Bystander Effect: Bagaimana Kita Bersikap Acuh Tak Acuh Terhadap Kejadian Yang Ada di Hadapan Kita

2009 Oktober 30

Berikut adalah sebuah artikel yang dikutip oleh seorang blogger WordPress dari CNN, di blognya artikel ini telah menimbulkan diskusi yang menarik. Nathaniel dan saya sepakat untuk mengetahui apa yang muncul jika artikel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Sedikit penjelasan sebelumnya, bystander effect adalah suatu fenomena yang menggambarkan situasi dimana, saat berada ditengah keramaian, dan saat terjadi sesuatu yang genting terhadap pihak lain, seorang individu lebih memilih menonton kejadian genting tersebut daripada memberikan pertolongan. Semakin banyak orang yang berada di lokasi tersebut maka akan semakin kecil kemungkinan bagi individu tersebut untuk memberikan pertolongan.

Kemudian apa masalahnya? Berikut artikel tersebut saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Lagi, Korban Dari Bystander Effect

Tulisan Social Psychology oleh psikolog Elliot Aronson dan Timothy Wilson menggambarkan bystander effect sebagai “sebuah fenomena psikologi sosial dimana seorang individu memiliki kemungkinan yang kecil sekali untuk menawarkan pertolongan di dalam sebuah situasi genting ditengah keberadaa orang lain. Kemungkinan adanya keinginan untuk menawarkan pertolongan berbanding terbalik dengan jumlah “penonton”. Dengan kata lain, semakin banyak jumlah orang yang menonton di lokasi tersebut, semakin kecil kemungkinan salah satu dari mereka memberikan pertolongan.”

Saya teringat sebuah perjalanan keluarga ke taman hiburan Six Flags Great Adventure di New Jersey saat seorang pria yang berpenampilan menyeramkan mengancam pegawai taman hiburan secara verbal, bahwa dia akan menyakiti pegawai tersebut secara fisik karena pegawai tersebut memergoki keluarga dari pria tersebut saat menyerobot antrian. Tidak seorang pun, kecuali seorang anak berumur 11 tahun yang berkomentar tentang hal tersebut – tidak seorang pun ingin terlibat ketika pria tersebut mengeluarkan sumpah dan ancaman yang membuat insiden Serena Williams di Amerika Serikat Terbuka menjadi terlihat sopan. (Serena memarahi dan mengacung-acungkan raketnya ke arah seorang pengawas karena menyatakan dirinya melakukan kesalahan)

Hal yang terburuk adalah saat petugas keamanan tiba untuk mengatasi situasi, pria tersebut menyangkal semuanya dan tidak seorang pun yang berani mengatakan sesuatu terkait hal tersebut! Saya akhirnya memutuskan untuk berbicara tentang kejadian tersebut, dan petugas kemananan membawa pria tersebut keluar dari taman.

Sementara beberapa orang mengatai saya sebagai pengadu, saya pikir saya telah melakukan hal yang benar dengan membuat orang menyebalkan tersebut keluar dari taman, menunjukkan kepadanya bahwa sesungguhnya ada akibat dari prilakunya dan menunjukkan kepada pegawai taman tersebut bahwa dia telah melakukan hal yang benar tanpa perasaan takut terhadap orang-orang yang merasa bahwa mereka berada di atas peraturan atau hukum.

Bonusnya, saya mendapatkan ijin bagi seluruh keluarga saya untuk melompat ke awal antrian untuk setiap wahana yang saya pilih (sangat menolong, mengingat hari itu sangat panas dan antrian untuk salah satu wahana air sangatlah panjang) jadi saya diberi penghargaan lebih dari sekedar kepuasan karena telah melakukan hal yang benar.

Dalam sebuah catatan yang lebih menyedihkan, seorang pelajar SMA di California yanng berumur 15 tahun, pada hari Sabtu baru-baru ini menjadi korban dari bystander effect saat dia diperkosa beramai-ramai disekitar sekolahnya saat acara dansa tahunan sedang berlangsung di dalam sekolah. Para penyelidik menyatakan bahwa paling tidak sebanyak 15 pria berkumpul untuk menyaksikan kejahatan tersebut tanpa memberitahu polisi atau mencoba menolong korban, dan beberapa diantaranya berpartisipasi dalam kejahatan tersebut. Korban ditinggalkan dibawah sebuah bangku dalam keadaan pingsan dan kritis.

Saya tidak meragukan legitimasi dari sebuah fenomena psikologis seperti bystander effect, tapi saya rasa adalah sebuah hal yang bertanggung jawab untuk mengkualifikasikan bahwa seorang individu pasti mempunyai kelemahan mental atau moral untuk bisa tenggelam dalam efek tersebut. Jika orang tua anda membesarkan anda dengan fondasi moral yang kuat, anda akan segera mengenali sebuah tindakan pemerkosaan tidak perduli berapa banyakpun orang yang berdiri menonton bahkan bersorak-sorak, dan anda akan mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dengan menghubungi pihak yang berwajib.

Sebagian phak mungkin akan mengklaim bahwa bahwa para individu yang terkait kemungkinan takut terhadap apa yang akan dilakukan oleh para pelaku, namun klaim tersebut tidak beralasan berdasarkan fakta bahwa tiap orang dari para individu tersebut dengan mudah dapat memisahkan diri mereka dari kerumunan dan menghubungi polisi – mereka tidak perlu menyelamatkan korban secara langsung. Namun, mereka lebih memilih untuk menonton kejadian tersebut seperti menonton sebuah film porno aneh secara langsung.

Kita mestinya heran kenapa kita sebagai manusia telah kehilangan sensitifitas kita sehingga kita bisa menonton begitu saja saat seseorang yang membutuhkan pertolongan ada di hadapan kita dan membenarkan keputusan kita sendiri bahwa kita tidak perlu ikut campur atau menolong “pasti ada orang lain yang akan menolong” bahkan saat kita sendiri berada dalam posisi yang sangat memungkinkan untuk memberikan pertolongan.

Untunglah si korban saat ini sudah dalam kondisi stabil, semua itu atas usaha dari kepolisian Richmond dan para staf di rumah sakit kemana dia diterbangkan… dan lupakan saja orang-orang yang tidak berharga, pengecut, yang memutuskan bahwa bukan tanggung jawab mereka untuk melakukan hal yang benar dan menghentikan aksi pemerkosaan tersebut.

Demikianlah kira-kira terjemahan artikel tersebut dalam Bahasa Indonesia. Artikel tersebut pada blog Nathaniel bisa ditemukan disini jika anda ingin berdiskusi langsung, disana juga ada tautan kepada artikel aslinya di CNN.

Saya dan tentunya Nathaniel sangat mengharapkan pendapat anda.

Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS