DAPATKAH KEMACETAN DIATASI?

Tanyakan pada para orang-orang di jalan, di internet, di warung kopi atau dimana saja anda bertemu dengan mereka baik secara langsung maupun virtual: bagaimanakah cara mengatasi kemacetan? Tinggal di tempat yang tidak “semetropolis” Jakarta, tidak berarti bahwa pertanyaan ini tidak relevan. Sebaliknya, karena kita tinggal di Indonesia pertanyaan ini menjadi sangat relevan, lebih-lebih dengan beredarnya trend di udara bahwa para politisi, pada pembuat kebijakan di Indonesia hanya perduli pada satu hal: diri mereka sendiri.

Tanyakan pada mereka mengenai kebijakan fasilitas umum, dan lihat mata mereka berubah menjadi hijau.

Jawaban dari pertanyaan yang saya tanyakan di awal akan selalu didominasi oleh usulan terkait transportasi massal. Kebanyakan dari mereka akan berargumen jika transportasi massal dibuat menjadi layak dan tersedia dalam jumlah yang lebih banyak maka akan lebih banyak masyarakat yang memilih transportasi umum, mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang berkeliaraan di jalan. Fasilitas umum lain juga harus menyertai, jalan-jalan diperluas, diperbaiki, diperpanjang, diperhalus. Tidak boleh ada badan jalan yang tergenang air, pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan harus ditertibkan, segala rambu-rambu, persimpangan, peraturan harus masuk akal.

Coba singgung masalah kepemilikan kendaraan, dan mereka akan terpecah.

Inilah yang terjadi di atas jalan sebagaimana yang bisa dilihat oleh kita semua. Seiring dengan semakin majunya jaman, terserah bagaimana anda mengejawantahkan “maju”, maka kita akan membutuhkan semakin banyak alasan untuk hidup, saat kebutuhan primer telah terlampaui, maka hal-hal sekunder, bahkan tersier akan menjadi primer.

Pada awalnya mobil dan motor diperkenalkan untuk mempermudah hidup manusia, sekarang hampir setiap semester, mobil dan motor baru diperkenalkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan selalu ada ceruk pasar untuk setiap tingkat kebutuhan. Para produsen memperkenalkan tingkatan-tingkatan produk sama dengan para cerdik cendikiawan mengklasifikasikan manusia berdasarkan “nilai”nya. Petani yang menyediakan makanan bagi kita semua “dimasukkan” ke dalam klasifikasi paling rendah, pejabat masuk klasifikasi paling tinggi.

Dan mereka menyediakan produk untuk masing-masing klasifikasi. Mulai dari kelas “value” sampai kelas “performance”. Untuk kelas “value” para petani dan profesi lain yang berada pada strata ekonomi bawah diusahakan agar bisa memiliki kendaraan tersebut, dengan kredit dan uang muka yang sebenarnya tidak masuk akal. Dengan Rp. 300.000,- mereka bisa membawa pulang kendaraan berharga belasan juta rupiah. Kredit itu mungkin baru akan lunas 3 atau 4 tahun ke depan, entah apapun yang akan terjadi pada seorang petani dalam jangka waktu tersebut.

Pada kelas “performance” kita punya produk yang harganya bisa dipakai untuk membeli satu kompleks rumah sangat sederhana.

Menyalahkan Industri dan sifat konsumtif adalah suatu kebodohan, seperti berenang melawan arus di tengah samudera, si penuduh bisa berasumsi bahwa dia sedang berenang menuju suatu arah, padahal arus terus menyeretnya sampai dia mati tenggelam. Dan orang-orang yang berjemur di atas kapal pesiar akan tertawa.

Tapi iseng-iseng, inilah penelusuran saya mengenai penyebab kemacetan. Hal-hal yang biasa, yang umum, yang sudah anda ketahui.

Kemacetan bisa diakibatkan jumlah kendaraan yang sudah melebihi daya tampung jalan, hal ini diperparah dengan kerusakan fasilitas jalan umum dan kesalahan perencanaan. Alternatif pemecahannya adalah pelebaran, perbaikan dan penambahan panjang jalan termasuk by-pass dan under-pass, atau penyediaan dan perbaikan transportasi publik, atau pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan.

