Bystander Effect: Bagaimana Kita Bersikap Acuh Tak Acuh Terhadap Kejadian Yang Ada di Hadapan Kita
Berikut adalah sebuah artikel yang dikutip oleh seorang blogger WordPress dari CNN, di blognya artikel ini telah menimbulkan diskusi yang menarik. Nathaniel dan saya sepakat untuk mengetahui apa yang muncul jika artikel ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Sedikit penjelasan sebelumnya, bystander effect adalah suatu fenomena yang menggambarkan situasi dimana, saat berada ditengah keramaian, dan saat terjadi sesuatu yang genting terhadap pihak lain, seorang individu lebih memilih menonton kejadian genting tersebut daripada memberikan pertolongan. Semakin banyak orang yang berada di lokasi tersebut maka akan semakin kecil kemungkinan bagi individu tersebut untuk memberikan pertolongan.
Kemudian apa masalahnya? Berikut artikel tersebut saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Lagi, Korban Dari Bystander Effect
Tulisan Social Psychology oleh psikolog Elliot Aronson dan Timothy Wilson menggambarkan bystander effect sebagai “sebuah fenomena psikologi sosial dimana seorang individu memiliki kemungkinan yang kecil sekali untuk menawarkan pertolongan di dalam sebuah situasi genting ditengah keberadaa orang lain. Kemungkinan adanya keinginan untuk menawarkan pertolongan berbanding terbalik dengan jumlah “penonton”. Dengan kata lain, semakin banyak jumlah orang yang menonton di lokasi tersebut, semakin kecil kemungkinan salah satu dari mereka memberikan pertolongan.”
Saya teringat sebuah perjalanan keluarga ke taman hiburan Six Flags Great Adventure di New Jersey saat seorang pria yang berpenampilan menyeramkan mengancam pegawai taman hiburan secara verbal, bahwa dia akan menyakiti pegawai tersebut secara fisik karena pegawai tersebut memergoki keluarga dari pria tersebut saat menyerobot antrian. Tidak seorang pun, kecuali seorang anak berumur 11 tahun yang berkomentar tentang hal tersebut – tidak seorang pun ingin terlibat ketika pria tersebut mengeluarkan sumpah dan ancaman yang membuat insiden Serena Williams di Amerika Serikat Terbuka menjadi terlihat sopan. (Serena memarahi dan mengacung-acungkan raketnya ke arah seorang pengawas karena menyatakan dirinya melakukan kesalahan)
Hal yang terburuk adalah saat petugas keamanan tiba untuk mengatasi situasi, pria tersebut menyangkal semuanya dan tidak seorang pun yang berani mengatakan sesuatu terkait hal tersebut! Saya akhirnya memutuskan untuk berbicara tentang kejadian tersebut, dan petugas kemananan membawa pria tersebut keluar dari taman.
Sementara beberapa orang mengatai saya sebagai pengadu, saya pikir saya telah melakukan hal yang benar dengan membuat orang menyebalkan tersebut keluar dari taman, menunjukkan kepadanya bahwa sesungguhnya ada akibat dari prilakunya dan menunjukkan kepada pegawai taman tersebut bahwa dia telah melakukan hal yang benar tanpa perasaan takut terhadap orang-orang yang merasa bahwa mereka berada di atas peraturan atau hukum.
Bonusnya, saya mendapatkan ijin bagi seluruh keluarga saya untuk melompat ke awal antrian untuk setiap wahana yang saya pilih (sangat menolong, mengingat hari itu sangat panas dan antrian untuk salah satu wahana air sangatlah panjang) jadi saya diberi penghargaan lebih dari sekedar kepuasan karena telah melakukan hal yang benar.
Dalam sebuah catatan yang lebih menyedihkan, seorang pelajar SMA di California yanng berumur 15 tahun, pada hari Sabtu baru-baru ini menjadi korban dari bystander effect saat dia diperkosa beramai-ramai disekitar sekolahnya saat acara dansa tahunan sedang berlangsung di dalam sekolah. Para penyelidik menyatakan bahwa paling tidak sebanyak 15 pria berkumpul untuk menyaksikan kejahatan tersebut tanpa memberitahu polisi atau mencoba menolong korban, dan beberapa diantaranya berpartisipasi dalam kejahatan tersebut. Korban ditinggalkan dibawah sebuah bangku dalam keadaan pingsan dan kritis.
Saya tidak meragukan legitimasi dari sebuah fenomena psikologis seperti bystander effect, tapi saya rasa adalah sebuah hal yang bertanggung jawab untuk mengkualifikasikan bahwa seorang individu pasti mempunyai kelemahan mental atau moral untuk bisa tenggelam dalam efek tersebut. Jika orang tua anda membesarkan anda dengan fondasi moral yang kuat, anda akan segera mengenali sebuah tindakan pemerkosaan tidak perduli berapa banyakpun orang yang berdiri menonton bahkan bersorak-sorak, dan anda akan mengetahui apa yang sebaiknya dilakukan dengan menghubungi pihak yang berwajib.
Sebagian phak mungkin akan mengklaim bahwa bahwa para individu yang terkait kemungkinan takut terhadap apa yang akan dilakukan oleh para pelaku, namun klaim tersebut tidak beralasan berdasarkan fakta bahwa tiap orang dari para individu tersebut dengan mudah dapat memisahkan diri mereka dari kerumunan dan menghubungi polisi – mereka tidak perlu menyelamatkan korban secara langsung. Namun, mereka lebih memilih untuk menonton kejadian tersebut seperti menonton sebuah film porno aneh secara langsung.
Kita mestinya heran kenapa kita sebagai manusia telah kehilangan sensitifitas kita sehingga kita bisa menonton begitu saja saat seseorang yang membutuhkan pertolongan ada di hadapan kita dan membenarkan keputusan kita sendiri bahwa kita tidak perlu ikut campur atau menolong “pasti ada orang lain yang akan menolong” bahkan saat kita sendiri berada dalam posisi yang sangat memungkinkan untuk memberikan pertolongan.
Untunglah si korban saat ini sudah dalam kondisi stabil, semua itu atas usaha dari kepolisian Richmond dan para staf di rumah sakit kemana dia diterbangkan… dan lupakan saja orang-orang yang tidak berharga, pengecut, yang memutuskan bahwa bukan tanggung jawab mereka untuk melakukan hal yang benar dan menghentikan aksi pemerkosaan tersebut.
Demikianlah kira-kira terjemahan artikel tersebut dalam Bahasa Indonesia. Artikel tersebut pada blog Nathaniel bisa ditemukan disini jika anda ingin berdiskusi langsung, disana juga ada tautan kepada artikel aslinya di CNN.
Saya dan tentunya Nathaniel sangat mengharapkan pendapat anda.
Ulasan Pidato Ketua MPR Pada Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.
Salah satu sesi dari keseluruhan acara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih adalah pidato dari ketua MPR Republik Indonesia. Saya tidak tahu dengan anda, tapi saya rasa kita punya masalah.
Isi pidato itu secara umum cukup baik, tidak hebat. Si penyusun atau kelompok penyusunnya tentunya adalah orang-orang yang cukup cakap, ditambah lagi dengan demam Obama yang sedikit banyak mempengaruhi cara kata-kata di dalam pidato tersebut disampaikan.
Saya menyinggung “penyusun” atau “kelompok penyusun” karena menurut asumsi saya, berdasarkan hasil pengamatan terhadap karakter sang Ketua MPR selama ini dan dibandingkan dengan isi dari pidato tersebut, sulit untuk percaya bahwa sang Ketua MPR mampu menulis pidato seperti yang dibacakannya kemarin. Setidaknya tidak secara keseluruhan.
Terakhir kali saya melihat sang Ketua MPR berbicara di depan kamera secara langsung adalah saat dia mengunjungi kota Padang, dia membicarakan sesuatu tentang anggota MPR yang telah mengumpulkan uang sekian juta (terlalu sedikit untuk sumbangan anggota MPR). Tapi selebihnya saya tidak bisa menangkap kata-katanya, dan saya tidak tahu apakah kata-kata tersebut punya arti. Tapi mungkin itu karena dia tersentuh dengan kejadian di lokasi bencana sehingga dia tidak bisa berkata-kata dengan layak.
Tapi mau tidak mau kemungkinan itu adalah kemungkinan yang salah. Jika mengingat cara sang Ketua MPR berbicara selama ini (rapat partai, sidang majelis, media massa) sepertinya hanya sampai disitulah batasan kemampuannya untuk mengartikulasikan perbendaharaan Bahasa Indonesianya menjadi susunan kata-kata yang, tidak perlu efektif, tapi setidaknya tersusun dan berarti.
Ada beberapa komentar oleh dosen-dosen, pengamat dan praktisi politik di media elektronik, yang menyatakan bahwa kesalahan-kesalahan tersebut adalah lumrah mengingat sang Ketua MPR sudah tua dan menderita penyakit jantung (dan beberapa penyakit lain), dan dengan kondisi demikian penampilannya kemarin malah bisa dikategorikan hebat. Yang lebih berbahaya ada sebagian komentator yang menyatakan bahwa kesalahan-kesalahan dalam pembacaan pidato tersebut adalah kesalahan-kesalahan yang wajar.
Komentar-komentar di atas menjadi sebuah konfirmasi dari kecurigaan saya selama ini: jika demikian standarnya, maka preman di pasar tengah yang tidak lulus SD sekalipun bisa menjadi ketua MPR, jika dia mampu mengumpulkan cukup banyak energi politik dan cukup licin untuk bisa memanfaatkan setiap kesempatan.
Sakit memang bisa menghalangi seseorang untuk membaca dengan baik, tapi sakit tidak akan pernah mengahalangi seseorang (yang memang bisa membaca) untuk bisa membaca secara benar.
Dalam jarak sedemikian, microphone yang ada di hadapan sang Ketua MPR cukup sensitif untuk menangkap nafasnya, dan saya tidak mendengar bahwa dia terengah-engah, dari senyum sumringah dan ekspresi wajahnya semua orang bisa melihat bahwa sakitnya tidak menyerangnya saat itu. Sang Ketua MPR mempunyai dana yang sangat cukup untuk mempertahankan kondisi kesehatannya jika dibandingkan dengan seorang kakek tua penyakitan (selalu batuk-batuk) di kampung di belakang rumah saya, tapi bahasa kakek itu jauh lebih prima dari sang Ketua MPR, baik baca, bicara, pantun, soneta dan sebagainya.
Ada pengamat yang mengeluhkan bahwa pidato tersebut terlalu panjang… pada sebuah acara pelantikan Presiden dari sebuah negara, entah bagaimana seorang pengamat bisa mengatakan bahwa pidato tersebut terlalu panjang.
Sang ketua MPR bukan saja gagal untuk membaca pidato secara baik, dia juga gagal membaca dengan benar. Banyak kata-kata yang gagal terbentuk di mulutnya, seakan-akan dia belum pernah mendengar kata-kata tersebut sebelumnya, dan itu bukan karena usia atau penyakit, tapi karena dia memang tidak terbiasa dengan kata-kata itu dan tidak mampu untuk membacanya di depan forum. Ini memberikan gambaran tentang karakter dan fokus hidupnya. Saya masih percaya bahwa masih ada orang yang setidaknya masih berpura-pura untuk mencoba menjadi negarawan di parlemen, karena memang seharusnya negarawanlah yang mengisi kursi-kursi di parlemen apalagi menjadi pemimpin di sana. Tapi sang ketua MPR bahkan tidak berusaha untuk berpura-pura mencoba. Secara kasar orang dengan mudah bisa melihat bahwa sang ketua MPR tidak pernah membaca.
Dan ini mengantarkan pada kesalahan menyedihkan selanjutnya. Orang bilang apalah arti sebuah nama. Tapi nama adalah identitas dasar dari seseorang, dan dalam budaya tertentu nama adalah posisi yang mendeskripsikan tugasnya dalam kehidupan. Tidak ada ampun bagi orang-orang yang main-main dengan nama. Saya tidak bisa mengatakan bahwa sang Ketua MPR main-main kemarin, toh dia secara literal sedang membaca teks pidato. Tapi itulah yang terjadi saat dia menyebutkan nama-nama dari kepala pemerintahan, kepala negara dan perwakilan dari “negara-negara sahabat”… buruk sekali, cukup sakit untuk mengingatnya, dan sang ketua MPR bahkan tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda penyesalan.
Dari esensi ke masalah tekhnis, saya yakin para penterjemah yang ada di bilik mereka merasa panik, berusaha menemukan cara untuk menterjemahkan bahasa – yang seharusnya adalah bahasa Indonesia – ke dalam bahasa mereka dan menyampaikannya dalam bahasa target kepada perwakilan mereka. Ini menimbulkan pertanyaan tentang “kelayakan” dan kemampuan di benak perwakilan negara-negara sahabat.
Dan harus diingat bahwa perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei ada di ruangan itu mereka mengenal dengan baik bahkan bisa mempergunakan Bahasa Indonesia. Seingat saya, setua apapun umurnya, seperti apapun penyakitnya, para politisi dari ketiga negara tersebut selalu berusaha untuk memberikan integritas dalam setiap pidato, ucapan dan tulisannya. Jika kesalahan yang diperbuat sang Ketua MPR saat berpidato adalah hal yang “wajar”, berarti Indonesia jauh lebih primitif daripada tetangga-tetangganya.
Dan dengan berbagai alasan diantaranya hasil pengamatan terhadap pasang surut kehidupan manusia Indonesia, saya yakin, hal-hal seperti ini tidak akan pernah berubah.
Indonesia Recap terinspirasi dari siaran BBC 7 Oktober 2009
Sedikit Rambling Terkait “Kebijak-sana-an” di Indonesia
Sudah sangat umum kisah bahwa IMB dijadikan sumber pendapatan bagi pemerintah daerah. Sering ditemui pengurusan IMB yang sangat bertele-tele menjadi sangat lancar ketika uang pelicin dikucurkan. Pada saat ini sudah saatnya pemerintah daerah (dan oknum-oknum… selalu oknum-oknum) menyadari bahwa kebijakan IMB terkait nyawa manusia, IMB adalah salah satu cara pemerintah melindungi warganya dari gempa. Mungkin sudah saatnya pemerintah mengeluarkan suatu regulasi mengenai bangunan tahan gempa.
Sepertinya masih sangat sedikit manusia berseragam yang menyadari arti dari kenyataan bahwa Indonesia berada di jalur gempa, secercah informasi geologi ini tidak berarti sedikitpun bagi mereka… hanya uang. Pergilah ke kantor-kantor pemerintahan, dan perhatikan saat wajah-wajah pasif itu melirik ke arah televisi (ya… televisi… di kantor), lihat ekspresi kekhawatiran yang berlebihan keluar dari diri mereka, untuk kemudian hilang tak berbekas saat mereka “ngerumpi” dan acara berganti ke sinetron.
Malaysia dan Kita… Kita Semua.
Malaysia terburuk dalam penerimaannya terhadap tenaga kerja asing, ini kata PBB. Hal ini memberikan pukulan telak bagi citra multi etnis yang dibangun oleh pemerintahnya. Tapi kenapa hal ini harus menjadi berita yang seakan-akan baru? Masalah pertikaian antar etnis di dalam negaranya sudah mengganggu Malaysia sejak lama, dan sesungguhnya hal ini bisa disebut sebagai hal yang wajar dalam negara yang wilayahnya dihuni oleh berbagai macam manusia yang mempunyai latar belakang sejarah maupun budaya yang berbeda-beda.
Berkunjunglah ke blog-blog warga Malaysia (yang serius tentunya) dan anda akan lihat bahwa masalah ini masih berlanjut sampai sekarang. Bahkan sejak saya dapat mencicipi TV3, RTM, CNBC Asia (sudah lama sekali), gambar-gambar bergerak mengenai kerusuhan di Malaysia sudah memberikan pelajaran bahwa karakter manusia dimana-mana sama saja: rusuh.
Coba kita ke Afrika. Mungkin sulit bagi sebagian dari kita untuk membedakan suku-suku yang berada di Afrika secara fisik, selain dari logat bahasa. Bagi kita mereka semua sama saja, namun kesamaan itu tidak menjadi alasan bagi sebagian orang untuk membantai sesamanya.
