Ijoitem’s Weblog

Just another WordPress.com weblog

Sisi Gelap “Awan” Google

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juli 13, 2009

Oleh: Jonathan Zittrain*
Newsweek 9 Juli 2009
Terjemahan

Google dan Microsoft sekarang secara resmi bertarung untuk mendapatkan anda. Tidak hanya untuk mendapatkan perhatian anda yang bersifat sementara – kejadian langka dimana mata anda yang berharga itu berpetualang ke atas iklan-iklan, memotivasi anda untuk meng “klik” dan mengakibatkan sereceh dua receh masuk ke dalam pundi-pundi mereka. Mereka menginginkan hubungan jangka panjang dengan anda, dan mereka berdua berpikir bahwa masa depan mereka bergantung pada hal ini.

Google membuat keputusan yang berani minggu ini dengan mengumumkan sistem operasi barunya, Chrome. Segera anda akan dapat membeli PC atau perangkat lain sudah terisi dengan Chrome, bukan Windows. Bagi Google, Chrome akan memenuhi satu tujuan: untuk membuat komputer anda hidup dan berjalan dengan browser Internet – juga disebut Chrome – beberapa detik setelah anda menyalakan mesin anda. Sekarang anda setiap hari akan disambut oleh Google bukan Microsoft. Sebagaimana beberapa tahun yang lalu Microsoft Windows mengarahkan anda pada produk-produk Microsoft yang lain, browser milik Google tentu saja akan mengarahkan anda pada keluarga produk Google yang terus bertambah.

Jika rencana ini berhasil dan banyak orang beralih ke Chrome, hal ini akan memperkuat pemikiran bahwa perangkat lunak saat ini ditujukan untuk berjalan di luar sana, di “awan,” jauh dari PC dan PDA yang ada di hadapan anda. Anda akan membutuhkan koneksi Internet unruk melakukan kebanyakan hal – dan tentu saja hal ini lebih mudah dilakukan di tahun 2009 daripada 1995. Pertanyaannya adalah, dalam era awan, bagaimana kita menghindarkan diri dari kebebasan berkomputer yang esensial?

Isu ini muncul karena Google tidak hanya ingin menjadi sumber informasi anda, tapi juga tempat penyimpanan. sebagaimana Google Mail berinteraksi dengan baik dengan Google Docs dan Spreadsheets (Keseluruhan aplikasi disebut sebagai Google Apps), anda akan menyadari bahwa anda menghabiskan waktu anda tidak hanya di Internet, namun juga di Google.com atau rekanannya. Google dapat menjadi keberadaan yang sama dominannya di era awan ini dengan Microsoft pada era PC.

Pengumuman dari Google adalah langkah penting dalam masa transisi yang lama dari PC ke Web. Selama dua dekade, mayoritas pengguna komputer disambut oleh suara dan layar pembuka Windows milik Microsoft. Microsoft menarik bayaran untuk perangkat-perangkat lunak dasar yang menjalankan komputer anda, kemudian kembali menarik uang anda dengan menjual perangkat lunak seperti pengolah kata dan spreadsheet. Para pengembang perangkat lunak akan membuat aplikasi baru untuk Windows karena disanalah para pengguna berada, dan para pengguna akan terus membeli Windows karena disanalah aplikasi-aplikasi itu berada. Saat Internet menjadi populer pada akhir tahun 1990-an, browser mulai mengganggu aturan ini. Nestcape mendapatkan ide untuk membundel perangkat lunak bernama Java dengan browsernya, yang menjadikannya cukup kuat untuk berfungsi sebagai pengolah kata, spreadsheet, dan banyak hal lain.

Google sekarang berada pada batasan untuk menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Netscape. sejauh ini Google belum menemukan model bisnisnya. Bukannya menarik uang anda sebagaimana yang dilakukan oleh Microsoft dengan WIndows dan Office-nya, mungkin Google akan tetap bertahan dengan iklan, berharap pada akhirnya anda akan meng-klik sesuatu. Atau mungkin bertindak sebagai penghubung terhadap identitas online anda. Google dapat membantu anda belanja pada situs lain, melakukan pemotongan sebagaimana yang dilakukan oleh perusahaan kartu kredit anda dari pedagang ketika anda melakukan pembelian. Atau mungkin Google akan menarik bayaran dari para pengembang atas kesempatan untuk menjalankan aplikasi mereka di atas dasar Google Apps, atau bahkan dengan menjalankannya di tempat lain namun menggunakan sumber daya Google sebagaimana sebuah situs restoran dapat membantu anda menemukan tempat mereka dengan menggabungkan peta Google yang interaktif pada salah satu halaman mereka.

Meskipun tidak ada yang dapat meramalkan masa depan Chrome, Internet secara agresif menarik kita, dan seluruh data kita. Kecuali jika kita dapat menemukan cara untuk melindungi diri kita sekarang, data kita dapat diolah dan digunakan dalam cara-cara yang tak terbayangkan dan berada di luar kendali kita. Kita akan menyadari bahwa sulit untuk berpindah dari satu penyedia jasa ke penyedia jasa yang lainnya setelah menumpuk begitu banyak informasi, dan begitu banyak informasi mengenai mengenai hubungan dan relasi kita pada satu tempat. Kita harusnya dapat memindahkan data kita dengan satu kali klik, dari satu gerbang komunitas ke bentuk lain, misal, dari Office Live milik Microsoft, perangkat lunak Microsoft yang didasarkan pada jaringan ke Google Apps. Kita harusnya dapat menjembatani identitas kita dari satu tempat ke tempat lain, bukannya diharuskan memilih salah satu. Mestinya dokumen-dokumen kita di Google Docs dapat digunakan secara permanen melalui Office Live dan sebaliknya, dan pada situs-situs baru yang belum pernah didengar orang sebelumnya. Kekuatan pasar secara alami dapat mengatasi hal ini, bukan sihir. Dan peraturan yang baik dapat membantu memelihara pasar yang kompetitif.

Kebebasan bagi anda adalah setengah dari masalah. Setengahnya lagi adalah kebebasan bagi mereka yang membuat perangkat lunak. Bahkan di dunia yang didominasi Windows, ada ribuan perangkat lunak yang dapat ditemukan, dan Bill Gates tidak mengatakan apapun terkait apakah perangkat-perangkat lunak tersebut diperbolehkan untuk berjalan pada platformya. Kita mestinya menjaga kebebasan yang sama di dunia baru dimana platform jaringan dapat dan memang selalu mematikan perangkat-perangkat lunak eksternal, baik pada Facebook maupun Google Apps. Hal ini dapat terjadi melalui para pembuat perangkat lunak yang bersatu untuk mengubah beberapa praktek yang memberikan pembuat platform lebih banyak kendali atas perangkat lunak eksternal daripada apa yang pernah dilakukan oleh Microsoft, atau melalui peraturan spesifik untuk memastikan tidak adanya diskrimasi atas platform-platform ini, terutama jika suatu platform lebih populer daripada yang lainnya.

Hubungan jangka panjang dapat menjadi begitu bernilai dan sehat: penting untuk mendapatkan relasi seperti ini dengan cara yang benar.

*Jonathan Zittrain adalah seorang dosen hukum pada Sekolah Hukum Harvard dan salah satu direktur pada Lembaga Berkmen untuk Internet dan Masyarakat (Berkmen Center for Internet dan Society). Dia adalah pengarang Masa Depan Internet dan Bagaimana Cara Menghentikannya (The Future of the Internet – and How to Stop It).

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Luak Mabuk Mengacau di Jalan

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juli 10, 2009

Oleh: Dave Graham
Editor (English): Myra MacDonald
Reuters 9 Juli 2009
Terjemahan

Seekor luak (sigung/badger) di Berlin, Jerman begitu mabuk karena ceri matang yang dimakannya. Luak itu berjalan sempoyongan ke tengah jalan dan menolak untuk berpindah, kata Polisi.

Seorang pengendara motor menelepon polisi di dekat pusat kota Goslar untuk melaporkan seekor luak yang mati di tengah jalan – para petugas datang, tidak menemukan hewan mati namun hewan yang hidup, dan mabuk.

Polisi menemukan bahwa hewan malam itu telah memakan buah ceri dari pohon yang ada disekitar lokasi yang berubah menjadi alkohol dan membuat hewan itu menderita diare.

Setelah gagal menakuti hewan itu, para petugas akhirnya mengusirnya dengan menggunakan sapu.

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Love

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juli 9, 2009

There was once a charming princess who lived in a very beautiful city. Most curious was the city, for it lies above the cloud, flying, suspended amidst the air. Should one wish to visit the city, one should take a journey ride above a flying vessel, not a plane or an aircraft mind you, they would be too fast that you would miss the city along the way.

One day a very mean young warlock cast a very powerful spell unto the city. What’s more mean of it is that he did it merely based on his own whim, for he hated everything that is beautiful and joyous. The spell that he cast, brought the city down. Down, down over the mountain. Down, down over the forest. Down, down over the beach. Down, down unto the sea. Down, down in to the ocean.

Indeed, the mean young warlock made every single people who lived in the city drowned. You see, since they have been living above the cloud, they have never learned to swim. But the princess, who was taught well, and learned well, knew a thing or two about swimming, she even devised a very large bucket to practice swimming, and she made it quite well for someone who lived above the cloud.

So she swam and swam, until she reached the shore and passed out because she was very exhausted. The young warlock was very surprised to see that there was a survivor from the drowning flying city. He decided to capture her, put her on the back of a very filthy, giant bulldog. When they reached the young warlock’s castle, a very horrible, neglected castle I dare say, he put the princess in to a room which had only one iron door and one window that was so high that not even a the tallest man in the world could reach.

The young warlock kept the princess for one and two days without food and water. On the third day as the young warlock passed in front of the door, the princess spoke to him with a feeble voice. “Oh mean warlock, pray tell, why have you brought my city down from the sky, drowned my fellow people, and keep me here with scarcely any food or water?”

The young warlock paused for a moment, searching his thought, but could find no explanation in his dark mind other than this: “because I want it!”

“you can’t hurt people just because you want it.” said the princess.

“why not?” asked the warlock.

“because if you can hurt people just because you want it, then anybody else can hurt you just because they want to, and certainly, you don’t want to be hurt don’t you?” said the princess.

“but nobody could hurt me, I have power so great that I can pull down a city from the sky” said the warlock.

“but there will come the time when someone more powerful than you would come and defeat you” said the princess.

“but I will never loose, for I will practice harder and harder, so I can be more powerful than those who shall come and challenge me” said the warlock

“but how would you know that you are more powerful if you have never meet, or see, or hear of those who will challenge you?” asked the princess.

Again, the warlock paused for a moment. You see, he was so powerful that he could brought down a city from the sky, but he was quite dim-witted, for he had never thought of this kind of question before.

“I don’t know, I guess I’ll just see when the time come” said the warlock.

“And by that time you will loose” said the princess “you see, there are things more powerfull than swords and spells.”

“there are nothing more powerful than swords and spells” said the warlock sternly.

“Oh, but there are. I’ll show one if you’ll let the door open for me” said the princess sincerely.

“Just tell me of this thing, and I’ll decide whether you go or stay” said the warlock.

“But this thing that I mean can’t just be said, it is also must be shown” said the princess “you will fail to understand it in any other way”

“How powerful is this thing?” asked the warlock.

“Didn’t I tell you that it is more powerful than swords and spell?” asked the princess “because of this power that I am telling you, swords have been made and broken, spells have been made and broken, heroes have been made and broken, evil too have been made and broken.”

The warlock was so fascinated by what the princess had told him that he opened the door instantly, grabbed the princess shoulder and hastily asked “where, what is this power that you speak of? Tell me now!”

Instead of answering the warlock’s question, she kissed the warlock’s forehead and said to him in the sweetest sincere voice: “thank you.”

The warlock, surprised by the princess action loosened his grip on her shoulder. The princess then ran, ran away through the alleyway, through the forsaken garden, through the giant gate, leaving the warlock confounded and alone in the horrible castle.

Years later people found that the castle had become nothing more than piles of debris on the ground, and the warlock was nowhere to be found. Some said that a mighty spell had been cast upon him, and that it affected him miserably. He went away to the corners of the world to search for remedy. Had he ever found the remedy he seek? No one can tell.

But there were also others who said that the warlock missed the ranaway princess so much that he took the longest journey he had ever taken, found the princess in a far away land, confessed his love, abandoned his mean ways, and live happily ever after.

However, since most people knew him as a powerfull warlock, they decided that, indeed, there are things more powerful than swords and spells.

blackenedgreen

Ditulis dalam short story | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

KUIS UNTUK MENGUBAH HIDUP ORANG ATEIS

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juli 6, 2009

Penulis: Daren Butler
Editor (English): Dominic Evans
Reuters 3 Juli 2009
Terjemahan

Apa yang terjadi jika seorang Imam agama Islam, Pendeta agama Kristen, dan Pendeta Budha dikumpulkan ke dalam satu ruangan yang penuh dengan orang-orang ateis?

Stasuin televisi Turki, Kanal T berharap hal ini akan menaikkan rating saat mereka menyiapkan sebuah pertunjukan kuis dimana pemimpin spiritual dari 4 aliran kepercayaan akan mencoba merubah pendirian sekelompok orang yang tidak percaya.

Hadiah dari kuis tersebut adalah perjalanan ke tempat-tempat suci yang sesuai dengan pilihan agama mereka masing-masing – Mekah untuk Muslim, Vatican untuk orang Kristen, Yerusalem untuk Yahudi dan Tibet untuk Budha.

Namun para pemimpin agama di Turki yang didominasi Islam yang beraliran sekular tidak terkesan dengan dengan format pertunjukkan kuis realita baru ini dan Direktorat Urusan Keagamaan menolak untuk menyediakan seorang Imam untuk pertunjukkan tersebut.

“Melakukan hal seperti ini atas nama rating adalah sebuat penghinaan terhadap semua agama. Agama seharusnya tidak menjadi subjek dari sebuah acara hiburan,” dikatakan oleh Pimpinan Majelis Tinggi Urusan Keagamaan, Hamka Aktan, pada kantor berita nasional, Anatolian, setelah berita mengenai acara tersebut muncul.

Para pembuat “Kompetisi Para Pentaubat” tidak menyesal dan menolak klaim bahwa pertunjukkan tersebut, dijadwalkan untuk mulai disiarkan di bulan September, akan merendahkan agama.

“Kami memberikan hadiah terbesar di dunia, hadiah kepercayaan kepada Tuhan,” dikatakan oleh kepala eksekutif Kanal T, Seyhan Soylu pada Reuters.

“Kami tidak setuju dengan orang-orang ateis. Tuhan itu maha besar dan tidak masalah agama mana yang kau percayai. Yang penting kau percaya,” kata Soylu.

Proyek ini memfokuskan perhatiannya pada isu identitas agama di dalam Turki yang merupakan kandidat anggota Uni Eropa, dimana kelompok pembela hak asasi mengkhawatirkan kebebasan beragama bagi para minoritas non-Muslim.

