BUDIONO DAN KALIMANTAN BARAT

Karena sudah ada internet, kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke Afrika, membuang uang untuk tiket pesawat membawa idealisme yang berdasarkan pada asumsi, dan sesampainya di sana malah jadi pengganggu yang tidak berguna. Sama saja dengan halnya jika ada dari anda yang ingin pergi ke Iran atau Iraq. Entah dengan anda, tapi saya merasa seperti manusia manja yang berpikir bahwa saya berhak menetapkan sebuah batasan mengenai kebenaran, padahal segala yang ada dipikiran saya hanyalah bagaimana cara bertahan hidup, diantara jutaan manusia, sebagian licik, sebagian naif, di Indonesia yang katanya makmur ini, di Indonesia yang katanya mempunyai sumber daya yang melimpah ruah.

Membuat saya berpikir, jika sumber daya memang melimpah, kenapa rakyatnya harus berebutan dengan cara yang menyedihkan?

Hari Jumat tanggal 3 Juli yang lalu Budiono datang ke Pontianak, menghadiri sebuah rapat tertutup terkait Pemilihan Presiden. Calon wakil presiden ini, sesampainya di halaman Hotel Kapuas langsung di sambut barongsai dan begitu masuk ke dalam hotal disambut oleh kelompok pelantun Shalawat.

Dalam pidatonya Budiono memuji kemajemukan masyarakat Kalimantan Barat yang hidup berdampingan dengan harmonis, meskipun berbeda suku, agama dan kepercayaan. “Kebhinekaan masyarakat Kalbar harus menjadi contoh bagi daerah lain. Bhineka tetap harmonis. Saya dan Pak SBY, juga banyak tokoh nasional lainnya sangat bangga bahwa ada contoh di mana kebhinekaan bisa hidup berdampingan dengan harmonis.

Saya tidak tahu apakah pernyataan ini ada kaitannya dengan barongsai dan lantunan Shalawat sebelumnya.

Namun jika malihat beberapa seri debat Capres dan Cawapres yang ditayangkan di televisi maka mau tidak mau saya melihat kaitannya.

Beberapa seri debat tersebut, menurut pandangan saya yang sederhana, sama sekali tidak berarti apa-apa. Saya bukanlah agnostik, saya sempat berpikir untuk pergi ke TPS tanggal 8 mendatang dan menggunakan hak saya, namun jika melihat perkembangan debat yang ada di televisi hal-hal berikut sempat terlintas di pikiran saya:

– Orang-orang ini berpidato di depan audiensi yang terdiri dari seluruh penonton televisi nasional, bahkan seseorang dengan tingkat pemikiran seperti Obama mempunyai sebuah tim yang membantu menyusun pidatonya dan mempersiapkan data-data pendukung untuk seluruh argumennya, yang dapat diperkirakan maupun tidak. Melihat dan mendengar argumen pembuka dan penutup dari para calon, presiden maupun wakil presiden, saya bertanya-tanya, orang-orang seperti apa yang ada di belakang mereka? Saya tidak pernah berharap banyak dari para calon pemimpin ini, namun masih saja saya kecewa.

– Debat ketiga lebih baik daripada yang pertama dan kedua? Lebih seru mungkin, jika anda terbiasa pergi ke pasar dan menyaksikan para penjual yang memprotes tetangganya yang menjual komoditi yang sama dengan harga yang lebih murah, sebelum para preman datang. Lebih baik? Saya hanya melihat satu perbedaan dengan debat pasar: para preman tidak naik ke panggung, namun bermain di luar, ribut dan saling menyikut. Ini adalah debat para calon presiden Indonesia. Jika anda ingin debat yang santai penuh canda dan lontaran kata-kata yang tidak perlu, kita punya karang taruna dan rapat RT/RW. Ini seharusnya adalah sebuah debat tingkat tinggi, namun sama sekali tidak ada “wit” yang terdeteksi.

