Pontianak and Beyond pt.4

2010 Februari 6
oleh blackenedgreen

These are residues, unused images from my recent rides around Pontianak and beyond, just so you’d see some part of this country. Nothing fancy, none of the artistic sophistication, these are just snapshots, enjoy if you could.

These photos are taken by me, they belong to me, copy-pasting for personal purposes is okay, but if you show them in public domain, explanations for responsibilities shall be necessary, and you can’t provide it, so please contact me if you have something in mind, it’s free.

Pontianak and Beyond pt. 3

2010 Februari 6
oleh blackenedgreen

These are residues, unused images from my recent rides around Pontianak and beyond, just so you’d see some part of this country. Nothing fancy, none of the artistic sophistication, these are just snapshots, enjoy if you could.

These photos are taken by me, they belong to me, copy-pasting for personal purposes is okay, but if you show them in public domain, explanations for responsibilities shall be necessary, and you can’t provide it, so please contact me if you have something in mind, it’s free.

Pseudo Tips: Mudah Menulis

2010 Februari 6
oleh blackenedgreen

Pseudo tips mengenai tulis menulis ini adalah rekaan blackenedgreen, tidak pernah ada kurikulum seperti ini, resiko cidera punggung, tuntutan hukum dan pengusiran oleh mertua ditanggung sendiri pembaca.

Pernah terbaca sebuah komentar dari seorang rekan bloger di sebuah halaman blog yang intinya menyatakan rasa kagum terhadap si pemilik blog terhadap kemampuannya menulis dan pengakuan si pemberi komentar sendiri terhadap kemampuannya yang buruk dalam hal tulis menulis dan bahwa menulis itu adalah hal yang sangat sulit.

Terlepas dari itu semua, berikut adalah beberapa hal yang saya harap bisa membantu anda mengubah anggapan bahwa menulis itu susah.

Menulis itu mudah, anak TK dan SD sudah bisa melakukannya. Terutama dengan sekolah-sekolah eksklusif yang banyak bermunculan, anak-anak SD jaman sekarang sudah diplot para pendidiknya untuk menjadi lebih hebat daripada Charles Dickens, dan menghasilkan magnum opus yang akan membuat mereka menjadi milyarder atau “trilyuner” sebelum mereka melanjutkan ke SMP.

Baiklah, lupakan saja, kita fokus ke anda yang sedang garuk-garuk kepala.

1. Siapkan kertas dan pen atau pensil yang bisa anda akses setiap waktu, dimanapun, kapanpun. Jangan kertas kecil, tapi selembaran ukuran besar (A4/A3) yang bisa anda lipat-lipat. Sebagai alternatif, anda bisa memanfaatkan telepon genggam yang mempunyai fasilitas buku catatan, dan ini harus bisa anda sinkronisasikan dengan komputer, jika tidak, metode ini bisa dikatakan percuma, catatan yang anda buat bisa hilang dalam jagad digital, tidak pernah dibaca.

2. Kenapa anda membutuhkan benda-benda aneh itu? Untuk jimat? Bukan. Inti dari penulisan adalah ide, dan ide akan datang setiap saat, entah anda siap atau tidak. Bagus sekali jika anda punya daya ingat yang baik. Saya punya kenalan yang mengaku mempunyai daya ingat diatas rata-rata, kemudian disore hari dia menghabiskan waktu makan malam untuk memikirkan apa yang dipikirkannya tadi siang yang saat ini sudah terlupakan. Kalau sudah begitu yang “kena” adalah pencernaan. Dan dia mengaku tidak bisa tidur dalam usaha mencari kembali data yang sudah terlupakan oleh daya ingatnya yang seharusnya berada di atas rata-rata tersebut.

3. Metode. Ada dua metode, metode pertama saya sebut webbing (penyebutan sesuka saya) berguna bagi anda yang mempunyai pikiran kacau seperti saya. Terinspirasi dari program yang terintegrasi dengan Encyclopaedia Brittanica. Ilustrasinya seperti ini:

4. Metode kedua adalah pointers list, sudah jamak kita temukan, seperti ini:
> lapar
> maka aku makan
> makan sendiri
- di resto xXx
- minumnya jus hawaian sensation
> atau dengan yayank
- di warteg
- minum es teh
- tetap hemat biarpun yayank makannya sebakul
> pulang
> tidur

kira-kira seperti itu, tentunya anda bisa menuliskan ide-ide anda yang tentunya lebih bermutu. Integrasikan what, when, who, why, how, sejauh yang anda bisa, mereka akan menambah unsur “logis” bagi tulisan anda.

5. Elaborasi, jika anda sudah menemukan meja atau berada di depan komputer, pandangi lagi apa yang telah anda tulis, dan bayangkan, dengan kalimat-kalimat seperti apa anda akan merangkaikan mereka. Dan yang lebih penting, bagaimana kira-kira anda akan memulai dan mengakhiri tulisan anda, ini bukan harga mati, dan bisa saja berubah saat anda sudah mulai menulis, tapi akan sangat membantu menentukan akan jadi tulisan seperti apa tulisan anda.

Anda tidak perlu pusing dengan metode penulisan (kita tidak sedang menulis skripsi disini) karena dengan metode di atas, anda secara tidak langsung telah menyusun gerbong atau rantai pemikiran anda. Anda bisa mulai dari sana dan menjabarkannya satu persatu dalam paragraf-paragraf. Perhatikan, aliran penulisan anda bisa berubah-ubah, selalu ada tambahan ide baru saat anda menulis, yang mungkin membuat anda mau membatalkan ide yang hadir sebelumnya (hal pembatalan ini pun bisa anda integrasikan dalam tulisan). Tidak apa-apa, anda akan terbiasa dengan hal ini.

6. Berapa kata yang bisa dirangkaikan untuk membuat satu paragraf? Tidak ada aturan baku, setidaknya sepengetahuan saya, institusi pendidikan di Indonesia senang keseragaman, saya tidak. Satu paragraf bisa diisi oleh banyak kata, yang menyebabkan satu paragraf mengisi penuh satu halaman. Bisa juga hanya diisi oleh satu kata, hal ini biasa digunakan untuk penekanan, jika ada satu hal, atau emosi yang kuat yang ingin anda sampaikan.

7. Seberapa panjang sebaiknya suatu tulisan? Terserah anda. Tapi jika anda memilih media blog, senang terhadap popularitas, maka sebaiknya jangan terlalu panjang. Jika anda menulis blog berbahasa Indonesia, lebih baik jika pembaca dapat melihat seluruh tulisan anda tanpa harus memutar scroll pada mouse. Jika tulisan anda yang panjang ingin mendapatkan pembaca, maka bagilah tulisan tersebut menjadi potongan kecil, dan dipublikasikan pada halaman yang berbeda, misalnya: “Tips Aman Mencuri Jemuran bag. 1″, “Tips Aman Mencuri Jemuran bag. 2″ dan seterusnya. Lebih lanjut ada disini: obok-obok

8. Setelah membaca berbagai sumber tentang penulisan dan metodenya, saya sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada satu metode penulisan yang bisa menjadi satu obat untuk semua penyakit, dan bahwa guru menulis yang terbaik adalah diri anda sendiri. Ini adalah pengejawantahan karakteristik, ini adalah hal yang membuat manusia begitu unik, ini adalah hal yang memungkinkan manusia mempunyai sejarah, ini adalah hal yang memungkinkan manusia untuk belajar dari masa lalu, memperkirakan masa depan, dan mentertawakan kebodohannya sendiri.

Bagaimana caranya?

9. Pertama observasi, gunakan semua indera anda ketika anda sedang terbangun. Banyak manusia disekeliling kita yang tidak melakukan hal ini dan akhirnya bertindak semau mereka: mengendarai motor tepat ditengah jalan yang sempit, memarkir mobil melintang menutupi keluar-masuknya mobil lain. Orang-orang seperti ini tidak mempunyai kemampuan observasi. Hal-hal sederhana seperti ini. Observasi membuat kita sensitif (tidak terlalu sensitif untuk membuat kita menjadi manusia yang uring-uringan) sehingga indera kita bisa menangkap bahkan hal-hal terkecil yang ada disekitar kita, semua ini adalah informasi, dan lihat apa yang mereka lakukan terhadap otak anda…

10. Kedua, membaca! Bukan, ini bukan propaganda departemen pendidikan, atau penerbit teen-lit. Baca buku apa saja, dengan bentuk seperti apa saja yang menarik perhatian anda. Anda akan menemukan banyak sekali gaya menulis, konvensi yang diterima dalam penulisan secara umum (global), termasuk bagaimana mendobrak konvensi itu, serta ide dan karakter. Ingat, anda sedang berhadapan dengan buku, bukan si penulis secara langsung.