Pengkritik dari partai yang berkuasa, partai AK, yang berakar dari politik Islam namun sekuler, beranggapan bahwa acara itu memiliki agenda ke-Islam-an yang tersembunyi, tuduhan ini ditolak.

Sekitar 200 orang telah mendaftar sejauh ini, dan 10 kontestan akan dipilih bulan depan.

Sebuah tim ahli agama akan memastikan bahwa para ateis adalah benar-benar ateis, tidak sekedar ingin menjadi terkenal atau mendapatkan liburan gratis.

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

BUDIONO DAN KALIMANTAN BARAT

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juli 6, 2009

Karena sudah ada internet, kita tidak perlu pergi jauh-jauh ke Afrika, membuang uang untuk tiket pesawat membawa idealisme yang berdasarkan pada asumsi, dan sesampainya di sana malah jadi pengganggu yang tidak berguna. Sama saja dengan halnya jika ada dari anda yang ingin pergi ke Iran atau Iraq. Entah dengan anda, tapi saya merasa seperti manusia manja yang berpikir bahwa saya berhak menetapkan sebuah batasan mengenai kebenaran, padahal segala yang ada dipikiran saya hanyalah bagaimana cara bertahan hidup, diantara jutaan manusia, sebagian licik, sebagian naif, di Indonesia yang katanya makmur ini, di Indonesia yang katanya mempunyai sumber daya yang melimpah ruah.

Membuat saya berpikir, jika sumber daya memang melimpah, kenapa rakyatnya harus berebutan dengan cara yang menyedihkan?

Hari Jumat tanggal 3 Juli yang lalu Budiono datang ke Pontianak, menghadiri sebuah rapat tertutup terkait Pemilihan Presiden. Calon wakil presiden ini, sesampainya di halaman Hotel Kapuas langsung di sambut barongsai dan begitu masuk ke dalam hotal disambut oleh kelompok pelantun Shalawat.

Dalam pidatonya Budiono memuji kemajemukan masyarakat Kalimantan Barat yang hidup berdampingan dengan harmonis, meskipun berbeda suku, agama dan kepercayaan. “Kebhinekaan masyarakat Kalbar harus menjadi contoh bagi daerah lain. Bhineka tetap harmonis. Saya dan Pak SBY, juga banyak tokoh nasional lainnya sangat bangga bahwa ada contoh di mana kebhinekaan bisa hidup berdampingan dengan harmonis.

Saya tidak tahu apakah pernyataan ini ada kaitannya dengan barongsai dan lantunan Shalawat sebelumnya.

Namun jika malihat beberapa seri debat Capres dan Cawapres yang ditayangkan di televisi maka mau tidak mau saya melihat kaitannya.

Beberapa seri debat tersebut, menurut pandangan saya yang sederhana, sama sekali tidak berarti apa-apa. Saya bukanlah agnostik, saya sempat berpikir untuk pergi ke TPS tanggal 8 mendatang dan menggunakan hak saya, namun jika melihat perkembangan debat yang ada di televisi hal-hal berikut sempat terlintas di pikiran saya:

- Orang-orang ini berpidato di depan audiensi yang terdiri dari seluruh penonton televisi nasional, bahkan seseorang dengan tingkat pemikiran seperti Obama mempunyai sebuah tim yang membantu menyusun pidatonya dan mempersiapkan data-data pendukung untuk seluruh argumennya, yang dapat diperkirakan maupun tidak. Melihat dan mendengar argumen pembuka dan penutup dari para calon, presiden maupun wakil presiden, saya bertanya-tanya, orang-orang seperti apa yang ada di belakang mereka? Saya tidak pernah berharap banyak dari para calon pemimpin ini, namun masih saja saya kecewa.

- Debat ketiga lebih baik daripada yang pertama dan kedua? Lebih seru mungkin, jika anda terbiasa pergi ke pasar dan menyaksikan para penjual yang memprotes tetangganya yang menjual komoditi yang sama dengan harga yang lebih murah, sebelum para preman datang. Lebih baik? Saya hanya melihat satu perbedaan dengan debat pasar: para preman tidak naik ke panggung, namun bermain di luar, ribut dan saling menyikut. Ini adalah debat para calon presiden Indonesia. Jika anda ingin debat yang santai penuh canda dan lontaran kata-kata yang tidak perlu, kita punya karang taruna dan rapat RT/RW. Ini seharusnya adalah sebuah debat tingkat tinggi, namun sama sekali tidak ada “wit” yang terdeteksi.

- Diluar kasus yang tak terselesaikan, apakah orang-orang seperti Prabowo memang memahami masyarakat miskin? Pernahkah dia putus asa saat besok tidak ada lagi uang untuk makan? Karena orang miskin pernah, saya pernah. Apakah orang-orang ini punya lisensi yang dibutuhkan untuk berjuang demi rakyat? Lisensi yang hanya bisa didapatkan jika mereka mempunyai hati nurani, simpati, dan perspektif logika yang lebih luas daripada masyarakat yang akan dipimpinnya? Tidak, mereka hidup di dunia yang terlalu jauh dari kenyataan pahit masyarakat bawah, tragisnya segala sesuatu yang mereka lakukan langsung berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat bawah, dan semua itu akan menyakitkan.

- Ambil salah satu selebritis remaja Indonesia (yang entah kenapa disebut artis), daftarkan dia dalam kursus kenegarawanan selama seminggu, ikutkan dia ke dalam partai, ‘blow up’ segala berita baik mengenai dirinya, bentuk tim penasihat untuknya, ikutkan dia ke dalam pemilihan presiden, dan perhatikan jumlah pendukungnya meningkat setiap hari. Benar, setiap orang bisa menjadi presiden di Indonesia, dan tidak, tidak dibutuhkan seseorang yang mempunyai karakter.

- Pergilah ke sebuah warung kopi, bukan warung kopi high flyers, chic lifestyle seperti yang ada di Jakarta, Bandung dan sekarang Yogyakarta, tapi warung kopi seperti yang ada di komunitas masyarakat seluruh dunia, warung kopi yang sama di Baghdad dan Pontianak, dimana orang duduk mendengarkan radio, membaca koran, dan berdebat selama berjam-jam. Tidak ada wi-fi, hanya kopi. Anda akan mempunyai kesempatan untuk menemui orang yang jauh lebih bijaksana daripada para calon presiden kita. Tidak percaya? Datang, duduk, pesan secangkir kopi, dan nyalakan sebatang rokok, kemudian tunggu. Kebanyakan hanya orang sok tahu dengan berbagai kombinasi teori konspirasi di kepalanya, sampai akhirnya si mutiara muncul dari balik lumpur.

Pada saat Budiono datang ke Pontianak dia datang dengan membawa rombongan yang mengisi paling tidak 2 bis, didalamnya ada Hartati Murdaya dan Rizal Malarangeng. Mestinya ada yang membantunya mempersiapkan diri menghadapi orang Pontianak. Tindakannya memuji keberagaman di Kalimantan Barat bagi saya agak naif, saya yakin hadirin yang hadir pada saat itu akan tersenyum, atau diam saja. Para hadirin akan bertepuk tangan jika mereka benar-benar berjiwa birokrat.

Budiono tentu saja tidak tinggal di Kalimantan Barat, tidak pernah, bahkan jika itu hanya berupa kunjungen ke pedalaman Kalimantan, dan saya ragu jika dia pernah menoleh keluar jendela pada saat rombongannya melewati jalan-jalan rusak di Pontianak. Tapi pernyataannya lebih dapat saya terima jika Budiono saat itu bukanlah warga negara Indonesia, namun seorang atase budaya dari Swedia yang ingin membangun kerjasa ekonomi di Kalimantan Barat.