– Diluar kasus yang tak terselesaikan, apakah orang-orang seperti Prabowo memang memahami masyarakat miskin? Pernahkah dia putus asa saat besok tidak ada lagi uang untuk makan? Karena orang miskin pernah, saya pernah. Apakah orang-orang ini punya lisensi yang dibutuhkan untuk berjuang demi rakyat? Lisensi yang hanya bisa didapatkan jika mereka mempunyai hati nurani, simpati, dan perspektif logika yang lebih luas daripada masyarakat yang akan dipimpinnya? Tidak, mereka hidup di dunia yang terlalu jauh dari kenyataan pahit masyarakat bawah, tragisnya segala sesuatu yang mereka lakukan langsung berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat bawah, dan semua itu akan menyakitkan.

– Ambil salah satu selebritis remaja Indonesia (yang entah kenapa disebut artis), daftarkan dia dalam kursus kenegarawanan selama seminggu, ikutkan dia ke dalam partai, ‘blow up’ segala berita baik mengenai dirinya, bentuk tim penasihat untuknya, ikutkan dia ke dalam pemilihan presiden, dan perhatikan jumlah pendukungnya meningkat setiap hari. Benar, setiap orang bisa menjadi presiden di Indonesia, dan tidak, tidak dibutuhkan seseorang yang mempunyai karakter.

– Pergilah ke sebuah warung kopi, bukan warung kopi high flyers, chic lifestyle seperti yang ada di Jakarta, Bandung dan sekarang Yogyakarta, tapi warung kopi seperti yang ada di komunitas masyarakat seluruh dunia, warung kopi yang sama di Baghdad dan Pontianak, dimana orang duduk mendengarkan radio, membaca koran, dan berdebat selama berjam-jam. Tidak ada wi-fi, hanya kopi. Anda akan mempunyai kesempatan untuk menemui orang yang jauh lebih bijaksana daripada para calon presiden kita. Tidak percaya? Datang, duduk, pesan secangkir kopi, dan nyalakan sebatang rokok, kemudian tunggu. Kebanyakan hanya orang sok tahu dengan berbagai kombinasi teori konspirasi di kepalanya, sampai akhirnya si mutiara muncul dari balik lumpur.

Pada saat Budiono datang ke Pontianak dia datang dengan membawa rombongan yang mengisi paling tidak 2 bis, didalamnya ada Hartati Murdaya dan Rizal Malarangeng. Mestinya ada yang membantunya mempersiapkan diri menghadapi orang Pontianak. Tindakannya memuji keberagaman di Kalimantan Barat bagi saya agak naif, saya yakin hadirin yang hadir pada saat itu akan tersenyum, atau diam saja. Para hadirin akan bertepuk tangan jika mereka benar-benar berjiwa birokrat.

Budiono tentu saja tidak tinggal di Kalimantan Barat, tidak pernah, bahkan jika itu hanya berupa kunjungen ke pedalaman Kalimantan, dan saya ragu jika dia pernah menoleh keluar jendela pada saat rombongannya melewati jalan-jalan rusak di Pontianak. Tapi pernyataannya lebih dapat saya terima jika Budiono saat itu bukanlah warga negara Indonesia, namun seorang atase budaya dari Swedia yang ingin membangun kerjasa ekonomi di Kalimantan Barat.

Pujian Budiono itu hampir mirip dengan pernyataan selebritis-selebriti yang membawakan acara jalan-jalan dan semacamnya di televisi: kedengaran bodoh, dan membuktikan bahwa sesungguhnya dia tidak pernah perduli.

Berikut adalah pandangan saya terhadap kebhinekaan di Kalimantan Barat: Kalimantan Barat pernah menjadi tempat terjadinya konflik antar etnis yang mengakibatkan pembantaian masal, menyakitkan untuk diungkit, namun harus diingat. Masyarakat menyayangkan program transmigrasi pemerintah yang tidak mengindahkan karakter masyarakat setempat dan membuat penduduk ‘asli’ merasa terganggu dan disingkirkan.

Tidak selesai disitu, goresan di cat mobil bisa menjadi alasan keributan yang membuat situasi Pontianak mencekam selama beberapa hari. Pemilik mobil adalah orang besar di Pontianak, kerabat sultan. Kita tahu apa yang dilakukan oleh orang ‘besar’ jika emosinya tersulut. Seperti seorang anak kaya dan taman bermainnya adalah sebuat kota. Dan di saat-saat seperti ini anda akan tahu, bahwa kekuasaan di negeri ini (setidaknya di Kalimantan Barat) tidak berada di tangan pemerintah, namun di tangan preman.

