Cuaca Yang (Sepertinya) Semakin Tidak Bersahabat.

Atau kita yang tidak lagi mencoba bersahabat dengan alam?

Jika anda melihat di televisi, maka anda akan tahu bahwa 2 hari belakangan ini, di Pontianak dan sekitarnya telah terjadi hujan yang sangat lebat disertai angin yang sangat kencang. Saya tidak perlu melihat layar televisi untuk mengetahui hal tersebut karena saya adalah salah satu karakter pelengkap penderita.

Beberapa waktu yang lalu hal yang sama terjadi dan memakan korban beberapa orang yang sedang berteduh dibawah papan iklan bertulang besi yang cukup besar. Saya mendengar angin kencang kali ini juga merubuhkan sebuah menara pemancar (sampai tulisan ini saya buat, saya tidak tahu menara apa persisnya yang rubuh tersebut), menimpa sejumlah kendaraan (berapa banyak tepatnya “sejumlah” itu, saya juga tidak tahu).

Namun di jalan Sulawesi (masih di Pontianak) dahan-dahan pohon yang cukup besar patah dan jatuh ke atas jalan, tidak ada korban, jiwa maupun material. Hujan datang dengan cepat dan lebat, angin yang cukup kencang untuk mendorong orang yang sedang berdiri tegak dan memaksanya memasang kuda-kuda. Para pengendara motor buru-buru menepi dan berlindung, namun sebagian tidak cukup terlindungi, angin menyapukan air hujan sampai ke bawah tempat mereka berlindung.

Beberapa saat kemudian kemudian terdengarlah suara patah yang cukup keras dan dahan itupun jatuh. Pohon itu bukanlah pohon tua yang rapuh, semua orang menunggu dengan tegang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak ada yang terjadi selanjutnya, hujan dan angin mereda, dahan pohon yang patah disingkirkan, dan orang-orang keluar dari tempat persembunyiannya.

Angin itu cukup kencang dan cukup menakutkan, maaf bagi anda yang pernah mengalami fenomena alam yang lebih dahsyat, namun para pedagang di pinggir jalan dan orang-orang yang saya ajak bicara sepakat bahwa baru akhir-akhir inilah hujan dan angin seburuk ini terjadi dengan intensitas yang (hampir) rutin di daerah Pontianak.

“Saye terpakse tutup awal ni bang, kemaren juga kayak gini” kata seorang Ibu di kios kecil yang menjual rokok.

“Ee… dah dekat dah ni.” celetuk seorang Bapak, saya rasa yang dia maksudkan adalah hari kiamat.

Hujan belum benar-benar berhenti, para pekerja sudah kembali memacu motor mereka, mungkin kembali ke tempat kerja, mungkin langsung pulang karena baju mereka sudah basah dan karena hari memang sudah sore.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s