Di Cina kita punya Uighur, dan ke negara tetangga yang sama-sama berkulit “kuning”, Korea Utara mempunyai resume sebagai negara yang mampu melakukan apapun untuk memanipulasi kebijakan negara sedarahnya, Korea Selatan dan dunia internasional. Salah satu contohnya adalah reuni rutin yang disepakati Selatan dan Utara. Warga Korea Selatan yang dahulu adalah warga Utara, mengeluh bahwa saat mereka bertemu dengan kerabat mereka pada reuni itu, mereka seperti bertemu dengan robot-robot yang telah diprogram. Mereka kurus dan tak terurus (dari perspektif Korea Selatan, tentu saja), hal ini tentunya membangkitkan keinginan warga yang tidak mengerti untuk mendorong pemerintah Korea Selatan agar meningkatkan bantuan pangan dna keuangan ke Korea Utara.
Dan keadaan di dalam Korea Selatan sendiri tidaklah suci hama. Korea Selatan mempunyai lingkungan “kumuh” berisi orang-orang yang merasa tertindas dan setiap saat bisa meledak. Suatu situasi yang ditenggarai disebabkan oleh kesewenang-wenangan “chaebol”, dinasti orang-orang kaya yang sama berkuasanya dengan para “super rich” yang ada di Indonesia, tidak hanya pada orde baru namun juga sekarang.
Tapi kebencian terhadap orang kaya (yang sewenang-wenang) ini tentunya bisa dianggap sekedar masalah perspektif. Sudut pandang manusia yang tidak mengerti kebaikan dan keburukan apa yang bisa dijadikan bahan ekserimen bagi manusia yang ada di situasi yang berseberangan dengan dirinya.
Sama dengan konflik antar etnis, perilaku buruk terhadap tenaga kerja pendatang, yang ada di setiap negara di dunia ini yang masih berjuang mengatasi ribuan masalah yang melekat pada dirinya, bisa dianggap sebagai sekedar masalah perspektif. Lihat kekerasan terhadap warga Banglades, Cina dan India di Italia pada Juni 2008. Kekerasan tersebut terjadi di Italia (saya tidak pernah berharap banyak terhadap pemimpin yang otaknya berada di selangkangan wanita), namun aura politiknya ada di seluruh Eropa. Razia pendatang adalah hal yang sering terjadi di Perancis dan Jerman.
Mungkin hal ini juga yang menginspirasi pemerintah Malaysia. Semakmur apa pun mereka, sebutuh apapun mereka terhadap tenaga kerja yang mau dibayar murah untuk melakukan hal-hal yang tidak mau lagi dikerjakan oleh warga Malaysia, mereka punya alasan baik politis, ekonomi maupun sosial budaya untuk melakukan hal-hal yang mereka anggap harus mereka lakukan. Deportasi jangan dianggap sebagai penghinaan, pemerintah Indonesia harus instropeksi seberapa baik perlakuan mereka terhadap warganya sendiri dan seberapa baik pemerintah memperlengkapi warganya untuk dapat bekerja di luar negeri.
Pemukulan dan penyiksaan adalah perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang yang memang “sakit” dan dimanapun mereka, mereka harus mendapatkan ganjaran secara hukum. Namun harus dilihat secara jernih, yang mana masuk ke dalam ranah politik, yang mana masuk ke dalam ranah hukum.
Banyak warga Malaysia yang sama muaknya dengan kekerasan yang terjadi, sama dengan kita di sini. Hal ini saya sadari ketika saya menarik diri dari hiruk pikuk media massa utama yang mengejar sensasi dan jadwal tayang. Sama dengan ketika jam menunjukkan jam 3 subuh, mendengarkan percakapan di radio dan menyadari bahwa masih ada manusia-manusia nasionalis di Indonesia. Apakah manusia-manusia ini tidak ada artinya? Jika memang demikan, berarti kita tidak pernah belajar apapun dari sejak awal manusia mampu mencatat sejarahnya.
Lebih baik fokus untuk memperbaiki diri sendiri, dengan demikian, apapun yang dikatakan orang, atau coba diambil oleh pihak lain, maka mereka akan berhadapan dengan tembok kokoh, jangankan merubuhkannya, mengukur tebalnya saja mereka tidak akan mengerti.
Romailprincipe mengulas sebuah topik di blognya, yang pada awalnya cukup sederhana, namun setelah dipikirkan, hal tersebut cukup esensial: sebuah penelitian ilmiah menyatakan bahwa sebodoh apapun pria, dia cendrung mempunyai kualitas kepemimpinan yang lebih baik daripada wanita.
Tunggu dulu, sebelum anda menyerang, Romailprincipe sudah menyatakan bahwa masalah gender sudah obsolete baginya. Setuju, mempermasalahkan gender pada masa sekarang adalah sikap yang agak terbelakang.
Tapi lebih lanjut saya mengusulkan pemikiran ini: mempercayai penelitian sejenis, bahwa ada manusia yang secara “default” lebih superior daripada manusia lain, adalah seperti mempercayai bahwa susunan dan kombinasi genetik menentukan hal-hal yang dapat dipikirkan, dapat dilakukan dan dengan demikian mengkotak-kotakkan potensi yang dimiliki oleh setiap individu. Contoh sederhananya: mempercayai bahwa orang-orang berkulit putih lebih superior dibandingkan dengan ras-ras lain yang ada di muka bumi. Generalisasi yang menakutkan.
Saya seorang lelaki, dan saya menolak jika gen saya menentukan siapa dan apa saya. Sebagai ekses dari kepercayaan ini, saya juga menolak anggapan bahwa dalam hal-hal tertentu pria secara default lebih dominan daripada wanita, atau seorang pria secara default lebih superior daripada pria lain. Terserah bagi setiap individu menemukan atau tidak menemukan dirinya sendiri. Kombinasi dari semua properti yang dimiliki manusia, diantaranya inteligensia dan emosi, pria dan wanita, telah menjadi bumbu yang membantu memasak sejarah.
Ilmu pengetahuan terus berkembang, perubahan terjadi, kebenaran temporer bisa menjadi dasar untuk kebenaran yang lebih benar, ini masalah tumpukan paradox. Jika masih ada orang yang dengan senang hati terjebak diantara tumpukan itu… menyedihkan.
Blindness

Directed by: Fernando Meirelles
Produced by: Niv Fichman
Andrea Barata
Ribeiro
Sonoko Sakai
Written by: Don McKellar
Narrated by: Danny Glover
Music by: Uakti
Editing by: Daniel Resende
Distributed by:Miramax Films (USA)
Alliance Films (Canada)
20th Century Fox (BRA)
Release Date: October 3, 2008
It was a regular business day, people hurrying about their own business, cars commuting here and there like an endless stream of river. Right in front of an intersection a car suddenly stopped, commotion ensued, horns banged, people shouting, oblivious to the fact that a man inside the car, a Japanese expatriate had suddenly gone blind.
Blindness (2008) is a dramatic thriller based on an award winning novel of the same name by Jose Saramago. The film it self is written by Don McKellar and directed by Fernando Meirelles.
It is necessary to say that I have never read the novel before, so the resemblance between the text and the film is none of my concern for the time being, the film caught my attention because it delivered a theme that amuse me most: people and suffering. How people cope with their own suffering and how they perceive the pain of others. Also, at the very edge of it, how long can people survive until they snap and cease to act as human being.
The earlier portion of the film is devided in to several scenes, telling stories of several people, how they got “infected” by blindness, and how they all finally stuffed in to a ward. The people on the scenes came from different backgrounds, I found it as a typicallity for most of the stories these days.
A Japanese man (Yusuke Iseya), from the moment he got blind inside his car, delivered to his apartment by a dubious man (Don McKellar), lost his car, and meet a doctor (Mark Ruffalo). Then started from the wating room of his practice, the contagion seems to spread. An eccentric working girl (Alice Braga), wearing sunglasses all the time except for bathing and swimming, and an old man with an eye-patch (Danny Glover), and a boy (Mitchell Nye). From there, the number multiplied.
One by one, group by group, they were taken to a quarantine facility, separated in to wards. One by one they started to snapped. The commoners became thugs, and the villains became devils. Events occured that peaked when the inhabitant of Ward 3 decided to put the fate of the rest of the facility in to their own hand, lead by the self proclaimed King of Ward 3 (Gael Garcia Bernal). People started to pay for their limited ransom, first with their belonging, then by supplying the women as sex toys for the resident of Ward 3 who were curiously happen to be an all-male group. A woman died there just because she didn’t “move”.
Unbeknown to virtually all of the people in the quarantine facility the doctor’s wife (Julianne Moore) was immune to the pleague, and she has been the eye for her husband and people of her ward since the beginning. Deciding to put an end to the carnage caused by the King of Ward 3, she killed him amid an orgy and released some women that came from another ward.
This film was an opening act in Cannes Film Festival and was not widely accepted. One of the reason was the violent sex scenes in the middle of the film (which then edited to make it short). The film also sparked protests by several organizations representing the blind community, mainly National Federation of the Blind represented by its President, Dr. Marc Maurer, who said that “The National Federation of the Blind condemns and deplores this film, which will do substantial harm to the blind of America and the world.” A press release from the American Council of the Blind said ”… it is quite obvious why blind people would be outraged over this movie. Blind people do not behave like uncivilized animalized creatures.” To all of these acts and some other Jose Saramago responded: “Stupidity doesn’t choose between the blind and the non-blind.”
Indeed. I say a movie is a movie, it tells stories, and like all of human’s conceptions, filled with flaws. Different people with different background would respond differently to certain kind of work. Some people wouldn’t even bother to watch this film, for its lack of “action”, some people watch movies bringing their own purposes, easy entertainment is the word to sell these days.
However, this film is anything but such. For me it presented a tale where normality became awry, and people tried to cope up with it, level by level, learning new tragic reality each day, and try to make it normal in their own way. The problem is, when people are too absorbed in their own quest of survival it is bothering, but not surprising, what they can do to other human being. The concept of good and evil that has been formed in to each person becomes the currency and the exchange rate fluctuated like the ocean waves.
There are many interesting scenes that depicted more meaning than meets the eye. The doctor’s position as the all knowing backbone of the family early in the movie turned in to a man who are completely dependent to his wife toward the rest of it. The Japanese man, the first blind man in the movie, separated from his wife (Yoshino Kimura), meet her again at the ward only by the hint of her voice, both reached out together through the gap of “white blind”. The thief who gave the evidence that he has been a man that act through desperations. The woman with sunglasses, a prostitute who managed to find comfort and love throughout the ordeals, and her motherly love to the boy who lost his mother. And the man with eyepatch, just somewhat prooving his theories of human being.
There are many other interesting characters here and there, and played quite neatly by everyone. The ordinary personage that would embody any of us in such weird circumstances that we have never seems to be prepared for. But for me the center stage goes to Julianne Moore, ever brilliant, Moore is a solid performer. I can feel the weight of her character’s desperation, anger, her isolation as the only person with normal sight, and the satisfaction of vengeance, through the film. As she take an exit after killing the King of Ward 3, and shout threats to the natural blind man, I bent in satisfaction.
I suppose the film has been showing enough effort to bring out the theme and essence of the story, it’s not about blind people, it’s about people, the whole population became blind and how they, supposedly we, would behave in such realization that all of us are blind within the same case. Some people would try to take advantage, some would try to balance their comprehension. It’s us in our natural ways, in a shocking circumstance. I would say that the accusation by the organization that represent the blind community was not completely correct. It’s about human being blind and try to comprehend anything that they can make out through their senses.
As the writer Jose Saramago said: “Stupidity doesn’t choose between the blind and the non-blind.”
Blindness is my movie for 2008, amid it’s awkwardness and lacks, it’s quite natural and it shows that anyone of us is blind in certain ways.
Rating: Adult
Intended Viewers: Adult
Relative Viewing Factor: 8/10
Relative Satisfaction Factor: 9/10
Relative Value: 8/10
Relative Blackenedgreen Score: 9/10
PUISI PINGGIR JALAN 2
ibu memeluk anak erat di dadanya
mata menatap kemana?
saat anak menangis
mata menatap kemana?
apa ada yang tidak kau mengerti?
setiap tanggal menemani matahari
apa ada yang tidak kau mengerti
saat anak menangis di dada?
kalaulah tuhan datang kepadamu
dan membeli buah-buah tak berharga di hadapanmu
berapa akan kau jual kepadanya?
berapa harganya?
juallah langsatmu 1 milliar dollar sebuah
juallah rambutanmu 1 milliar dollar sebuah
jika dia bertanya
katakan padanya kalau ini semua adalah sampah
jika dia marah
katakan padanya kau sudah biasa dengan sumpah serapah
katakan padanya kau sudah muak pada tabah
katakan padanya angin diperutmu membuatmu muntah
apa yang tidak ku ketahui?
saat mata menatap kemana
dan anak menangis di pelukan
apa yang kau nanti?
kebohongan hari?
kedatangan tambatan hati
dengan peluh hitam dan nafas nanar setengah mati
membawa janji janji nanti nanti
TYPICAL
Can any impurities be refined?
Do you know the meaning of lie?
You should never answer me,
where your heart does not ache,
from the very thought of the words.
And for the sake of anything human,
the bravery,
the splendor of success,
every man build his own throne and despise thoughts.
Then they deviced makeshift wisdom,
and sell it in books, tapes, and bundled gadgets.
Wealth from lies.
Before you know it,
you have become perfectly similar,
mind and character,
to the person next to you.
You have new missions.
Wealth from lies.
IGNORANCE
Sing the song of the dew
the pure ones that does not know the scent of human
shall I be a lizard instead,
and crawl beneath the fragrant green
never have a care of what the sky look like
i’d long be gone before the end of time
all the symbol deem meaningless
as i lay my self
in the soil’s embrace
sing me the song of the dew
the genuine tears of morning
none of sad
never a blind happiness
i stand here forever envy
in whatever form i may be
mortal flesh
immortal ache
SIN OF THE STARGAZER 2
it started as a premonition
this wonderous whimsy
of you and the golden arch
of the evening sky
tis be on the surface of the asphalt
softly and gently covered by the trace of rain
you broke my dream as your wheels
grinding the rude solidity above my shadow
beyond the spaceships
and the many celestial cows
floating above the edge of concrete abominations
tis despicable trace of blue
i can see you
the ancient eye that mock us
the peasants of self assuming grandeur
the insult to the perfection of the everbeing
it be this heart
imprinted marks on my face
questioning promises
of my own making
now standing there
coat and all
madness in his head blade in his hand
slitting mine dreams til days end
The Confession of a Smoker
Would you believe in anyone who told you something that they don’t really know? If you ask me, there’s a huge percentage that I wouldn’t. One day a friend came in to my room while I was pumping tar in to my lunge, and as any other good natured, well intended person, she told me that I should quit smoking. When I asked her about the reason, she paused for a moment and then elaborated some standard reasoning that I would have heard from about any other person, some of it written on the package… alright to put it simply: you’l die sooner than you should, and you would have it terribly.
But who care? The number of smokers doubled each day as new born babies being pulled out from the heavenly womb. Hail to the factories, you won’t have to create the market, just brew something acceptably tasted, have a huge advertisement budget, and voila! All you have to do is sit back, watch the cashflow… well, flowing in days, and months, and years, in decades, and we’ll have ourselves a new empire. Okay, it might not as simple as that, for those of you who are in the industry, you can tell me more of it.
But on the edge of all those income are the consumers, people like me who, once, spent two packs of cigarettes each day, and we have to cope with all the promises of consequencies. The word “once” doesn’t mean that I have stopped smoking entirely, it means that I don’t smoke two packs of cigarettes per day anymore, these days I’d take less than two, well… more if the day is a day when I should keep my head from being banged on to the wall… by myself.
So, here’s the confession, and you are having it from a smoker: smoking is painful. Of course, when you hang out with fellow smoke blowers, one take of the air could be seen as one take on heaven’s bliss. As you might have known, the bliss would include around 4000 chemicals, some of which are highly toxic, and toxins would take its toll. When you hang out with fellow smokers, you see bliss, when you live with fellow smokers you’ll see heaving chests, you’ll hear the complains, and share the pain.
When you lie down side by side, telling one another about one of those days when you feel like you’re out of breath, sweating and shaking, one would think that it’s a pretty sight. Well it is, especially when both side talk about quitting, really mean it, and then forget about the whole idea right after dinner.
There are many methods of quitting smoking, you name it. NRT (Nicotine Replacement Therapy) where you would have nicotine patches pasted on your skin, nicotine nasal spray, nicotine inhaler, even bubble gum. A combination of anti depressants and councelling is also available, in certain countries that is, where people already have a deeper insight about solving their health problems. Furthermore, this is the age of information, and there are easiliy accessible informations about quitting smoking provided on all kind of media, the supplement to all the words of wisdom that your spouse and doctor would throw at you. Although they might speak the truth, but they seems to lack the credibility of someone possessing the truth. Hard to imagine your clean cut, sterilized doctor would share the same perspective on the burden of joyful sin. As you are leaving the practice, you would say “what does he knows?” And those ways should fail.