Otak anda yang berharga posisinya lebih tinggi daripada sebuah buku (baiklah, baiklah, kecuali kitab-kitab suci, saya tidak mau berargumentasi tentang ini) biasakan untuk menjadi pembaca yang kritis, jika suatu kegiatan membaca mengganggu anda, coba silangkan dengan membaca sumber-sumber yang lain. Kalau anda memiliki idola musik seperti Ariel Peter Pan atau ST12, sudah saatnya anda memiliki idola di jagad penulisan.

11. Biasakan untuk mengkomunikasikan ide dengan baik, hal ini gampang-gampang sulit, terutama jika kita sedang emosi. Ini mungkin salah satu keunggulan bahasa tulis, kita bisa memantau apa yang keluar dari kepala kita sebelum kita menyampaikannya untuk berhadapan dengan ide lain. Prakteknya pada ranah blog: jika anda akan memberi komentar, jangan melakukan hal-hal tipikal seperti: “bagus gan!”, “pertamax”, “ijin copy-paste yah!” perhatikan blog-blog dari bahasa lain dengan tradisi baca-tulis yang lebih baik, hampir tidak ada komentar seperti ini. Tentunya batasi diri: hanya bicara jika anda tahu apa yang anda bicarakan.

12. Saya sebenarnya ingin menuliskan mengenai disiplin disini, tapi itu namanya munafik. Menulis itu sama saja dengan makan – ok lah, bisa juga sama dengan fitness – atau apa saja. Intinya untuk menegasikan disiplin, tulislah mengenai hal-hal yang anda sukai. Mungkin anda baru saja menyelesaikan sebuah permainan komputer yang menurut anda luar biasa, mungkin anda baru saja membongkar laptop dan tidak tahu bagaimana menyatukannya kembali (hayo!). Bahkan anda bisa menulis tentang pacar anda yang nomor 9. Anda akan melupakan konsep waktu dan sibuk meladeni otak anda yang ribut.

Ini ada satu lusin untuk anda, dibuat sebagai hasil pantauan pencarian pada statistik WordPress. Faktanya adalah kegiatan penulisan (atau pembacaan sekalian) masih belum manjadi bagian penting dari kegiatan pendidikan kita (mungkin tidak akan pernah) jadi kesimpulannya, keahlian anda menulis bisa jadi tidak ada hubungannya dengan kenyataan bahwa anda hanya lulusan SMP atau Prof. Dr. Insinyur Xxx SH. MM, Alm. Pemuka agama atau residivis, kaya atau miskin (banyak buku kelas dunia yang bisa diunduh gratis dari Internet), normal atau cacat, sakit atau sehat.

Rupawan atau jelek (katanya orang jelek bisa menulis lebih baik… entahlah).

Intinya menurut saya adalah apa yang anda baca, berapa banyak, seberapa sering anda menulis, dan seberapa baik kemampuan observasi anda. Oh dan satu lagi: akal sehat.

Juga, lupakan semua skema cepat kaya. J.K Rowling dan Harry Potter-nya adalah sebuah proses panjang yang menyakitkan, fakta bahwa dia adalah salah satu penulis terkaya di dunia saat ini adalah sekedar bonus. Fakta bahwa si bocah bernama Harry menyangkut di hati dan pikiran penggemar buku di seluruh dunia, ini adalah hadiah utama bagi penulis manapun.

Ada pertanyaan?

Contoh Sudut Pandang Orang Pertama (Multi) Pada Penulisan Fiksi

2010 Februari 1
oleh blackenedgreen

1. Bergerak

Bagiku, tidak ada kehidupan lain selain kehidupan ini, tapi Inana berkata bahwa aku dan semua orang seumuranku hidup dalam masa-masa yang teramat sulit, masa dimana kerakusan telah menang dan kami semua, bahkan para manusia yang menjadi alat dari kerakusan hidup terinjak, kepala rata dengan tanah. Dan saat kerakusan telah menang, tidak ada lagi yang namanya manusia. Dan semua hal yang telah dibangun oleh manusia tidak dapat melindunginya lagi.

Inana bilang, ada masa dimana ancaman paling besar bagi kami adalah dari sesama kami manusia. Namun sekarang semua elemen yang ada menjadi musuh kami. Segala kebaikan dari bumi telah menjadi racun dan dendam, dendam atas ketamakan.

Inana adalah perempuan yang melahirkan aku, menurut Inana dahulu perempuan seperti ini disebut Ibu, tapi sekarang tidak ada lagi orang yang menggunakan kata-kata itu. Inana telah melahirkan beberapa orang dari beberapa laki-laki, aku tak tahu pasti berapa, sebagian perempuan, sebagian laki-laki. Sebagian tinggal bersamanya, sebagian telah pergi entah kemana, sebagian telah mati.

Inana duduk di depan kemah kami, memandangi orang yang lalu lalang. Semua orang yang lewat di depan kami adalah kelompok kami. Ada lebih dari 300 orang, aku tahu karena Inana mengajari aku berhitung, dia juga mengajari aku membaca, walaupun tidak ada orang lain yang tahu.

Kemudian dia berdiri dan berjalan ke arahku, memasuki kemah. Aku mengerti, segera aku kenakan jubahku, topengku yang aneh, sampai tidak ada lagi bagian tubuhku yang kelihatan. Inana akan sangat marah dan memukulku jika dia tahu aku keluar dari kemah tanpa semua ini, dia bilang padaku dan semua orang bahwa aku sakit, penyakit yang sangat menular dan mengerikan, aids namanya.

Orang bilang kalau dulu obat aids ada banyak, namun saat ini, bahkan seseorang yang batuk pun tidak bisa mendapatkan obat. Obat hanya ada di tempat perlindungan, kota-kota dimana orang kaya tinggal dan dilindungi oleh bom, ranjau, roket dan para penjaga bersenjata lengkap yang jumlahnya sangat banyak.

Kami tidak boleh masuk kesana, hidup atau mati, kami tidak bisa membeli hak untuk masuk dan kami terlalu kotor untuk masuk. Jadi kami berada di luar sini, saling membunuh, saling merampok antar kelompok. Dan kami diburu. Orang dari koloni akan datang dengan senjata, dengan kendaraan lapis baja, dengan pesawat terbang, membunuh kami dengan cara apapun yang dapat dipikirkan oleh mereka saat itu. Inana bilang itu semua karena orang kota takut. Jika jumlah kami terlalu banyak maka kami bisa menjadi ancaman bagi koloni.

Aku membantu Inana melipat tenda, debu berterbangan. Di kejauhan kulihat beberapa buah truk besar berjalan berputar-putar. Orang-orang itu sedang senang, kelompok kami baru saja berperang dengan kelompok lain, tidak tahu kelompok mana, tidak kenal. Sebagian kami bunuh, sebagian lari, sebagian dikawini oleh para laki-laki. Ada banyak barang yang mereka tinggalkan, namun yang paling menarik perhatian adalah ketiga truk itu. Sekarang kelompok kami punya enam truk, makin banyak orang dan barang yang bisa diangkut. Yang tidak mampu berjalan akan memberikan apapun yang mereka punyai agar bisa mendapatkan tempat di atas truk. Jika mereka tidak mampu dan tidak punya apa-apa, mereka akan ditinggalkan, aku tidak akan pernah lagi melihat mereka.

Kami harus tetap bersama-sama dengan kelompok, bagitu kata Inana. Inana sangat membenci sebagaian orang yang ada di dalam kelompok kami. Inana membenci semua orang, namun ada sebagian dari mereka yang sangat dia benci. Sebagian dari orang-orang itu sekarang sedang bermain-main dengan truk, sebagian mungkin sedang kawin.

“lihat, dimana jahanam itu nanti dapat minyak” kata Inana dengan geram.

