Mengumpulkan Tenaga Nirkabel Untuk Telepon Seluler.

Duncan Graham Rowe
MIT’s Technology Review
June 2009
(terjemahan)

Sebuah telepon seluler yang tidak membutuhkan pengisian ulang tenaga, mungkin tidak masuk akal, namun Nokia menyatakan bahwa mereka sedang mengembangkan tekhnologi yang dapat menarik cukup tenaga dari gelombang radio di udara untuk membuat sebuah telepon selular selalu terisi.

Radiasi elektromagnetik di udara – dihasilkan oleh pemancar Wi-Fi, antena telepon seluler, pemancar televisi, dan sumber lain – dapat diubah menjadi arus listrik yang cukup untuk membuat batere tetap terisi, kata Markku Rouvala dari Pusat Penelitian Nokia, di Cambridge, Inggris.

Rouvala menyatakan bahwa kelompoknya sedang mengerjakan sebuah prototipe yang dapat mengumpulkan tenaga sampai 50 miliwatt – cukup untuk mengisi, secara perlahan, tenaga sebuah telepon selular yang sedang dalam keadaan mati. Dia mengatakan prototipe yang ada saat ini mampu mengumpulkan tenaga antara 3 sampai 5 miliwatt.

Ciptaan Nokia ini akan bekerja berdasarkan prinsip yang sama dengan crystal radio atau deskripsi identifikasi frekuensi radio: dengan mengubah gelombang elektromagnetik menjadi sinyal listrik. Hal ini membutuhkan 2 sirkuit pasif. “Bahkan jika anda hanya mendapatkan mikrowatt, anda masih dapat mengumpulkan energi, asalkan sirkuit tidak memakan lebih banyak tenaga daripada yang diterimanya,” kata Rouvala.

Untuk meningkatkan jumlah tenaga yang dapat dikumpulkan dan cakupan kerjanya, Nokia berusaha untuk mengumpulkan banyak frequensi yang berbeda-beda. “Dibutuhkan sebuah penerima wideband,” kata Rouvala untuk menangkap sinyal antara 500 megahertz dan 10 megahertz – sebuah jangkauan gelombang yang mencakup kebanyakan sinyal radio komunikasi.

Berdasarkan sejarah, tekhnologi pengumpul energi hanya dapat ditemukan di pasar khusus, untuk memberi tenaga pada sensor nirkabel. Jika klaim Nokia terbukti, maka mereka dapat mendorong pengumpul energi menjadi peralatan konsumen yang umum.
Pada awal tahun ini, Joshua Smith dari Intel dan Alanson Sample dari Universitas Washington mengembangkan sensor temperatur dan kelembaban yang mendapatkan tenaga dari sinyal yang dipancarkan oleh antena TV 1.0 megawatt dari jarak 4.1 kilometer. Namun hanya dapat menghasilkan tenaga 60 mikrowatt.

Smith mengatakan 50 miliwatt memerlukan sekitar 1000 sinyal kuat dan antena yang dapat menangkap jangkauan frekuensi yang luas tersebut dapat menyebabkan hilangnya efisiensi.

“Untuk medapatkan 50 miliwatt adalah hal yang besar,” tambah Harry Ostaffe, kepala pemasaran Powercast, perusahaan yang berpusat di Pittsburgh, yang menjual sistem untuk mengisi ulang sensor dengan jarak sekitar 15 meter dengan menggunkan sinyal radio khusus.

Steeve Beeby, teknisi dan ahli fisika di Universitas Southampton, Inggris, yang telah meneliti pengumpulan energi getaran, mengatakan, “Jika mereka dapat mengambil 50 miliwatt dari frekuensi radio di udara, mereka akan membuat saya bangkrut.” Dia mengatakan bahwa potensinya sangat besar karena pemutar MP3 umumnya hanya menggunakan tenaga sekitar 100 miliwatt dan cenderung berada pada modus hemat energi.

Nokia bersikap tertutup atas detil proyek ini, namun Rouvala meyakini masa depan dari alat ini: “Saya katakan bahwa alat ini mungkin dapat diproduksi dalam tiga atau empat tahun.” Tentunya, dia katakan, bahwa Nokia berencana untuk menggunakan teknologi ini bersama dengan pendekatan pengumpulan energi lainnya, seperti panel matahari yang diintegrasikan dengan kulit telepon seluler.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s