Devine shock theraphy (that is: death) would have an instant effect, but everything instant is instant. When you hear about a relative being admitted to the hospital and the devastating news of lung cancer reached everyone’s ear, you would be dumbfounded, 10 minutes at the most, then these words would have flashed through your mind “he’s just being unlucky.” And you will spend the minutes of your after lunch talking about the guy’s misfortune while inhaling and exhaling fresh smoke from fresh cigarettes.
Then one day, a well intended friend would come to ask you the same question, again, “why don’t you quit smoking?” and you would say “I want to, once in a while, but I can’t, I tried many ways, but I failed”. Even when death is creeping in around the last corner, human, ever resourceful, would try to deviate, and when they fail, they would ask “why me?”
When you think of it, smoking is a preventable cause of death, whether it’s of toxin or the huge accumulative amount of money that went to smoke instead of nutrition. So why is it so hard to be separated from it? Here’s some contemporary reasoning from a smoker, and you’d be better off believing it.
First of all, there are this surrounding factors. The situation, condition, the people, the community around you who contributed to your conception of smoking, and to your admission as a smoker. There’s this constant battle still going on right now, and the winner will be determined by the marketing strategies applied. Most events in developing countries are sponsored by cigarette producing companies, even huge sport events, that would only have the contradictive relationship to the virtue of smoking. Kids watched these events, and they laughed when a teacher scold them as she found them skipping classes, crammed at one far flunged corner of the schoolyard, and had a foursome intercourse with a single cigarette. They were taken to the office where they would be punished as they watched assorted packs of cigarettes on the tables of the teachers – fellow smokers.
As you caught yourself as a smoker, it would become an interpersonal issue. Presently, in some places across the world smokers are limited to certain confined spaces of their own, whether by written law or by ethic. In certain social gatherings it should be impossible to smoke at all. But certain kind of people would find their own certain kind of group. Smokers will join smokers, and when you smoke among fellows, the subjective truth can turn to objectivity. You would have all the reasons to continue smoking as the night flies, packs after packs, and you would feel utterly stupid if you don’t smoke, because all of you would realize that there’s an alien in the group, and sometimes it’s just because you don’t know what to do with your fingers and your lips, and you become too concerned of it to even make any kind of contribution to the conversation.
There’s also the muse effect, and it’s quite popular. Ever seen a movie where the character would slip a cigarette between fingers while doing something that can be classified as a creative process? Whether it’s about a writer pondering in front of his typewriter, a detective reconsidering the evidence so far, or a painter, with the passive hand in front of his lips and the active hand jugling fantasies on canvas. Smokers would argue that smoking can increase their ability to think, to process information inside their mind and to produce anything. And being deprived of cigarette could hamper the process or even halt it entirely. Chemicals aside, I would say that this is more like an urban myth. The truth can be created and accepted as more people join the club. There are a lot of creative people who don’t smoke, but of course coping with their own issues. I know someone who would stand upside down on two hands with the believe that the more blood runs toward the head, the better it will function. Although I realize it is more to do with oxygen, but I accept the fact that everyone have their own eccentricity, so I just leave him be, as long as he stays away from my cigarettes.
Some people also consider smoking as an escapeway from stress. When problems mounted you will need a kind of release method. I assume that this inhaling and exhaling process that brings the concept together. But as the harm being done, smoking will bring accumulative headaches in time. With money to spent and illness to anticipate, it’s just not going to get any better.
Many people have seen smoking as a kind of lifestyle, this can be traced back to 1600s when it became a part of European culture, until 1940’s before anybody found out of its hazardous effects. I say that you can sell rotten meat if you know the way and have the stomach to do it, so even as the poisons were revealed, as long as you have the fund to play with the information and do counter campaigns, you’ll rake money. Talk about campaign and advertisement, you can even sell religion these days, so creating a notion of lifestyle is a no-brainer’s job, albeit still a brilliant one. In the end, as the consumers drag their feet from the chaotic stream and look in to themselves, they’ll find no style, only regrets.
Regrets would signify the lowest point of a smokers life. Regrets in a certain point of our life, gradually appeared and gradually intensified as the bad things gradually turn to worse and our healthy mind nullified. Sometimes I imagine myself reaching early forties, upon accepting the result of my medical check up, silently drop the cigarette from my fingers, and stood for minutes thinking about my life and my responsibility. Should I have a wife, what would I tell her? Should I tell her that I was sorry for this lung cancer and some other complications inside of me, and that cigarette is the greatest contribution to my situation? And how will I count the expenses for my children compare to my willingness and the need to stay alive? Regret is the bane of anyone’s life, but when it is on a prefectly avoidable cause like smoking, it will multiply.
So quit. No, it is not entirely about the method, it’s not about the planning, it’s not about that dubious software on your mobile phone that track your development and warn you about your quota. It’s about you, your determination and your capacity. A friend of mine, he was a heavy smoker, was playing a video game with a pack full of cigarettes in front of him. Suddenly, as the game finished he told me that he want to quit smoking, got up, left his cigarette pack behind, and pulled not a single stick eversince. We had lived together in a rented house so I knew how he had progressed, I even acted as the devil sometimes seduced him to smoke, to no avail.
Some other people tried a less sudden approach. Reducing the amount of cigarette consumed gradually each day, weeks, months, and eventually try to stop altogether. I tried this one, and failed. I had this preconception that each day I managed to reduce a single stick, I was elligible to reward myself in the evening. The thing is, I don’t do so well on math, so the reward went bigger than the result. Nevertheless, quitting smoking is still one of my primary concerns. There were days when I feel totally hard to breathe and failed to function effectively, those were the days where I vowed to quit. Remembering days such as these would help me to judge my own predicament and see what kind of man I have become, and the result is not so good.
No matter how hard you try to convince yourself of your own power, a little friendly nudge and support would make a difference. At least you have someone who sees the devil from certain perspective and determined how many blocks separated you from your doom. So when your doctor or someone close to you said something about you quitting smoking, there’s a good chance that they know what they are doing. Trust me I’m a smoker.
Pada suatu subuh, lepas jam 12 malam saya memberanikan diri untuk menghidupkan televisi. Kemudian mucul berita tentang kepolisian yang sedang perang dengan KPK, seperti anak balita dan anak TK yang sedang ribut mengenai siapa yang paling disayang oleh ibunya. Berita selanjutnya cukup mengejutkan walaupun saya tidak terheran-heran cukup lama.
Jika Prabowo bisa menjadi kandidat wakil presiden, dan Bakrie bisa mencalonkan diri menjadi ketua umum Golkar, kenapa Tomy tidak bisa bangkit lagi, dan berusaha mengembalikan kejayaan Cendana? Lima tahun dari sekarang saya tidak akan kaget jika Tomy atau Bakrie menjadi Presiden Republik Indonesia.
Dan sepertinya semua berjalan lancar di tubuh Golkar, hari-hari biasa, business as usual. Terlalu lancar malah, seperti skenario yang berjalan sempurna, bahkan membuat Tuhan iri dengan kesempurnaannya.
Jika saya adalah salah satu dari fungsionaris Golkar, saya akan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segala cara, bahwa saya tidak pernah menghina keluarga Cendana sebelumnya (atau menjadi faktor yang menjadikan mereka lengser). Kemudian saya akan berusaha mencari plot dimana saya dapat menyesuaikan diri dan membuat manuver tertentu yang membuat saya dapat diterima di kedua kubu.
Tapi jika dipikir-pikir saya akan pilih lari ke kubu Tomy, Bakrie hanyalah minion jika dibandingkan dengan Tomy, Bakrie pernah menjadi pion dibawah kekuasaan Cendana. Jika asumsi ini tidak salah maka ada banyak dosa yang harus membuat Bakrie bersimpuh, kecuali kalau selama ini mereka saling sokong. Dosa lumpur Lapindo? Sepertinya tidak ada pemimpin di Indonesia yang sepakat bahwa itu adalah dosa, dan karena para pemimpin kita berpikir demikian, maka hendaknya rakyat turut serta, karena apalah artinya rakyat tanpa pemimpin.
