Superioritas Pria Atas Wanita
Romailprincipe mengulas sebuah topik di blognya, yang pada awalnya cukup sederhana, namun setelah dipikirkan, hal tersebut cukup esensial: sebuah penelitian ilmiah menyatakan bahwa sebodoh apapun pria, dia cendrung mempunyai kualitas kepemimpinan yang lebih baik daripada wanita.
Tunggu dulu, sebelum anda menyerang, Romailprincipe sudah menyatakan bahwa masalah gender sudah obsolete baginya. Setuju, mempermasalahkan gender pada masa sekarang adalah sikap yang agak terbelakang.
Tapi lebih lanjut saya mengusulkan pemikiran ini: mempercayai penelitian sejenis, bahwa ada manusia yang secara “default” lebih superior daripada manusia lain, adalah seperti mempercayai bahwa susunan dan kombinasi genetik menentukan hal-hal yang dapat dipikirkan, dapat dilakukan dan dengan demikian mengkotak-kotakkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu. Contoh sederhananya: mempercayai bahwa orang-orang berkulit putih lebih superior dibandingkan dengan ras-ras lain yang ada di muka bumi. Generalisasi yang menakutkan.
Saya seorang lelaki, dan saya menolak jika gen saya menentukan siapa dan apa saya. Sebagai ekses dari kepercayaan ini, saya juga menolak anggapan bahwa dalam hal-hal tertentu pria secara default lebih dominan daripada wanita, atau seorang pria secara default lebih superior daripada pria lain. Terserah bagi setiap individu menemukan atau tidak menemukan dirinya sendiri. Kombinasi dari semua properti yang dimiliki manusia, diantaranya inteligensia dan emosi, pria dan wanita, telah menjadi bumbu yang membantu memasak sejarah.
Ilmu pengetahuan terus berkembang, perubahan terjadi, kebenaran temporer bisa menjadi dasar untuk kebenaran yang lebih benar, ini masalah tumpukan paradox. Jika masih ada orang yang dengan senang hati terjebak diantara tumpukan itu… menyedihkan.
borneoblogger
Citizens fight back against road conditions