Kami harus tetap bersama-sama dengan kelompok, atau kami akan mati, entah dibunuh, entah diperkosa. Sangat sulit untuk masuk kedalam kelompok. Inana harus kawin dengan beberapa laki-laki yang punya kuasa di kelompok, aku tahu karena aku melihat, mereka kawin beramai-ramai. Inana juga harus menyerahkan semua barang-barangnya yang diinginkan oleh orang-orang yang punya kuasa di kelompok ini, aku tahu, karena saat Inana menangis dia memeluk aku dan menggenggam kalung itu. Jika ada yang tahu dia masih punya kalung itu maka kami akan mati.

Beberapa truk mulai berjalan, orang-orang itu bertumpuk diatasnya. Sebagian truk masih belum jalan, orang-orang saling tarik dan saling pukul dibelakangnya.

“Kita jalan” kata Inana.

Aku melihat sekeliling dan melihat Pian berlari mendekati kami, Inana juga melahirkan dia. Pian lebih tua dariku.

“Kau ndak naik truk?” kata Pian pada Inana.

“Kau mau naik, naiklah” kata Inana ketus.

Pian lari meninggalkan kami ke arah truk. Dari semua orang yang kutahu dilahirkan oleh Inana, Pian adalah yang paling baik, terkadang dia masih mau datang dang membantu Inana. Aku selalu membantu Inana, aku selalu berada di dekat Inana. Tidak ada orang yang mau dekat denganku karena aku sakit aids.

Terlalu banyak manusia, terlalu banyak ketamakan, dan semuanya rata dengan tanah, bahkan tanah yang berada di bawah kaki kami pun bukanlah lagi tanah. Tapi campuran semua racun yang tumpah dan ditumpahkan kemudian menyatu dengan mayat-mayat busuk yang memang  tidak pernah punya jiwa saat mereka hidup.

Inana selalu mengatakan hal-hal itu, aku tidak begitu mengerti maksudnya, sepertinya dia menyesalkan situasi kami saat ini, dan dia menyalahkan semua orang yang ada di sekelilingnya.

“jangan jadi bodoh kamu Putri, kita begini karena manusia-manusia bodoh pegang kuasa” aku selalu menanyakan kenapa dia selalu berkata-kata demikian. Tapi Inana tidak pernah menjawab, sesekali dia akan menunjuk-nunjuk ke kepala dan dadaku dan berkata: “pada akhirnya pikiran dan hatimulah yang membedakanmu dengan semua sampah ini, dan biarpun mereka harus membelah kepalamu dan mengoyak dadamu, mereka tidak akan bisa mengambilnya.”

Inana mengambil tenda dari pundakku, dia meninggalkan beberapa alat-alat masak di belakang, alat-alat masak yang menjadi haknya karena dia dikawini oleh para penguasa kelompok. Aku membawa air dalam kantung plastik yang berlapis, cukup untuk kami berdua sampai besok, Inana membawa buntalan keramatnya, kain yang kuat tempat dimana dia menyimpan barang-barang yang dianggapnya berguna, didalam buntalan itu juga ada obatku. Sebilah parang yang panjang tergantung di pundaknya.

Aku tahu Inana selalu menginginkan senjata api. Dia selalu memandangi laki-laki penguasa yang sedang main-main dengan senjata api, pistol, senapan. Parang tidak ada apa-apanya dibanding pistol dan senapan. Inana pernah berpikir untuk mencuri satu pistol, atau satu senapan, atau dua-duanya, tapi laki-laki itu tidur dengan senapan dan pistol mereka. Inana bilang laki-laki bisa kawin dengan truk dan senapan, Inana bilang dulu laki-laki bisa kawin dengan burung perkutut, dengan kambing, dengan ayam.

“sekarang laki-laki bisa kawin dengan apa saja, hamil pula benda itu dibuatnya” katanya.

Hari ini Inana menyuruhku membebat kakiku dengan kain, aku sudah biasa jalan jauh, tapak kakiku sudah keras, biasanya aku tidak perlu alas kaki, tapi Inana marah “ikut saja!” bentaknya.

Aku pikir sesuatu akan terjadi.

2. Seratussembilanpuluhenam.

Seratus sembilan puluh enam, termasuk perempuan dan anak-anak, kalau dipikir-pikir apa yang dilakukan kelompok ini dengan perempuan dan anak-anak?

“Ada berapa perempuan dan anak-anak?” sedetik kemudian aku menyesal telah bertanya.

Boy menoleh kearahku “entah!” kemudian dia tertawa “untuk apa tahu?”

Sial, aku jadi tidak sempat menghitung. Si Perancis maniak itu menahanku terlalu lama dengan ceritanya, dengan idealismenya. Tidak ada yang mau mendengar ceritaku, kenapa aku harus mendengar ceritanya?

Karena itu merupakan jaminan keamanan, asuransi hidupku, berada di dekatnya membuat hidupku sangat nyaman, setidaknya dibandingkan sampah-sampah tidak berguna ini…

Manusia-manusia yang mempunyai warna kulit yang sama denganku namun tidak pernah mengerti dengan apa yang kukatakan, mereka yang tertawa gembira saat pamer kebodohan, sibuk dengan segala cakap sampah mereka saat mereka seharusnya bekerja dan berpikir, mudah marah seperti anjing yang kehilangan tulang, tenang seperti manusia autis saat kepala mereka dimainkan, panik dan uring-uringan saat penis mereka dipelintir.

Si Boy ini adalah contoh, sampel paling mutakhir. Dari dulu sampai sekarang aku tak tahu namanya. Aku juga tak tahu bagaimana badannya bisa begitu padat, begitu besar begitu makmur. Tapi wajahnya, aku tahu tampang itu, semakin banyak akhir-akhir ini di koloni. Tentu saja mereka semakin banyak, orang-orang seperti inilah yang paling sering bereproduksi, dan sepertinya para pengurus senang dengan perkembangan ini, semakin bodoh generasi ini, semakin baik bagi mereka.

Segala pendidikan yang mereka berikan bagi kami? Diberikan dengan dosis terkontrol.

“Kira-kira saja…” aku melebarkan pandanganku dari tumpukan mayat itu ke mayat-mayat lain yang masih berserakan, bau amis darah, entah kaki entah tangan berserakan kemana-mana.

“tak sampai setengah kayaknya” kata si Boy mendekatiku, salah seorang rekannya membentak, protes kepada si Boy, aku memandangnya lekat-lekat, orang-orang ini, sama malasnya, mereka protes karena mereka tidak bisa bermalas-malasan, si Perancis gila ada disini, dan si Boy? Dia sedang bicara denganku, dia menjadi penting karena itu.

“sampai lima puluh?”

“perempuannya cuma sedikit, ndak sampai lima puluh… pasti, kalau anak-anak… aku tak tahu yang mana anak-anak” katanya cengengesan.

“kira-kira badannya setinggi pinggangmu kebawah, bayi atau apalah yang kau lihat”

“ada bayi, satu dua, kayaknya ada disebelah sana satu lagi, tapi kalau perempuan, entah anak-anak entah emak-emak, dua puluhan lah, kayaknya, yang kutahu, tapi ndak pasti juga.” dia mengangkat bahunya, masih cengengesan.

Piramida mayat itu sudah seperti bukit kecil, kebanyakan laki-laki, susah membedakan mereka. Di sekitarnya ada pekerja yang menutupi mulutnya, ada yang muntah, ada yang pingsan, orang-orang baru.

Mereka membuatku muak, di tengah koloni mereka adalah jagoan, ahli dengan ancaman kosong, terlalu bodoh untuk tindakan lanjutan, fisik dan fisik dan fisik, selalu berkelahi setiap ada kesempatan, setiap ada alasan, alasan apapun, testosterone membanjiri kepala. Sex sepuluh kali dengan sepuluh pelacur berbeda setiap malam, hanya untuk membuktikan kejawaraannya, mudah sekali diagitasi, selalu yang paling antusias untuk turun kelapangan.

Hormonal, mereka hanya antusias untuk tamasya, disini isi perut mereka tadi pagi keluar semua. Wajah-wajah pucat seperti bayi dicekik, beberapa terduduk, manusia-manusia ini berpikir dengan mempergunakan… entah apa. Entah kenapa mereka terdiam disini, muntah disini, pucat disini, sedangkan di koloni mereka selalu mengancam untuk membunuh orang.

