberapa waktu lalu saya dalam perjalanan dari Singkawang ke Pontianak, Kalimantan Barat. Hari sudah sore dan saya seharusnya sudah sampai di Pontianak sebelum malam. Di tengah perjalanan saya terhenti karena kerumunan massa yang ada di tengah jalan. Saya berhenti, mencoba memperhatikan apa yang terjadi. Beberapa orang di tempat itu saya lihat berlari dan muntah di pinggir jalan, masuk angin massal? Ketika saya melihat sesosok tubuh terbaring di tengah jalan dan mobil paramedis yang baru datang, saya langsung bertanya pada orang sekitar: apa yang terjadi, bagaimana bisa terjadi, siapa yang terbaring di tengah jalan itu?

Mayat itu sebelumnya adalah milik seorang pria berumur 30 tahunan yang biasa dipanggil Iis oleh rekan-rekan kerjanya. Mereka bekerja di sebuah proyek perbaikan jalan, dan diatas ruas jalan itulah kecelakaan itu terjadi. Menariknya, saat itu tidak ada seorang pun rekan kerja Iis yang tahu bagaimana tepatnya kecelakaan itu terjadi, mereka sudah bersiap-siap untuk beristirahat. Setidaknya ada tiga pihak yang terlibat di situ: Iis, seorang rekan kerjanya yang saat itu mengoperasikan mesin perata jalan (yang menurut pengakuan mandornya, langsung dibawa ke base camp sesaat setelah kejadian), dan mesin perata jalan itu sendiri, terparkir dan menganggur di atas badan jalan.

Untuk beberapa saat saya berdiri dan duduk sangat dekat dengan mayat, dengan helm proyek yang remuk di sebelahnya, belum ada polisi datang, seorang warga sudah dikirim untuk memanggil mereka. Saya mengeluarkan kamera dan mulai mengambil beberapa foto, foto korban tersebut, situasi di sekitarnya, rekan korban, dan mesin perata jalan.

Beberapa saat kemudian seorang polisi muda datang, mendekati mayat, kemudian pergi lagi ke arah motornya, melakukan beberapa hal yang tidak perlu, kelihatan grogi (berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk merogoh kantung jaket untuk mencari sebuah telepon genggam yang jauh lebih besar daripada sebatang pena?) Namun kondisi mayat memang cukup menyedihkan, seorang bapak dalam seragam tentara kelihatan pucat sambil sesekali meludah.

Kemudian datang lagi seorang polisi, kelihatan lebih lugas, lebih berpengalaman. Dia berkeliling dengan cepat, mengajukan pertanyaan, mengambil foto mayat, menyuruh mayat dimasukkan kedalam mobil paramedis, dan berkeliling lagi mengajukan lebih banyak pertanyaan. Saat mayat diangkat saya mengambil beberapa foto lagi.

Banyak orang yang berhenti dan menonton, untungnya lokasi berada di luar kota, jauh dari segala pusat keramaian, sehingga keramaian tersebut tidak menjadi merugikan. Jika keadaan tersebut berada di tengah kota, sungguh akan lebih banyak lagi orang yang berkeliling dan menonton.

Karena seringkali tanpa kita sadari, kita mencintai sensasi, walaupun benci menjadi korban.

Beginilah kondisi mayat saat itu, dalam bahasa yang bombastis, kepala hampir rata seperti kepala ikan, ubun-ubunnya bocor, dan otaknya berceceran sampai sekitar satu meter di sekitarnya.

Dan orang-orang masih berusaha menonton meskipun mereka harus merasakan mual dan muntah-muntah saat seorang paramedis mengumpulkan serpihan otak dan memasukkannya ke dalam sebuah kantung plastik.

Di sekeliling mayat berbagai asumsi merebak, beberapa orang mengakui mengenal korban, beberapa orang mengaku sering melihat korban saat lewat di ruas jalan tersebut, beberapa orang mengembangkan versi mereka sendiri atas apa yang terjadi meskipun saat mereka datang mayat sudah masuk ke dalam mobil ambulan.

Saya berpikir bahwa itu adalah kematian yang menyedihkan, namun kecelakaan kerja dapat terjadi dalam berbagai situasi. Dan saat mayat tersebut terbaring di atas aspal, saya bertanya dalam hati, masih bisakah dia mendengarkan kami yang hidup dan bergerak di sekelilingnya ini, meributkan tentang bagaimana cara mengangkat tubuhnya? Siapa yang akan menguhubungi keluarganya? Apakah dia kesakitan saat semuanya terjadi? Ataukah semua terjadi begitu cepat sehingga dia tidak merasakan apapun? Apakah dia sudah tenang sekarang, jauh dari semua hal duniawi, segala tanggung jawab, hutang piutang? Siapakah Ibunya? Bagaimanakah dia akan menangis?

