Susilo Bambang Yudhoyono dan Bom

Pemilihan Presiden di Indonesia baru saja berlalu, tidak banyak yang terjadi, rakyat tidak terlalu ribut, kecuali mereka yang mempunyai kepentingan, dan agak sulit untuk menggolongkan mereka sebagai rakyat, mereka lebih elit, elit politik.

Tentu saja sekarang kita punya masalah bom yang meledak di dua hotel besar di Jakarta, orang-orang tersakiti, ada nyawa yang hilang, keluarga yang menangis, dan satu tim sepakbola rakasa yang membatalkan kunjungannya, uang melayang. Seharusnya tidak ada kredibilitas yang hancur, karena ini adalah bencana, aksi teroris, seharusnya yang kredibilitasnya hancur adalah teroris itu sendiri.

Namun asumsi muncul, semua orang punya versinya masing-masing, semua aspek dijejalkan ke tengah, debu dan serpihan bertebaran di udara, pandangan kabur, tidak ada yang terlihat jelas, hebatnya adalah semua orang dapat berkomentar seakan-akan mereka dapat melihat dengan jelas dan mengetahui secara pasti apa yang ada dibalik peristiwa ini.

Satu hal yang pasti, Newsweek mencatat satu karakter yang seharusnya tidak pernah terlihat pada sang Presiden Republik Indonesia, mereka menyebutnya sebagai ‘furious’, dalam bahasa Inggris ‘furious’ berarti ‘extremely violent and angry’, ‘angry’ sendiri dalam bahasa Inggris berarti ‘marah’, ‘furious’ menurut saya lebih mendekati ‘gila’. Dan tidak ada orang gila yang bisa berlaku normal, mereka tidak bisa menyusun kata-kata dengan baik dan berarti, punya potensi untuk menyakiti semua mahluk lain atau segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.

Susilo Bambang Yudhoyono, adalah Presiden RI, dan dia adalah seorang Presiden yang baik. Jika anda punya keraguan pergilah ke Sudan, Congo, Birma, Korea Utara, Kuba, dan liriklah sejarah. Sebagian ‘pemimpin’ dunia ternyata adalah orang-orang impulsif yang konyol. Saya adalah seorang impulsif yang konyol, sebagian menamai saya sebagai pemimpi yang idealis. Pemimpi? Mungkin. Idealis? Saya tidak begitu mempercayai suatu hal sehingga mengharapkan sesuatu tersebut menjadi begitu ideal. Dan saya masih dapat melihat bahwa Susilo Bambang Yudhoyono saat ini adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal dalam hal jabatan kepresidenan di Indonesia. Jika ada calon lain yang lebih baik, kenapa tidak? Tapi dimanakah calon yang lebih baik itu? Saya gagal melihatnya.

Sudah menjadi tugas Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden untuk bersikap ‘furious’, dan benar, dia tidak melakukannya dengan sempurna, pernyataan yang dihasilkannya emosional dan tidak tersaring. Bahkan saat seorang manusia berdoa, melakukan ritual, dia bisa melakukan kesalahan, tentunya kita tidak mengharapkan hal yang sama terjadi pada saat seseorang begitu marah. Saya yakin para pembantunya tidak bisa berbuat banyak soal pemilikan diksi dan konteks pada saat itu.

Saya rasa sebagian dari kita di Indonesia masih sulit untuk memahami arti rangkaian kata “presiden juga manusia” membiarkan arti dari kata-kata itu melayang di udara untuk memuaskan geli di perut kita. Menjadi Presiden adalah suatu tanggung jawab yang besar, manajemen negara dijejalkan ke dalam kepala dan hati individu yang menjabatnya. Individu inilah yang menjadi perwakilan kita baik bagi diri kita sendiri maupun saat kita menghadapi dunia luar. Jika dia merupakan seorang Presiden yang menyatukan jiwanya dengan negaranya, saat dia melakukan kesalahan maka begitu celakalah kesalahan itu, saat dia melakukan terobosan maka begitu membanggakanlah keberhasilan itu, saat ada kesedihan maka kesedihan itu akan menarik kepala dan hatinya lebih rendah ke tanah, saat bangsa di sakiti maka biarlah dia marah, begitu marah.

Ada saat-saat dimana penyerangan terhadap seorang Presiden merupakan penyerangan terhadap bangsa. Jika persentase pemilih yang memilih Susilo Bambang Yudhoyono memang demikian adanya, maka seharusnya kita berpikir, apa arti seorang presiden bagi kita.

Salut bagi para ekstrimis (ekstrimis uang mupun ideologi), silahkan mereka berperang, rekrut ribuan pengikut, jual segala yang kalian percayai, tapi tolong jangan bunuhi kami, cobalah pertimbangkan bahwa kami juga punya perspektif tersendiri tentang hidup. Bahwa kami juga mempunyai ekstrim-ekstrim kami sendiri (Bola dan Manchester United misalnya). Sebagian dari manusia-manusia di negara ini memang benar-benar pendosa, tapi toh kita punya pistol, peredam, racun, dan pisau dapur. Ingin didengarkan oleh dunia internasional? Sebegitu haramkah internet sehingga anda tidak bisa menggunakannya untuk mempengaruhi orang? Ini hanyalah masalah penjualan, sebagian dari teroris adalah orang-orang yang pintar, jika mereka bisa membuat naskah penjualan yang baik seperti orang-orang yang mengiklankan motor, alat penghemat penggunaan daya listrik, kartu kredit, blackberry dan asuransi, mungkin minggu depan saya akan menenteng tas berisi bom di depan sebuah hotel di Pontianak (tapi saya tidak akan pernah membeli blackberry).

Kejadian ini akan berakibat buruk pada gambaran Indonesia bagi pihak luar? Bersosialisasilah sedikit, kurangi jadwal clubbing, dan jadikan “seorang orang asing” bukan hanya sebagai rekan bisnis, bukan hanya objek perbandingan, namun juga manusia yang mempunyai pendapat. Dan lihat bahwa mereka tidak bodoh (pemerintah mereka mungkin, tapi kita tahu pemerintah dimanapun memang sering melakukan hal-hal yang dianggap rakyatnya sebagai hal yang bodoh), mereka bisa membedakan aman dan tidak aman, dan kecuali mereka memang berpikiran sempit, mereka akan kesulitan untuk menggambarkan Indonesia sebagai negara teroris. Dalam hal seperti ini kita semua di dunia, entah Eropa, entah orang Arab, entah orang China dan Melayu mempunyai satu kesamaan: hati yang luka.

Hati saya untuk para korban.

One thought on “Susilo Bambang Yudhoyono dan Bom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s