Si Boy? Sama saja, tapi cukup cepat dia beradaptasi, setelah sering dipangkung si Perancis gila tentunya.

Aku? Waktu aku kecil aku membersihkan ceceran otak ibuku yang didorong keluar dari ubun-ubun dan setiap lubang dikepalanya, ibuku kelihatan seperti ikan waktu itu. Saat remaja lain belajar untuk kawin, aku mencari ayahku dan menginjak kepalanya dengan stilleto ibuku sampai bocor. Keluarganya, adik-adiknya, kakaknya, mencariku, ingin membunuhku, bukannya menemuiku, mereka malah mencari keluarga ibuku, mungkin mereka sudah musnah saling bunuh sekarang.

Kalau ada yang menanyakan pendapatku tentang perkawinan… kubunuh.

Aku bertemu si Perancis kemudian, sedang menanyakan alamat, aku menguasai bahasanya, dan bahasa lain, bukan tahu, bukan kelas pasaran, bukan keahlian untuk bertahan hidup, tapi bahasa kompleks dengan lafal yang hampir sempurna, aku tahu budayanya, aku tahu omong kosongnya. Dia menemukan kegunaanku dan membawaku.

Membuatku ikut pada setiap operasi, membuat dokumentasi, laporan, menterjemahkan untuknya, mengabadikan mayat, berdiri diatas serpihan daging dan darah membuat jantungku berdegup, bergairah, energiku terasa penuh, aku merasa hidup, aku merasa superior, aku bisa melihat mereka, apa mayat-mayat itu bisa melihatku, mata mereka entah berceceran kemana, kepala mereka entah terlempar kemana, mereka tidak bisa melihatku. Setelah segala omong kosong yang mereka buat saat mereka hidup… kemudian sunyi senyap… dan mereka bilang mereka akan bertarung untuk hidup mereka?

Saat terancam aku bertarung untuk membunuh… tidak, aku bahkan tidak bertarung, aku membunuh, dengan cara apapun. Saat kau berhadapan dengan manusia dan makhluk lain yang ingin membinasakanmu, kau tidak bertarung, kau tidak harus membuktikan apapun, kau tidak harus membuktikan bahwa kau lebih kuat, bahwa kau benar, bahwa ancamanmu lebih menggigit, bahwa kau adalah laki-laki yang superior, lebih atletis, lebih fit, lebih ahli…

Hanya orang-orang bodoh yang melakukan itu… aku membunuh, aku tidak bertarung. Jika aku bertarung maka aku akan kalah, tidak semua manusia bisa bertarung, terutama laki-laki dengan fisik rata-rata seperti aku, tapi semua manusia telah mempunyai kemampuan untuk membunuh bahkan sejak mereka lahir, membunuh apapun, membunuh manusia lain, membunuh binatang lain, membunuh bumi, aku hanya memanfaatkan fasilitas itu.

Ini adalah sebuah filosofi, sebuah kredo yang tidak dimengerti oleh ternak-ternak ini, mereka bertarung seperti sapi.

Filosofi ini hanya kubagi dengan si Perancis gila, dan sejak saat itu aku menjadi kesayangannya, temannya bercerita, wakilnya mengurusi segala sesuatu. Tapi kami tidak saling percaya, tidak pernah, hanya masalah waktu sampai dia menyodomiku. Aku tidak punya waktu untuk mengedipkan mataku, tidak sedetikpun.

“Sudah! Lama sekali… bakar saja!” teriak si Perancis gila. Aku menterjemahkan teriakan itu pada para pesuruh.

“Yang lainnya biar dimakan anjing!” Itu juga kuterjemahkan. “Atau kalian makan saja kalau mau!” Yang ini kalimatku sendiri.

Dan daging-daging kaku itu lumer seperti lilin, api menaungi mereka, asap dan bau daging merebak ke udara… jika neraka itu benar ada, seperti inikah rupanya?

Si Perancis gila menatap api unggun yang terbuat dari mayat manusia itu dengan pandangan sayu “c’est beau…” dan dia tersenyum.

Disini… diatas pulau besar yang dulu bernama Kalimantan, kami melukisi tanah dengan darah dan muntah!

3. Pergi Untuk Menjadi Manusia.

Kenapa kami berkelompok, kenapa kami tidak sendirian saja, hanya aku dan Inana, mungkin Pian juga, kalau dia mau ikut.

Aku pernah bertanya seperti itu.

Inana bilang mau tidak mau seperti itu, dari sananya manusia itu selalu cari musuh, semua yang ada diluar dia dianggap musuh. Biar bisa akur mereka harus punya musuh bersama, kami bisa hidup lebih lama di kelompok ini, selain karena dikelompok ini banyak manusia beringas dan licik, juga karena kami punya musuh bersama.

“Siapa musuh bersama kita?” tanyaku.

“Ya, manusia lain.” katanya sambil memandangiku dengan wajah heran. “Sudah kubilang Putri, jangan bodoh!” sambungnya.

Kadang aku pikir dialah yang bodoh.

“Seperti apa orang sakit aids Inana?” tanyaku.

“Ya, seperti kau itu!” jawabnya ketus.

“Aku mati sebentar lagi Inana?” tanyaku.

“Tidak, kalau kau minum obat yang kuberi.” jawabnya lagi, masih ketus.

Aku tidak pernah bertanya pada orang lain, mereka sama bodohnya, mereka bahkan tidak mau dekat denganku, menghinaku. Dan kalau Inana tahu aku mencoba bicara dengan orang lain, dia menamparku, menendangku, menyeretku menjauh dari orang-orang… mereka semua ketawa.

Ketawa seperti monyet dan kambing.

“Darimana kau dapat obat Inana?” tanyaku.

Dia memandangku marah “kau mau mati sekarang hah?!”

Selama hampir sebulan dia selalu memberiku satu pil yang sama setiap hari, kemudian selama seminggu dia memberiku pil yang berbeda, pil yang manis, terkadang tidak sama sekali. Obat itu biasanya membuatku pusing, bukannya obat itu untuk menghilangkan sakit?

Seorang perempuan tua yang pernah duduk di depan tenda kami bilang bahwa orang sakit aids harus makan banyak sekali obat.

Inana bilang perempuan tua itu bodoh, dia bilang perempuan tua itu mati saja.

Apakah aku mau mati sekarang? Tidak, aku masih mau melihat koloni, aku mau keluar dari tempat ini.

“Kau mau keluar kemana?” tanya Inana, senyum mengejek dibibirnya.

Kami sudah berjalan dari pagi, sekarang diatas jalan yang putih ini, Inana bilang ini dulunya semen yang ditimpa dengan aspal.

“Aspal?”

Inana mendengus kesal “aku sudah berkali-kali cerita padamu tentang aspal, sudahlah tidak pantas diingat.”

Sebagian truk-truk tidak kelihatan, sebagian berjalan dengan liar, berputar-putar disekeliling kami, debu berterbangan, susah melihat, nafas sesak, dan panas membuatku pusing.

“Hoi!” Inana berteriak kearah truk yang berjalan kencang karah kami. Truk itu berbelok tiba-tiba, laki-laki yang ada di dalam truk itu tertawa-tawa. Inana memandangi truk yang menjauh itu dengan marah.

Seseorang jatuh dari belakang truk. Tidak ada yang menolong. “Biar mampus!” teriak Inana.

Jakarta dan Pengaruhnya Pada Indonesia

2010 Februari 1
oleh blackenedgreen

Beberapa kali mengunjungi Jakarta, di salah satu kunjungan kami harus menggunakan kereta secara intens, yang berarti berada di stasiun dan berada di tengah-tengah begitu banyak orang, manusia dari berbagai macam jenis.

Di stasiun-stasiun kereta di Solo atau Yogyakarta saya akan merasa relatif santai walaupun tiket saya adalah tiket kelas ekonomi. Di Jakarta? “Ever vigilant” itu adalah kesan yang diberikan oleh salah seorang anggota keluarga yang sudah begitu banyak membantu saya menghadapi “crash course” Jakarta.

Ever vigilant? Okelah, tapi jika seorang ibu dengan barang bawaan yang begitu banyak dengan ekspresi capai yang begitu kentara meminta sedikit tolong dan saya tidak boleh meladeni… saya pikir, paling tidak ada satu masalah disini.