Ada yang bilang Tomy tidak akan bisa maju karena terganjal kasus pembunuhan hakim agung, dan pernah menjalani hukuman penjara yang seharusnya secara otomatis membuat dirinya tidak mungkin untuk duduk di dalam kepengurusan partai. Tapi jika orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan dan hilangnya ratusan jiwa tak pernah duduk di kursi pesakitan, jika pembunuh Munir masih bebas berkeliaraan, jika para pencuri-pencuri dari orde baru masih duduk pada posisi-posisi penting di negeri ini, kenapa Tomy tidak dapat menjadi Presiden Republik Indonesia?
Tapi, serius.
Walaupun sudah terlambat untuk mengatakan ini, tapi saya akan tetap mengatakannya. Segala bentuk pendidikan yang ada pada negeri ini telah gagal. Jika anda berkata: salah satu murid terbaik kita menang olimpiade fisika, apa yang salah? Biar saya bertanya pada anda: Apakah Roma dan Amerika serikat dibesarkan hanya oleh ahli fisika? Kebusukan dalam filsafat dimulai ketika semua cabang keingintahuan memisahkan diri untuk membuktikan bahwa dirinyalah yang paling benar, menghina habis-habisan kisah cinta antara si philos dan si sophia.
Para jenius dan para komentator politik yang bisa berbicara, berargumen, dan bertengkar di layar televisi… mereka tidak akan pernah bisa membangun negara. Sebuah negara adalah keseluruhan komponen yang menyatukan dirinya dibawah suatu keteraturan bekerja sama mencapai tujuan bersama.
Jika yang memimpin negara adalah preman dan pedagang minyak, akan lebih banyak ingatan yang hilang, sejarah yang dimanipulasi, manusia yang menangis sampai kering tulang-tulangnya, gunung dan hutan yang rata berganti padang semen dan aspal. Dan satu-satunya yang bisa kita ajarkan pada anak cucu kita adalah bagaimana cara melupakan.
Iseng-iseng saya mengakumulasi berita-berita nasional yang sampai pada kesadaran saya beberapa bulan terakhir ini, tidak butuh Mama Loren, atau mengetikkan “reg, spasi, nama” untuk mengetahui apa warna aura Indonesia hari ini dan masa-masa yang akan datang. Orang-orang yang masih berusaha menjaga matanya tetap terbuka akan melihat warna ungu, sedikit abu-abu, selebihnya… gelap.
Oh ya, harga gula dan kebutuhan pokok, menurut pemerintah daerah Kalimantan Barat “masih wajar”. Seorang “abang bengkel” sibuk mencari-cari palunya (yang cukup besar dan karatan), lalu naik ke atas motornya yang terdiri dari kumpulan besi tua dengan tenaga “kemenyan”, saat ditanya tujuannya, dia menjawab “kantor pemda!”, semua tertawa, semua tahu itu adalah canda, canda yang menyakitkan.
Menyakitkan karena orang-orang berseragam itu hanya datang ke kantor untuk menunggu waktu istirahat siang, dan kembali dari istirahat siang hanya untuk pulang. Menyakitkan karena saat menghidupkan televisi kami melihat rumah harga milliaran yang dipasarkan seperti memasarkan alat kontrasepsi dan dijual seperti kacang goreng saat kami tidak bisa membeli gula dan susu, menyakitkan karena anak-anak kami ternyata tidak sekolah dan tidak bisa beli susu, menyakitkan karena sertifikat atas tanah kami bukan atas nama kami, menyakitkan karena ternyata, walaupun ada yang bisa kami lakukan, kami tidak boleh melakukannya.
Lima atau sepuluh tahun mendatang, jangankan warna, bahkan aura kami pun sudah tidak ada.
Film The Simpsons terakhir yang dibuat untuk konsumsi bioskop, yang kemudian saya sewa bajakannya, kemudian saya salin lagi pada dua keping CD kosong, adegan pertama menunjukkan kelinci animasi 3 dimensi yang menari-nari di sebuah dunia yang indah, saya sempat berpikir “aarrrhg, salah copy!”
Sampai kelinci 3 dimensi itu mati dengan tragis, kehidupan nyata pun dimulai, dalam 2 dimensi, versi The Simpsons.
Sungguh, bagi sebagian orang, The Simpsons adalah sampah yang rumit. Desain karakter yang aneh, anda tidak bisa menggambarkan desain karakter pada seri animasi ini dengan satu kata sederhana: lucu. Akhir-akhir ini, dengan munculnya Nickelodeon, kita menemukan makin banyak desain karakter yang aneh-aneh disertai dengan cerita yang “aneh-aneh” pula, dan jika Nick memang saluran TV untuk anak-anak, tema ceritanya tidak selalu demikian. Jika seorang dewasa menonton Spongebob misalnya, kecuali orang dewasa tersebut menemui masalah dengan proses perkembangannya, dia akan menangkap kesan bahwa ada pesan tersembunyi di hampir setiap naskah cerita animasi tersebut, yang mungkin terlalu kompleks untuk anak-anak.
Satu hal yang pasti, karakter-karakter aneh ini dimunculkan untuk melawan dominasi Disney dengan cerita-cerita klasiknya yang menggambarkan bahwa orang-orang tampan dan cantik selalu baik dan benar, dan akan selalu hidup bahagia selama-lamanya, sedangkan orang-orang jelek adalah orang-orang yang sangat jahat namun tidak punya kreatifitas sehingga harus mati dengan cara tragis dan bodoh. Serial Shrek tidak membantu, karena ternyata alter ego dari dua ogre yang ada pada film tersebut adalah karakter-karakter tipikal yang sama dengan yang dipergunakan Disney.
Desain-desain karakter yang aneh yang ada pada film-film tersebut sebagian dimaksudkan untuk memperkenalkan pada anak-anak, bahwa dunia nyata tidak seindah dunia Disney, walaupun cara yang dipergunakan terkadang terlalu jujur.
Tapi film animasi bukanlah hanya konsumsi anak-anak. Kita semua tahu, anak-anak tidak ada dalam pemikiran Matt Groening saat menciptakan The Simpsons untuk FOX. Sama dengan anak-anak, orang dewasa, yang juga masuk dalam himpunan persamaan manusia, membutuhkan porsi fantasinya sendiri untuk dapat hidup normal (atau berhadapan dengan kehidupan normal). Dan produk untuk pangsa pasar ini cukup tersedia, dari mulai yang normal sampai yang sekedar memuaskan fantasi seksual.
Intinya, “film animasi tidak terbatas sebagai konsumsi anak-anak.” Ya, ya… tentu… banyak orang sudah pernah mengutarakan hal ini, tapi walaupun ada ratusan ribu artikel dalam bahasa Indonesia, dan ratusan ribu mulut pengamat yang menyatakan hal yang sama, namun dunia pertelevisian Indonesia tetap menyumbat kupingnya. Beberapa animasi Jepang yang dikhusukan untuk penonton terbatas tetap diiklankan sebagai konsumsi anak-anak, dengan kata-kata “adik-adik…dst, dst”. Atau jika yang mengiklankan itu adalah seorang anak, maka dia akan berkata: “teman-teman… dst, dst”. Setelah film diputar, kita baru sadar, teman-teman dari si anak tadi seharusnya berumur 17 tahun ke atas, cepat sekali dia dewasa.
FILM ANIMASI YANG BAIK
Sebentar lagi (atau sudah?) sebuah film animasi Indonesia beredar di bioskop-bioskop: Meraih Mimpi produksi dari Infinite Frameworks. Sesi “the making” nya sudah diputar di salah satu TV swasta, dan bahasa-bahasa sanjungan yang menyelimuti iklan pun mulai beredar. Saya hanya melihat potongan-potongan dari film tersebut, tidak seperti sebagian pihak yang sudah berani melarang sebelum pernah menonton keseluruhannya, saya merasa belum punya hak untuk membuat ulasan.
Sebagai film animasi 3 dimensi, saya melihat beberapa kualitas menjanjikan dari film yang dibuat oleh para animator yang berada di Batam tersebut (dan sekarang kita bisa bilang pada orang tua kita, bahwa animator itu juga adalah sebuah profesi). Pertama yang saya lihat adalah pencahayaan, walaupun dengan teknologi dan perangkat lunak yang ada sekarang, tidak terlalu sulit untuk membuat pencahayaan seperti itu. Dan “montage”, kalau saya boleh sebut demikian, pada adegan karakter mirip Elvis, yang cukup menarik. Dan salah satu pengisi suaranya adalah Gita Gutawa… hebat, tapi apakah hal tersebut dapat membantu menjadikan film animasi ini sebagai salah satu film animasi yang berkualitas?
