Membatasi Dampak Rumah Kaca Tanpa Menyakiti yang Miskin.

Michael D. Lemonick
Newsweek, Juli 2009
Terjemahan

Salah satu isu tersulit yang dihadapi negara-negara dalam usaha mengurangi emisi rumah kaca adalah masalah keadilan. Amerika Serikat, Eropa Barat, Jepang, dan beberapa negara lain mempunyai standar hidup yang tinggi, diakibatkan oleh sejarah panjang penggunaan energi fosil yang murah – batu bara, minyak, dan gas alami – yang kini kita ketahui sebagai sumber utama dari karbon dioksida yang memanaskan planet ini. Namun membuat pembatasan terhadap emisi membuat energi menjadi mahal, artinya negara berkembang tidak akan dapat menaikkan standar kehidupan mereka dengan mudah. Mereka berpikir, kenapa mereka harus bekerja lebih keras daripada negara yang telah berkembang yang telah mendapatkan kesempatan untuk menikmati hidup?

Kembali ke tahun 1997, jawabannya, seperti yang ada pada Protokol Kyoto adalah mereka tidak harus bekerja lebih keras. Naskah itu hanya mewajibkan pemotongan pada negara-negara industri maju, itulah alasannya kenapa politisi Amerika menolaknya. Sekarang China adalah penghasil gas rumah kaca terbesar daripada Amerika Serikat secara keseluruhan, dan para ilmuwan telah memiliki pengertian yang lebih baik seberapa pentingnya pengurangan emisi secara global untuk menghindari planet yang panas. Jadi masalahnya sangat penting sementara isu keadilan tidak kurang menyakitkan.

Namun sebuah hasil penelitian yang baru saja diterbitkan oleh National Academy of Sciences mungkin dapat menawarkan sebuah peluang atau paling tidak sebuah sketsa peluang. Bukan dengan mewajibkan batasan yang didasarkan pada kesuluruhan emisi dari sebuah negara, fokusnya seharusnya berada pada penghasil emisi terbesar, tidak perduli dimana mereka berada, kata pimpinan peneliti Shoibal Chakravarty, dari Princeton University dan beberapa rekannya. “Sebagian dari emisi tersebut,” kata Chakravarty, “dihasilkan oleh 10 persen populasi bumi.” Kebanyakan mereka tentu saja berasal dari negara-negara industri maju, namun kata Massimo Tavoni, salah satu peneliti, “ada juga orang di China yang mengendarai Ferrari dan sering berpergian dengan pesawat.” Jadi dengan tawaran skema baru ini, tulis mereka, “Seluruh individu penghasil emisi CO2 tertinggi di dunia di perlakukan sama, dimanapun mereka berada.”

Salah satu cara untuk melakukan hal ini adalah dengan memberikan batasan berapa banyak emisi yang dapat dihasilkan oleh seseorang, dan menghitung target nasional berdasarkan angka itu. Misalnya anda ingin memastikan bahwa pada tahun 2030, emisi tidak lebih besar daripada saat ini – sekitar 30 milyar metrik ton CO2 per tahun. Tanpa adanya batasan, angka itu dapat membengkak menjadi 43 milyar pada tahun 2030.

Namun anda dapat mencapai tujuan dengan menetapkan batasan emisi tertentu pada setiap individu di dunia sebanyak 10.8 ton per orang per tahun – dan sekarang ada lebih dari 1 milyar orang yang menghasilkan emisi sebesar angka tersebut. “Sekitar seperempat dari orang tersebut,” kata Chakravarty, “hidup di Amerika Serikat, seperempat tinggal di China, seperempat tinggal di OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan, kebanyakan berasal dari Eropa) dan seperempat lagi tinggal di belahan bumi lainnya.

“Rata-rata orang Amerika,” kata Tavoni, “menghasilkan sekitar 20 ton saat ini, jadi hal ini akan menjadi sangat sulit. Artinya orang Amerika harus membuat banyak sekali pengurangan.” Di Eropa, rata-ratanya mendekati 10, jadi bisa dikatakan tidak ada yang harus dikurangi, namun pada prakteknya, siapapun yang hidup di atas batasan harus membuat pengurangan. (Sebagai catatan, tidak ada seorangpun yang mencatat pengeluaran setiap individu, namun pada kenyataannya, tingkat pendapatan yang tinggi mempunyai korelasi positif dengan emisi yang tinggi. Para ilmuwan menggunakan data Bank Dunia untuk memperkirakan berapa banyak individu pada setiap negara berada di atas batasan emisi.) Rata-rata orang China adalah 4 ton per orang, dan orang India adalah satu ton – dan peraturan yang sama berlaku. “Jadi, bahkan negara-negara miskin harus melakukan sesuatu.”

Para peneliti juga mencatat bahwa banyak orang yang hidup diluar jalur ekonomi bahan bakar fosil, dalam kemiskinan yang akut. “Anda ingin membawa orang-orang yang sangat miskin ini naik ketingkat kemiskinan normal,” kata Rob Socolow, salah satu peneliti di Universitas Princeton, “memberikan mereka sedikit listrik, akses terhadap transportasi bermotor, bahkan jika hanya motor roda dua, dan bahan bakar untuk memasak yang tidak harus dikumpulkan dengan tangan.” Untuk melakukan hal itu, kata para peneliti, dunia dapat menetapkan sebuah garis batas emisi karbon, katakanlah 1 ton per tahun (yang akan menurunkan batasan global dari 10.8 ke 10.3 ton). “Ada sebuah ideologi di luar sana,” kata Socolow, “yang menyatakan, ‘Saat kau pergi menolong orang-orang yang sangat miskin, jangan jerat mereka dengan bahan bakar fosil.’ Bagi saya ini keterlaluan. Orang-orang ini layak mendapatkan solusi termurah bagi masalah mereka. Tentu saja, terkadang solusinya adalah biofuel atau panel matahari. Namun terkadang solusinya adalah minyak tanah, dan itu adalah solusi yang tepat.”

Para peneliti tidak menganggap bahwa ide mereka bersifat final dalam hal mengatasi masalah keadilan, penelitian ini juga bukan merupakan yang pertama. “Pada batasan tertentu,” kata Chakravarty, “kami menemukan bahwa ada orang lain yang telah memikirkan skema yang paling tidak sama, walaupun dengan detil yang berbeda.” Namun ketika lebih dari 100 negara bertemu di Copenhagen pada bulan Desember nanti pada sebuah konferensi untuk membahas sebuah perjanjian untuk melanjutkan Protokol Kyoto, dia mengatakan, ide-ide seperti ini mungkin dapat membantu memecahkan kebuntuan dalam hal keadilan.

*Lemonick adalah peneliti senior pada Pusat Iklim (www.climatecentral.org), sebuah lembaga nir-laba terkait komunikasi perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s