Insiden monas 1 Juni 2008

Pada hari itu terjadi lagi kerusuhan, menurut media ada tiga unsur masyarakat yang berserakan di lapangan saat itu. Ahmadiyah, AKUR, dan FPI. Tampak jelas di layar televisi betapa ringannya tangan dan tiang kayu melayang menghunjam kepala bapak-bapak dan ibu-ibu. Sama dengan insiden-insiden pertentangan persepsi mengenai kebenaran di bagian lain di muka bumi, kebencian menjadi satu-satunya kekuatan yang membuat orang bergerak, bukan makanan yang menghasilkan energi, atau semangat atau apapun.

Adalah percuma untuk menyatakan siapa yang salah siapa yang benar, paradox tumpang tindih, insiden itu sendiri terjadi karena masalah kebenaran. Tidak ada seorangpun ingin berada di sisi yang salah, tapi manusia kadang terlalu malas dan bodoh untuk beranjak dari posisi mereka, kemudian mereka mengklaim bahwa posisi merekalah yang benar, supaya mereka tidak perlu beranjak dan tidak perlu diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendasar yang dapat mengganggu keseimbangan hidup mereka.

Saya tidak membela Ahmadiyah, FPI, ataupun AKUR, satu hal karena saya adalah pemalas dan pengecut jika mengingat konsekuensi yang bisa terjadi jika ada orang yang melihat tulisan ini dan menjadi berang, argumentasi manusia pada saat-saat seperti ini tidak lagi mengikut sertakan logika, dan memang logika seringkali menjadi racun bagi sebagian dari kita.

Apa yang terjadi di Monas adalah sampel kecil dalam skala jumlah, namun tetap besar secara esensi, dari insiden-insiden yang terjadi dalam hari-hari umur bumi. Perang besar di atas permukaan bumi – yang makin hancur dan tidak perduli dengan masalah manusia yang remeh – seringkali disebabkan oleh persepsi, yang kekuatannya ditentukan oleh jumlah para pendukungnya, atas kebenaran. Dari mulai tetangga yang tidak bisa teguran selama bertahun-tahun karena masalah yang kata mereka menyangkut prinsip, masalah IRA di Inggris sampai pada perang salib ataupun perang-perang modern saat ini.

Mungkin ini adalah bagian dari proses belajar, dan memang proses belajar terkadang bisa begitu keras, tidak adanya korban jiwa pada insiden tersebut tidak menjadi alasan untuk mengatakan “untung…”.

Hal kekerasan bukanlah eksklusif milik FPI, dan kebodohan bukanlah eksklusif milik pemerintah, semua manusia dengan pengkondisian tertentu mempunyai potensi untuk merusak, dan semua ajakan untuk perdamaian menjadi sia-sia. Pada saat seseorang harus menentukan posisinya dan perannya di muka bumi, maka dia harus berdiri di satu sisi yang dianggap sebagai sisi yang benar, belum lagi dia harus dipusingkan dengan stratifikasi kebenaran, kebenaran pribadi, kebenaran rakyat, kebenaran pemerintah, kebenaran spiritual.

Saya hanya ingin mengusulkan penggunaan semua potensi pemikiran dan hati yang ada pada manusia dalam pencarian (maupun mempertahankan) suatu kebenaran. Kekerasan bisa jadi merupakan salah satu cara, bahkan satu-satunya cara dalam “menyelesaiakan” masalah perbedaan bagi sebagian manusia, dan saya tidak punya argumentasi yang berguna untuk melawan pendapat itu, tapi patut diketahui bahwa ada sebagian manusia yang hanya ingin hidup damai diatas bumi yang mulai mati ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s