STUDIO GHIBLI
Film animasi yang berkualitas? Saya bukanlah pakar, tapi jika ada orang yang bertanya mengenai film animasi yang paling baik menurut saya, maka saya akan menjawab “Spirited Away” yang lahir sebagai hasil perkawinan dari Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli. Jika ada orang yang meminta saya untuk menggambarkan film tersebut, maka saya akan menjawab: “mungkin adalah rangkaian gambar dan suara terbaik yang bisa di reproduksi oleh perangkat audio-visual anda, dan mungkin adalah salah satu cerita terindah yang pernah diceritakan pada anda.” Yang menyedihkan adalah saya menemukan “Spirited Away” karena iseng, coba-coba, itupun karena ada embel-embel Studio Ghibli yang sudah saya kenal sebelumnya, saya jadi berpikir berapa banyak penggemar film yang melewatkan pengalaman ini?
Tapi, jika saya pikir-pikir, hampir semua hasil produksi Studio Ghibli adalah “masterpiece” (Princess Mononoke, Grave of the Firefly, Wolf’s Moving Castle dan banyak yang lain, silahkan kunjungi situs IMDB jika kata-kata saya tidak cukup), dan Hollywood sudah mulai menyadari hal ini, walaupun terlambat. Film terakhir dari Studio Ghibli “Ponyo, on the cliff by the sea” (2008) dicolek oleh LIONSGATE dan MIRAMAX, versi colek ini, katanya, suaranya akan diisi oleh bintang-bintang seperti Cate Blanchett dan Matt Damon. Saran saya, tidak perduli Matt Damon atau Cate Blanchett, film-film dari Studio Ghibli harus ditonton pada kondisi aslinya. Pengisian suara dalam bahasa Inggris hanya akan merusak film tersebut secara keseluruhan. Ponyo on the cliff by the sea, walaupun lebih ringan dan mempunyai kekurangan disana-sini, tidak berpaling dari jejak kualitas Studio Ghibli, saya berani berkata demikian, karena saya sudah melihatnya secara keseluruhan.
Anda mempunyai pandangan negatif terhadap budaya pop yang bernama anime dan manga? Sayangnya Studio Ghibli berada di luar arus itu. Studio ini membawa ciri khas karakter komik Jepang? Ya, tentu saja, Studio Ghibli berada di Jepang dan berisi orang-orang Jepang, dan ciri khas itu memang milik Jepang dari awal (bukan Malaysia) dan semua ini dibawa pada bentuknya yang murni dan brilian. Bagi saya, kualitas yang dibawa Studio Ghibli (dalam animasi dan kualitas cerita) mampu membuat studio lain seperti Disney, dan DreamWorks tampak seperti restoran makanan cepat saji.
Dibutuhkan satu batalion tenaga ahli dan ribuan tenaga pemasaran untuk membuat serial Ice Age, dibutuhkan seorang pendongeng dan satu kemah berisi seniman (ya, seniman, artis, bukan selebritis) untuk membuat Ponyo dan kita belum bicara mengenai musik pengiringnya. Ice Age menyediakan musik-musik, tarian dan nyanyian yang mengasyikkan, sama dengan serial Transformer versi layar lebar, hanya butuh 2 minggu sampai semua itu terlupakan. Ponyo menyediakan musik yang datang dari waktu disaat para Ibu masih mau membacakan dongeng sebelum tidur, pengaruhnya akan terus menghantui anda. Jika Ponyo belum mencairkan hati anda, anda bisa melirik film Studio Ghibli yang lain, atau langsung lompat ke Spirited Away dan Grave of The Firefly.



Secara pribadi dengan keterpaksaan yang menyenangkan, saya menempatkan mereka diantara Shrek (untuk ide-ide cerita diluar pakem), Finding Nemo (ada beberapa adegan yang masih selalu mampu merebut hati saya), The Incredibles (cerita dan efek kamera yang inovatif!), Happy Feet (saat dia terjun ke laut dan berenang sendirian adalah yang terbaik, tentu butuh komputer yang kuat untuk merender seluruh penguin emperor ditengah badai salju dan seharusnya berbasis Linux!) Ratatouille yang begitu elegan dan humanis, The Last Unicorn yang ajaib (dan menjadi animasi berupa film panjang pertama bagi saya) serta Akira yang menjadi referensi bagi film animasi dan video game sampai sekarang.

Sayang sampai saat ini saya belum melihat Wallace & Gromit in The Curse of the Were-Rabbit karya Nick Park dan Steve Box.
SENI DIGITAL
Kunjungi deviantart.com, walaupun banyak sampah disana, namun anda juga akan menemukan seniman-seniman digital baik yang sudah berbicara banyak di industri hiburan digital, seperti video game, buku, majalah, komik dan film, maupun yang masih berupa permata-permata yang belum ditemukan. Salah seorang seniman mampu membuat rangkaian animasi, terdiri dari gambar-gambar sketsa sederhana, namun dengan aliran pergerakan yang begitu cair, dan sudut pandang yang pintar, 100 persen esensi. Seniman lain mampu membuat sebuah dunia yang dapat dijadikan latar belakang bagi sebuah cerita-cerita besar yang dapat ditulis oleh seorang penulis. Seniman lainnya dapat membuat karakter-karakter yang memiliki segala kualitas seorang Hannibal Lecter maupun Charlie Chaplin.
Di pasar, masih banyak orang yang berargumen mengenai status seni dari sebuah manipulasi foto, namun di deviantart, manipulasi foto menjadi seni karena Rio de Janeiro bisa dirubah sehingga mempunyai esensi seperti Tibet. Orang-orang ini tidak mau kompromi. Di deviantart anda juga bisa memantau seorang seniman muda kelas 4 SD yang awalnya hanya bisa menggambar kuda tanpa bentuk, namun beberapa tahun kemudian mampu melukis satu kelompok pasukan berkuda lengkap dengan baju zirah, kilatan pedang, serta latar belakang pegunungan yang tampak begitu nyata dan detil.
Faktanya beberapa seniman terbaik di deviantart adalah orang-orang Indonesia, tapi di Indonesia pekerjaan bukan datang dari kemampuan namun dari koneksi.
Animasi pada seri film Spiderman (1, 2 dan 3) bukanlah yang terbaik, tampak kasar dan kaku. Jika anda mencari animasi terbaik karya seniman-seniman digital Amerika dan Eropa, carilah pada judul-judul video game yang mereka buat. Jika anda pernah melihat potongan animasi pada Warcraft 2 atau Diablo, anda akan tahu kalau Lord of The Ring tidak terlalu istimewa dalam segi kualitas animasi, “hanya” kejeniusan dalam tekhnik compositing. Jangan salah sangka, saya masih menganggap keseluruhan trilogi itu cukup hebat dalam bentuk film, semua karena Peter Jackson.
Banyak perangkat lunak digital yang ada saat ini, sudah menyediakan fasilitas dimana anda dapat membuat suatu adegan yang kompleks hanya dengan beberapa kali klik pada mouse, padahal sebelumnya anda harus melalui sebuah proses yang panjang. Misalnya plugin-plugin pada Photoshop dari Adobe, kemudahan mengekstrak bagian dari gambar dan merubah properti layer. Kemudian pada perangkat lunak 3 dimensi, jalur kamera, properti dari benda dan teksturnya, tulang dan pergerakan, pencahayaan dan dinamika, sudah dapat dilakukan dengan cara yang relatif mudah. Beberapa tahun lalu, untuk membuat adegan laut pada Maya dari Alias Wavefront, anda harus bersusah payah dari nol, satu atau dua tahun kemudian, dengan satu kali klik anda sudah memiliki permukaan air yang dapat anda ubah propertinya menjadi permukaan air manapun yang anda inginkan.
Jika ada film animasi baru yang keluar saat ini, mereka seharusnya bisa menghasilkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada sekedar “eye candy”, atau cuma sekedar membuktikan “kami pun bisa membuat film animasi loh!” Mereka harus memberikan sesuatu yang lebih, yang baru.
YANG LEBIH, YANG BARU
Buku “The Amazing Adventure of Cavalier and Clay” bisa dijadikan sebagai literatur bagi anda yang malas membaca literatur (saya tidak bisa apa-apa jika anda malas membaca total). Buku ini lebih condong ke fiksi, namun memberikan gambaran yang sesungguhnya mengenai industri komik Amerika yang sempat mendominasi dunia, juga budaya yang berkembang terkait dengan budaya komik tersebut.