Pertama, peningkatan kualitas dan kuantitas jalan. Tidak ada jaminan saat kualitas dan kuantitas jalan terpenuhi tidak akan terjadi kemacetan di masa datang. Jumlah manusia Indonesia masih akan bertambah secara eksponensial beberapa dekade ke depan. Setiap bulan ada anak-anak kita yang menikah. Dan sepertinya kita tidak mempelajari apapun dari program keluarga berencana, diluar segala kontroversinya. Anak-anak ini akan bersekolah, saat mereka menginjak SMP, kita akan pergi ke kantor polisi untuk membuat SIM tembak dan membelikan mereka motor atau bahkan mobil yang paling keren, tentunya tergantung dana yang kita punyai.

Pada saat mereka masuk kuliah, mereka butuh pembaharuan, agar lebih bersemangat. Motor baru menggantikan yang lama, yang lama bisa dikoleksi ataupun dijual, bagaimanapun satu orang manusia telah bertanggung jawab terhadap dua buah produk yang berkeliaran di atas jalan, mengkonsumsi bahan bakar, dan berpotensi menjadi sampah besi dan plastik di kemudian hari, dan anak anda bukan satu-satunya.

Pada saat mereka selesai kuliah, mungkin mereka akan mempertahankan motor lama mereka, mungkin anda akan membelikan mobil baru sebagai hadiah kelulusan. Pada saat mereka mulai bekerja, mereka menjadi pangsa pasar yang sangat baik, orang-orang ramah, berpakaian rapi dan berdasi akan mendatangi mereka dan memperkenalkan produk-produk yang baik dan sesuai untuk mereka. Dan kredit baru pun dimulai. Harga asli suatu kendaraan akan menjadi ¼ kali lebih mahal daripada yang seharusnya, dan tidak boleh ada pembelian kontan, kecuali barang-barang premium.

Saat anak anda berkeluarga, menghasilkan cucu bagi anda dan “aman” secara finansial, maka dibutuhkanlah sebuah kendaraan baru yang berorientasi kepada keluarga. Saat ini seorang manusia sudah bertanggung jawab terahadap keberadaan 4 buah mesin. Saat ekonomi mereka semakin membaik, udara di luar rumah tiba-tiba menjadi sangat tidak bersahabat, sedangkan intensitas kegiatan si suami dan si istri semakin meningkat, maka di butuhkan satu mobil lagi. Dan anak-anak mereka pun lulus sekolah dasar, untuk memulai lingkaran baru.

Pada skema keluarga yang kurang beruntung, masih dimungkinkan untuk mengkredit 3 buah sepeda motor selama dua generasi. Semua orang mendapat bagian. Kesimpulan pertama: tidak ada batas atas kualitas dan kuantitas jalan yang kita butuhkan. Hanya pada saat seluruh permukaan bumi sudah terdiri dari aspal dan semen, pada saat itulah kita terpaksa berhenti.

Kedua: penyediaan dan perbaikan transportasi publik. Dimanapun anda di Indonesia, kalau kita perhatikan pemerintah tidak pernah serius menangani isu yang satu ini, tidak ada keuntungan penuh seperti halnya proyek jalan, selalu saja ada pengusaha angkutan umum yang rewel minta bagian. Niat baik para sarjana-sarjana tekhnik sipil tidak dibarengi dengan penguasaan psikologi massa, kesadaran bahwa pembangunan di Indonesia tidak dapat lari dari pola tambal sulam, dan penyangkalan kenyataan bahwa semuanya bukanlah mengenai masyarakat, namun mengenai pemilu, masa depan partai dan pemenuhan kebutuhan yang tidak ada habisnya.

Sebagian masyarakat bingung akan pelaksanaan kebijakan transportasi publik yang dijalankan pemerintah daerah, sebagian mendukung, namun pesimis setelah melihat hasilnya. Dan terus terang saja, isu transportasi publik tidak selalu berada di dalam pikiran masyarakat. Transportasi publik bisa diartikan sebagai ketidakbebasan, ke-tidak-efisien-an, dan bagi sebagian masyarakat Indonesia: ke-tidak-masuk-akal-an. Siapa yang perduli dengan publik jika aku merasa nyaman dan aman dengan semua yang bisa kupenuhi sendiri? Memangnya kenapa kalau hanya ada aku sendirian di dalam Fortuner yang lebar, ditengah-tengah jalan yang macet? Aku layak, sangat layak, menikmati segala hal yang dapat kunikmati.