Mungkin salah satu masalah tersebut adalah fakta bahwa saya adalah seorang pemalas yang dengan naifnya terlalu sering melamun dan berkhayal bahwa di atas permukaan bumi ini masih terdapat orang-orang baik. Dan ternyata, menurut “crash course” tersebut asumsi saya adalah sebuah kesalahan besar.

Jika ini adalah dunia penyihir maka saya harus menghasilkan mantra “perpetual orb” untuk menciptakan bola energi kasat mata yang mengelilingi saya 24 jam, dan menahan segala macam niat jahat pada jarak aman. Saya juga harus ahli dalam “counter spell” kalau-kalau ada orang diluar sana yang mampu menghipnotis hanya dengan kontak mata saja.

Sayang ini bukan dunia penyihir, mental sayalah yang harus dimodifikasi disini. Saya harus logis seperti seorang profesor tekhnik nuklir, dingin seperti seorang pembunuh bayaran, mempunyai daya bentak dan daya ancam yang menggigit, bahkan lebih menggigit daripada para preman dan polisi korup terhebat di Jakarta dan Medan disatukan.

Saya harus mempunyai kemampuan untuk memetakan wilayah disekitar saya dalam radius 100 meter, 360 derajat. Saya harus bisa mengetahui dimana barang bawaan saya, dimana dompet saya, dimana-mana saja posisi orang-orang yang berdiri dan duduk di sekeliling saya, dan saya harus bisa melakukan itu semua tanpa melihat.

Seorang manusia dengan keadaan paling menyedihkan sekalipun bisa menjadi ancaman bagi keberadaanmu hari itu, bisa membuat hari yang biasa-biasa saja menjadi begitu buruk.

Saya lebih memilih untuk menganggap bahwa seluruh asumsi ini bukanlah agregat, namun saya selalu dipaksa untuk mempercayainya.

Jakarta diisi oleh begitu banyak manusia, masing-masing hidup untuk dirinya sendiri, bahkan segala keramahan yang disampaikan oleh para orang berjas dan berdasi mahal – di gedung-gedung eksklusif dalam ruangan-ruangan kantor dengan furnishing pada masing-masing ruang yang bahkan lebih mahal daripada keseluruhan rumah saya – adalah keramahan untuk dirinya sendiri.

Seluruh pembicaraan adalah assessment yang begitu dingin, sebuah pengukuran nilai keuntungan yang dibawa oleh si pendatang ini. Mencari-cari tiap kesempatan untuk tertawa atau lebih tepatnya mentertawakan. Tapi saya rasa sama saja, semua hal yang kita rasakan pada saat kita bertemu dengan seseorang yang kita anggap orang kampung.

Berada diluar, bukan hanya mental yang harus dimodifikasi, tapi juga paru-paru, jika kain yang dijemur saja warnanya bisa kusam bagaimana dengan organ-organ internal, sekali lagi, salut untuk warga Jakarta, saya rasa internal organ kita sudah bermetamorfosis untuk menyesuaikan diri dengan modus kehidupan chaotic metropolis disana.

Sebagai orang kampung, melihat Jakarta, ada beberapa hal yang terasa tidak cocok. Ini adalah sebuah ibukota, diisi oleh orang-orang pintar (istilah rakyat), semuanya berkumpul disini, pintar dalam hal-hal apapun, baik dan buruk. Sebuah metropolis biasanya menjunjung hitung-hitungan logika ketimbang rasa emosional. Tapi saya gagal menemukan hal-hal yang logis di jalanan Jakarta, di gedung-gedung yang dibangun di Jakarta, di perumahan-perumahan yang dibangun di wilayah yang, bahkan dari sudut pandang anak-anak, tidak memungkinkan.

Untuk berpaling ke ranah emosional sudah tidak mungkin lagi, hiburan mental spiritual sudah menjadi barang yang begitu mahal. Untuk berolahraga saja orang rela membayar jutaan? Pameran seni dipindahkan ke mal? Anda harus menjadi seorang sosialita untuk mengakses ini semua.

Kenapa saya mengomel tentang Jakarta?

Kota-kota lain di Indonesia punya masalah tersendiri, dengan satu masalah global yang sifatnya seperti hantu, ada dan tiada: korupsi. Di kota-kota yang dicap kota pendidikan misalnya, para mantan pelajar dengan melankolisnya akan bernostalgia tentang romansa kota pendidikan (sinetron sangat membantu disini).

Namun jika mereka melakukan kontak lebih intens dengan kehidupan lokal, terkadang mereka akan menemui fakta pahit bahwa nyawa pun kadang tidak ada harganya, dan seorang mahasiswa bisa mati dengan keadaan bodoh ditangan preman yang mabuk.

Jakarta sendiri, yang oleh media luar pernah dicap sebagai salah satu tempat bermukim terburuk di dunia, akhirnya menghasilkan manusia-manusia yang mau tidak mau akan pergi ke daerah-daerah, dan membawa pengaruh disana. Di Pontianak misalnya, sekarang terdapat “fasilitas” dan gaya hidup yang beberapa tahun lalu hanya bisa saya temukan di Jakarta, sialnya hal tersebut membuat aneh kondisi diwilayah yang sebenarnya belum sempat maju namun telah mengalami efek samping dari “kemajuan” tersebut. Masyarakat melakukan konsumsi seperti pelaut dan monarki Spanyol.

Di Yogyakarta, klub-klub malam menjamur seperti penjual pulsa, diisi oleh gadis-gadis desa yang disulap menjadi makhluk seksi yang mungkin belum menstruasi, yang berbahasa Indonesia saja sulit. Pada saat mendengar mereka bicara, libido saya lompat ke jurang.

Dan mereka mengiklankan usaha mereka tidak jauh beda degan universitas-universitas yang mengiklankan program studi mereka: ada program-program unggulan… mungkin karena biro iklannya sama.

TIME pernah mengeluarkan travel guide dengan salah satu tag line yang jika diterjemahkan mungkin akan berbunyi seperti ini: “Kunjungi Tempat Ini Sebelum Keduluan Oleh Mc. Donald.” Tapi setiap pelosok Indonesia sudah dikuasai oleh uang yang mempunyai ikatan dengan ibu kota. Tidak hanya Mc. Donald, tanah gambut di Kalimantan pun akan diretrukturisasi agar bisa menerima segala ide kreatif dari para pemegang modal di Jakarta.

Jakarta perlu diperbaiki untuk menghasilkan produk kemanusiaan yang masuk akal, karena walaupun benci, harus diakui kenyataan bahwa sengaja maupun tidak sengaja seluruh keberadaan Indonesia masih terpusat di Jakarta, termasuklah seluruh sumber dayanya. Dan dengan kapital yang terkumpul disana Jakarta mempengaruhi kehidupan di seluruh Indonesia.

Jika seorang warga Jakarta yang berprofesi pengacara bisa memiliki berhektar-hektar lahan di Kalimantan, dengan kebijaksanaan pribadi si pengacara, dan kepintaran kolega-kolega di lingkungan sosialnya, mereka bisa merubah total wajah bumi disini. Warga setempat mau pergi kemana? Ke laut? Itu hanya akan mengantar kita pada permasalahan lain yang tidak ada habisnya.

Perbaiki Jakarta, ini akan membantu mengurangi kecendrungan frantic-expansive kota yang systemathically chaotic tersebut.

* kenapa dengan istilah-istilah asing yang sombong dalam tulisan ini, well… you see, mengingat Jakarta adalah kota metropolitan mungkin para pejabat dan karyawan pemda yang sophisticated tersebut agak kesulitan mengerti Bahasa Indonesia, sehingga komunikasi mereka dengan masyarakat Jakarta mengenai pembangunan kota tidak pernah bisa sejalan… kalau-kalau mereka pernah membaca tulisan ini.

** untuk Koalisi Jakarta 2030, segala produk hukum dan kebijakan di Indonesia tidak pernah memberi penjelasan yang memuaskan dengan apa yang dimaksud dengan “kepentingan umum”, silahkan diperiksa kalau saya salah.

Lingkungan dan Korporasi… dan Pemerintah

2010 Februari 1
oleh blackenedgreen

Pemerintah Indonesia, sama dengan pemerintah China, punya komitmen terhadap lingkungan, tapi sama dengan pemerintah China, Pemerintah Indonesia juga punya komitmen terhadap Korporasi. Dan di lapangan, bukan pada hasil survey atau data statistik, korporasi selalu menang.