Pujian Budiono itu hampir mirip dengan pernyataan selebritis-selebriti yang membawakan acara jalan-jalan dan semacamnya di televisi: kedengaran bodoh, dan membuktikan bahwa sesungguhnya dia tidak pernah perduli.

Berikut adalah pandangan saya terhadap kebhinekaan di Kalimantan Barat: Kalimantan Barat pernah menjadi tempat terjadinya konflik antar etnis yang mengakibatkan pembantaian masal, menyakitkan untuk diungkit, namun harus diingat. Masyarakat menyayangkan program transmigrasi pemerintah yang tidak mengindahkan karakter masyarakat setempat dan membuat penduduk ‘asli’ merasa terganggu dan disingkirkan.

Tidak selesai disitu, goresan di cat mobil bisa menjadi alasan keributan yang membuat situasi Pontianak mencekam selama beberapa hari. Pemilik mobil adalah orang besar di Pontianak, kerabat sultan. Kita tahu apa yang dilakukan oleh orang ‘besar’ jika emosinya tersulut. Seperti seorang anak kaya dan taman bermainnya adalah sebuat kota. Dan di saat-saat seperti ini anda akan tahu, bahwa kekuasaan di negeri ini (setidaknya di Kalimantan Barat) tidak berada di tangan pemerintah, namun di tangan preman.

Sebagian pihak mengaitkan ini dengan pemilihan gubernur yang menghasilkan gubernur orang Dayak dan wakil gubernur orang Cina. Bohong jika ada yang mengatakan setiap orang memiliki kesempatan memimpin di Indonesia.

Ada orang yang mengkhawatirkan dominasi ekonomi Cina di Kalimantan Barat, ada yang tidak perduli. Saya tidak perduli, jika orang-orang yang khawatir itu mempunyai alasan dan bukti yang kuat, lebih baik mereka membangun sekolah yang lebih baik, dan memperbaiki mutu pendidikan di Kalimantan Barat, salah satu yang terburuk di Indonesia. Tidak hanya memuji yang berprestasi namun tidak perduli masalah proses, untuk kemudian secara tiba-tiba menutup sekolah yang tidak menghasilkan performa seperti yang diharapkan.

Membangun sekolah itu tidak mudah, mendidik itu tidak mudah, karena itulah dia dicantumkan di dalam Undang-Undang Dasar, karena ini bukan main-main. Pendidikan di Indonesia belum berhasil, tidak ada pemerataan, yang dihasilkan hanyalah manusia-manusia yang sekedar hidup. Jika dia mau lebih dari sekedar hidup maka dia harus menyikut. Mentalitas manusia yang mudah terprovokasi tanapa pernah menggunakan kapasitasnya untuk berpikir secara indepeden mengenai apa yang baik untuknya dan lingkungannya.

Kalimantan Barat seperti bom basah, selalu saja ada orang yang mencoba menyulut sumbunya. Sumber daya disedot habis, entah oleh siapa. Lingkungan yang sudah rusak dihancurkan, entah oleh siapa.

Di pinggir-pinggir jalan, di pasar, di pemukiman. Orang-orang biasa entah Dayak, Melayu, Bugis, Cina atau suku-suku lain hanya mencoba untuk hidup, membesarkan buah hatinya, memperoleh kesenangan-kesenangan sederhana seperti sebatang rokok, pergi ke bioskop, atau membawa pulang motor kreditan.

Ibu-ibu menggendong bayi, bayi yang putih dan bermata sipit, yang coklat dan bermata lebar, dan bayi-bayi lainnya, mendengarkan ibu-ibu mereka berdebat mengenai potongan harga di swalayan di dekat tempat tinggal mereka. Bagi ibu-ibu itu yang penting adalah kebenaran isu potongan harga tersebut, tidak masalah jika lawan bicaranya itu adalah Jawa, Dayak, Melayu atau Cina.

Kecurigaan dan perasaan canggung masih timbul di sana-sini, namun masyarakat sedang berusaha, mereka sedang belajar. Di beberapa sudut kota orang-orang Cina sudah berusaha mendominasi percakapan mereka dengan bahasa melayu, bahkan saat dimana hanya ada orang Cina di tenpat itu. Di bengkel-bengkel dan warung kopi para pria sudah mulai membicarakan hal-hal yang sensitif namun tetap tertawa dan minum dengan tenang.

Anak-anak bermain bola, berlatih taekwondo, dan bulu tangkis di lapangan yang sama. Sparring bersama, tim yang sama, beberapa tahun lalu ada waktu dimana anak-anak Cina secara khusus bermain basket dan anak-anak Melayu secara khusus bermain sepak bola. Anda tidak akan menemukan mereka di lapangan yang sama, tentu saja tidak di tim yang sama. Beberapa lama pemandangan ini akan dapat saya lihat? Tergantung dari orang-orang yang berkepentingan, dan keuntungan apa yang bisa mereka dapatkan dari keberingasan dari tiap-tiap manusia yang secara sistematis telah mereka bodohi.

Untuk Budiono sendiri, pujiannya terhadap Kalimantan Barat, menurut saya, telah memberikan garis pembatas – jarak – antara dirinya dan kenyataan di Kalimantan Barat, dan menjadikan Kalimantan Barat sebagai contoh kerukunan bagi Provinsi lain? Bisa konyol, bisa naif.

Silahkan lihat di sini:artikel Pontianak Post 1, artikel Pontianak Post 2, Andreas Harsono’s blog

Ditulis dalam artikel, opini | yang berkaitan: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

INGIN MENGEHEMAT ENERGI? BERPIKIRLAH SEPERTI ORANG JEPANG

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juni 29, 2009

Daniel Gross
Newsweek June 2009
terjemahan

Sejak awal saya sudah curiga ada yang salah ketika kami, kelompok jurnalis yang berkeliling Jepang selama 10 hari sampai di perusahaan media Nikkei, dan para rekan kami dari Jepang, para kolumnis dan editor minta maaf karena tidak menggunakan dasi. Kami telah menerima instruksi bahwa pertemuan ini bersifat bisnis formal, jas dan dasi. Namun setelah beberapa menit kami mengerti kenapa para rekan kami dari Jepang berlaku kasual. Pendingin udara di dalam kantor baru mereka di Tokyo tampak tidak bekerja sebagaimana mestinya. Panas dan lembab seperti di Miami.

Berjalan-jalan dengan kendaraan umum di seputar kota, saya pikir saya sedang berhadapan dengan epidemik kerusakan pengatur udara. Pemandangan karyawan Jepang tanpa dasi menyambut orang-orang Amerika yang basah oleh keringat terjadi juga di Kementerian Luar Negeri, Bank Jepang, dan markas Partai Demokrat Jepang. Ruang konfrensi di Federasi Besi dan Baja Jepang seperti sauna. Ini adalah misteri, karena Jepang juga terkenal karena 1) formalitas bisnis dan 2) mengembangkan tekhnologi pendingin.

Namun segera misteri ini terpecahkan. Jepang telah menyambut tekhnologi dan praktek yang mengurangi emisi dan memerangi pemanasan global dengan antusias. Jepang menemukan kendaraan hybrid (berjalan dengan lebih dari satu sumber energi), mempunyai sistem transit massa yang luas, dan menggunakan tenaga angin. Tahun 2005 Menteri Lingkungan Yuriko Koike, seorang politisi wanita yang terkenal, berusaha mencari cara untuk memotong penggunaan energi. Dan dia menawarkan kampanye Cool Biz. Idenya: pemerintah akan memotong pengeluaran dengan menyesuaikan pengatur udara di bangunan-bangunannya pada 28 derajat Celcius – 82.4 derajat Fahrenheit – selama musim panas. Dengan cepat hasil didapat dan juga diadaptasi oleh para pengusaha. Sejak ahli energi Jepang menyadari bahwa hanya dengan membuka kancing pada kerah baju dapat membuat orang merasa 4 derajat lebih dingin, cara berpakaian seperti ini telah menjadi bagian dari mentalitas Cool Biz. Orang yang kami temui minggu ini masih menggunakan jas, dasi dan kancing lengan panjang adalah orang-orang Amerika – diplomat di kedutaan dan promotor dari Kamar Dagang Amerika di Jepang.