Dan industri mendukung hal ini. Sebuah perusahaan dibangun untuk mendapatkan laba, dan dengan laba, perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tujuan hidup Toyota bukanlah sekedar melahirkan dan memproduksi Innova untuk kemudian menutup perusahaannya. “Passion” Toyota, sama dengan produsen lain, adalah “selalu” menyediakan produk-produk yang baik untuk anda, sayang sekali jika selama ini anda tidak sadar kalau anda membutuhkan produk yang ditawarkan, tapi jangan khawatir, para perwakilan akan mendatangi anda untuk menjelaskan kenapa anda membutuhkan produk-produk tersebut.

Para pengusaha membangun ATPM, membantu sang produsen menyebarluaskan kabar gembira ini, sekaligus juga untuk mendapatkan pembagian kue nafkah atas usaha mereka membantu sang produsen. Dan lapangan kerja pun tercipta, pelepas dahaga di tengah gurun pengangguran yang kering. Para sarjana menjadi tenaga penjual dengan sistem target, satu sampai tiga bulan target penjualan tidak tercapai maka silahkan cari tempat lain. Masing-masing ATPM menargetkan kuantitas penjualan mulai ribuan sampai puluhan ribu unit perbulan. Para tenaga penjual harus bekerja keras mengejar angka ini.

Apa arti dari angka penjualan ini?
-lebih banyak jalan,
-lebih banyak bahan bakar,
-lebih banyak orang yang lebih kreatif merancang iklan untuk menjual (walaupun kreatifitas tidak begitu dibutuhkan dalam masyarakat dengan pola pikir yang telah terkondisi),
-lebih banyak pohon yang disingkirkan, bahkan lebih banyak daripada semua kampanye terkait penghijauan dan penanaman pohon yang diadakan oleh orang-orang yang berkepentingan (mari kita bersama-sama tanam pohon, panggil anak-anak, mahasiswa, selebritis dan istri-istri pejabat, biar aku yang sediakan semua konsumsi, publisitas dan fasilitas. Tapi berikan aku ijin untuk meratakan 7200 hektar hutan di sebelah selatan… tenang saja kau dapat bagian kog).
-lebih banyak lowongan kerja, tidak hanya yang terkait langsung seperti pabrik, para staf di pusat-pusat penjualan, namun juga bengkel-bengkel, pusat modifikasi, tambal ban, helm, sarung tangan, jaket, cairan pengharum helm, pekerja pembangunan jalan, kontraktor, tenaga-tenaga promosi (SPG, SPB), tenaga penjual, penyedia kredit, surveyor, tukang tagih (kebanyakan orang Batak), orang-orang di tabloid otomotif, para pengulas, wartawan, event organizer dan lain-lain. Siapa yang berani mengatakan bahwa sumber berkah adalah salah satu sumber masalah?
-segala isu mengenai pemanasan global, es yang mencair di kutub, hewan yang punah karena polusi dan perluasan pemukiman manusia, lubang pada lapisan ozone yang meluas, semuanya adalah kebohongan publik yang kejam, kejahatan terhadap kemanusiaan (atau lebih tepatnya kejahatan terhadap manusia).

Berapa banyak lowongan pekerjaan yang bisa disediakan oleh perbanyakan dan perbaikan transportasi massal? Tergantung pada mood pemerintah. Berapa banyak lapangan pekerjaan yang bisa disediakan oleh industri? Hampir tidak terbatas. Dan mereka fokus pada perbanyakan, karena apa yang sudah ada tidak dapat diperbaiki, lebih banyak bis, lebih banyak jalan untuk memfasilitasi jumlah kendaraan.

Solusi kedua berkaitan erat dengan solusi ketiga: pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan. Sebagian masyarakat Indonesia tidak mempunyai kemampuan untuk memiliki kendaraan bermotor, yang diobati dengan fasilitas kredit. Sebagian masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk memiliki kendaraan manapun dengan jumlah berapapun yang dia inginkan. Di Jakarta isu ini telah membuat gatal sebagian telinga, dan telinga-telinga yang mahal, keberanian pemerintah daerah untuk membuat gatal telinga-telinga ini dipertanyakan. Sebagian dari telinga-telinga ini dimiliki oleh para pembuat kebijakan.