Tidak ada alasan untuk melihat media komik hanya dengan sebelah mata. Salah satu karya seni terbaik dunia perfilman berasal dari komik, lihat Batman.
Dan komik juga mengadaptasi tekhnis pada film, bukan film-film sembarangan, namun karya-karya monumental seperti Citizen Kane, hal ini memberikan perspektif baru pada dunia komik, tidak hanya kanan, kiri, depan, belakang, namun juga menyamping, atas, bawah, dari balik jendela, dari sebelah pot, sudut pandang orang pertama, bahkan sudut pandang seorang penjahat seperti Joker dan karakter-karakter yang dianggap tidak punya peran. Batman dan Robin meninggalkan kostum cerah dan kebiasaan memanjat gedung yang mereka lakukan seperti memanjat tebing, juga meninggalkan tulisan POW! WHAM! dan sebagainya.
Batman juga mengadopsi kualitas anti hero, masa lalunya yang gelap menampakkan diri pada karakternya, beberapa rekannya menyusul: Spawn (terlihat sadis, namun dijejali referensi dari penyair-penyair puisi kelas atas seperti Dante dan Blake), Daredevil (karakter yang menarik namun versi film layar lebar yang buruk) dan lainnya. Cerita dan motif menjadi kompleks, tidak sekedar kejar-kejaran dan pukul-pukulan, namun juga perenungan. Sehingga seorang tekhnisi bisa fokus pada masalah tekhnis.
Sudut pandang tidak masalah pada animasi 3 dimensi, seorang animator bisa menggeser begitu banyak kamera kapanpun, ke arah manapun dengan menggunakan mouse, semua tergantung pada batas imajinasi sang sutradara dan penata gambar. Namun pada animasi 2 dimensi, butuh perencanaan lebih. Semua tekhnik terlewati, maka tergantung pada cerita yang dapat memanfaatkan semua tekhnologi itu.
Salah satu (dua) contoh yang ingin saya angkat disini adalah kisah-kisah Ang the Windbender (kita lebih mengenalnya sebagai Avatar) dan Naruto (seluruh varian animasinya, tidak termasuk manga). Kedua film ini populer di kalangan anak-anak dan semua umur penikmat animasi.
Di Amerika Serikat, setelah saya memperhatikan forum-forum pada situs televisi Amerika, sama seperti situs-situs RCTI, SCTV dan sebangsanya disini, Avatar menjadi film pilihan orang tua bagi anak-anaknya (dan alternatif tontonan bagi mereka sendiri) karena pesan-pesan tradisional yang konsisten dengan perkembangan jaman, komposisi cerita yang baik, dan animasi yang indah dan ramah (dan Amerika adalah sumber laknat dunia?) sentimen ini menendang Spongebob ke pojok ruangan.
Naruto dilain pihak, adalah pilihan yang harus diawasi. Naruto, baik komik maupun animasi, berkembang sesuai dengan perkembangan permirsanya. Naruto pada seri-seri awal cukup aman untuk dinikmati oleh anak-anak SD, namun tidak pada seri-seri akhir, para anak-anak SD tadi diharapkan sudah berada atau melewati masa remaja untuk pantas menikmati Naruto pada bentuknya yang ada sekarang.
Satu kesamaan dari keduanya adalah eksplorasi animasi. Banyak adegan-adegan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan baru yang tidak pernah tampak pada animasi-animasi lain pada khususnya, dan film-film pada umumnya. Dan akhirnya hal ini menjadi standar dan ditiru oleh banyak pihak. Seperti perpindahan “kamera” dari karakter ke karakter saat mereka sedang berlari, pencahayaan, “efek kamera” seakan-akan suatu adegan dilihat sebagai pantulan dari sebuah permukaan tertentu, interaksi antar karakter dan bagaimana hal itu mempengaruhi latar belakangnya.
Penguasaan seni, keterampilan, dan kombinasi cerita beserta tekhnologi yang saling mengisi. Padahal Avatar dan Naruto masih dianggap “makanan ringan” dalam konteks produk film animasi, jika dibandingkan dengan animasi berseri sekelas Master Keaton dan Monster yang dianggap superior dan sulit dicari padanannya dari segi cerita (keduanya juga secara resmi mematok usia pemirsanya yang terdiri dari “pria” berumur 20 sampai 30 tahun ke atas, bukan karena isi yang tidak senonoh, jauh dari itu, namun karena ide, pemikiran, dan filosofi yang ada didalamnya yang dianggap hanya bisa dicerna oleh para pria pada umur-umur tersebut. Kalau dari segi kesusilaan, menurut saya Master Keaton bahkan tidak lebih berbahaya daripada Avatar).
SEKARANG
Kembali ke film animasi baru Indonesia, apakah menawarkan kualitas seperti yang dikatakan oleh punggawa-punggawanya? Atau hanya pembuktian bahwa Indonesia juga bisa membuat film animasi? Sayangnya saya hampir tidak melihat para seniman maupun tekhnisi berbicara di depan kamera, yang berbicara hanyalah para “artis” yang bahkan kemampuan aktingnya sendiri meragukan, dan semuanya memuji film ini… tentu saja.
Jika hanya berupa pembuktian, maka kita sudah sangat terlambat, Korea Selatan (Our Wonderful Days yang brilian) dan Cina sudah bisa menghadirkan karya-karya animasi yang monumental. Jauh sebelumnya, seniman-seniman mereka sudah terkait dengan proyek-proyek animasi artistik yang ambisius, seperti Ghost In The Shell 2: Innocence yang penuh dengan pesan-pesan filosofis dan terobosan-terobosan dalam media 2 dimensi maupun 3 dimensi yang oleh sebagian pengamat, setiap framenya dianggap sebagai karya seni yang dapat berdiri sendiri. Bahkan Ipin dan Upin karya anak-anak Malaysia pun, secara cerita, terlebih secara tekhnis, bagi saya sudah dapat diterima sebagai film animasi 3 dimensi yang cukup brilian.

Saran saya, tontonlah Ghost In The Shell 2, pada versi DVD yang saya peroleh memang tidak terdapat pilihan bahasa Inggris dan subtitlenya sangat buruk, namun film ini dapat memberikan ide, kira-kira sampai sebatas mana tekhnologi 2 dimensi dan 3 dimensi serta bakat yang ada sekarang dapat dipaksa bekerja sampai batas kemampuannya. Film ini memang sudah agak lama, namun saya belum menemukan film animasi baru yang berusaha sekeras film ini.
Berhentilah menyebut para selebritis sebagai artis, mereka bermain sinetron bukan untuk alasan seni. Untuk seniman (pelukis digital dan animator) penulis dan tekhnisi sendiri, kita mempunyai banyak jiwa-jiwa yang sangat mengagumkan, pertanyaanya apakah para pemilik modal berani menyingkirkan hegemoni Punjabi, memberikan kesempatan pada artis-artis yang sesungguhnya? Jangan sampai semua tenaga brilian kita lari ke luar negeri, banyak dari mereka yang lari ke Jepang, Amerika dan Eropa. Padahal masih banyak khasanah dongeng dan cerita dari Indonesia yang belum digali.
Ini mungkin bukan kebiasaan orang Indonesia, karena rendahnya penghargaan terhadap seniman dan proses, tapi cobalah biasakan untuk memperhatikan ending credit dari game-game dan film-film tertentu (terutama game-game terkenal) maka anda akan menemukan nama-nama Indonesia di sana. Silahkan cari, dan buktikan jika ada pemodal atau orang pemerintah yang mengatakan bahwa kita kekurangan tenaga (atau penguasaan tekhnologi)… kasihanilah mereka.
Untuk sementara ini, dari potongan-potongan film Meraih Mimpi yang saya saksikan di layar televisi, ada satu hal yang saya khawatirkan: bahwa para pembuat film menempatkan anak-anak sebagai target konsumen utama dalam proyeksi naskahnya. Saya percaya cerita yang baik adalah cerita yang dapat diterima, dan baik bagi semua orang (umur), terhindar dari tendensi karakter-karakter suci lawan jahat, dan menerima ide bahwa selalu ada dua sisi bahkan lebih dari sebuah cerita. Inilah yang membuat Studio Ghibli begitu dipuja, membuat Avatar begitu berhasil, dan penonton tidak merasa bodoh dan dibodohi.
borneoblogger
Citizens fight back against road conditions