Yang selalu gagal diperhatikan oleh masyarakat yang mempunyai niat baik untuk memperbaiki kondisi pri-kehidupan manusia Indonesia adalah, jika terkait dengan negosiasi, bagi pemerintah, tidak ada namanya hitam dan putih, tidak ada benar atau salah, namun kepentingan seperti apa yang bisa dilayani pada saat ini. Semuanya itu terlepas dari masalah pemilihan umum, penggambaran publik masalah elektabilitas.

… baiklah, kita menyadari hal ini, tapi kenapa kita selalu berteriak-teriak tentang utopia dan menafikan hal-hal seperti ini?

Hal ini tidak hanya terjadi pada skala nasional, bahkan pada skala global. Idealisme “berjuang untuk kemanusiaan” sama saja nilainya dengan jargon “kerukunan” semu yang ada pada negeri yang kita cintai ini. Sama dengan kasus ibu yang merebus batu dan kerikil sehingga anaknya yang kelaparan mengira si Ibu mempunyai makanan dan dengan demikian si anak menjadi tenang dan menghentikan rengekannya.

Apa tidak ada orang-orang “baik” di atas sana? Ada… Tapi kalau semua teman anda memilih main playstation, apa anda mau main ular tangga sendirian?

Setidaknya pemerintah China “serius”, kalau hancur ya hancur, kalau hangus ya hangus, yang penting kita mengejar statistik perekonomian kita. Lingkungan? Banyak rakyat yang menderita dan mengajukan tuntutan hukum, karena lingkungan mereka rusak sampai batas yang hampir tidak mungkin untuk diperbaiki. Kesehatan mereka juga sudah rusak.

Tapi kita bisa melakukannya sebelumnya dan kita akan tetap melakukannya, poles sana-sini, kendalikan informasi, buat kenyang bagian masyarakat yang berpengaruh sehingga mereka bisa membantu membungkam yang lainnya, atau setidaknya tutup mulut.

Industri China kini telah membuat sebagian pihak di dunia gemetaran…

Pemerintah kita?

Mungkin ada 9.376 alasan kenapa Presiden kita begitu yakin bahwa Perdagangan Bebas dengan China bisa menguntungkan bagi “bangsa Indonesia.” Bangsa Indonesia yang mana maksudnya.

Bagi saya ini seperti metamorposis atau mutasi yang dipaksakan, sel-sel yang tidak dapat beradaptasi harus mati, seperti akselerasi penyaringan yang dilakukan terhadap umat manusia.

Tidak ada masalah, paling-paling akan semakin banyak terjadi ketidakpuasan (sudah biasa), akan semakin banyak yang merasa tertindas (sudah biasa), istilah “marjinalisasi” akan popular lagi, lebih populer daripada jaman Munir (sudah biasa, kita sudah punya banyak istilah baru sekarang, pemahzulan?).

Tentunya akan semakin banyak mall, semakin banyak apartemen mewah, semakin banyak, mobil mewah (yang dimiliki oleh segelintir orang), semakin sedikit tanah yang mengangur (karena mereka sudah dikaryakan sesuai peruntukannya), semakin banyak pemukiman eksklusif…

Tidak masalah…

Yang mau saya tanyakan, apa sih artinya istilah “pembangunan”?

Apa sih artinya “masyarakat” atau  “kepentingan umum”?

Susah sekali menemukan pengertian dari istilah-istilah tersebut pada peraturan perundang-undangan maupun kebijakan-kebijakan, kalaupun ada, saya sungguh tidak dapat mengerti seluruh diksi yang dipergunakan untuk menyusun peraturan perundang-undangan tersebut.

Betapa canggihnya legislatif dan eksekutif kita. Atau mungkin ijazah sarjana saya sesungguhnya tidak berguna bagi saya, pada saat istilah-istilah sederhana seperti tadi saja tidak bisa saya mengerti.

Dalam hal lingkungan, saya merasa pemerintah bertindak seperti seorang materialis yang tiba-tiba memberikan ceramah agama… lucu.

Pseudo Tips Untuk Para Penyendiri: Bertahan di Musim Hujan.

2010 Februari 1
oleh blackenedgreen

Kita pada penyendiri senang melakukan segala sesuatunya sendiri, situasi demikian biasanya didasari oleh berbagai macam alasan. Bukan alasan itu yang ingin kita bahas disini, karena bagi saya itu juga berarti ikut campur dengan urusan orang lain. Tapi bagaimana membuat keadaan hidup sendiri itu menjadi lebih mudah.

Kali ini satu tips sederhana, terkait dengan musim hujan.

Setiap hari, kita mau tidak mau harus turun ke jalan, baik dengan roda empat yang tertutup maupun yang roda dua yang hanya bisa mengandalkan mantel hujan jika cuaca yang selamanya berada diluar kuasa kita berlaku semaunya.

Untuk aktifitas sehari-hari siapkan saja baju hangat yang tipis, karena secara umum suhu akan menurun waktu hujan, tipis dan ringkas sehingga anda bisa meggulungnya bulat-bulat, memasukkannya kedalam tas dan tidak pernah merasa terganggu. Baju ini juga harus bisa dipakai sebagai baju yang berdiri sendiri jika diperlukan, bukan sekedar pelapis diatas baju uatama.

Air putih masukkan kedalam botol kemasan air mineral yang berupa kaca (bukan plastik) dengan tutup yang erat, bawa setiap saat, dan setiap bertemu dispenser, isi ulang (dari sumber yang bisa dipercaya tentunya, seperti dispenser kantor).

Situasi dimana kita terpaksa harus berbasah-basahan seringkali tidak terelakkan. Tidak masalah bagi kita yang mempunyai daya tahan tubuh yang kuat. Tapi bagi yang tidak?

Intinya adalah, selama masih bisa, jangan biarkan bagian atas kepala kita basah oleh air hujan. Topi atau helm misalnya cukup berfungsi disini. Namun kalau sudah terlanjur, secepat mungkin temukan tempat dimana anda bisa menemukan air bersih, dan bilas kepala anda. Tidak perlu air hangat, malah lebih baik kalau suhunya sama dengan suhu disekitar anda. Tiriskan air dengan meremas rambut anda sambil membungkukkan badan. Ini akan menghindarkan anda dari penurunan kondisi tubuh yang tidak diperlukan, repot kalau seorang penyendiri sakit.

Baju yang basah segera ganti dengan baju cadangan (baju hangat multi guna tadi), jika anda perempuan tentunya harus siap dengan bra cadangan, ini akan membantu mempertahankan kondisi tubuh anda.

Jika anda menggunakan sepatu dan kaus kaki, bawa kaus kaki cadangan, anda bisa menggunakan kaus kaki basah anda untuk membersihkan bagian dalam sepatu anda, dan mengganti dengan kaus kaki baru. Jika membawa kaus kaki cadangan merepotkan bagi anda, maka anda tetap harus membuka kaus kaki basah anda dan bersepatu tanpa kaus kaki.

Selalu bawa setidaknya dua plastik hitam yang kuat dengan ukuran menengah atau besar, anda tidak pernah tahu kapan anda membutuhkannya.

Tas yang ringkas dan kuat bisa memecahkan masalah anda. Tas ransel adalah pilihan sempurna bagi anda yang menggunakan kendaraan roda dua atau angkutan umum, tentunya dengan pengaturan khusus jika didalam tas tersebut anda juga mambawa barang seperti laptop. Pergunakan benda lembut seperti baju panas atau kertas untuk melindungi laptop. Kantung plastik tadi bisa membuat anda terus berjalan tanpa khawatir.

Tentunya semuanya menjadi lebih fleksibel dengan anda yang menggunakan kendaraan roda empat, tapi tentu saja “ringkas” adalah kata kuncinya. Tetap lucu kalau anda keluar dari mobil sendirian dan membawa-bawa begitu banyak tas. Lagipula, musim hujan seperti ini, di wilayah-wilayah langganan banjir, anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kendaraan anda.