Karena itu pemerintah tidak mempunyai otoritas dalam menetapkan kebijakan yang sensitif semacam ini. Masyarakat sudah lama curiga bahwa segala peraturan pemerintah mengenai keselamatan berkendara merupakan pesanan dari para produsen helm dan sabuk pengaman yang dekat dengan para pembuat kebijakan. Butuh waktu cukup lama untuk membuat alasan keamanan menjadi masuk akal.

Jumlah kendaraan yang berkeliaraan di atas jalan didak bisa dibatasi, pemerintah tidak bisa membatasi motif masyarakat dalam melakukan mobilitas. Kepemilikan jumlah kendaraan tidak bisa dibatasi dengan peraturan perundang-undangan sama dengan pemerintah tidak bisa membatasi alasan orang memiliki kendaraan.

Kendaraan sekarang tidak hanya masalah mobilitas. Seperti halnya segala propaganda yang dilakukan oleh para produsen dan pemasar motor dan mobil, kendaraan mempunyai arti yang lebih dari sekedar mengantar anda dari titik A ke titik B. Iklan-iklan mobil dengan lugas memberikan “pendidikan” bahwa kepemilikan jenis dan merk mobil tertentu merupakan sebuah pembuktian bahwa anda “ada” di dunia ini, bahwa anda berada pada tingkatan status tertentu, bahwa anda perduli dengan keluarga anda, bahwa anda adalah seorang pribadi yang “sophisticated”, bahwa anda layak menikmati hidup (dan saya tidak mengerti orang yang membeli mobil cepat namun menyewa sopir untuk mengantarnya ke segala tempat).

Pada kendaran roda dua, kita mengenal motor yang “benar-benar lelaki”, motor yang paling cepat hingga tidak terkejar, paling irit, motor untuk wanita, motor untuk remaja, motor untuk penggemar musik, motor yang mempunyai jiwa (sering dibawa ke mesjid dan gereja), motor yang berbeda dengan motor lainnya (masih dengan 2 roda dan berbahan bakar bensin) dan banyak lagi.

Di luar itu masih ada orang yang mengoleksi motor gede, mobil sport super mewah. Saya menggunakan kata “mengoleksi”, sama sekali tidak ada masalah jika anda menggunakan satu-satunya Yamaha R1 anda untuk mobilitas sehari-hari. Jika anda merasa bahwa orang-orang ini adalah pengkhianat terhadap asas-asas kebersamaan, coba periksa, itu mungkin hanya karena anda memiliki logika yang berbeda.

Dengan banyaknya orang yang menggantungkan hidupnya, baik kehidupan ekonomi maupun kejiwaan, pada industri ini, apakah ada yang berani untuk menetapkan suatu pembatasan kepemilikan?

Transportasi publik yang sempurna sekalipun tidak akan banyak berpengaruh, lihat Jakarta dan Yogyakarta, dan hapus kata sempurna, dan lihat apakah kita akan pernah sampai kesana. Pembatasan jumlah kendaraan dan kepemilikan? Indonesia tidak hanya terkotak-kotak oleh garis sosial ekonomi, namun juga garis logika. Begitu banyak paradoks di luar sana, yang satu menghancurkan yang lainnya.

Sebuah tawaran solusi klasik adalah perubahan pola pikir. Jika orang yang mempunyai otoritas (bukan pemerintah) mau membatasi dirinya sendiri (manusia mana yang mau membatasi dirinya sendiri) dan memberika pendidikan pada masyarakat mengenai inti sesungguhnya dari segala hal yang dijualnya, memberikan pertimbangan kepada masyarakat mengenai baik buruknya pilihan mereka, namun ini adalah kemustahilan. Jika masyarakat mau mendidik dirinya sendiri mengenai apa yang baik tidak hanya bagi dirinya namun bagi lingkungan, yang notabene mempengaruhi kualitas hidup seluruh manusia termasuk dirinya, mungkin kita bisa membatasi diri terhadap hal-hal yang kita butuhkan dan menggunakannya dengan efisien. Namun ini juga kemustahilan jika para pemasar tidak tertarik untuk memasarkan pola pikir seperti ini.

Saat pembicaraan di warung kopi mereda, orang kembali ke atas kendaraan mereka, mobil dan motor dan berpencar ke tujuan mereka masing-masing, mencari hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s