Sebagian pihak mengaitkan ini dengan pemilihan gubernur yang menghasilkan gubernur orang Dayak dan wakil gubernur orang Cina. Bohong jika ada yang mengatakan setiap orang memiliki kesempatan memimpin di Indonesia.

Ada orang yang mengkhawatirkan dominasi ekonomi Cina di Kalimantan Barat, ada yang tidak perduli. Saya tidak perduli, jika orang-orang yang khawatir itu mempunyai alasan dan bukti yang kuat, lebih baik mereka membangun sekolah yang lebih baik, dan memperbaiki mutu pendidikan di Kalimantan Barat, salah satu yang terburuk di Indonesia. Tidak hanya memuji yang berprestasi namun tidak perduli masalah proses, untuk kemudian secara tiba-tiba menutup sekolah yang tidak menghasilkan performa seperti yang diharapkan.

Membangun sekolah itu tidak mudah, mendidik itu tidak mudah, karena itulah dia dicantumkan di dalam Undang-Undang Dasar, karena ini bukan main-main. Pendidikan di Indonesia belum berhasil, tidak ada pemerataan, yang dihasilkan hanyalah manusia-manusia yang sekedar hidup. Jika dia mau lebih dari sekedar hidup maka dia harus menyikut. Mentalitas manusia yang mudah terprovokasi tanapa pernah menggunakan kapasitasnya untuk berpikir secara indepeden mengenai apa yang baik untuknya dan lingkungannya.

Kalimantan Barat seperti bom basah, selalu saja ada orang yang mencoba menyulut sumbunya. Sumber daya disedot habis, entah oleh siapa. Lingkungan yang sudah rusak dihancurkan, entah oleh siapa.

Di pinggir-pinggir jalan, di pasar, di pemukiman. Orang-orang biasa entah Dayak, Melayu, Bugis, Cina atau suku-suku lain hanya mencoba untuk hidup, membesarkan buah hatinya, memperoleh kesenangan-kesenangan sederhana seperti sebatang rokok, pergi ke bioskop, atau membawa pulang motor kreditan.

Ibu-ibu menggendong bayi, bayi yang putih dan bermata sipit, yang coklat dan bermata lebar, dan bayi-bayi lainnya, mendengarkan ibu-ibu mereka berdebat mengenai potongan harga di swalayan di dekat tempat tinggal mereka. Bagi ibu-ibu itu yang penting adalah kebenaran isu potongan harga tersebut, tidak masalah jika lawan bicaranya itu adalah Jawa, Dayak, Melayu atau Cina.

Kecurigaan dan perasaan canggung masih timbul di sana-sini, namun masyarakat sedang berusaha, mereka sedang belajar. Di beberapa sudut kota orang-orang Cina sudah berusaha mendominasi percakapan mereka dengan bahasa melayu, bahkan saat dimana hanya ada orang Cina di tenpat itu. Di bengkel-bengkel dan warung kopi para pria sudah mulai membicarakan hal-hal yang sensitif namun tetap tertawa dan minum dengan tenang.

Anak-anak bermain bola, berlatih taekwondo, dan bulu tangkis di lapangan yang sama. Sparring bersama, tim yang sama, beberapa tahun lalu ada waktu dimana anak-anak Cina secara khusus bermain basket dan anak-anak Melayu secara khusus bermain sepak bola. Anda tidak akan menemukan mereka di lapangan yang sama, tentu saja tidak di tim yang sama. Beberapa lama pemandangan ini akan dapat saya lihat? Tergantung dari orang-orang yang berkepentingan, dan keuntungan apa yang bisa mereka dapatkan dari keberingasan dari tiap-tiap manusia yang secara sistematis telah mereka bodohi.

Untuk Budiono sendiri, pujiannya terhadap Kalimantan Barat, menurut saya, telah memberikan garis pembatas – jarak – antara dirinya dan kenyataan di Kalimantan Barat, dan menjadikan Kalimantan Barat sebagai contoh kerukunan bagi Provinsi lain?

Silahkan lihat di sini:artikel Pontianak Post 1, artikel Pontianak Post 2, Andreas Harsono’s blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s