Jika anda termasuk orang yang mengandalkan obat, bawa paling tidak satu strip obat yang cocok untuk anda, yang bisa digunakan untuk mengatasi kondisi keseluruhan, flu, pusing dan batuk misalnya, ini akan membantu anda sampai anda menemukan tempat dan kesempatan untuk istirahat.

Di tempat tinggal anda sediakan termos yang selalu terisi air panas. Jadul? Mengingat kondisi energi listrik di Indonesia, inilah hal paling pintar yang bisa anda lakukan disaat dispenser dan referigerator (kulkas) tiba-tiba menjadi barang yang tidak berguna. Kalau bisa cari termos model lama dengan penutup kayu lembut, mereka menyimpan panas lebih lama daripada termos plastik. Kecuali anda punya dana untuk pilihan yang lebih mahal (mereka juga tidak selalu lebih baik, selamatkan diri anda dari penyesalan kecil disini).

Air hangat akan membantu membuat metabolisme anda menjadi lebih tenang, mengurangi kepanikan secara keseluruhan. Sangat penting untuk membatasi diri pada minuman yang halus, seperti air putih hangat atau teh. Kondisi pemikiran yang tenang akan memampukan anda membantu diri anda sendiri.

Makanan instan (apapun), walaupun bukan sebuah pilihan yang baik, harus selalu tersedia paling tidak untuk persediaan 2 atau 3 hari. Kurangi bumbunya menjadi setengah sajian jika anda memilih mie instan, pastikan pelengkapnya tersedia seperti telur atau nugget jika bisa. Jadi anda bisa fokus pada istirahat.

Segera mandi, terutama dengan air yang suhunya sama dengan suhu ruangan, akan lebih baik, tapi jika tidak memungkinkan, yang penting adalah anda bisa mengganti baju anda dengan baju yang kering (tidak perlu bersih jika anda termasuk pada golongan ekstrim).

Jika perlu, minum obat dan tidurlah.

Para penyendiri harus belajar mendengarkan tubuhnya sendiri untuk membedakan antara apa yang kita asumsikan sebagai penting dan apa yang benar-benar penting. Juga harus dipertimbangkan apa yang harus kita lakukan beberapa jam kedepan, dan sumber daya yang ada disekitar kita untuk menolong diri kita sendiri.

Jadi kita tahu apakah kita sok pahlawan dengan terus beraktifitas atau kita memang mampu dan dapat terus beraktifitas, atau kita memang harus beristirahat. Sebagian dari kita tidak punya mekanisme pendukung seperti orang-orang tersayang yang mengingatkan kita tentang, apa yang menurut asumsi mereka, kita butuhkan.

Namun jika kondisi sudah begitu payah, telepon genggam dengan pulsa yang aktif bisa menjadi penyelamat anda.

Sedikit senyum dengan tetangga memang sepertinya remeh, tapi kita tidak tahu kapan itu bisa membantu kita, kecuali jika kita mempunyai perbedaan fundamental dengan tetangga kita tersebut, seorang maniak sex misalnya.

Juga mengumpulkan informasi-informasi penting tentang kesehatan pribadi sangatlah penting, informasi yang baik sangat membantu kita untuk memutuskan kapan kita bisa mengurus diri kita sendiri dan kapan kita membutuhkan bantuan. Print dan tempel di dinding, sekali lagi, ini salah satu “support mechanism” bagi para penyendiri.

Pontianak and Beyond (Photos)

2010 Januari 30
oleh blackenedgreen

These are residues, unused images from my recent rides around Pontianak and beyond, just so you’d see some part of this country. Nothing fancy, none of the artistic sophistication, these are just snapshots, enjoy if you could.

These photos are taken by me, they belong to me, copy-pasting for personal purposes is okay, but if you show them in public domain, explanations for responsibilities shall be necessary, and you can’t provide it,  so please contact me if you have something in mind, it’s free.

Pseudo Review of Books: Shanghai Baby (Zhou Weihui)

2010 Januari 22
oleh blackenedgreen


Shanghai Baby
Zhou Weihui 1999
terjemahan bahasa Inggris oleh Bruce Humes (Simon & Schuster, Inc 2001)
Pocket Books (2001)
Washington Square Press (2002)

Dilarang dan dibakar di negara asalnya, mungkin menjadi salah satu alasan kenapa buku ini bisa menjadi sebuah “international bestseller.” Membuat saya berpikir, mungkin jika saya sudah menjadi begitu gila dan memutuskan menjadi penulis buku (buku yang benar-benar buku), lebih baik saya menyewa sekelompok orang, atau orang-orang tertentu di sebuah organisasi massa (murah! itulah harga manusia sekarang ini) untuk beragitasi di depan umum, merampas beberapa ratus eksemplar buku saya dari toko-toko buku modern yang “hip” dan membakarnya ditengah kota.

The New York Times mungkin benar ketika mengatakan bahwa Zhou Weihui adalah “Kerouac wanita yang menjalani jalurnya sendiri.” (yap, pengulas dari The New York Times menggunakan istilah Kerouac wanita, bayangkan…) Pernyataan itu bisa mengangkat buku ini menuju popularitas, dan juga bisa bisa menjatuhkannya di arena literatur (fokus pada pengertian artistik). Jika anda tahu sesuatu mengenai Jack Kerouac, anda akan tahu kenapa saya berpendapat demikian.

Satu lagi yang saya rasa membuat buku ini populer: sejumlah penggambaran adegan sex yang bahkan intensitas kuantitasnya melebihi beberapa buku-buku terbitan Eropa, dibintangi oleh aktor dan aktris yang kalau boleh saya katakan, eksotis, terutama bagi para pria kaukasia yang mengalami “yellow fever.”

Sebaliknya, mengingat saya adalah tipikal pria Asia, rasa dongkol menari-nari di sudut hati saya ketika si tokoh Nikki, yang berkuasa atas sudut pandang utama di buku ini, yang kemudian dipanggil oleh teman-temannya sebagai Coco – dari Coco Chanel, pahlawannya – bercinta di kamar hotel (?), di toilet sebuah night club, di apartemen, berulang-ulang kali bersama seorang Jerman maskulin yang superior, ekstrovert yang sudah beranak dan beristri.

Coco, tentu saja berulang-ulang kali memaki dirinya sendiri atas ketidaksetiaannya kepada pacarnya, Tian Tian seorang pria China yang introvert, sensitif, naif, dan impotent. Tapi setiap kenikmatan yang direngkuhnya dengan sukses dijadikan alasan pembenar untuk meredakan risau dihatinya.

Sampai dia membuat kesimpulan yang brilian: Tian Tian adalah kekasih hati, Mark adalah kekasih tubuh, atau lebih tepatnya, dildo yang besar dan jenius.

Sayang semuanya tidak sesederhana itu.

Dan disinilah, menurut saya, persamaan dengan Kerouac itu masuk. Hal yang “hebat” bagi Kerouac (1922-1969), karena dia menemukan sebuah jalur baru “Beat Generation” yang menolak konvensionalitas masyarakat dijamannya (dan yang mereka maksud dengan tidak konvensional adalah obat-obatan, alkohol, sex, dan jazz… membosankan). Tulisan yang lahir di era ini sendiri tidaklah istimewa sebagai literatur, hanya dari penggunaan bahasa dan gaya menulis yang “diusahakan” berada di luar pakem.

Zhou Weihui? Di tahun 1999 dan selanjutnya, masih banyak kasus pemberangusan penulis di China. Sementara di bagian lain bumi, sex, alkohol dan obat-obatan sudah merajai dunia, China masih berusaha menutup akses pemahaman terhadap kondisi masyarakatnya sendiri. Hal ini membuat karya-karya yang diselundupkan keluar China menjadi unik dan populer, walaupun sebagian tidaklah begitu “hebat.”

Karakter-karakternya sungguh tipikal (dan ada pengamat yang bilang penulis skenario film di Indonesia tidak punya daya imajinasi?). Kota Shanghai adalah sosok putri ingusan yang tumbuh menjadi seorang gadis yang seksi, Coco adalah seorang novelis muda, cantik dan penuh energi. Tian Tian adalah seorang pelukis, tipikal seniman sensitif yang impoten, digambarkan hampir dalam segala hal, Mark adalah seorang ekspatriat Jerman, pria superior yang merengkuh segala nektar yang bisa diberikan oleh “bunga” Shanghai.