Penemu Cool Bis menerapkan apa yang diajarkannya. Koike adalah Hillary Clinton-nya Jepang, mantan reporter di televisi, dia bekerja sebagai menteri pertahanan wanita Jepang yang pertama dan kemudian gagal menjadi pemimpin di partainya. Dia masih mencoba mendobrak atap besi Jepang. Kami mengunjungi Koike di dalam kantor distriknya yang begitu panas, membicarakan politik sementara sebuah klip mengulas karir penyiarannya di televisi. “Sangat penting bagi kita untuk menciptakan masyarakat yang menggunakan sedikit karbon,” katanya “akan membuat ekonomi kita semakin makmur.” saat kami keluar dari gedung itu, menemukan kelegaan ditengah udara sore, Koike berlalu dalam sebuah Prius.

Jangan salah mengerti. Menaikkan termostat di musim panas dan menurunkannya di musim dingin adalah cara yang baik untuk mengurangi penggunaan energi dan melawan pemanasan global. Tapi jika kita harus melalui jalan ini sebagai komunitas bisnis global, kita bisa mempertimbangkan untuk mengijinkan para profesional pergi berkerja dengan celana pendek dan kaos.

Dan saya sadar bahwa Cool Biz bisa jadi tidak produktif bagi Jepang. Jepang mungkin sedang mengalami krisis existensial. Ekonominya tumbuh dengan lamban selama lebih dari satu dekade, dan populasinya berkurang. Seakan-akan bangsa tersebut telah kehilangan kapasitasnya untuk berkerja keras dan ber-reproduksi.

Kiyoaki Fujiwara, direktur biro kebijakan ekonomi dari Federasi Bisnis Jepang, menunjukkan sebuah tabel yang begitu jelas menunjukkan penurunan populasi yang tajam selama 50 tahun kedepan dan efek ekonomi yang buruk sebagai akibatnya. Tapi mungkin ada hubungan antara isu demografi/ekonomi Jepang dengan program Cool Biz. Dalam sebagian besar dari tahun ini, panas di dalam ruangan menyerap keinginan untuk membuat rencana bisnis atau meningkatkan populasi. Sebagaimana yang pernah dikatakan seorang ahli Jepang yang terkenal Cole Porter “It’s Too Darn Hot.”

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , , , , , | 2 Komentar »

MONYET MENGENCINGI PRESIDEN ZAMBIA

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juni 29, 2009

Shapi Shacinda
Reuters 24 June 2009
terjemahan

Seekor monyet kencing di atas Presiden Zambia, Rupiah Banda saat dia berbicara di depan para jurnalis di sebuah konfrensi pers hari Rabu.

Banda berteriak dengan lembut: “Kau (monyet) kencing di atas jas ku,” dan melihat ke atas ke arah monyet yang bermain di pohon, di atas kursinya.

“Mungkin ini adalah berkah,” katanya melanjutkan pidatonya ditengah tawa dari para hadirin dan jurnalis di istana kepresidenan.

Beberapa monyet bermain di depan kediaman Banda dan di halaman kantornya. Juga terdapat banyak jenis rusa dan burung di halaman istana kepresidenan.

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , | Leave a Comment »

KENAPA STEVE JOBS TETAP DIBUTUHKAN.

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juni 29, 2009

Daniel Lyons
Newsweek Juni 2009
Terjemahan

Saya baru saja menghabiskan waktu satu jam untuk mengantri di toko Apple untuk membeli produk yang tidak saya butuhkan. Barang kelas atas itu adalah iPhone 3GS, dan harganya $299, dan saya mengantri walaupun saya sudah memiliki iPhone 3G model tahu lalu, belum lagi BlackBerry yang dikeluarkan oleh NEWSWEEK, sebuah Nokia, dan Palm Pre baru, walaupun kredit. Kenapa saya melakukan smeua ini? Karena, iPhone yang baru mempunyai prosesor yang lebih cepat daripada pendahulunya, dan kamera yang lebih baik, juga bisa merekam video. Barang ini juga mempunyai lebih banyak memori, jadi saya bisa membawa lebih banyak lagu atau film. Namun sesungguhnya saya melakukan semua ini karena saya percaya apapun yang dikeluarkan oleh orang-orang di Apple akan memiliki kualitas yang pantas dengan harga yang ditawarkan. Saya melakukannya karena saya selalu mau memiliki yang terbaru dan terhebat dari Apple. Anda lihat, Apple dan konsumen setianya (seperti saya) telah membuat kesepakatan: Apple akan selalu mengembangkan produknya dalam tenggang waktu yang singkat, dan membunuh produk-produk tuanya. Sebagai balasan, kami akan selalu membeli apapun yang mereka buat.

Ditengah-tengah semunya ini, sebagian orang berpikir apakah Apple akan lebih baik jika Steve Jobs tidak kembali setelah absen karena sakit. Jobs, CEO Apple yang penuh visi, telah absen sakit selama 6 bulan dan telah melakukan transplantasi liver. Telah kembali bekerja, namun ada sebagian orang yang sepertinya berharap Jobs tidak kembali. Isu ini telah menjadi ramai di Wall Street Journal akhir-akhir ini, dengan memuji Tim Cook yang melakukan pekerjaan yang luar biasa selama pemimpin yang terkasih absen. Seorang analis Wall Street mengatakan bahwa kehilangan Cook akan lebih mengecewakan baginya daripada kehilangan Jobs. Selama Jobs absen, saham Apple telah naik 60 persen, dan perusahaan itu menjual 1 juta unit iPhone 3GS pada akhir minggu pertama produk tersebut diluncurkan.

Jadi siapa yang membutuhkan Steve Jobs? Terutama karena dia dikenal sebagai orang yang sulit. Dia menciptakan budaya korporasi yang aneh terkait kerahasiaan tentang kesehatannya dan segala hal lainnya di Apple, seperti yang disampaikan oleh New York Times.

Kolumnis dari Times, Joe Nocera lebih jauh mengatakan bahwa jika Jobs dan para direkturnya tidak mau berterus terang atas kesehatannya, maka mereka bersalah karena “melalaikankan tugas” dan harus dipaksa untuk mengundurkan diri.

Ok, harus diakui bahwa Jobs adalah orang yang menyebalkan, kebanyakan dari kita mungkin tidak mau berkerja untuknya, atau tinggal bertetangga dengannya, atau harus menegosiasikan sebuah perjanjian dengannya. Dia manja dan arogan, dan mempunyai karakter yang buruk. Tapi dia juga brilian. Antrian di depan toko Apple? Bukan diciptakan oleh Tim Cook. Bukan juga Phil Schiller, kepala pemasaran Apple, atau Ron Johnson, bos retail yang menjalankan toko-toko, atau bahkan Jon Ive, Ahli desain dari Apple. Steve Jobs lah yang membuat orang-orang itu mengantri, dialah yang mempunyai visi. Dialah yang menginspirasi para penggemar.