Sensasi.

Sensasi menjual, apalagi sekarang, seorang pengusaha yang baik adalah seseorang yang bisa melihat peluang, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun. Semua yang ada di media sekarang ini adalah bentuk pemuasan kebutuhan. Tentunya kebutuhan akan informasi, akan berita. Tapi berita seperti apa, informasi seperti apa? Pada awalnya hanya ada sedikit berita tentang selebritis, memuaskan kebutuhan penggemar akan produktifitas dan kreatifitas si selebritis, dan dalam segmen-segmen yang masih masuk ke dalam kategori berita. Namun kenapa menetap pada hal yang standar saat kita data memberi dan mendapatkan lebih? Orang-orang di Amerika tahu tentang saluran TV yang secara khusus meliput segala aspek kehidupan Britney Spears, mulai dari sikat gigi sampai pakaian dalamnya.

Dan ada pasar untuk itu semua, ada yang menonton, ada yang membaca, dan siapa yang tidak mau menjadi sponsor saat dia tahu berapa banyak mata yang akan melihat iklan produknya (dengan skrip yang masuk kategori tidak masuk akal) di televisi?

Gosip, sinetron sudah mendarah daging. Mereka sudah memakai jargon seperti “bukan sekedar gosip” dan menekankan fakta bahwa mereka sangat mementingkan aktualitas. Jika anda adalah seorang karyawan dan lebih sering berada dalam ruangan, perhatikan rekan-rekan anda (bahkan mungkin anda sendiri), cara berpakaian, cara berbicara, bahkan cara berpikir mirip dengan apa yang bisa ditemui sinetron (saya sudah berpindah kerja beberapa kali, maaf jika saya merasa punya hak untuk menganggap hal ini bersifat umum). Pernikahan dan perceraian para selebritis di tampilkan dengan setil yang luar biasa, membuat saya berpikir bahwa para wartawan tersebut bisa membuat sebuah liputan investigatif yang hebat, bahkan mungkin mereka bisa dengan mudah mengungkap tragedi seperti kematian Munir misalnya. Masalah batasan? Sepertinya tidak ada batasan dengan apa yang bisa mereka lakukan di televisi.

Gambar kepala yang ditampilkan di televisi swasta nasional beberapa waktu lalu, mungkin hanya bagian dari greget kebebasan pers, atau semangat pengungkapan suatu kasus, atau suatu getaran di dalam dada setelah mendapatkan beberapa gambar dan berita yang bagus dan ingin membaginya dengan semua orang, seluruh orang di dunia kalau perlu, atau bagian dari pernyataan dari suatu kantor berita bahwa mereka lebih cepat, lebih berani, lebih aktual.

Apakah pemirsa membenci gambar-gambar tersebut? Mungkin, saya tidak yakin jika masih ada Ibu yang mau menutup mata anak-anak mereka saat gambar-gambar seperti itu lewat di televisi. Apakah mereka mengharapkan gambar tersebut ditayangkan lagi? Tentu, sebagian mencari di Internet. Apakah rating naik? Ya. Apakah rating penting? Sangat penting, bagi mereka yang merasa demikian, dan dengan alasan yang tepat: rating menentukan posisi, menentukan pasar, dan menentukan jumlah uang yang mau ditanamkan oleh investor, rating menentukan pendapatan dari iklan, dan ini adalah darah bagi media massa. Bagi para karyawan? Keberlanjutan. Bagi para Jurnalis lepas? Penyambung nafas.

Bagi para keluarga dari orang-orang yang memiliki kepala-kepala tersebut?

Ada sebuah kisah di Irlandia tentang seorang Ibu yang putrinya adalah seorang pembom bunuh diri untuk IRA mendatangi sebuah kantor koran lokal, menyediakan diri untuk diwawancarai. Sang editor menanyakan kepada Ibu itu kenapa dia mau diwawancarai padahal sebelumnya dia menolak semua tawaran wawancara. Ibu itu berkata bahwa saat koran-koran lain menampilkan wajah mengenaskan dari mayat putrinya, hanya koran itu yang menampilkan potret tercantik putrinya saat dia masih hidup.

Saya mampir ke rumah Iis, disana hanya ada perasaan terkejut, kesedihan, dan kekecewaan yang dalam dan menyesakkan hati.

Foto-foto bombastis tentang otak yang berantakan itu masih ada di hard drive saya dan akan tetap berada di sana mengingatkan saya tentang kematian.

Blackenedgreen

2 thoughts on “Etika Jurnalisme dan Orang-orang Yang Terkait Dengannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s