Masih banyak karakter pendukung lain yang berpengaruh, baik langsung atau tidak langsung terhadap penggambaran psikologis ketiga karakter di atas dan semuanya adalah tipikal, demikian pula Ibu dari Tian Tian yang meninggalkan Ayahnya dan “lari” dengan seorang pria kaukasia… go figure.

Saat menulis pseudo review ini saya merasa sedang menulis ulasan gosip tentang skandal dengan plot yang sudah basi. Tapi, itu tidak berarti saya tidak mendapatkan apapun.

Tidak seperti Kerouac yang merupakan pencetus “Beat Generation,” saya lebih memilih menyebut Zhou Weihui sebagai seorang cartographer, seorang penulis yang menggambarkan peta masyarakatnya, segala kesia-siaan yang diseret-seret oleh manusia modern, segala “passion”, semangat yang membuat mereka bertahan walaupun teramat samar, dan dinamika komposisi masyarakat, pembicaraan budaya, para sosialita, apa yang sedang dipikirkan orang-orang di komunitas proponent avant garde Shanghai menjelang abad 21 (karakter-karakter dengan kondisi psikologis yang meragukan, disini Zhou Weihui melakukan eksekusi dengan cukup baik).

Ada banyak buku yang bercerita tentang China, Hong Kong, Shanghai, sungai Yangtzee, seperti melihat sebuah peta besar dari jarak satu meter. Buku ini menyediakan sebuah pandangan mikroskopis, sebuah catatan penanda, tentang satu aspek kehidupan di Shanghai. Disini, setidaknya diluar segala sex yang “steamy,” buku ini berguna.

Aman Untuk Usia: Dewasa (bahasa dan istilah-istilah vulgar terutama terkait dengan penggambaran aktifitas seksual, jika anda sensitif dengan hal ini… jangan baca)
Target Pembaca: Dewasa
Faktor Kesenangan Membaca Relatif: 7/10
Faktor Kepuasan Membaca Relatif: 6/10
Nilai Buku Relatif: 7/10
Skor Blackenedgreen Relatif: 7/10

Berkendara Sambil SMS = Bourne Supremacy?

2010 Januari 19

1. Seorang Ibu dan motornya nyungsep ke bawah sebuah sedan, sedan tersebut tersangkut dan tidak dapat berjalan sampai warga membantu mengeluarkan si motor dari bawah sedan tersebut. Si Ibu baik-baik saja, sibuk mengirimkan sms dan bertelepon, mungkin ke orang-orang di rumah tentang kondisinya.

2. Dua orang remaja putri diatas sebuah motor matik tiba-tiba menabrak pintu sebuah sedan yang sedang berjalan pelan, bersiap-siap akan keluar dari gang ke jalan raya, pintu di posisi sopir bentuknya sudah tidak jelas, motor matik lecet, tidak ada yang luka. Si remaja putri pengendara motor sibuk ber sms, mungkin ke orang-orang di rumah, tentang kondisi mereka. Si pengendara sedan sibuk bertanya “bagaimana ini? pokoknya ganti!”

3. Minggu siang panas terik, jalan kecil yang seharusnya lengang kenapa macet? Motor digenjot, menyelinap kanan kiri, di depan sana ada sebuah Fortuner dengan tubuhnya yang lebar menghalangi 200 meter arus lalu lintas dibelakangnya dari kesempatan menikmati kosong melompongnya aspal di depan Fortuner tersebut. Setelah motor sejajar dengan mobil tersebut terlihatlah seorang bapak, sendirian di dalam Fortuner berbadan lebar, dengan telepon genggam di tangan kiri dan – coba tebak – telepon genggam di tangan kanan (jendela terbuka, mungkin asumsinya biar resepsi sinyal lebih baik). Sepertinya dia sedang mencoba berbicara dengan seseorang dengan telepon genggam di tangan kirinya dan sedang berusaha mengirim pesan melalui telepon genggam di tangan kanannya. Ekspresi wajahnya tenang, sepertinya bukan portofolio sahamnya yang remuk redam, tidak mungkin nasabah Century, itu bukan raut wajah dari orang yang istri atau anaknya sakit… sudahlah.

4. Seorang pria sebaya mengendarai matiknya tepat di tengah jalan. Tangan kirinya tidak kelihatan dari belakang. Pelan… pelan… pelan… pelan… Saya mau menekan klakson, tapi secara pribadi saya tidak suka jika mobil di belakang saya menghamburkan klakson kalau saya sedang mengendarai motor… Tapi orang ini mengendarai motor tepat di tengah jalan! Lagipula mobil-mobil di balakang sudah mulai tidak sabaran. Injak kopling, kocok pedal gas, mesin meraung, dan dengan santai si pria itu menepi, masih asik dengan sms-nya.

5. Keluar dari gang depan rumah, normalnya gang ini cukup dilalui dua mobil, tapi hari ini tidak cukup bahkan untuk dua motor berpapasan. Dari jauh sudah kelihatan gelagat, saat saya ke kanan dia ke kanan, saat saya ke kiri di ke kiri. Akhirnya kami berhenti berhadapan, saya masam, dia mesem-mesem. Setelah diperhatikan ada handphone terselip diantara pipi dan helmnya.

6. Di simpang empat, dua remaja yang berboncengan jatuh setelah bertabrakan dengan seorang bapak yang baru pulang kantor. Saat temannya sedang bernegosiasi dengan si bapak, temannya yang tadinya mengendarai motor sibuk mencari baterai telepon genggamnya.

7. Sebuah Xenia menabrak sebuah Vixion yang sedang berada di baris paling belakang antrian lampu merah. Si pengendara Vixion memandangi si pengendara Xenia, ekspresi seorang tukang jagal di wajahnya. Si pengendara Xenia memandangi si pengendara Vixion, ekspresinya panik, di genggaman tangan kanannya terlihat sebuah BlackBerry (atau mungkin clone buatan China).

Saya merasa seperti Nicolas Cage di film “Knowing,” semua insiden dengan probabilitas yang absurd (dan konyol) terjadi di hadapan saya. Dan ketika saya telusuri dengan menggabungkan seluruh metode analisa ilmiah yang saya ketahui (yang mana jumlahnya sangat sedikit) saya menemukan sebuah benang merah (wow!): telepon genggam.

Baiklah mari kita sedikit serius.

Bagi anda yang senang bertelepon atau berkirim pesan sambil berkendara, baik anda yang menggunakan motor atau mobil, dengan “handsfree” atau tidak (sebenarnya benda yang tidak terlalu berguna kecuali anda mempunyai fokus dan konsentrasi diatas rata-rata), ada beberapa saran untuk anda:

1. Setiap hari manusia bereproduksi, dan kemungkinan adanya anak-anak kecil yang bermain di pinggir jalan semakin besar sejak tanah-tanah kosong sudah dikapling oleh orang-orang dewasa. Biarpun populasi manusia sudah begitu banyak, tidak ada orang tua yang senang ketika anda menabrak anaknya.

2. Tidak masalah kalau anda adalah seorang sadomasochist, tapi sebagian dari kami ingin sampai di rumah dengan kondisi sehat walafiat.

3. Ingat, banyak kredit kendaraan yang belum lunas di luar sana.

4. Sebagian dari kami punya kepentingan yang harus kami urus di tujuan kami, dan percayalah, kami bisa jadi lebih senang berurusan dengan anda.

5. Untuk para remaja, ada tanggung jawab lain yang datang bersama SIM: mengganti pintu mobil, dan itu tidak murah.

6. Jika didalam mobil anda ada televisi, dvd player, game console, communication hub, gps, computer dan semuanya terletak di dashboard… anda serius mau mengemudi?

7. Pernah dengar istilah “cognitive effect”?

Coba lakukan hal ini dirumah, dan lakukan semuanya bersamaan: update blog di desktop, mengerjakan makalah di laptop, menonton berita di Metro TV, mendengar berita di RRI Pro 3, bertelepon-ria dengan seorang rekan melalui CDMA dan mengupdate dinding Facebook dengan GSM anda.

Jika anda bisa melakukan semuanya itu dalam lima menit tanpa kehilangan jejak informasi dari masing-masing sumber, anda layak melakukan apa saja yang anda suka di jalanan. Setahu saya yang bisa melakukan itu hanyalah Jason Bourne… dan Jason Bourne adalah tokoh fiksi.