Cook adalah manajer yang hebat, seorang pesulap terkait pengaturan rantai persediaan dan menjaga kereta tetap berjalan tepat waktu. Dia penting bagi Apple. Jobs tidak dapat melakukan apa yang dilakukan oleh Cook, demikian juag sebaliknya. Faktanya Apple membutuhkan keduanya. Maafkan saya atas analogi ini: jika anda telah melihat film Star Trek yang terbaru, dan anda akan mengerti bagaimana Cook dan Jobs bekerja sama. Cook adalah Spock: tenang, mengedepankan pemikiran, metodis. Dia adalah perbandingan Apolonian terhadap Kirk, Dionisian yang keras kepala. Kirk itu impulsif tapi tidak ada yang menolak kenyataan bahwa dia, bukan spok, yang seharusnya menjadi kapten kapal.

Begitu juga dengan Apple dan Steve Jobs, bahkan lebih. Apple adalah Steve, Steve adalah Apple. Tidak ada CEO yang sebegitu pentingnya terhadap perusahaan seperti Jobs dan Apple. Saya akan berargumen lebih jauh, bahwa tidak hanya Apple butuh Steve Jobs, dunia juga membutuhkannya. Di masa dimana penemuan di bidang tekhnologi semakin cepat, begitu cepat sehingga kita sering merasa tenggelam, kita membutuhkan seseorang yang dapat mempaketkan tekhnologi, membuatnya tersedia untuk kita dengan cara yang sederhana, berguna, dan dapat diandalkan. Ada berapa hal dalam hidupmu yang bekerja sebaik Macintosh mu, atau iPod mu, atau iPhone mu? (diluar fakta kualitas jalur AT&T yang jelek.)

Jadi, ya, saya mengantri untuk mendapatkan iPhone baru. Segera setelah saya mendapatkannya, di toko itu saya mengetikkan akun MobileMe saya, jasa online Apple, dan melihat saat seluruh kontak e-mail, kalender, dan bookmark terbang melalui udara dan mengisi iPhone baru saya. Seperti Sihir. Tanpa halangan.

Lalu saya kembali ke kantor dan mencoba menulis artikel ini dalam komputer yang berjalan dengan Windows 7 versi beta. Saya tengah menulis sebuah paragraf saat komputer itu berhenti bekerja, tanpa alasan yang jelas. Saya hidupkan kembali, menulis ulang paragraf dan komputer tersebut membeku lagi tanpa sebab. Saat itu saya menyerah dan menulis artikel itu dalam MacBook Pro saya, notebook yang mahal namun sangat kuat, berjalan dengan sistem operasi yang tidak pernah gagal berkerja. Saya tidak tahu apa yang membuat suatu sistem operasi lebih baik daripada yang lain, namun saya tahu dibutuhkan seseorang yang mempunyai otoritas yang terus menerus mengatakan kapa para tekhnisi bahwa sesuatu tidak cukup baik, kembali dan lakukan hal yang lebih baik. Dan kawanku, itulah alasan kenapa Apple dan kita semua membutuhkan Steve Jobs.

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , | Leave a Comment »

TIDAK ADA CARA UNTUK MENGATASI KEMACETAN

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juni 29, 2009

Tanyakan pada para orang-orang di jalan, di internet, di warung kopi atau dimana saja anda bertemu dengan mereka baik secara langsung maupun virtual: bagaimanakah cara mengatasi kemacetan? Tinggal di tempat yang tidak “semetropolis” Jakarta, tidak berarti bahwa pertanyaan ini tidak relevan. Sebaliknya, karena kita tinggal di Indonesia pertanyaan ini menjadi sangat relevan, lebih-lebih dengan beredarnya trend di udara bahwa para politisi, pada pembuat kebijakan di Indonesia hanya perduli pada satu hal: diri mereka sendiri.

Tanyakan pada mereka mengenai kebijakan fasilitas umum, dan lihat mata mereka berubah menjadi hijau.

Jawaban dari pertanyaan yang saya tanyakan di awal akan selalu didominasi oleh usulan terkait transportasi massal. Kebanyakan dari mereka akan berargumen jika transportasi massal dibuat menjadi layak dan tersedia dalam jumlah yang lebih banyak maka akan lebih banyak masyarakat yang memilih transportasi umum, mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang berkeliaraan di jalan. Fasilitas umum lain juga harus menyertai, jalan-jalan diperluas, diperbaiki, diperpanjang, diperhalus. Tidak boleh ada badan jalan yang tergenang air, pedagang kaki lima yang berada di pinggir jalan harus ditertibkan, segala rambu-rambu, persimpangan, peraturan harus masuk akal.

Coba singgung masalah kepemilikan kendaraan, dan mereka akan terpecah.

Inilah yang terjadi di atas jalan sebagaimana yang bisa dilihat oleh kita semua. Seiring dengan semakin majunya jaman, terserah bagaimana anda mengejawantahkan “maju”, maka kita akan membutuhkan semakin banyak alasan untuk hidup, saat kebutuhan primer telah terlampaui, maka hal-hal sekunder, bahkan tersier akan menjadi primer.

Pada awalnya mobil dan motor diperkenalkan untuk mempermudah hidup manusia, sekarang hampir setiap semester, mobil dan motor baru diperkenalkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan selalu ada ceruk pasar untuk setiap tingkat kebutuhan. Para produsen memperkenalkan tingkatan-tingkatan produk sama dengan para cerdik cendikiawan mengklasifikasikan manusia berdasarkan “nilai”nya. Petani yang menyediakan makanan bagi kita semua “dimasukkan” ke dalam klasifikasi paling rendah, pejabat masuk klasifikasi paling tinggi.

Dan mereka menyediakan produk untuk masing-masing klasifikasi. Mulai dari kelas “value” sampai kelas “performance”. Untuk kelas “value” para petani dan profesi lain yang berada pada strata ekonomi bawah diusahakan agar bisa memiliki kendaraan tersebut, dengan kredit dan uang muka yang sebenarnya tidak masuk akal. Dengan Rp. 300.000,- mereka bisa membawa pulang kendaraan berharga belasan juta rupiah. Kredit itu mungkin baru akan lunas 3 atau 4 tahun ke depan, entah apapun yang akan terjadi pada seorang petani dalam jangka waktu tersebut.

Pada kelas “performance” kita punya produk yang harganya bisa dipakai untuk membeli satu kompleks rumah sangat sederhana.

Menyalahkan Industri dan sifat konsumtif adalah suatu kebodohan, seperti berenang melawan arus di tengah samudera, si penuduh bisa berasumsi bahwa dia sedang berenang menuju suatu arah, padahal arus terus menyeretnya sampai dia mati tenggelam. Dan orang-orang yang berjemur di atas kapal pesiar akan tertawa.

Tapi iseng-iseng, inilah penelusuran saya mengenai penyebab kemacetan. Hal-hal yang biasa, yang umum, yang sudah anda ketahui.

Kemacetan bisa diakibatkan jumlah kendaraan yang sudah melebihi daya tampung jalan, hal ini diperparah dengan kerusakan fasilitas jalan umum dan kesalahan perencanaan. Alternatif pemecahannya adalah pelebaran, perbaikan dan penambahan panjang jalan termasuk by-pass dan under-pass, atau penyediaan dan perbaikan transportasi publik, atau pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan.

Pertama, peningkatan kualitas dan kuantitas jalan. Tidak ada jaminan saat kualitas dan kuantitas jalan terpenuhi tidak akan terjadi kemacetan di masa datang. Jumlah manusia Indonesia masih akan bertambah secara eksponensial beberapa dekade ke depan. Setiap bulan ada anak-anak kita yang menikah. Dan sepertinya kita tidak mempelajari apapun dari program keluarga berencana, diluar segala kontroversinya. Anak-anak ini akan bersekolah, saat mereka menginjak SMP, kita akan pergi ke kantor polisi untuk membuat SIM tembak dan membelikan mereka motor atau bahkan mobil yang paling keren, tentunya tergantung dana yang kita punyai.

Pada saat mereka masuk kuliah, mereka butuh pembaharuan, agar lebih bersemangat. Motor baru menggantikan yang lama, yang lama bisa dikoleksi ataupun dijual, bagaimanapun satu orang manusia telah bertanggung jawab terhadap dua buah produk yang berkeliaran di atas jalan, mengkonsumsi bahan bakar, dan berpotensi menjadi sampah besi dan plastik di kemudian hari, dan anak anda bukan satu-satunya.

Pada saat mereka selesai kuliah, mungkin mereka akan mempertahankan motor lama mereka, mungkin anda akan membelikan mobil baru sebagai hadiah kelulusan. Pada saat mereka mulai bekerja, mereka menjadi pangsa pasar yang sangat baik, orang-orang ramah, berpakaian rapi dan berdasi akan mendatangi mereka dan memperkenalkan produk-produk yang baik dan sesuai untuk mereka. Dan kredit baru pun dimulai. Harga asli suatu kendaraan akan menjadi ¼ kali lebih mahal daripada yang seharusnya, dan tidak boleh ada pembelian kontan, kecuali barang-barang premium.

Saat anak anda berkeluarga, menghasilkan cucu bagi anda dan “aman” secara finansial, maka dibutuhkanlah sebuah kendaraan baru yang berorientasi kepada keluarga. Saat ini seorang manusia sudah bertanggung jawab terahadap keberadaan 4 buah mesin. Saat ekonomi mereka semakin membaik, udara di luar rumah tiba-tiba menjadi sangat tidak bersahabat, sedangkan intensitas kegiatan si suami dan si istri semakin meningkat, maka di butuhkan satu mobil lagi. Dan anak-anak mereka pun lulus sekolah dasar, untuk memulai lingkaran baru.

Pada skema keluarga yang kurang beruntung, masih dimungkinkan untuk mengkredit 3 buah sepeda motor selama dua generasi. Semua orang mendapat bagian. Kesimpulan pertama: tidak ada batas atas kualitas dan kuantitas jalan yang kita butuhkan. Hanya pada saat seluruh permukaan bumi sudah terdiri dari aspal dan semen, pada saat itulah kita terpaksa berhenti.

Kedua: penyediaan dan perbaikan transportasi publik. Dimanapun anda di Indonesia, kalau kita perhatikan pemerintah tidak pernah serius terkait hal yang satu ini, tidak ada keuntungan penuh seperti halnya proyek jalan, selalu saja ada pengusaha angkutan umum yang rewel minta bagian. Niat baik para sarjana-sarjana tekhnik sipil tidak dibarengi dengan penguasaan psikologi massa, kesadaran bahwa pembangunan di Indonesia tidak dapat lari dari pola tambal sulam, dan penyangkalan kenyataan bahwa semuanya bukanlah mengenai masyarakat, namun mengenai pemilu, masa depan partai dan pemenuhan kebutuhan yang tidak ada habisnya.

Sebagian masyarakat bingung akan pelaksanaan kebijakan transportasi publik yang dijalankan pemerintah daerah, sebagian mendukung, namun pesimis setelah melihat hasilnya. Dan terus terang saja, isu transportasi publik tidak selalu berada di dalam pikiran masyarakat. Transportasi publik bisa diartikan sebagai ketidakbebasan, ke-tidak-efisien-an, dan bagi sebagian masyarakat Indonesia: ke-tidak-masuk-akal-an. Siapa yang perduli dengan publik jika aku merasa nyaman dan aman dengan semua yang bisa kupenuhi sendiri? Memangnya kenapa kalau hanya ada aku sendirian di dalam Fortuner yang lebar, ditengah-tengah jalan yang macet? Aku layak, sangat layak, menikmati segala hal yang dapat kunikmati.

Dan industri mendukung hal ini. Sebuah perusahaan dibangun untuk mendapatkan laba, dan dengan laba, perusahaan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Tujuan hidup Toyota bukanlah sekedar melahirkan dan memproduksi Innova untuk kemudian menutup perusahaannya. “Passion” Toyota, sama dengan produsen lain, adalah “selalu” menyediakan produk-produk yang baik untuk anda, sayang sekali jika selama ini anda tidak sadar kalau anda membutuhkan produk yang ditawarkan, tapi jangan khawatir, para perwakilan akan mendatangi anda untuk menjelaskan kenapa anda membutuhkan produk-produk tersebut.

Para pengusaha membangun ATPM, membantu sang produsen menyebarluaskan kabar gembira ini, sekaligus juga untuk mendapatkan pembagian kue nafkah atas usaha mereka membantu sang produsen. Dan lapangan kerja pun tercipta, pelepas dahaga di tengah gurun pengangguran yang kering. Para sarjana menjadi tenaga penjual dengan sistem target, satu sampai tiga bulan target penjualan tidak tercapai maka silahkan cari tempat lain. Masing-masing ATPM menargetkan kuantitas penjualan mulai ribuan sampai puluhan ribu unit perbulan. Para tenaga penjual harus bekerja keras mengejar angka ini.

Apa arti dari angka penjualan ini?
-lebih banyak jalan,
-lebih banyak bahan bakar,
-lebih banyak orang yang lebih kreatif merancang iklan untuk menjual (walaupun kreatifitas tidak begitu dibutuhkan dalam masyarakat dengan pola pikir yang telah terkondisi),
-lebih banyak pohon yang disingkirkan, bahkan lebih banyak daripada semua kampanye terkait penghijauan dan penanaman pohon yang diadakan oleh orang-orang yang berkepentingan (mari kita bersama-sama tanam pohon, panggil anak-anak, mahasiswa, selebritis dan istri-istri pejabat, biar aku yang sediakan semua konsumsi, publisitas dan fasilitas. Tapi berikan aku ijin untuk meratakan 7200 hektar hutan di sebelah selatan… tenang saja kau dapat bagian kog).
-lebih banyak lowongan kerja, tidak hanya yang terkait langsung seperti pabrik, para staf di pusat-pusat penjualan, namun juga bengkel-bengkel, pusat modifikasi, tambal ban, helm, sarung tangan, jaket, cairan pengharum helm, pekerja pembangunan jalan, kontraktor, tenaga-tenaga promosi (SPG, SPB), tenaga penjual, penyedia kredit, surveyor, tukang tagih (kebanyakan orang Batak), orang-orang di tabloid otomotif, para pengulas, wartawan, event organizer dan lain-lain. Siapa yang berani mengatakan bahwa sumber berkah adalah salah satu sumber masalah?
-segala isu mengenai pemanasan global, es yang mencair di kutub, hewan yang punah karena polusi dan perluasan pemukiman manusia, lubang pada lapisan ozone yang meluas, semuanya adalah kebohongan publik yang kejam, kejahatan terhadap kemanusiaan (atau lebih tepatnya kejahatan terhadap manusia).

Berapa banyak lowongan pekerjaan yang bisa disediakan oleh perbanyakan dan perbaikan transportasi massal? Tergantung pada mood pemerintah. Berapa banyak lapangan pekerjaan yang bisa disediakan oleh industri? Hampir tidak terbatas. Dan mereka fokus pada perbanyakan, karena apa yang sudah ada tidak dapat diperbaiki, lebih banyak bis, lebih banyak jalan untuk memfasilitasi jumlah kendaraan.

Solusi kedua berkaitan erat dengan solusi ketiga: pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan. Sebagian masyarakat Indonesia tida mempunyai kemampuan untuk memiliki kendaraan bermotor, yang diobati dengan fasilitas kredit. Sebagian masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk memiliki kendaraan manapun dengan jumlah berapapun yang dia inginkan. Di Jakarta isu ini telah membuat gatal sebagian telinga, dan telinga-telinga yang mahal, keberanian pemerintah daerah untuk membuat gatal telinga-telinga ini dipertanyakan. Sebagian dari telinga-telinga ini dimiliki oleh para pembuat kebijakan.

Karena itu pemerintah tidak mempunyai otoritas dalam menetapkan kebijakan yang sensitif semacam ini. Masyarakat sudah lama curiga bahwa segala peraturan pemerintah mengenai keselamatan berkendara merupakan pesanan dari para produsen helm dan sabuk pengaman yang dekat dengan para pembuat kebijakan. Butuh waktu cukup lama untuk membuat alasan keamanan menjadi masuk akal.

Jumlah kendaraan yang berkeliaraan di atas jalan didak bisa dibatasi, pemerintah tidak bisa membatasi motif masyarakat dalam melakukan mobilitas. Kepemilikan jumlah kendaraan tidak bisa dibatasi dengan peraturan perundang-undangan sama dengan pemerintah tidak bisa membatasi alasan orang memiliki kendaraan.

Kendaraan sekarang tidak hanya masalah mobilitas. Seperti halnya segala propaganda yang dilakukan oleh para produsen dan pemasar motor dan mobil, kendaraan mempunyai arti yang lebih dari sekedar mengantar anda dari titik A ke titik B. Iklan-iklan mobil dengan lugas memberikan “pendidikan” bahwa kepemilikan jenis dan merk mobil tertentu merupakan sebuah pembuktian bahwa anda “ada” di dunia ini, bahwa anda berada pada tingkatan status tertentu, bahwa anda perduli dengan keluarga anda, bahwa anda adalah seorang pribadi yang “sophisticated”, bahwa anda layak menikmati hidup (dan saya tidak mengerti orang yang membeli mobil cepat namun menyewa sopir untuk mengantarnya ke segala tempat).

Pada kendaran roda dua, kita mengenal motor yang “benar-benar lelaki”, motor yang paling cepat hingga tidak terkejar, paling irit, motor untuk wanita, motor untuk remaja, motor untuk penggemar musik, motor yang mempunyai jiwa (sering dibawa ke mesjid dan gereja), motor yang berbeda dengan motor lainnya (masih dengan 2 roda dan berbahan bakar bensin) dan banyak lagi.

Di luar itu masih ada orang yang mengoleksi motor gede, mobil sport super mewah. Saya menggunakan kata “mengoleksi”, sama sekali tidak ada masalah jika anda menggunakan satu-satunya Yamaha R1 anda untuk mobilitas sehari-hari. Jika anda merasa bahwa orang-orang ini adalah pengkhianat terhadap asas-asas kebersamaan, coba periksa, itu mungkin hanya karena anda memiliki logika yang berbeda.

Dengan banyaknya orang yang menggantungkan hidupnya, baik kehidupan ekonomi maupun kejiwaan, pada industri ini, apakah ada yang berani untuk menetapkan suatu pembatasan kepemilikan?

Transportasi publik yang sempurna sekalipun tidak akan banyak berpengaruh, lihat Jakarta dan Yogyakarta, dan hapus kata sempurna, dan lihat apakah kita akan pernah sampai kesana. Pembatasan jumlah kendaraan dan kepemilikan? Indonesia tidak hanya terkotak-kotak oleh garis sosial ekonomi, namun juga garis logika. Begitu banyak paradoks di luar sana, yang satu menghancurkan yang lainnya.

Sebuah tawaran solusi klasik adalah perubahan pola pikir. Jika orang yang mempunyai otoritas (bukan pemerintah) mau membatasi dirinya sendiri (manusia mana yang mau membatasi dirinya sendiri) dan memberika pendidikan pada masyarakat mengenai inti sesungguhnya dari segala hal yang dijualnya, memberikan pertimbangan kepada masyarakat mengenai baik buruknya pilihan mereka, namun ini adalah kemustahilan. Jika masyarakat mau mendidik dirinya sendiri mengenai apa yang baik tidak hanya bagi dirinya namun bagi lingkungan, yang notabene mempengaruhi kualitas hidup seluruh manusia termasuk dirinya, mungkin kita bisa membatasi diri terhadap hal-hal yang kita butuhkan dan menggunakannya dengan efisien. Namun ini juga kemustahilan jika para pemasar tidak tertarik untuk memasarkan pola pikir seperti ini.

Saat pembicaraan di warung kopi mereda, orang kembali ke atas kendaraan mereka, mobil dan motor dan berpencar ke tujuan mereka masing-masing, mencari hidup.

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Cuaca Yang (Sepertinya) Semakin Tidak Bersahabat.

Ditulis oleh blackenedgreen di/pada Juni 24, 2009

Atau kita yang tidak lagi mencoba bersahabat dengan alam?

Jika anda melihat di televisi, maka anda akan tahu bahwa 2 hari belakangan ini, di Pontianak dan sekitarnya telah terjadi hujan yang sangat lebat disertai angin yang sangat kencang. Saya tidak perlu melihat layar televisi untuk mengetahui hal tersebut karena saya adalah salah satu karakter pelengkap penderita.

Beberapa waktu yang lalu hal yang sama terjadi dan memakan korban beberapa orang yang sedang berteduh dibawah papan iklan bertulang besi yang cukup besar. Saya mendengar angin kencang kali ini juga merubuhkan sebuah menara pemancar (sampai tulisan ini saya buat, saya tidak tahu menara apa persisnya yang rubuh tersebut), menimpa sejumlah kendaraan (berapa banyak tepatnya “sejumlah” itu, saya juga tidak tahu).

Namun di jalan Sulawesi (masih di Pontianak) dahan-dahan pohon yang cukup besar patah dan jatuh ke atas jalan, tidak ada korban, jiwa maupun material. Hujan datang dengan cepat dan lebat, angin yang cukup kencang untuk mendorong orang yang sedang berdiri tegak dan memaksanya memasang kuda-kuda. Para pengendara motor buru-buru menepi dan berlindung, namun sebagian tidak cukup terlindungi, angin menyapukan air hujan sampai ke bawah tempat mereka berlindung.

Beberapa saat kemudian kemudian terdengarlah suara patah yang cukup keras dan dahan itupun jatuh. Pohon itu bukanlah pohon tua yang rapuh, semua orang menunggu dengan tegang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak ada yang terjadi selanjutnya, hujan dan angin mereda, dahan pohon yang patah disingkirkan, dan orang-orang keluar dari tempat persembunyiannya.

Angin itu cukup kencang dan cukup menakutkan, maaf bagi anda yang pernah mengalami fenomena alam yang lebih dahsyat, namun para pedagang di pinggir jalan dan orang-orang yang saya ajak bicara sepakat bahwa baru akhir-akhir inilah hujan dan angin seburuk ini terjadi dengan intensitas yang (hampir) rutin di daerah Pontianak.

“Saye terpakse tutup awal ni bang, kemaren juga kayak gini” kata seorang Ibu di kios kecil yang menjual rokok.

“Ee… dah dekat dah ni.” celetuk seorang Bapak, saya rasa yang dia maksudkan adalah hari kiamat.

Hujan belum benar-benar berhenti, para pekerja sudah kembali memacu motor mereka, mungkin kembali ke tempat kerja, mungkin langsung pulang karena baju mereka sudah basah dan karena hari memang sudah sore.

Ditulis dalam Uncategorized | yang berkaitan: , , , , , , , , | Leave a Comment »